Munculnya paham aliran yang menyimpang dalam Islam

Munculnya paham aliran yang menyimpang dalam Islam

Terdapat hadis yang menyatakan bahwa umat Islam tidak akan pernah
tersesat selama ia berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi
(1).

Terdapat hadis yang menyatakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi
tujuh puluh tiga golongan, hanya satu golongan yang selamat (2). Hadis
ini masih diperselisihkan tentang kesahihannya, jadi bersifat zhanni
(nisbi), bukan qath’I (mutlak) (3).

Sejak dari timbul fitnah (kisruh) di akhir masa pemerintahan ‘Utsman
bin ‘Affan ra, umat Islam pecah menjadi berbagai firqah, kelompok,
golongan. Golongan Syi’ah sebagai pendukung ‘Ali bin Abi Thalib.
Golongan Khawarij sebagai penantang ‘Ali dan Mu’awiyah. Golongan
Jumhur (Sunni ?) sebagai pendukung pengasa. Timbullah pemalsuan hadits
karena berbagai alasan, motif. Antara lain karena alasan politik
(siasah), karena anti Islam yang terpendam (zanadaqah), karena fanatik
(‘ashabiyah), karena gemar mendongeng (qushshah), karena perbedaan
penapat/pandangan, karena kesalahan pendapat/pandangan (logika yang
keliru), karena menjilat penguasa (M Hasbi AshShidieqy : “Sejarah dan
Pengantr Ilmu Hadits, Bulan Bintang, Djakarta, 1953).

Timbulnya perpecahan, fiqah, kelompok, golongan, aliran paham sesat
dalam Islam semata-mta karena tak sepenuhnya berpegang pada Quran dan
Hadits. Bisa karena sudah dicemari oleh paham Yahudi, Nasrani, Majusi,
Yunani, Hindu, Cina, dan lain-lain. Karena talbis, sinkretisme. Paham
ini bisa masuk, menyelundup ke dalam Islam melalui kaum Munafik, yaitu
kaum kafir (Yahudi, Nasrani, Majusi) yang tampil sebagai orang Islam.
Bisa pula dipungut secara aktif oleh orang Islam sendiri dari filsafat
Yunani, Hindu, Cina, dan lain.lain.

Perpecahan, perbedaan paham bisa direduksi diminimalisir dengan
membuang seluruh paham yang telah mencemari ajaran Quran dan Hadits.

Di dalam politik, pemerintahan, kenegaraan, kepemimpinan, yang
mula-mula muncul adalah paham Khawarij, kemudian muncul paham Syi’ah.
Khawarij lebih dulu memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib,
kemudian baru berusaha mencari alsan begi pembenaran pemberontakannya.
Sedangkan Syi’ah, pahamnya yang lebih dulu terbentuk, kemudian baru
mulai mengadakan pemberontakan (4).
Jadi Khawarij, lebih dulu melancarkan aksi pemberontakannya, kemudian
baru menyusun teori bagi pembenaran aksinya. Menurut teorinya,
kepemimpinan seorang imam, amir, khalifah batal, kalau kebijakannya
mengacu kepada ijtihad, pendapat orang, bukan langsung mengacu pada
Qur:an.
Sedaangkan Syi’ah lebih dulu menyusun teori imamahnya, barulah
kemudian melakukan aksi sesuai teori imamahnya. Menurut teori
imamahnya, yang berhak memegang kendali pemerintahan setelah
Rasulullah wafat adalah Ali bin Abi Thalib.
Baik Khawarij, maupun Syi’ah menyusun teori, pahamnya berdasarkan
interpretasinya masing-masing terhadap Qur:an.

Di dalam akidah, kepercayaan muncul paham Qadariah, Jabariah,
Asy’ariah, Maturidiah, dan lain-lain. Masing-masingnya menyusun
teorinya berdasar pemahaman, interpretasinya pada Qur:an dan Hadis
(5).

Di dalam ibadah, fikih muncul paham Hanafiah, Malikiah, Syafi’iah,
Hanabilah, Zhahiriah, dan lain-lain. Masing-masing juga menyusun
teori, paham, mazdhab dan metodenya berdasar interpretasinya pada
Qur:an dan Hadis.

Di dalam tasauf juga muncul berbagai macam paham, seperti
Naqsyqabandiah, Qadiriah, Samaniah, Syatariah, Tijaniah yang menurut
Mohammad Natsir lebih bertolak pada rasa dan intuisi katimbang
interpretasi, pemahaman akan Kitabullah dan Sunnah Rasul (6).
Interpretasinya lebih cenderung pada signal, isyarat.

Ibnu Khaldun dalam “Muqaddamah”-nya menyebutkan bahwa ketika
orang-orang sudah mulai cenderung dan terlena dengan urusan duniawi
pada abd ke dua hijrah dan sesudahnya, maka muncullah sebagian orang
yang khusus beribadah saja yang dikenal dengan nama sufi (Abdul Qadir
Isa : “Hakekat Tasawwuf”, Qisthi Press, Jakarta, 2005, hal 10).

Haji Khalifah dalam “Kasyf azh-Zhannun” menyebutkan bahwa orang yang
pertama kali dikenal dengan sufi adalah Abu hasyim ash-Shufi (w150)
(Idem, hal 11).

Doktor Kamil Musthafa dalam kitabnya “Ash-Shilah baina at-Tashawuf
wat Tasyri” (Kaitan anytara Tasawul dan Aliran Syi’ah) bahwa orang
yang pertama dijuluki dengan sebutah shufi di dalam Islam adalah Jabin
bin Hayyan (ahli filsafat dan kimia), Abu Hasyim al Kufi (pembangun
padepokan shufiyah di Ramlah) dan Abduk as-Shufi (campuran syi’ah dan
shufiyah).

Dalam khazanah sufi terdapat terminolgi Hulul, Ittihad, Wihdatul
Wujud. Hulul adalaha paham yang beri’tiqad, meyakini bahwa Allah,
berada, bersemayam di setiap bagian bumi, di lautan, di pegununga, di
bukit, di pepohonan, pada manusai, pada hwan. Ittihad adalah paaham
yang beri’tiqad, meyakini bahwa Khaliq (Allah) bersatu (manunggal)
dengan makhluq (manusia). Sihdatul Wujud adalah paham yang beri’tiqad
bahwa wujud (ada) hanyalah satu, tidak berbilang. Tak ada yang wujud
(ada) kecuali Allah swt. Sedangkan yang maujud (yang diadakan) boleh
berbilang.Adanya (maujud) alam adalah karena adanya wujud (ada) yang
wajib berdiri sendiri. (Dalam “Madarijus Salikin” Ibnu Qayyim terdapat
pembahasan “Wujud” tanpa “Wihdatul”).

Pimpinan Yayasan Al-Qalam, Pasar Rumput, Jakarta Selatan (M Amin
Djamaluddin ?) menyebutkan bahwa inti sari ajaran Ibnu Arabi (tokoh
Tasawwuf Falsafi) didasarkan atas teori/paham Wihdatul Wujud yang
menghasilkan teori/paham Wihdatul Adyan (Kesatuan Agama) sebagai hasil
dari gabungan teori/paham Al-Ittihad (Manunggal) dan mengadakan
Al-Ittishal (Emanasi, nyambung, tasalsul ath-thuruq ?) (“Siapa Ibnu
Arabi ? Tanggapan atas pernyataan Dr Nurcholish Madjid”).

‘Abdul Qadir Isa dalam bukunya “Hakekat Tasawuf” menyatakan bahwa
sebutan/predikat Hulul dan Ittihad itu adalah tuduhan bohong yang
dilontarkan oleh orang-orang yang menentang kaum sufi bahwa kaum susfi
meyakini Hulul dan Ittihad. Kaum sufi bebas dari tuduhan bohong itu.
Tidak mungkin kaum sufi yang mengamalkan islam, iman dan ihsan akan
terjerumus pada paham sesat tersebut.

SA al-Hamdany memandang, bahwa Tasawuf itu adalah merupakan campuran
dari ajaran-ajaran Brahma, Budha, falsafah Yunani, kepadrian kaum
Nasrani dan ajaran baru Plato. Karenanya Tashawuf bukanlah dari Islam
dan islam sendiri suci/bersih daripadanya” (“Sanggahan terhadap
Tashawuf & Ahli Sufi”, Al-Ma’arif, Bandung, 1986, hal 15, 33)
(Aqidah/keimanan, Ibadah/keislaman, Akhlaq/keihsanan Sufi menyimpang
dari Aqidah/keimanan, Ibadah/keislaman, Akhlaq/keihsanan Islam ?).
Hulul, Itihad dan Wihdatul Wujud tidak terdapat dalam Islam (idem, hal
17).
Abdul Qadir Isa dalam bukunya “Hakekat Tasawuf” mengemukkan bahwa dari
data historis dapat disimpulkan bahwa Tasawuf bukanlah sesuatu yang
baru dalm Islam. Dasar dari ajran Tasawuf diserap dari sejarah dan
peri kehidupan Rasulullah dan para shahabatnya. Mengacu pada hadits
yang menjelaskan Rukun Iman, Rukun Islam dan Rukun Ihsan.

Abul A’la al-Maududi menyebutkan bahwa ia adalah penantang tasawwuf
yang selalu digembar-gemborkan oleh mereka yang hatinya berselubung
tasawwuf yang menampakkan salah satu cermin/maqam “ihsan”, Pemakaian
symbol/lambing tasawuf dan istilah/terminology, pemilihan ungkapan
bahsa dan uslubnya serta penetapan metoda/kaifiat thariqat sufi perlu
untuk dihindari (“Sejarah Pembaruan dan Pembangunan Kembali Alam
Pikiran Agama”, Bina Ilmu, Surabaya, 1984, hal 111).

Madzhab shufiyah dan madzhaf syi’ah dipandang sebagai saudara sepupu
yang berasal/muncul dari sumber yang sama dan yang saling berdekatan
dan memiliki tujuan yang mirip sama. Dua kelompok ini bersekutu, mirip
dalam akidah secara umum dan juga mirip dalam syari’at yang
diterapkan.

Syahrastani (479-584H) mengarang “AlMilal wan Nihal” yang menerangkan
berbagai paham agama dan aliran-aliran kepercayaan samapai masa
hidupnya (7). Syahrastani menyebut empat golonga besar, yaitu
Qadariah, Shifatiah, Khawarij dan Syi’ah (8).

Berdasar dalal zhanni, bukan dalil qath’I, Ibnul Jauzi (wafat 597H)
melihat ada enam golongan pokok yang masing-masing terpecah menjadi
dua belas golongan, sehingga seluruhnya berjumlah tujuh puluh dua
golongan. Keenam golongan pokok itu ialah : Haruriah, Qadariah,
Jahmiah, Murjiah, Rafidhah, Jabariah (9).

Muhammad Ahmad Abu Zahrah dalam bukunya “Al-Madzahib al-Islamiyah”
(Madzhab-madzhab dalam Islam) membicarakan aliran-aliran politik dan
aliran-aliran kepercayaan dalam Islam, antara lain : Syi’ah, Khawarij,
Murjiah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, maturidiyah, Salafiyah, Bahaiyah,
Qadianiyah.

Dalam Sahih Bukhari pada “Kitab alFitan” terdapat hadis-hadis tentang
tanda-tanda hari kiamat (10) dan sifat-sifat dajjal (11).

Dalam Sahih Bukhari pada “Kitab alIman” terdapat hadis tentang
testing, pengujian untuk membedakan antara Nabi dan yang bukan,
menurut versi Heraklius (Herkules ?).

MUI Pusat merinci sepuluh kriteria untuk membedakan paham aliran
yang sesat dan yang bukan sesat (12).

Di Indonesia kini marak muncul paham aliran baru. Masing-masing
menyusun teori berdasar interpretasinya terhadap Qur:an untuk
pembenaran pahamnya.

HM Amin Djamaluddin, Hartono Ahmad Jaiz dengan LPPInya (Lembaga
Penelitian dan Pengkajian Islam) aktif menyoroti, mengkaji, menggugat
paham aliran sesat.

Ahmadiah, alQadiyah menggunakan hadis tentang turunnya Nabi Isa,
turunnya Imam Mahdi, dan ayat Qur:an tentang naaiknya Nabi Isa (QS
3:55) menurut interpretasinya dalam menyusun teorinya, bahwa
kedatangan alMasuh alMau’ud itu sudah disebutkan dalam Kitab Suci
terdahulu, dan dialah alMasih alMau’ud itu (al masih adDajjal).

Syi’ah menggunakan hadis tentaang turunnya Imam Mahdi, serta
mengarang-ngarang tentang kesuperan Ali bin Abi Thalib dalam
mengembangkan teori imamahnya.

Inkarus Sunnah, alQur:an Suci menggunakan interpretasinya terhadap
Qur:an dalam menyusun teori, pahamnya.

Hidup Dibalik Hidup (HDH) mengingkari bahwa Nabi Muhammad saw
dikurniai Allah wewenang untuk mengajukan syafa’at bagi ummatnya nanti
pada hari Hisab.

Islam Jama’ah juga menggunakan interpretasinya terhadap Qur:an dan
Hadis dalam menyusun teori, paham manqulnya.

Mahaesa Kurung alMukarramah juga menggunakan interpretasinya terhadap
Qur:an dan Hadis dalam menyusun, mendukung teori, paham spiritualnya.
Ia punya website, situs sendiri.

Wahidiah juga menyusun teori, paham spiritualnya menggunakan
interpretasinya terhadap Qur:an dan Hadis. Menurut teorinya, olah
batin (spiritual) itu mengacu dan mengikuti ungkapan, slogan, semboyan
“Lillah-Billah, LirRasul-BirRasul, LilGhauts-BilGhauts”. Tunduk,
patuh, setia pada alGhauts, karena ia punya wewenang memberikan
syafa’at (13). Wahidiah juga punya situs sendiri.

Simak antara lain dalam :

1. “Muwaththa’” Imam Malik.
2. “Manhaj alFirqah an Najiah” oleh Muhammad bin Jamil Zinu.
3. PANJI MASYARAKAT, No.498, 21 Maret 1986, “Tentang sabda Nabi saw :
Umatku akan pecah 73 golongan” oleh Muhammad Baqir.
4. “Sejarah dan Kebudayaan Islam” oleh Prof Dr A Syalabi, jilid II, 1982:308.
5. “Pedoman Pokok dalam Kehidupan Keagamaan Berdasarkan Ahlus Sunnah
wal Jama’ah” oleh KH Tb M Amin Abdullah alBantani, 1984.
6. “Sanggahan terhadap Tasauf dan Ahli Sufi” oleh SA alHamdany, 1982.
7. “Ulama Syafi’I” oleh KH Sirajuddin Abbas, 1975:157-162.
8. “AlMilal wan Nihal” oleh Syahrastani.
9. “Godaan Sytan” oleh Md Ali alHamidy, 1984:128-136.
10. “Jalan Menuju Iman” oleh Abdul Madjid azZaidan.
11. “Tafsir alAzhar” oleh Prof Dr Hamka, juzuk IX, 1982:191-197, re
ayat QS 7:187.
12. RAKYAT MERDEKA, Rabu, 7 November, 2007.
13. “Pedoman Pembinaan Wanita Wahidiyah” oleh Penyiaran Shalawat
Wahidiyah Kedunglo, Kediri, Jatim.
14. “Sanggahan terhadap Tasauf”, 1982:20-23.

catatan serbaneka asrir pasir

Pegang eratlah Islam

Khalifah Abubakar Siddiq ra pernah memperingatkan umat Islam bahwa
suatu masa nanti umat Islam akan berada di persimpangan jalan
(maghraqi mahajjah), dibawah penguasa kejam (tiran), umat
terpecah-belah, darah mudah tertumpah. Pada masa itu umat Islam
hatruslah kembali menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas jama’ah,
kembali menjadikan Quran sebagai sumper petunjuk, melakukan
konsolidasi (Simak M Natsir : “Fiqud dakwah”, amadhani, Semarang,
1984, hal 88-89; Risalah Da’wah AL-MUNAWWARAH, Tanah Abang, Djakrta,
“Masjid, Quran dan Disiplin”, oleh Mohd Natsir; Usman Abd Kadir
Mukarram : Fungsi Masjid Sebagai Pembinaan Ummat”, AL-MUSLIMUN,
Bangil, No.202, Thn.XVII(33), Januari 1987, hal 27-28).

Rasulullah saw memperingatkan bahwa suatu masa nanti umat Islam akan
mengalami situasi dimana umat Islam tidak diperintah sesuai dengan
sunnah Rasulullah saw. Pada masa itu umat Islam haruslah kembali
berada dalamjama’ah kaum Muslimin beserta pimpinannya. Jika tak ada
ada jama’ah kaum Muslimin beserta pimpinannya, maka bersabarlah.
Lakukanlah dan tunaikanlah kewajiban dan mohonlah hak yang menjadi
bagian kepada Allah (Simak HR Bukhari, Muslim dalam “Al-Lukluk
wal-Marjan”, pasal “Anjuran Supaya Tetap Dalam Jama’ah Kaum Muslimin”,
Anjuran Sabar Ketika Menghadapi Pemerintah Zhalim”, “Wajib Taat Kepada
Pimpinan Selama Bukan Maksiat”; “Riadhus Shalihin”, pasal ‘Perintah
Menunaikan Amanah”, “Wajib Ta’at Pada Pemerintah Dalam Hal Yang Bukan
Ma’shiyat”, “Menganjurkan Kebaikan Dan Mencegah Mungkar”).

Menurut formula ilmu politik, bahwa pemimpin itu menurut keadaan
rakyatnya (Dr Imaduddin Abdurrahim pada tayangan Hikmah Fajar RCTI
tanggal 21 Juni 2001). Sikap pemimpin itu adalah produk terbalik dari
sikap mental rakyat. Bila rakyat bermental bebek, maka penguasa
bermental serigala. Bila rakyat bermental domba, penguasa bermental
serigala.

“Demikianlah Kami angkat sebagian orang-orang yang zhalim menjadi
pemimpin sebagian yang mereka lakukan” (QS 6:129).

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1108261100)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: