Amar Makruf Nahi Munkar

Amar Makruf Nahi Munkar

(cukilan “Fatwa-Fatwa Kontemporer” Dr Yusuf Qardhawi, tahun 1996, jilid I-II)

–          Islam memberikan tanggungjawab kepada setiap Muslim agar hidup di bawah pimpinan (kekuasaan) Muslim yang berhukum kepada Kitab Allah dan melaksanakan ajaran Islam.

–          Islam meletakkan kewajiban di pundak setiap Muslim yang disebut “Amar bil Makruf, nahi ‘anil munkar”, yang kadang-kadang diungkapkan dengan istilah “memberi nasehat kepada para pemimpin kaum Muslimin dan kepada kaum Muslimin secara umum”. Kadang-kadang juga diistilahkan dengan “tawashau bil haq, wa tawashau bis shabr” (QS 103:3).

–          Setiap Muslim berkewajiban berjuang, berjihad mengubah (taghyir) kemunkaran, kezhaliman dalam bidang politik, ekonomi, sosial, kultural dan lain-lain dengan aksi (tindakan), orasi (seruan), emosi /motivasi (semangat/tekad).

–          “Power tends to corrupt, and absolute corrupts absolutely” (Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak korup sejadi-jadinya), ungkap Lord Action.

–          Pemerintah (penguasa) – baik dengan cara kekerasan atau tipu muslihat – cenderung berbuat munkar, zhalim, menindas dan menekan perorangan atau kelompok kecil lawan polititkny.

–          Menjadikan hina suatu bangsa, kecurangan dalam pemilu, tidak mau memberikan kesaksian, menyerahkan urusan (jabatan) kepada yang bukan ahlinya (nespotisme), menggelapkan harta milik umum (korpsi), menimbun barang dagangan kebutuhan masyarakat (spekulatif), memenjarakan orang tanpa keadilan, menyiksa orang dalam penjara dan tahanan, memberikan suap, menerima suap, menjadi perantara suap (calok, makelar, broker, pialang), merayu penguasa dengan cara batil (koalisi), memberikan loyalitas kepada penantang Allah dan musuh Islam, adalah sebagian dari yang tergolong tindak perbuatan munkar.

–          Penguasalah yang semestinya sebagai orang yang pertama kali memerangi kemunkaran, dan bukan malah sebagai pelaku dan pelindungnya.

–          Jika yang melakukan kemunkaran justru penguasa, maka harus ada jama’ah, organisasi, partai yang mencegahnya. Partai adalah yang memiliki kekuasaan politik untuk melaksanakan “amar bil makruf, nahi ‘anil munkar” meluruskan kebengkokan, penyimpangan, penyelewengan penguasa, tanapa melalaui pertumpahan darah.

–          Dalam melaksanakan “amar bil makruf, nahi ‘anil munkar” diperlukan upaya perubahan secara menyeluruh, luas dan mendasar, dengan mendidik serta menyiapkan generasi yang andal, yang siap mengemban tugas mengubah kemunkaran, dengan merubah pola piker dan pemahaman, tata nilai dan pertimbangan, akhlak dan perbutan, adab dan tradisi, peraturan dan perundang-undangan.

–          Yang munkar itu adalah yang diharamkan syara’. Sifatnya jelas, tegas, pasti, qath’I tanpa perlu diskusi atau musyawarah. Yang perlu dimusyawarahkan adalah hal-hal “ijtihadiyah”, yang memungkinkan timbulnya banyak pendapat dan pikiran, dan teknik (cara) mencegah kemunkaran.

–          Mencegah kemunkaran adalah termasuk dalam urusan politik. Dalam Islam tidak ada yang bebas dari nuansa politik, yang bebas dari sanksi hukum (hudud).

–          Islam tidak menerima sistim (hukum) selain Islam.

–          Prinsip Islam yang pokok adalah prinsip “hak menetapkan hukum itu adalah milik Allah”. Al-Hakim (Yang membuat hukum) adalah Allah, edangkan Nabi hanyalah menyampaikan.

–          (M Shohibuddin dalam SUARA KARYA, Sabtu, 10 Aparil 1999, hal V (Agama dan Praksis Kekuasaan) memandang palsu teori kedaulatan mutlak nash al-hakimiyah (prinsip “Otoriterianisme” teks ?) yang dikemukakan Al-Maududi. Bagi Shohibuddin, Al-Maududi telah memalsukan keuniversalitas nash (teks) bagi kepentingan ideology kelompoknya. Juga bagi Shohibuddin taka da kebenaran mutlak. Yang ada hanyalah kebenaran situsional, yang bersifat sosiologis dan kultural, terkait dengan kepentingan-kepentingan tertentu).

–          Musuh-musuh Islam memecah-mecah, membagi-bagi, memenggal-mengggal Islam menjadi beberapa bagian yang berbeda-beda, sehingga ia bukan lagi Islam yang utuh. Mereka ciptakan istilah Islam Asia, Islam Afrika, Islam Nabawi, Islam Rasyidi, Islam Umawi. Islam Abbasi, Islam Utsmani, Islam Modern, Islam Arabi, Islam Hindi, Islam Turki, Islam Indonesia, Islam Jawa, Islam Sunni, Islam Syi’i, Islam Revolusioner, Islam Konservatif, Islam Radikal, Islam Sosialis, Islam Fundamentalis, Islam Orthodoks, Islam Ekstrim, Islam Moderat, Islam Politik, Islam Spiritual, Islam Temporal, Islam Teologis. (Yang tidak bersimpati pada Islam [seperti kaum orientalis)] menciptakan terminology yang tidak ada dalam khazanah Islam, seperti Islam Militan, Fundamentalisme Islam, Integralisme Islam, dan lain-lain, ungkap Amien Rais dalam AlMuslimun, No.199, Oktober 1986, hal 74).

–          Islama mewajibkan penguasa untuk bermusyawarah, dan mewajibkan umat untuk memberikan kesetiaan (loyalitas). Namun Islam menyerahkan perincian dan penjabaran “musyawarah” kepada para pemikir dan pemimpin Islam untuk berijtihad memikirkan bentuk, model, system “musyawarah” yang lebih pas, sesuai dengan masa, tempat dan perkembangan situasi dan kondisi.

–          Hakim (yudikatif), penguasa (eksekutif), badan pembuat undang-undang (legislative). Yang memutuskan perkara dengan undang-undang yang tidak menurut apa yang diturunkan Allah dihukum dengan kafir.

–          Paham kebangsaan (nasionaalisme) menempatkan ikatan kebangsaan diatas ikatan keIslaman (Akidah Islamiyah). Ideologi local ditempatkan di atas Quran. Sebaliknya paham Islam menempatkan iktan keIslaman di atas ikatan kebangsaan. Quran ditempatkan di atas ideology local. Yang Muslim itu dalam kondisi apa pun akan setia (loyal) dank omit terhadap Islam, menempatkan ikatan keIslaman di atas ikatan kebangsaan. Menempatkan Quran di atas yng lain. Tak akan bermesraan, bergandengan, berangkulan, beraliansi, berkoalisi dengan yang bukan komit dengan Islam (QS 58:22).

–          Negara itu harus diatur oleh Quran, dan bukan Quran itu harus diatur oleh Negara. Bumi ini adalah milik Allah “Sesungguhnya Islam disyari’atkan Allah untuk menghukumi, bukan untuk dihukumi. Untuk menuntun dan bukan untuk dituntun”. Islam tidak menerima system selain Islam.

 

(catatan serbaneka asrir pasir [Asrir Sutanmaradjo], Bekasi 2 Maret 2012 0815)

 

 

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: