Pariwisata dan malapetaka

Pariwisata dan malapetaka

Catatan serbaneka asrir pasir (Arir Sutanmaradjo)

Dalam Suplemen Republika, Senin, 3 Oktober 1994, hal 10 (TEKAD) terdapat tulisan Prof Dr Deliar Noer, yang diberi judul “Hakikat”. Dari dulu tak ada yang mempersoalkan (pemisahan antara agama dan Negara ?). Dalam tulisan tersebut, Deliar antara lain mengemukakan “Secara holistic, pemerintah harus melihat kaitan antara bidang kehidupan satu dengan yanglain. Dalam rangka pariwisata, misalnya, apakah kebijakan dalam bidang ini akan menurunkan rahmat Tuhan, ataukah akan mengundang kutukan Tuhan ? Di Singapura, turis-turis yang rambutnya gondrong atau pakaianny asal-asalan (punk ?), tidak bisa masuk ke sana. Negeri-negeri lain banyak yang menjaga agar supaya para turis yang dating tidak bersikap seenaknya (kurang a… ?)”. Dalam hubungan ini seyogianya para pakar moral mencermatipengamatan Deliar tersebut. (Moral/etika tak sama dengan akhlak. Akhlak bersifat mutlak, tetap, universal, tak tergantung dari sikon, waktu, tempat. Sedangkan moral-etika bersifat nisbi, tak tetap, tak universal, tergantung dari sikon, waktu, tempat). Khususnya wilayah yang berpegang pada alur dan patut (kepantasan moral), yang adatnya bersendikan syarak (syari’at Isla), seharusnya mengeluarkan kebijakan/peraturan yang membatasi perilaku para turis agar supaya mereka tidak bersika seenaknya, agar mereka mengindahkan moral dan adat setempat yang berlaku. (Jika tak demikian, maka pariwisaata menjadi malapetaka, merusak moral bangsa). Misalnya aturan tentang keharusan berbusana yang sopan, yang tidak melanggar adat setempat, aturan keharsan menunjukkan surat kawin yang sah bagi mereka yang dating berpasangan, larangan pergaulan bebas tanpa batas (pergaulan hewani), dan lain-lain, juga ada etiket-etiket yang harus dipatuhi, misalnya untuk masuk restoran, hotel, pesawat, dan lain-lain. Lebih wajar lagi seandainya ada etiket (moral, aturan) yang harus dipatuhi oleh para turis yang datang memasuki wilayah Negara ini. Keindahan alam yang dianugerahkan Allah ini kepada bangsa ini, seyogianya dinikmati oleh bangsa sendiri, bukannya untuk dinikmati oleh bangsa asing.

Bekasi 21 Oktober 1994 05.30

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: