Tinggalkan semua selain Quran dan Hadits

Catatan serbaneka asrir pasir

 

Tinggalkan semua selain Quran dan Hadits

 

Dalam matan AlBukhari (Edisi AsSundi), terbitan Alharamain, Singapura, Juzuk IV, hal 255 terdapat judul “Kitab alI’tisham bil Kitab was sunnah” (Bab tentnn Berpegang pada Kitab dan Sunnah). Pernah disebutkan bahwa ada hadits yang bermakna : “Aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua hal (panduan hidup). Kamu sekalian tak akan tersesat bilamana kamu sekalian berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah RasulNya”. (HR Bukhari, Muslim dan beberapa Ulama Hasits yang lain ? Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, juzuk V, Panjimas, 1984, hal 147, re tafsir ayat QS 4:64).

(Namun gagal, tak berhasil menemukan teks (redaksi, matan) yang bermakna seperti itu. Yang saya temukan hanyalah hadits yang menyebutkan bahwa yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw itu adalah Kitabullah dan Ahlul Bait, dalam “Mustadrak” AlHakim dari Zaid bin Arqam, pada kitab Makrifah Shahabat, hadits no.4577. Seangkan hadtis sebelumnya, hadits no.4576 menggunakan lafal “tsaqalain”, dan bukan “amrain”).

 

Dalam matan AlBukhari, juzuk IV, hal 270 terdapat Bab tentang sabda Rasulullah saw yang melarang bertanya kepada Ahli Kitab tentant sesuatu hal. Larangan tersebut bisa bermakna larangan belajar, berguru kepaa Ahli Kitab, larangan membaca, membahas, merujuk, mengacu kepada karya tulis Ahli Kitab. Terhadap hujah, alas an, argumentasi, dalil, postulat yang dikemukakan oleh Ahli Kitab dan orang-orang non-Islam, cukuplah menjawabnya dengan mengucapkan bahwa kami beriman kepada Allah dan kepada yang diturunkan, difirmankan Allah saja. Ini bermakna bahwa cukuplah Quran sebagai rujukan, acuan, panduan, pedoman, bahkan sebagai konstitusi, tidak campur aduk dengan yang lain.

Tinggalkanlah merujuk kepada ulama-ulama yang mengacu, merujuk kepada filosof-filosof, pemikir-pemikir Yunani dan lain-lain di abad ke empat/lima hijriyah dan sesudahnya.

Pernah suatu ketika Umar bin Khatthab memegang suatu lembaran di tangannya. Ketka dilihat Rasulullah saw, beliau menanyakan kepada Umar lembaran apa itu ? Umar menjawab bahwa itu adalah lembaran yang memuat ayat-ayat Taurat. Rasulullah saw tampak marah. Rasulullah saw mengatakan, seandainya Musa hidup masa kini, maka ia haruslah mengikuti Quran.

(Ingat pula ketika Rasulullah saw menegur Umar bin Khattab ketika dia memegang lembaran Taurat.Pandangan Rasulullah  saw. pun tertuju pada yang dipegang Umar. “Apa yang kau pegang, Umar?” tanya Rasulullah saw. Dengan ringan, Umar r.a. pun menjawab, “Taurat, Ya Rasulullah!”. “Wahai Umar, andai yang diturunkan Taurat itu masih hidup, tentu, ia akan merujuk kepada Al-Quran dan meninggalkan Taurat !” ucap Rasulullah saw. begitu menggugah hati Umar. Saat itu juga, Umar pun melepas lembaran Taurat. Siapapun (muslim) pasti tidak akan meragukan aqidah Umar bin Khattab, tapi toh ditegor juga oleh Rasulullah walaupun hanya kepergok membawa-bawa lembaran Taurat. Artinya apa ? Rasulullah saw mencontohkan kepada kita untuk memegang aqidah dengan kuat. (Kata Rasulullah saw menjelang wafatnya : “Aku wariskan kepada umatku Kitabullah dan Sunnahku, peganglah erat-erat dengan gigi geraham-mu”) dari “groups.yahoo.com/group/baiturraman-vni/message/340).

 

M Amin Damaluddin pernah menanggapi (menggugat, mengkritik) Gagasan Prof Dr Harun Nasution “Soal Penggalakan Kuliah Falsafah, Ilmu Kalam dan Sejarah Kebudayaan Islam”. Dipaparkan “Pandangan Ahli Filsafat Islam terhadap Kebenaran Agama”. Disebutkan nama AlKindi, AlFarabi, Ibnu Rusyd, ArRazi, Ibnu Rawani, Ibnu Sina, dan lain-lain sebagai “Ahli Filsafat Islam” (Simak tulisan berseri/bersambunnya dalam Harian PELITA menanggapi Pidato rector IAIN Jakarta Prof Dr Harun Nasution yang dimuat dalam Harian PELITA tanggal 3 Agustus 1983).

Sayid Quthub dalam bukunya “Keadilan Sosial dalam Islam”, menggugat, mengkritik nama-nama yang disebut sebagai Ahli Filsafat Islam itu. Filsafat Islam hanya mengacu pada Quran. Sedangkan nama-nama yang disebut sebagai Ahli Filsaat Islam itu juga merujuk, mengacu Filsafat Yunani dan lainnya.

Dalam bukunya “Pembebas Dari Kesesatan” (AlMunqidz minad Dhalaal) menggugat, mengkritik Filsafat (Matematika, Logika, Fisika, Teologi, Sosiologi, Etika) (Simak Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, juzuk XI, Panjimas, hal 134).

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1105190830)

Qur:an tanpa Muhammad saw

Qur:an tanpa Muhammad saw

Sayyid Quthub menyebutkan bahwa “ AlQur:an itu merupakan faaaaaaktor yang menentukan untuk menarik perhatian masyarakat pada masa permulaan dakwah Islam” (“Seni Penggambaran Dalam AlQur:an”, 1981:5). Contoh-contoh mengenai daya tarip/pesona Qur:an yang diceritakan Sayyid Quthub dalam bukunya, terjadi pada masa Muhammad saw masih hidup. Seandainya bukan Muhammad saw, tetapi Abubakar atau Ali misalnya yang menympaikan Qur:an, maka hasilnya tentu tak akan apat mencapai segemilang itu. Jai sosok pribadi Muhammad saw tetap merupakan factor yang ikut menentukan keberhasilan akwah. Barang bagus memrlukan penjual terampil. Sosok Muhammad saw jauh mengungguli setiap insane di setiap waktu (Simak antara lain Khalid Muhammad Khalid : “Memanusiaan Muhammad”, 1984:11).

Sepeninggal Muhammad saw mulailah bermunculan berbagai macam petaka. Meskipun masih mengacu pada Qur:an, namun petaka tersebut tak dapat dihindari, sehingga menodai citra Islam sepanjang masa. Di antaranya tragedy unjuk rasa yang berujung pada aterbunuhnya Khalaifah Utsman bin Affan, dan traedi perseteruan yang juga berujung pada gugurnya Khalifh Ali bin Abi Thalib. Seandainya Muhammad saw masih hidup pada waktu itu, mustahil akan terjadi petaka tersebut. Muhammad saw sendiri telah mengisyaratkan akan terjdinya petaka tersebut. Sabda Muhammad saw : “Demi Allah, bukan kemiskinan yang saya kuatirkan atas kamu, tetapi saya kuatirkan kalau terhampar luas bagimu dunia ini, kemudian kamu berlomba-lomba, sehingga membinasakan kamu” (HR Bukhari, Muslim dari Amru bin Auf alAnshary dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, Pasal “Keutamaan Zuhud”). “Janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, yang satu memenggal leher yang lain” (HR Bukhari, Muslim dari Jabir dan Ibnu Umar dalam “AlLukluk wal Marjan” Muhammad Fuad Abdul Baqi, Bab : “Janganlah Kalian Kafir sepeninggalku). Alasan (alih ?) untuk pembenaran petaka ini disebutkan bahwa “Menjadi keharusanlah bagi para sahabat itu untuk menentukan pendirian, dan memilih salah satu dari pendapat yang bermacam-macam itu,”, karena Rasulullah saw sudah tiada untuk menentukan kebenaran yang dipertikaikan manusia itu (Simak Khalid Muhammad Khalid : “Karakter 60 Sahabat Rasulullah”, 1983:700).

Sikon masa kini sangat jauh berbeda dengan sikon masa Muhammd saw masih hidup. Seorang orientalis anti Islam, Washington Irving melukiskan ajaran Qur:an “yang mendorong sekelompok tentara menyerbu ke medan perang untuk mendapat surga” (Muhammad Husein Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:693, Orientalis dan Kebudayaan Islam”). Meskipun Qur:an masih tetap merupakan rujukan, namun tak mampu mendorong orang ke medan perang mendapatkan surga. Surga masa kini adalah kemewahan duniawi. Tak ada yang tertaring dengan surga seperti yang digambarkan dalam Qur:an. Qur:an tak mendapat respon seperti masa Muhammad saw hidup. Sesuai dengan sikonnya, kini dibutuhkan sosok Mujaddid yang serba tahu IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB(Simak Abul A’la alMaududi : “Sejarah Pemberuan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, 1984:50, “Mengenal Mujaddid”)

Qur:an butuh akan penafssir yang mumpuni. Butuh akan sosok Muhamma saw masa kini, yang memiliki ‘izzah, kepemimpinan, keibawaaan, keteladanan Muhammad saw masa lalu, yang disegani kawan dan lawan (Simak QS 48:29). Butuh akan sosok “ulama waritsatul anbiyaa”, ulama yang mewarisi kecerdasan, kejujuran, ketulusan Muhammad saw. George Bernard Shaw, filsuf Inggers, dalam bukunya “Getting married” mengatakan “ I believe that if a man like Muhammad were to accuse the dictatorship of the moern world he would succed in solving its problem in way that world bring in much needed peace and happiness” (Muhammad Amin : “Muhammad and Teaching of Qur:an”, page 135). “Seandainya ditakdirkan seorang seperti Muhammad saw menguasai dunia ini secara penuh pada masa sekarang, maka pasti ia akan berhasil memecahkan segala problem mutaakhir yang terjadi, dan akan menjadi kebahagiaan dan kesentoaan dunia” (Ali Ahmad alJarjawy : “Hikmat Syari’at Islam”, jilid I, hal 44,54; Prof KMR Muhammad Adnan : “Tuntunan Iman dan Islam”, 1970:49; O Hashem : “Menaklukan Dunia Islam”, 1965:45-46).

Sayyid Quthub menyebutkn bahwa “manhaj Ilahi (yang terkandung dalam alQur:an) akan terimplementasikan, bila diemban oleh sejumlah orang yang beriman kepadanya dengan iman yang sempurna, konsisten atasinya dan menjadikannya sebagai aktivitas kehidupannya dan puncak cita-citanya, serta berusaha keras untuk menanmkannya kea lam hati orang lain dan dalam kekhidupan praktis mereka” (“Tafsir Fi Zhilalil Qur:an”, jilid 4, Gema Insani Press, Jakarta, 2001:34-35, “Beberapa Pelajaran Penting” dari Perang Uhud).

(BKS0906290700)

Qur:an tanpa Muhammad saw

Qur:an tanpa Muhammad saw

Sayyid Quthub menyebutkan bahwa “ AlQur:an itu merupakan faaaaaaktor yang menentukan untuk menarik perhatian masyarakat pada masa permulaan dakwah Islam” (“Seni Penggambaran Dalam AlQur:an”, 1981:5). Contoh-contoh mengenai daya tarip/pesona Qur:an yang diceritakan Sayyid Quthub dalam bukunya, terjadi pada masa Muhammad saw masih hidup. Seandainya bukan Muhammad saw, tetapi Abubakar atau Ali misalnya yang menympaikan Qur:an, maka hasilnya tentu tak akan apat mencapai segemilang itu. Jai sosok pribadi Muhammad saw tetap merupakan factor yang ikut menentukan keberhasilan akwah. Barang bagus memrlukan penjual terampil. Sosok Muhammad saw jauh mengungguli setiap insane di setiap waktu (Simak antara lain Khalid Muhammad Khalid : “Memanusiaan Muhammad”, 1984:11).

Sepeninggal Muhammad saw mulailah bermunculan berbagai macam petaka. Meskipun masih mengacu pada Qur:an, namun petaka tersebut tak dapat dihindari, sehingga menodai citra Islam sepanjang masa. Di antaranya tragedy unjuk rasa yang berujung pada aterbunuhnya Khalaifah Utsman bin Affan, dan traedi perseteruan yang juga berujung pada gugurnya Khalifh Ali bin Abi Thalib. Seandainya Muhammad saw masih hidup pada waktu itu, mustahil akan terjadi petaka tersebut. Muhammad saw sendiri telah mengisyaratkan akan terjdinya petaka tersebut. Sabda Muhammad saw : “Demi Allah, bukan kemiskinan yang saya kuatirkan atas kamu, tetapi saya kuatirkan kalau terhampar luas bagimu dunia ini, kemudian kamu berlomba-lomba, sehingga membinasakan kamu” (HR Bukhari, Muslim dari Amru bin Auf alAnshary dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, Pasal “Keutamaan Zuhud”). “Janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, yang satu memenggal leher yang lain” (HR Bukhari, Muslim dari Jabir dan Ibnu Umar dalam “AlLukluk wal Marjan” Muhammad Fuad Abdul Baqi, Bab : “Janganlah Kalian Kafir sepeninggalku). Alasan (alih ?) untuk pembenaran petaka ini disebutkan bahwa “Menjadi keharusanlah bagi para sahabat itu untuk menentukan pendirian, dan memilih salah satu dari pendapat yang bermacam-macam itu,”, karena Rasulullah saw sudah tiada untuk menentukan kebenaran yang dipertikaikan manusia itu (Simak Khalid Muhammad Khalid : “Karakter 60 Sahabat Rasulullah”, 1983:700).

Sikon masa kini sangat jauh berbeda dengan sikon masa Muhammd saw masih hidup. Seorang orientalis anti Islam, Washington Irving melukiskan ajaran Qur:an “yang mendorong sekelompok tentara menyerbu ke medan perang untuk mendapat surga” (Muhammad Husein Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:693, Orientalis dan Kebudayaan Islam”). Meskipun Qur:an masih tetap merupakan rujukan, namun tak mampu mendorong orang ke medan perang mendapatkan surga. Surga masa kini adalah kemewahan duniawi. Tak ada yang tertaring dengan surga seperti yang digambarkan dalam Qur:an. Qur:an tak mendapat respon seperti masa Muhammad saw hidup. Sesuai dengan sikonnya, kini dibutuhkan sosok Mujaddid yang serba tahu IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB(Simak Abul A’la alMaududi : “Sejarah Pemberuan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, 1984:50, “Mengenal Mujaddid”)

Qur:an butuh akan penafssir yang mumpuni. Butuh akan sosok Muhamma saw masa kini, yang memiliki ‘izzah, kepemimpinan, keibawaaan, keteladanan Muhammad saw masa lalu, yang disegani kawan dan lawan (Simak QS 48:29). Butuh akan sosok “ulama waritsatul anbiyaa”, ulama yang mewarisi kecerdasan, kejujuran, ketulusan Muhammad saw. George Bernard Shaw, filsuf Inggers, dalam bukunya “Getting married” mengatakan “ I believe that if a man like Muhammad were to accuse the dictatorship of the moern world he would succed in solving its problem in way that world bring in much needed peace and happiness” (Muhammad Amin : “Muhammad and Teaching of Qur:an”, page 135). “Seandainya ditakdirkan seorang seperti Muhammad saw menguasai dunia ini secara penuh pada masa sekarang, maka pasti ia akan berhasil memecahkan segala problem mutaakhir yang terjadi, dan akan menjadi kebahagiaan dan kesentoaan dunia” (Ali Ahmad alJarjawy : “Hikmat Syari’at Islam”, jilid I, hal 44,54; Prof KMR Muhammad Adnan : “Tuntunan Iman dan Islam”, 1970:49; O Hashem : “Menaklukan Dunia Islam”, 1965:45-46).

Sayyid Quthub menyebutkn bahwa “manhaj Ilahi (yang terkandung dalam alQur:an) akan terimplementasikan, bila diemban oleh sejumlah orang yang beriman kepadanya dengan iman yang sempurna, konsisten atasinya dan menjadikannya sebagai aktivitas kehidupannya dan puncak cita-citanya, serta berusaha keras untuk menanmkannya kea lam hati orang lain dan dalam kekhidupan praktis mereka” (“Tafsir Fi Zhilalil Qur:an”, jilid 4, Gema Insani Press, Jakarta, 2001:34-35, “Beberapa Pelajaran Penting” dari Perang Uhud).

(BKS0906290700)

Qur:an tanpa Muhammad saw

Qur:an tanpa Muhammad saw

Sayyid Quthub menyebutkan bahwa “ AlQur:an itu merupakan faaaaaaktor yang menentukan untuk menarik perhatian masyarakat pada masa permulaan dakwah Islam” (“Seni Penggambaran Dalam AlQur:an”, 1981:5). Contoh-contoh mengenai daya tarip/pesona Qur:an yang diceritakan Sayyid Quthub dalam bukunya, terjadi pada masa Muhammad saw masih hidup. Seandainya bukan Muhammad saw, tetapi Abubakar atau Ali misalnya yang menympaikan Qur:an, maka hasilnya tentu tak akan apat mencapai segemilang itu. Jai sosok pribadi Muhammad saw tetap merupakan factor yang ikut menentukan keberhasilan akwah. Barang bagus memrlukan penjual terampil. Sosok Muhammad saw jauh mengungguli setiap insane di setiap waktu (Simak antara lain Khalid Muhammad Khalid : “Memanusiaan Muhammad”, 1984:11).

Sepeninggal Muhammad saw mulailah bermunculan berbagai macam petaka. Meskipun masih mengacu pada Qur:an, namun petaka tersebut tak dapat dihindari, sehingga menodai citra Islam sepanjang masa. Di antaranya tragedy unjuk rasa yang berujung pada aterbunuhnya Khalaifah Utsman bin Affan, dan traedi perseteruan yang juga berujung pada gugurnya Khalifh Ali bin Abi Thalib. Seandainya Muhammad saw masih hidup pada waktu itu, mustahil akan terjadi petaka tersebut. Muhammad saw sendiri telah mengisyaratkan akan terjdinya petaka tersebut. Sabda Muhammad saw : “Demi Allah, bukan kemiskinan yang saya kuatirkan atas kamu, tetapi saya kuatirkan kalau terhampar luas bagimu dunia ini, kemudian kamu berlomba-lomba, sehingga membinasakan kamu” (HR Bukhari, Muslim dari Amru bin Auf alAnshary dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, Pasal “Keutamaan Zuhud”). “Janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, yang satu memenggal leher yang lain” (HR Bukhari, Muslim dari Jabir dan Ibnu Umar dalam “AlLukluk wal Marjan” Muhammad Fuad Abdul Baqi, Bab : “Janganlah Kalian Kafir sepeninggalku). Alasan (alih ?) untuk pembenaran petaka ini disebutkan bahwa “Menjadi keharusanlah bagi para sahabat itu untuk menentukan pendirian, dan memilih salah satu dari pendapat yang bermacam-macam itu,”, karena Rasulullah saw sudah tiada untuk menentukan kebenaran yang dipertikaikan manusia itu (Simak Khalid Muhammad Khalid : “Karakter 60 Sahabat Rasulullah”, 1983:700).

Sikon masa kini sangat jauh berbeda dengan sikon masa Muhammd saw masih hidup. Seorang orientalis anti Islam, Washington Irving melukiskan ajaran Qur:an “yang mendorong sekelompok tentara menyerbu ke medan perang untuk mendapat surga” (Muhammad Husein Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:693, Orientalis dan Kebudayaan Islam”). Meskipun Qur:an masih tetap merupakan rujukan, namun tak mampu mendorong orang ke medan perang mendapatkan surga. Surga masa kini adalah kemewahan duniawi. Tak ada yang tertaring dengan surga seperti yang digambarkan dalam Qur:an. Qur:an tak mendapat respon seperti masa Muhammad saw hidup. Sesuai dengan sikonnya, kini dibutuhkan sosok Mujaddid yang serba tahu IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB(Simak Abul A’la alMaududi : “Sejarah Pemberuan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, 1984:50, “Mengenal Mujaddid”)

Qur:an butuh akan penafssir yang mumpuni. Butuh akan sosok Muhamma saw masa kini, yang memiliki ‘izzah, kepemimpinan, keibawaaan, keteladanan Muhammad saw masa lalu, yang disegani kawan dan lawan (Simak QS 48:29). Butuh akan sosok “ulama waritsatul anbiyaa”, ulama yang mewarisi kecerdasan, kejujuran, ketulusan Muhammad saw. George Bernard Shaw, filsuf Inggers, dalam bukunya “Getting married” mengatakan “ I believe that if a man like Muhammad were to accuse the dictatorship of the moern world he would succed in solving its problem in way that world bring in much needed peace and happiness” (Muhammad Amin : “Muhammad and Teaching of Qur:an”, page 135). “Seandainya ditakdirkan seorang seperti Muhammad saw menguasai dunia ini secara penuh pada masa sekarang, maka pasti ia akan berhasil memecahkan segala problem mutaakhir yang terjadi, dan akan menjadi kebahagiaan dan kesentoaan dunia” (Ali Ahmad alJarjawy : “Hikmat Syari’at Islam”, jilid I, hal 44,54; Prof KMR Muhammad Adnan : “Tuntunan Iman dan Islam”, 1970:49; O Hashem : “Menaklukan Dunia Islam”, 1965:45-46).

Sayyid Quthub menyebutkn bahwa “manhaj Ilahi (yang terkandung dalam alQur:an) akan terimplementasikan, bila diemban oleh sejumlah orang yang beriman kepadanya dengan iman yang sempurna, konsisten atasinya dan menjadikannya sebagai aktivitas kehidupannya dan puncak cita-citanya, serta berusaha keras untuk menanmkannya kea lam hati orang lain dan dalam kekhidupan praktis mereka” (“Tafsir Fi Zhilalil Qur:an”, jilid 4, Gema Insani Press, Jakarta, 2001:34-35, “Beberapa Pelajaran Penting” dari Perang Uhud).

(BKS0906290700)

Qur:an tanpa Muhammad saw

Sayyid Quthub menyebutkan bahwa “ AlQur:an itu merupakan faaaaaaktor yang menentukan untuk menarik perhatian masyarakat pada masa permulaan dakwah Islam” (“Seni Penggambaran Dalam AlQur:an”, 1981:5). Contoh-contoh mengenai daya tarip/pesona Qur:an yang diceritakan Sayyid Quthub dalam bukunya, terjadi pada masa Muhammad saw masih hidup. Seandainya bukan Muhammad saw, tetapi Abubakar atau Ali misalnya yang menympaikan Qur:an, maka hasilnya tentu tak akan apat mencapai segemilang itu. Jai sosok pribadi Muhammad saw tetap merupakan factor yang ikut menentukan keberhasilan akwah. Barang bagus memrlukan penjual terampil. Sosok Muhammad saw jauh mengungguli setiap insane di setiap waktu (Simak antara lain Khalid Muhammad Khalid : “Memanusiaan Muhammad”, 1984:11).

Sepeninggal Muhammad saw mulailah bermunculan berbagai macam petaka. Meskipun masih mengacu pada Qur:an, namun petaka tersebut tak dapat dihindari, sehingga menodai citra Islam sepanjang masa. Di antaranya tragedy unjuk rasa yang berujung pada aterbunuhnya Khalaifah Utsman bin Affan, dan traedi perseteruan yang juga berujung pada gugurnya Khalifh Ali bin Abi Thalib. Seandainya Muhammad saw masih hidup pada waktu itu, mustahil akan terjadi petaka tersebut. Muhammad saw sendiri telah mengisyaratkan akan terjdinya petaka tersebut. Sabda Muhammad saw : “Demi Allah, bukan kemiskinan yang saya kuatirkan atas kamu, tetapi saya kuatirkan kalau terhampar luas bagimu dunia ini, kemudian kamu berlomba-lomba, sehingga membinasakan kamu” (HR Bukhari, Muslim dari Amru bin Auf alAnshary dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, Pasal “Keutamaan Zuhud”). “Janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku, yang satu memenggal leher yang lain” (HR Bukhari, Muslim dari Jabir dan Ibnu Umar dalam “AlLukluk wal Marjan” Muhammad Fuad Abdul Baqi, Bab : “Janganlah Kalian Kafir sepeninggalku). Alasan (alih ?) untuk pembenaran petaka ini disebutkan bahwa “Menjadi keharusanlah bagi para sahabat itu untuk menentukan pendirian, dan memilih salah satu dari pendapat yang bermacam-macam itu,”, karena Rasulullah saw sudah tiada untuk menentukan kebenaran yang dipertikaikan manusia itu (Simak Khalid Muhammad Khalid : “Karakter 60 Sahabat Rasulullah”, 1983:700).

Sikon masa kini sangat jauh berbeda dengan sikon masa Muhammd saw masih hidup. Seorang orientalis anti Islam, Washington Irving melukiskan ajaran Qur:an “yang mendorong sekelompok tentara menyerbu ke medan perang untuk mendapat surga” (Muhammad Husein Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:693, Orientalis dan Kebudayaan Islam”). Meskipun Qur:an masih tetap merupakan rujukan, namun tak mampu mendorong orang ke medan perang mendapatkan surga. Surga masa kini adalah kemewahan duniawi. Tak ada yang tertaring dengan surga seperti yang digambarkan dalam Qur:an. Qur:an tak mendapat respon seperti masa Muhammad saw hidup. Sesuai dengan sikonnya, kini dibutuhkan sosok Mujaddid yang serba tahu IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB(Simak Abul A’la alMaududi : “Sejarah Pemberuan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, 1984:50, “Mengenal Mujaddid”)

Qur:an butuh akan penafssir yang mumpuni. Butuh akan sosok Muhamma saw masa kini, yang memiliki ‘izzah, kepemimpinan, keibawaaan, keteladanan Muhammad saw masa lalu, yang disegani kawan dan lawan (Simak QS 48:29). Butuh akan sosok “ulama waritsatul anbiyaa”, ulama yang mewarisi kecerdasan, kejujuran, ketulusan Muhammad saw. George Bernard Shaw, filsuf Inggers, dalam bukunya “Getting married” mengatakan “ I believe that if a man like Muhammad were to accuse the dictatorship of the moern world he would succed in solving its problem in way that world bring in much needed peace and happiness” (Muhammad Amin : “Muhammad and Teaching of Qur:an”, page 135). “Seandainya ditakdirkan seorang seperti Muhammad saw menguasai dunia ini secara penuh pada masa sekarang, maka pasti ia akan berhasil memecahkan segala problem mutaakhir yang terjadi, dan akan menjadi kebahagiaan dan kesentoaan dunia” (Ali Ahmad alJarjawy : “Hikmat Syari’at Islam”, jilid I, hal 44,54; Prof KMR Muhammad Adnan : “Tuntunan Iman dan Islam”, 1970:49; O Hashem : “Menaklukan Dunia Islam”, 1965:45-46).

Sayyid Quthub menyebutkn bahwa “manhaj Ilahi (yang terkandung dalam alQur:an) akan terimplementasikan, bila diemban oleh sejumlah orang yang beriman kepadanya dengan iman yang sempurna, konsisten atasinya dan menjadikannya sebagai aktivitas kehidupannya dan puncak cita-citanya, serta berusaha keras untuk menanmkannya kea lam hati orang lain dan dalam kekhidupan praktis mereka” (“Tafsir Fi Zhilalil Qur:an”, jilid 4, Gema Insani Press, Jakarta, 2001:34-35, “Beberapa Pelajaran Penting” dari Perang Uhud).

Catatan : Kata Rasulullah saw, kamu tak akan tersesat seelama kamu berpegang pada Quran dan Hadits (Kitabullah dan Sunnah RasulNya). Ini secara teoritis (nash). Namun dalam praktek nyata tanpa adanya sosok seperti Muhammad Rasulullah saw, meskipun sama-samaa tetap berpegang pada Quran dan Hadits, senantiasa terjadi konflik, sengketa sesame Muslim. Di zaman Rasulullah saw pernah terjadi silang pendapat antara Abu Bakar dan Umar tentang tawanan perang Badar. Namun taak menimbulkan konflik, sengketa, karena langsung diselesaikaaaaaaaan Rasulullah saw (Simak Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, juz X, Panjimas, Jakarta, 1983, hal 60-51; KH Qomaruddin Shaleh dkk : “Terjemah Asbabun Nuzul”, Diponegoro, Bandung, 1975, hal 29, re QS 8:67-68, hal 454, re QS 49:1-5. Juga kalau tak salah di masa Rasulullah saw masih hidup, terjadi sedikit pelecehan dari Abi Dzar AlGhifari terhadap Bilal bin Raabah. Namun langsung diatasi Rasulullah saw.

(BKS0906290700)

Hidup di tengah-tengah Muhammad Rasululah saw

Pada suatu hari, Abu Dzar Al-Ghifari terlibat percekcokan dengan Bilal. Karena kesal, Abu Dzar berkata, “Engkau juga menyalahkanku wahai anak perempuan hitam?” Mendengar dirinya disebut dengan anak perempuan hitam, Bilal tersinggung, sedih, dan marah. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada Rasulullah Saw. Beliau kemudian menasihati Abu Dzar, “Hai Abu Dzar, benarkah engkau mencela Bilal dengan (menghinakan) ibunya? Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah.”

Mendengar nasihat Rasulullah Saw. itu, Abu Dzar tersadar dari kesalahannya. Segera ia menemui Bilal. Abu Dzar kemudian meletakkan pipinya di tanah seraya mengatakan, “Aku tidak akan mengangkat pipiku dari tanah hingga kau injak pipiku ini agar engkau memaafkanku.” Namun Bilal tidak memanfaatkan momentum ini untuk membalas dendam. Bilal malah berkata, “Berdirilah engkau, aku sudah memaafkanmu.” Begitulah Abu Dzar dengan mudah dan berani mengakui kesalahan yang ia lakukan bukan dengan sengaja untuk menghinakan Bilal.

Di sisi lain (pelajaran yag dapat diperoleh)  tampak betapa peran Rasulullah saw sebagai mediator yang tepat dan bisa meleraikan, meredakan amarahnya yang tersinggung. Rasulullah menjadi tempat curhat yang adil, tempat yang bisa menyelesaikan masalahnya dan kegundahan hatinya. Apa yang kemudian terjadi sepeninggal Rasulullah saw, pada masa-masa tak ditemukan sosok yang seperti Rasulullah saw itu bermunculanlah konflik, sengketa antar sesama Muslim yang merupakan noda-noda sejarah umat Islam.

 Rasul lantas menemui sahabatnya Abu Dzar untuk mengklarifikasi masalah yang diadukan oleh Bilal. Rasul tidak lantas menasehati Abu Dzar, namun ia meminta kebenaran, terlihat dari kata-kata “Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah.” Didahului oleh kata-kata “Hai Abu Dzar, benarkah engkau mencela Bilal dengan (menghinakan) ibunya” disini kita juga bisa belajar kepada Rasul dalam proses tabayun (klarifikasi) tidak semena-mena menerka dan menjatuhkan vonis terhadap seseorang.

Mendengar nasehat dari Rasul, Abu Dzar yang sejatinya tidak ingin lagi jiwa jahiliyah bersemayam dihatinya lagi, ia merasa tertampar, ia merasa malu pada dirinya, Rasul, dan tentunya pada Allah. Lantas ia tertatih-tatih menemui sahabat perjuangannya Bilal untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Ia lalu meletakkan pipinya ditanah dihadapan Bilal untuk meminta maaf. Ia begitu merasa bersalahnya terhadap kata-kata makian yang sudah dibilangnya tadi.

Bilal yang melihat pipi teman seperjuangannya menempel ditanah, ia tak tega dan memberikan maaf kepada Abu Dzar “Berdirilah engkau, aku sudah memaafkanmu.”, karena Rasulullah pernah bersabda “Barangsiapa menahan kemarahan, padahal ia mampu memuntahkannya, maka Allah kelak memanggilnya di hadapan para makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani)

Semoga kisah Abu Dzar dan Bilal (semoga Allah merahmati mereka) juga menjadi inspirasi dalam berinteraksi terhadap sesama. (Mengatasi konflik antar sesama).

(Aldo Al Fakhr, Jakarta, 22 Oktober 2010, http://menulisaja.wordpress.com/2010/10/21/mengakui-kesalahan-dan-memberikan-maaf)

Noda-noda hitam dalam Sejarah Islam

Berlumuran noda-noda hitam dalam sejarah Islam. Sejarah Islam penuh
dengan lumuran noda-noda hitam. mulai dari penggugatan, pendongkelan
akan loyalitas/keabsahan kekhilafahan Utsamn bin Affan. Berlanjut
dengan aksi perlawanan, pemangkangan pasukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan
terhadap kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Diteruskan dengan aksi
perlawanan, pembangkangan Bani Abbas terhadap kekhalifahan Bani
Umaiyah. Sampai akhirnya dengan penumbangan khalifah Bani Seljuk.

Para pemikir-pemikir Islam seyogianya secara serius merenungkan,
melakukan introspeksi diri. Kenapa Umat Islam hanya betah diatur oleh
Islam selama 25 tahun, yaitu pada masa Rasulullah saw dan masa
Khalifah Abu Bakar dan Umar. Setelah itu Umat Islam makin berasa gerah
diatur oleh Islam, meskipun masih ada yang menyeru agar kembali pada
Islam (Quran dan Hadits). Kenapa pemerintahan Islam tak bertahan, tak
bisa berlangsung lestari, hanya berusia pendek, sekitar 25 tahun ?
(Simak antara lain Sayyid Qutb : “Keadilan Sosial dalam Islam”,
Pustaka, Bandung, 1994:262).

Bangsa, umat ini hanya tertarik mengambil kapitalsme atau komunisme
menyelesaikan masalahnya. Kenapa bangsa, umat ini tak tertarik pada
solusi yang ditawarkan Islam untuk menyelessaikan masalahnya ? Apakah
para da’i, muballigh, pemikir, ideologi Islam dipandang tak memiliki
sifat, skap AlAmin, orang Keperayaan, orang terpercaya ? Atau apakah
karena solusi yang ditawarkan tak lebih hanya sebatas wacana (di
awang-awang, tak membumi, tak aplikatif) ? Ataukah solusi yang
ditawarkan tak dapat dipahami oleh mereka ? “Berbicaralah kepada
manusia menurut kadar kecerdasan mereka masing-masing” (HR Muslim.
Terjemahkanlah ajaran Islam sesuai dengan daya nalar objek dakwah
(Simak antara lain M Natsir : “Fiqhud Dakwah”, Ramadhani, Semarang,
1981:162; PANJI MASYARAKAT, No.249, 15 Januari 1978, hal 30). Sampai
saat ini dunia hanya tertarik pada Sistim Ekonomi kapitalis atau
Sistim Ekonomi Sosialis (Karl Marx) dan tak tertarik pada Sistim
Ekonomi Islam (Taqiyuddin ?).

Noda-noda hitam itu seluruhnya berkaitan , berhubungan dengan
ketatanegaraan. Siapa yang berhak menjadi Kepala Negara ? Bagaimana
susunan sistem pemerintahan dalam Islam ? Dan lain-lain ? Kini di
kalangan non Islam muncul pertanyaan “Apa untungya negara Islam”
(Silakan buka di Google). Dan di kalangan Islam muncul pertanyaan “Apa
perlunya negara Islam” (Simak antara lain
http://lintasterakhir.wordpress.com.

Jika dicermati secara sungguh-sungguh, daulah Islamiyah tak mengenal
Trias Politica. Kepala Negara bertanggungjawab penuh atas tugas
eksekutif (ri’aa), dan yudikatif (qaadhi). Tak dikenal terminologi
intervensi, menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi keputusan
pengadilan.

(BKS100725930)

 

[orang yang biasa qiyamul lail yang sering shalat tahajjud, Allah memberikannya kebijaksanaan dalam menyelesaikan permasalahannya].  

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: