Menggugat Imperialisme Ekonomi (Investasi asing)

Menggugat Imperialisme Ekonomi (Investasi asing)

Kita ini selalu dinina bobokkan , bahwa kemajuan bangsa ini bisa diraih dengan dana investor asing. Tanpa dana investor asing bangsa ini tak akan pernah maju. Tanpa dana investor asng, maka angka pengangguran akan membengkak. Yang memberi makan bangsa ini adalah investor asing. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah investor asing itu memperbudak bangsa ini, menjadkan bangsa ini hanya sebaga kulinya, memeras keringat bangsa ini untuk kepentngan pundi-pundi keuangannya. Mempertahankan investor asing berarti mempertahankan perbudakan, penjajahan ekonomi.

Selalu didengung-dengungkan, diintrodusir, bahwa kesejahteran bangsa ini terantung pada belas kasihan bantuan asing, belas kasihan IMF, Bank Dunia, belas kasihan PMA, belas kasihan perusahaan asing di Indonesia. Bila buruh berulang macam-macam, maka perusahaan asing akan cabut merelokasi perusahaannya ke negara lain. Akibatnya jutan orang kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan. Akhirnya terjadi krisis sosial-ekonomi-politik.

Bustanuddin Agus, Guru Besar Sosiologi Agama UNAND dalam tulisannya “Imperialisme Modern” (REPUBLIKA, Kamis, 9 Nopember 2006, hal 4, Opini) menggugat kebijakan yang berorientasi pada investasi asing. Semua persoalan bisa diselesaikan dengan mengundang investasi asing. “Persoalan pengangguran, obatnya investasi. Defisit keuangan negara, obatnya pinjaman luar negeri atau investasi yang capable”. “Persoalan ekonomi kait-mengait dengan faktor sosial budaya yang lain”. “Ikut latah dengan investasi asing membawa akibat menjadi buruh di tanah sendiri”.

Kalangan akademisi seyogianya menjadikan “Gugatan” Bustanuddin Agus itu sebagai pokok “kajian akademis” di setiap forum akademi, baik di simposium, di seminar, di lokakarya, atau lainnya.

Dalam hubungan ini, diharapkan kiranya adanya sajian tentang “Kajian dan Sorotan Terhadap kebijakan Perekonomin dan Keuagn”, seperti :

–      Hubungan antara turun naiknya nilai kurs rupiaah dengan aktivita pasar valuta asing (jual beli dengan uang).

–          Hubungan antara kemakmuran rakyat banyak (meningkatnya daya beli masyarakat) dengan Penanamn Modal Asing (PMA) dan Penanamn Modal Domestik (PMDN).

–          Hubungan antara pembanagunan kesejahteraan rakyat banyak dengan bantuan pinjaman Luar Negeri (utang bunga berbunga).

–          Hubungan antara perluasan lapangan kerja (penurunan angka pengangguran) dengan penurunan tingkat suku bunga (riba).

–          Faktor-faktor social-politik-moral-budaya yang merupakan penyebab terjadinya resesi/krisis ekonomi dan moneter.

–          Perbandingan teoriti dan praktis antara teori ekonomi menurut Islam dengan teori Marx dan dengan teori Keynes.

–          Pokok-pokok pikiran/pandangan dari pakar ekonomi Muslim, semacam Abdurrahman Maliki (As-Siyatul Iqtishadiyah al-Mustla?), Abdul Qadil Zallum (Al-Amwal Fi Daulah Khilafah), Taqiyuddin An-Nabhny (Nidzamul Iqtishady fi Islam).

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: