Gugatan terhadap hadis tentang Islam-Iman-Ihsan

Gugatan terhadap hadis tentang Islam-Iman-Ihsan

Catatan serbaneka asrir pasir (Asrir Sutanmaradjo)

Dalam PANJIMAS lama (No.616, 1-10 Juli 1989) dijumpai artikel “Menimbang Hadits Trilogi Islam-Imn-Ihsan” oleh Ahsin Mohammad (hal 75-76).

Ahsin mohammad adalah juga penyunting “Hak Asasi Manusia Dalam Islam”, terjemahan karya Abul A’la audui, terbitan Pustaka Salman, bandung, 1985 (cetakan I).

Artikel Ahsin tersebut diatas menggugat kesahihan matan HR Muslim yang bersumber dari Umar bin Khatthab ra yang menerangkan tentang Islam-Iman-Ihsan.

Untuk mendukung gugatannya Ahsin antara lain membawa Fazlur Rahman, haekal.

Maryam Jameelah dalam bukunya “Islam & Moderenisme”, terjemahan A Jainuri & Syafiq AMughni, terbitan al-Ikhlas, Surabaya, 1982, mengulas isi buku Fazlur Rahman “Islam”, terbitan Weindefeld and Nicholson, London, 1966; Islamic Methodology in History, terbitan Central Institute of Islamic Research, Karachi, 1965 :

“Shalat lima waktu sama sekali tidak disebut dalam Al-Quran ….. Dalam periode setelah kenabian jumlah shalat dengan keras ditentukan tanpa banyak alternative yang jumlahnya lima, dan nyatanya shalat yang tiga dan fundamental itu ditenggelamkan sewaktu gelombang munculnya Hadits itu beredar guna mendukung ide bahwa shalat itu adalah lima kali” (Fazlur Rahman, hal 36, via Maryam jameelah, hal 133).

Muhammad Husain Hekal dalam Pengantar cetakan kedua, bukunya “Sejarah Hidup Muhammad”, terjemahan Ali Audah, terbitan Tintamas, jakaarta, 1984 (cetakan kesembilan) menyebut syarah Muslim Nawawi dan Ibnu Khaldun, Ibnu Katsir untuk menolak hadits tentang gharaniq (hal cii-cv). Dalam cerita gharanic terdapat riwayat bawa nabi Muhammad saw telah berdamai dengan kaum Quraisy, sebab beliau telah sudi mengakui berhala gharaniq (Simak dalam QS al-Hajj dan an-Najm, “Tafsir Al-Azhar”, 1981, juzuk I, hal 42, Pendahuluan).

Hekal menukil ucapan Ibnu Khaldun : “Saya tidak percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan Quran, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya” (hal cv).

Ahsin dalam artikelnya menyebut mam nawawi (pengarang syarah Muslim), Ibnu Khaldun, Ibnu Katisr untuk menggugat kesahihan matan hadis tentang Islam-Iman-ihsan.

Imaam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-naway mencantumkan hadis tentang Islam-Iman-Ihsan sebagai hadis shahih dalam bukunya “Riadhus Shalihin” (terjemahan Salim Baahreisy, terbitan al-Ma’arif, Bandung, 1983, cetakan ketujuh, hal 83-85, hadis no.1).

Dalam kata pendahuluan “Riadhus Shalihin”, Imam Nawai menegaskan “Dan telah sya tetapkan tidak lain akan menyebut di sini kecuali hadis yang shahih dan jelas” (Tarjamah jilid I, hal 9).

(Pertanyaan : Dalam syarah Muslim, apakah Imam Nawawy menggugat kesahihan matan hadits tentang Islam-Iman-Ihsan ?).

Prof Dr TM Hasbi ash-Shiddieqy dalam bukunya “Al-Islam”, terbitan Bulan bintang, Jakarta, 1977 (cetakan keempat), jilid II menempatkan hadis tentang Islam-man-Ihsan untuk mengetahui hakikat agma Islam dan anasir-anasirnya (hal 622-624) Juga tercantum dalam “Tarjamah Al-Luk-luk wal marjan”, jilid 1, hal 4, hadis 5).

Syaikh Mohammad Al-Ghazaly dalam bukunya “Bukan dari ajaran Islam” (terjemahan H Mu’ammal amidy, trbitan Bina Ilmu, Surabaya, 1982, cetakan ketga) mencantumkan sejumlah hadits tentang Islam. Kemudian ditutup dengan ulasan berikut : “Keseluruhan hadits tersebut tidak ada yang bertentangan antara satu dengan lain, bahkan tidak juga berlawanan dengan ayat Al-Quran. Hanya orang-orang yang masih kacau dalam memahami ajaran-ajaran Islam yang menganggap adanya pertentangan antara nash-nash Al-Quran dan Hadits-Hadits”. “Para ulama Muslim di mana-mana yang telah lalu sebenarnya sudah mempunyai pandangan yang sehat dalam cara-cara beristidlal dan memahami ayat-ayat dan Hadits-hadits rasul” (hal 43-44).

Dr Musthafa as-Siba’i dalam bukunya “Al-hadits sebagai sumber Hukum” (terjemahan Drs Dja’far Abd Muchith, terbitan Diponegoro, Bandung, 1982, cetakan II) menukil ucapan Ibnu Hzmin “Tiada celah sedikit pun bagi Hadits shahih untuk bertentangan dengan Al-Quran” (hal 238).

Dr Musthaa as-Siba’i juga mengemukkan bahwa : “Menurut Dr Taufiq Sidqi, apabila As-Sunnah menetapkan hukum lain, pasti tidak sejalan dengan Al-Quran. Dan apabila tidak menetapkan hukum baru berarti Hadits tersebut tidak diperlukn” (hal 226).

Di tempat lain Dr Musthafa as-Siba’i mengemukakan bahwa “Pandangan Ulama Hadits dalam mengaji dan meneliti kesahihan suatu hadits menunjukkan sikap yang sangat berhati-hati dalam menetapkan kebenaran secara ilmiah” (hal 353), “bukan didorong oleh asa rakus untuk meneliti atau oleh keinginan untuk menjadi pemutus kata” (hal 354, 351), “Ulama hadis sangat hati-hati untuk menolak riwayat yang maknanya tampak kabar serta menimbulkan keragu-raguan dalam akal untuk mnerimanya” (hal 362), “tidak bertindak tergesa-gesa dan cepat menolak keshahihan matan hadits” (362).

Dr muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy dalam bukunya “Sirah Nabawiyah” (terjemah Auni Rfiq Shalih Tamhid, terbitan Rabbani Press, Jakarta, 1992) mengemukakan : “Kita harus menyadari bahwa kriteria yang kita pakai dalam eneria suatu khabar (hadits) adalah kebenaran dan kesahihan riwayat”. Bila suatu khabar (hadits) telah terang, jelas, nyata ksahihan riwayatnya, maka tidak ada pilihanlain (alternative) bagi kita, kecuali hanya kit harus menerimany secara bulat, utuh. Adalah mudah meyakini suatu riayat (hadits)yang shahih baik diketahui hikmatnya atau tidak (hal 50).

Prof Dr Hamka dalam “Tafsir Al-Azhar”, juzuk I, tertian Yayasan nurul Islam, Jakarta, 1981 (cetakan ketiga), pada hal 33 (Pendahuluan) menyatakan : “apabila terdapat Nash al-Quran yang jlas, terang, nyata, masuk akl, tidak meragkan, sehingga tidak perlu tasirn lagi, bertemu dengn Hadits yang bukanmasyhur, seang isi matan hadits itu berlawanan, bertentangan dengan Nash yang sahih (jelas) dan nyata dari al-Quran itu, maka pad saat itu barulah hadits itu ditinggalkan”.

Prof Dr Hamka dalam majalah PANJI MASYARAKAT, No.249, 15 Juni 1978, mengemukakan : “Kalau bertemu hadits yang shahih atau hasan, yang dirasa kurang masuk akal, bukanlah berarti hadits yang salah, mungkin otak kita sendiri yang belum terbuka hijabnya buat menerima rahasia yang terkandung di dalamnya” (hal 56, “Tanya Jawab Agama”).

Bekasi 15 Juli 1993 09.00

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: