Riwayat-riwayat tentang Qunut

Riwayat-riwayat tentang Qunut

Catatan serbaneka asrir pasir (Asrir Sutanmaadjo)

Imam Bukhari, Nisa-I, Abu Daud, Daraquthni, Baihaqi (murid Hakim) mengikuti madzhab Syafi’I (KH Sirajuddin Abbas : “Ulama-Ulama Syafi’I”).

Baik dalam kitab-kitab hadis abad ke-3 (Bukhari, Muslim, Nisa-I, Tirmidzi, Ibnu Majah) maupun dalam kitab-kitab hadis abad ke-4 (Daraquthni, Hakim, Bihaqi) tak terdapat hadis yang disepakati shahihnya oleh Ulama Hadis, yang secara pasti menegaskan, bahwa Rasulullah sampai beliau meninggal, senantiasa membaca do’a Allahummahdini (a) dalam shalat shubuh setelah bangkit (i’tidal) dari rku’ pada raka’at kedua dengan mengangkat tangan dan dengan suara nyaring (jahar) yang diaminkan oleh makmum (Ibnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, juzuk I, hal 69).

Menurut kaidah : Tiap-tiap riwayat yang berlawanan satu dengan lainnya, tidak dapat dijadkan alas an (hujjah) (Moh Ma’sum : “Soal Jawab”, hal 135).

Di kalangan tabi’in trsebar kabar bahwa Rasulullah sampai beliau meninggal, senantiasa berqunut membaca do’a Allahummahdini (a) dalam setiap shalat shubuh sesudah bangkit (i’tidal) dari ruku’ pada raka’at kedua dengan mengangkat tangan dan dengan suara nyaring (jahar) yang diaminkan oleh makmum (Ibnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, hal 69).

Juga tersebar kabar bahwa Abu bakar, Umar, Usman, Ali dan shahaat-shaaahabat yang pernah turut perang Badar berqunut dalam shalat shubuh sesudh bangkit (i’tidal) dari ruku’ pada raka’at kedua dengan mengangkat tangan an suara nyaring (jahar) yang diaminkan oleh makmum.

Terjadi tiga kali kasus tewasnya 70 orang shahabat, yaitu pada peristiwa (yaum) Uhud, Bi’r Ma’unah dan Yamamah (As-Sindi : “Matan Bukhari”, juzuk III, hal 26, “Yum Uhud”).

Ketika 70 orang shahabat tewas di perang Uhud, Rasulullah dalam shalat shubuh sesudah bangkit (i”tidal) dari ruku’ pada raka’at kedua memohon laknat Allah terhadap Abu Sufyan, al-harits bin Hisyam, Suhail bin Amru, Shofwan bin Umaiyah (Imam jalaluddin as-Suyuthi : “Tarjamah Lbabun nuqul fi Asbabin Nuzul”, hal 104-105; Prof Dr Hamka : “Tafsir al-Azhar”, juzuk Iv, hal 99, re QS 3:128)

Ketika 70 orang utusan Rasulullah terbunuh di Bi’r Ma’unah, Rasulullah berqunut dalam shalat shubuh selama sebulan, memohon kebinasan atas uak Bani Sulaim (Ri’il, Zakwan, ‘Ushaiyah) yang durhaka, tanpa diaminkan oleh makmum.

Setelah turun ayat QS 3:128, Rasulullah meninggalkannya, tidak agi berqunut memohon kebinasaan atas puak bangsa Arab yang durhaka.

Abu Bakar, Umr, Usman, Ali dan Shahabat-shahabat yang pernah turut perang badar, ketika menghadapi pemberontakan Musailamah al-kadzdzab pada peristiwa (yaum) Yamamah berqunut dalam shalat shubuh sesudah bangkit (i’tidal) dari ruku’ pada raka’at kedua memohonkan kebinasaan atas kaum pemberontak (Ibnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, hal 73).

Hakim meriwayatkan, bahwa menurut Abu hurairah, Rasulullah pada raka’at kedua dalam shalat shubuh sesudah bangkt (i’tdal) dari ruku’ mengangkat kedua tangan, membaca do’a Allahummahdini (bukan Allahumahdina). Hakim menerima riwayat ini dari Ahmad bin Abdullah al-Mazni, dari Yusuf bin Musa, dari Amad bin Shalih dari ibnu Abi Fudaik, dari Abdullah bin Sa’ad al-Maqari, dari Sa’id al-Maqbari, dari Abu hurairah. Rawi ang bernama Abdullah bin Sa’id al-Maqbari dilemahkan oleh Daraquthni, dll. Riwayat ini menyalahi riwayat yang lebih tinggi martabatnya (Moh M’sum : “Soal Jawab”, hal 130, 134 [catatn c], 444; Ibnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, juzuk I, hal 69).

Ahmad, Draquthni, Abdur Razaq, Abu nu’aim, Baihaqi, Hakim meriwayatkan, bahwa menurut Anas, Rasulullah berqunut selama sebulan, memohon kebinasaan atas golongan yang berbuat makar terhadap shahabat-shahabat Rasulullah di Bi’r Ma’unah, kemudian Rasulullah meninggalkannya, kecuali dalam shalat subuh yang senantiasa dilakukan Rasulullah sampai wafat. Riwayat ini diperselisihkan shahihnya oleh Ulam Hadis, karena dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Abu ja’far ar-Rzie yang dilemahkan oleh Imam Ahmad, dll. Abu ja’far ar-Razie meriwayatkannya dari Rabi’ (Ibnu Hajar : “Tarjamah Bulughul Maram”, hal 178, hadis 324-325, catatan 1; Moh Ma’sum : “Soal jawab”, hal 129, 133, catatan A; Ibnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, hal 70).

Ahmad, Hakim meriwayatkan, bahwa menurut Hasan Bashri, shahabat-shahabat yang pernah turut perang Badar berqunut dalam salat shubuh sesudah ruku’. Riwayat ini dilemahkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Talkhishul Habir (Mukhtashar dari al-Badrul Munir oleh Ibnul Mulaqqin, syarah al-ajiz oleh Imam Ghazali) (Moh Ma’sum : “Soal Jawab”, hal 132, 135 catatan F).

Rafi’i meriayatkan, bahwa Umar berqunut sesudah ruku’ dengan suara nyaring, dengan mengangkat kedua tangan (A Hassan : “Soal Jawab”, hal 440).

Baihaqi meriwayatkan : Bahwa menurut Abdullah bin Ma’qil, Ali berqunut dalam shalat shubuh. Syafi’I juga meriwayatkan demikian. Bahwa menurut Aswad, Umar tak pernah berqunut seain dalam shalat shubuh. Dar ‘Awwam bin Hamzah, bahwa menurut Abu ‘Usman, Abu Bakar, mar, Usman berqunut sesudah ruku’. Riwayat ini menyalahi riwayat ang lebih tinggi martabatnya (Moh Ma’sum : “Soal Jawab”, hal 131, 134 catatan E; ALMUSLIMUN, Bangil, No.299, hal 15-17).

Abu Daud, Ahmad meriwayatkan, bahwa menurut Ibnu Abbas, rasulullah berqunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya dn Shubuh pada raka’at akhir sesudah bangkit (i’tidal) dari ruku’, memohonkan kebinasan atas puak-puak Bani Sulaim (Ri’il, Zakwan, ‘Usyaiyah) yang diaminkan oleh makmum. Riwayat ini menyalahi riwayt yang lebih tinggi martabatnya (Moh Ma’sm : “Soal jawab”, hal 133; Ibnu Hajar : “Trjamah Bulughul Maram”, hal 179, catatan VI).

Bukhari meriwayatkan dari Abi Qilabah, bahwa menurut Anas, berqunut itu dalam shalat Maghrib dan Shubuh (Ibnu Hajar : “Tarjamah Bulughul Maram”, hal 179, catatan IV; As-Sindy : “Matan Bukahari”, juzuk I, hal 178).

Bukhari meriwayatkan dari Abi Salamah, bahwa menurut Abi Hurairah, Rasulullah berqunut dalam shalat ‘Isya pada raka’at akhir membaca do’a Allahumma anji (As-Sindy : “Matan Bukhari”, juzuk I, hal 178; juzuk III, hal 113, re QS 3:128; juzuk Iv, hal 112, 200, al-Ikrah).

Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Hanafiyah, bahwa menurut Ibnu Abbas, Rasulullah berqnut pada shalat witir dan shubuh. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Abdur Rahman bin Hirmiz yang dilemahkan oleh Ibnu Hajar. Riwayat ini menyalahi riwayat yang lebih tinggi martabatnya (Ibnu Hajar : “Trjamah Bulughul Maram”, hal 181, hadis 329; Moh ma’sum  “Soal Jawab”, hal 131, 134 catatan D).

Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nisa-I, Ibnu Majah, Thabrani, Baihaqi meriwaatkan, bahwa menurut Hasan bin ‘Ali, Rasulullah mengajarkannya bacaan do’a Allahummahdini daalam salat witir. Riwayat ini diperselisihkan kesahihannya oleh Ulama Hadis (Ibnu Hajar : “Tarjamah Bulughul Maram”, hal 180, hadis 328; hal 181, catatan I; bnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, juzuk I, hal 87, 73).

Ibnu Mjah meriwayatkan dari Abzi, bahwa menurut Ubai bin ka’ab, Rasulullah berqunut sebelum ruku’ dalam shalat witir (Ibnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, juzuk I, hal 87; A Hassan : “Soal Jawab”, hal 881).

Ibnu Majah  meriwayatkan, bahwa menurut Anas, berqunut dalam shalat shubuh sebelum atau sesudah rku’ (A Hassan : “Soal jawab”, hal 881).

Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdul ‘Aziz, bahwa menurut Anas, qunut itu sesudah membaca Qur-an (Imam Syafi’i  : “Tarjamah al-Umm”, jilid II, hal 13; “Al-Umm”, hal 183-186, bab qunut fil Jum’at; Ibnu Hajar : “Tarjamah Bulughul Maram”, hal 179).

Baihaqi meriwayatkan dari Abi Miljaz, bahwa menurut Ibnu Umar tidak terdapat khabar dari hal qunut dalam shalat shubuh (Moh Ma’sm : “Soal Jawab”, hal 136; Ibnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, hal 69).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan, bahwa menurut Anas, rasulullah tak pernah berqunut, melankan hanya apabila mendo’akan kebaikan bagi satu kaum atau mendo’akan kebinasaan atas satu kaum (Ibnu Hajar : “Tarjamah Bulughul Maram”, al 179, hadis 326, catatan II; moh ma’sum : “Soal Jawab”, hal 135).

Ahmad, Tirmidzi, Nisaq-I, Ibnu Majah meriwayatkan, bahwa menurut Abu alik (Sa’id bin Thariq) dari bapaknya (Thariq al-Asyja’i), bahwa Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali tidak berqunut dalam shalat shubuh (Ibnu Hajar : “Tarjamah Bulughul Maram”, hal 178, catatan III; hal 179-180, hadis 327; Moh Ma;sum : “Soal Jawab”, hal 134, 136).

Bukhari meriwayatkan dari Salim, bahwa menurut Ibnu Umar, rasulullah dalam shalat shubuh sesudah bangkit dari ruku’ (i’tidal) memohon la’nat terhadap Shofwan bin Umaiyah, Suhail bin ‘Amru, al-harits bin Hisyam (As-Sindy : “Matan Bukhari”, juzuk III, hal 24, 113, re QS 3:128; juzuk IV, hal 112, 267; Ibnu hajar : “Tarjamah Bulughl Maram”, hal 179, catatan V).

Bukhari, Muslim meriwayatkan, bahwa menurut Anas, rasulullah berqunut selama sebulan, mendo’akan kebinasaan puak bangsa Arab yang durhaka, kemudian Nabi meninggalkannya (Ibnu Hajar : “Tarjamah Bulughul Maram”, hal 178, hadis 324; “Matan Bulughul Maram”, bab Shifat Shalat, hadis 3; Moh Ma’sum : “Soal Jawab”, hal 132-133).

Bukhari meriwayatkan dari Abdul Aziz, Qatadah, Ishaq, bahwa menurut Anas, rasulullah berqnut dalam shalat shubuh selama sebulan, ketika 70 orang utusan Rasulullah tewas di Bi’r Ma’unah, memohon kebinasaan atas puak Bani Sulaim (Ri’il, Zakwan, ‘Ushaiyah) yang durhaka, tanpa diaminkan oleh makmum (As-Sindi : “Matan Bukhari”, juzuk III, hal 28-29).

Bukhari mriwayatkan dari ‘Ashim bin Sulaiman al-Ahwal, bahwa menurut Anas, Rasulullah berqunut sebelum ruku’. Rasulullah berqunut sesudah ruku’ hanya sebulan, memohonkan kehancuran golongan musyrikin yang berbuat aniaya terhadap 70 orang utusan Rasulllah (di Bi’r Ma’unah). Dalam riwayat ini terdapat hal yang meragukan, apakh qunut itu sebelum ataukah sesudah bangkit (i’tidal) dari ruku’ (A Qadir Hasan : “Ilmu Musthalah Hadis”, hal 262; Muhammad Fuad Abdl Baqi : “Tarjamah al-Lukluk wal Marjan”, hal 209-210, hadis 394-395; As-Sindi : “Matan bukhari”, juzuk I, hal 178; juzuk III, hal 30; juzuk I, hal 112, 267; A Hassan : “Soal Jawab”, hal 881).

Al-Khatib meriwayatkan dari ‘Ashim bin Sulaiman al-Ahwal, bahwa menurut Anas, Rasulullah hanya (inama) berqunut selama satu bulan mendo’akan kebinasaan atas satu golongan dari golongan musyrikin, yang dikenal dengan nama qunut nazilah (Ibnul Qaiyim : “Zaadul Mi’aad”, juzuk I, hal 71; Moh Ma’sum : “Soal Jawab”, hal 133-134).

Baihaqi meriwayatkan, bawa menurut Anas, rasulullah dalam salat shubuh mengangkat kedua tangannya mendo’akan kebnasaan atas golongan yang membuat makar terhadap shahabat-shahabat Rasulullah (Moh Ma’sum : “Soal Jawab”, hal 439).

(Hai Tuhan. Pimpinlah akan daku dalam golonga mereka yang Engkau telah pimpin dan peliharakan daku dalam golongan mereka yang Engkau telah pelihara, dan jadikan daku di dalam golongan mereka yang Engkau telah beri kekuasaan, dan ber8ilah berkat bagiku di dalam apa-apa yang Engkau telah beri, dan peliharakan daku daripada kejahatan yang Engkau telah ditentukan, karena Engkaulahpenghukum dan tidak dapat Engkau dihukum, dan sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau tolong dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Mahamulia Engkau. Hai tuhan kami. Dan maha Tinggi).

Bekasi, 17 Maret 2012 10.00

 

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: