Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan Indonesia

Catatan serbaneka asrir pasir (Asrir Sutanmaradjo)

“Kebudaaan itu merupakan hasil bentukan dari pemahaman” (Prof Dr Muhammad Ahmazun : “Fitnatul Kubro”, 1994:50). Budaya itu adalah hal yang sudah menyatu dengan diri, yang sudah tak bisa dipisahkan lagi. Budaya suatu bangsa identic dengan watak (perilaku, sikap mental ?) bangsa itu sendiri. (Karakter itu alah gejala jiwa seseorang yang mempengaruhi sifat dan tindakan seseorang. Karakter itu ditentukan oleh bakat, pendidikan, pengetqhuan dan milieu dan alam sekitarnya [Sei H Datuk Tombak Alam : “Kunci Sukses Penerangan Dan Dakwah”, Pusat Akselerasi Ilmu AlQur-an, Jakarta, hal 76-77]).

“Perkembangan kebudayaan mempunyai tujuh unsur utama : system pengetahuan, system teknologi, system ekonomi, system kemasyarakatan, system bahasa dan seni, system religi” (AMW Pranarka : “Strategi Kebudayaan”, hal 11-12, kutipan Prof Dr HM Rasyidi : “Strategi Kebudayan & Perubahan Pendidikan Nasional”, Media Dakwah, Jakarta, 1979, hal 10).

“Dalam Islam, spiritual, etik, moral, sosial, politik dan ekonomi dalam perkembangannya adalah berpusat pada Rukun Iman dan Islam dengan pedoman Qur-an, Hadits dan Sunnah (TM Usman ElMuhammady : “Islamologi”, Pustaka Agus Salim, Dajakarta, 1952, haal 5).

Menurut karakternya, menurut Spranger, manusia itu ada yang manusia politik, manusia sosial, manusia intelek, manusia ekonomi, manusia agama, manusia seni (Sei H Daatuk Tombak Alam : “Kunci Sukses Penerangan dan Dakwah”, hal 76-77).

“Seni, masyarakat, ilmu pengetahuan dan ekonomi harus diarahkan oleh gama” (Prof Dr HM Rasyidi : “Strategi Kebudayaan Dan Pembharuan Pendidikan Nasional”, hal 27).

“Sains, teknologi, ekonomi, sosial, bahasa, seni berada dalam ranah ilmu”. “Ilmu bermula dengan sikap tidak percaya. Agama bermula dengan percaya (iman ?). Agama menghendaki persatuan umat manusia dalam persaudaraan (jangan berbuat sewenang-wenang ?). (Sesungguhnya Kami [Allah] menciptakan kamu dari s3eorang laki-laki, seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-baangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, QS 49:13). (Saling arif mengarifi, saling tolong menolong, saling bekerjasama, sukhriya, QS 43:32).

Agama mengemukakan bagaimana mstinya (Das Sollen ?). Tujuan agama ialah memberi pegangan hidup kepada manusia supaya ada kesejahteraan dalam hidup manusia dan bangsa. Agama mempunyai meda sendiri, namun agama adalah datum bagi ilmu. Ilmu mempelajari bagaimana adanaa (Das Sein ?). Ilmu juga dituntut untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia” (Mohammad hatta : “Pengantar Ke Djalan Ilmu Pengetahuan”, Pembangunan, Djakarta, 1960, hal 48-49, Ilmu dan Agama”).

(Pertanyaan : Apakah kltur, kebudayaan yang menghasilkan system sains, teknologi, ekonomi, sosial, bahasa, seni, spiritual ? Ataukah system sains, teknologi, ekonomi, sosial, bahasa, seni, spiritual yang menghasilkan kultur, kebudayaan ?).

“Tumbuhnya masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang sejati, yang sesungguhnya digerakkan oleh semangat ke-Indonesiaan. Semangat ke-Indonesiaan itu ialah ciptaan abad ke-dua puluh. Ia tidak bertupang kepada masa yang silam. Tidak pula berdasarkan ras (asal bangsa). Kebudayaan Indonesia itu haruslah memiliki seangat intelektualisme, individualism, egoism, materalisme” (Sutan Takdir Alisjahbana : “Menuju Masyarakat dan Keudayaan baru”, “Semboyan Yang Tegas”, dalam “Polemik Kebudayaan” Achdiat K Mihardja, Balai Pustaka, Djakarta, 1948). “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, QS 70:19). (Salah satu karakter, watak manusia itu adalah suka mencari, kepingin tahu, curiosity, avarice, loba, tamak, rakus, serakah, pelit, kikir, egois, indiidualis, materalis).

Seara teoritis (per definisi) juga praktis, sesungguhnya kita tdak – dan belum pernah – memiliki “Kebudayaan Indonesia”. Kebuayaan kita didapat dari cara transplatasi, cangkokan (sinkretisme ?) tidak melalui internalisasi atau akulturasi. Semua yang merupakan tempelan (copy-paste ?) atau cangkokan akan menjadi artifisial (icak-icak ?). Dan semua yang artifisial akan denga mudah diganti, diperbarui atau dibuang, karena sifatnya temporer. Kebudayan Indonsia menuntut adanya “universum” (Radha Panca Dahana : “Kebudayaan Indonesia’ Gagal, dalam KOMPAS, Sabtu, 17 Maret 2012, hal 6, Opini).

Emha Ainun Nadjib mempertanyakan : “Apakah Kebudayaan Indonesia Perlu Dicari ?” (AMANAH, No.185, hal 44-45).

Bekasi 20 Maret 2012 08.45

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: