Terkontaminasi pola pikir Jahili Sekuler

Pola pikir

 

Pemikiran barangkali bisa disejajarkan dengan Pola pikir, Aqidah. Dalam hubungan ini terdapat hadits-hadits yang menyatakan bahwa Yahudi, Nasrani, Islam terpecah belah lebih 70 pecahan, firqah, aqidah, pola pikir, persepsi, sudut pandang, paham, sekte, aliran.

 

Bila dikaitkan dengan masa kini, maka dalam Islam terdapat sekte, aliran radikalis, fundamentalis, pluralis, liberalis, sekularis, akomodatif, modernis. Dengan demikian pola pikir Islami itu bukanlah tunggal, tetapi variatif, aneka warna.

 

Untuk dapat memahami ini, barangkali perlu pula membahas : Apakah Filsafat itu sama dengan Logika, Mantiq. Apakah Quran, Tauhid/Iman, Takdir/Iradah dapat dipahami seara Filsafat, Logika. bagaimana cara memahami MauNya Allah dari ayat QS 51:56, 36:82, 36:42, 81:29. Bagaimna cara memahami ayat-ayat yang diawali dengan ungkapan “Kalau Allah mau”. Apa beda pola pikir Islam dengan pola pikir Kafir (Iblis, Setan, Yahudi, Nasrani, Majusi, Sekularis, Liberalis).

 

Persepsi, Sudut pandang. Pola pikir Syuhada/mujahid versus pola pikir Deradikalisasi/Sekularis, Liberalis, Pluralis. Logika yang benar (Logka yang Islami). Logika yang salah (logika non-Islami). Islam berpola pikir Islami. Kafir berpola pikir kafir. Kebenaran Flsafat dan Kebenaran Quran. Kebenaran mutlaq dan Kebenaran Relatif.

 

Seorang Muslim berpola pikir Islami, tak berpola pikir Iblis, tak berpola pikir Yahudi, tak berpola pikir Nasrani, tak berpola pikir Majusi, tak berpola pikir Liberalis, tak berpola pikir Pluralis. Laksanakan tanpa komentar.

 

Islam Moderat adalah pemikiran asing berbaju Islam, berupaya mengubah dan memodertnisasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman (kemaun asing), dengan membajak dalil baik dari AlQuran maupun Hadtis untuk mendukung pendapat mereka.

 

Barat (AS dan sekutunya, Yahudi-Zionis Internasional, Kristen Anglo Sakson) mengusung jargon “Islam Moderat”. Dengan jargon “Islam Moderat” dipadamkan kekuatan kaum Muslim, dihentikan perlawanan kaum Muslim, disimpangkan pemahaman keislaman, dirusak pemahaman yang benar terhadap nash-nash AlQuran dan Sunnah (Simak MEDIA UMAT, Edisi 23, 6-19 November 2009, hal 18-19, Fokus; Tony Syarqi : “Presiden AS Pertama yang 100% Yahudi”, 2009:24).

 

Jauh sebelum ini, Sayyid Ameer Ali (1849-1928) dari India dengan bukunya “The Spirit of Islam” (Api Islam) berupaya menarik simpati Barat terhadap Islam, dengan membuktikan bahwa Islam adalah agama yang paling liberal dan rasional, bahwa Islam itu adalah agama damai. Perilaku nabi Muhammad adalah manis, lemah lembut, satria, pemaaf, serta belas kasih. Jihad itu bersifat darurat, terpaksa, defensive (Simak Maryam Jameelah : “Islam & Moderenisme”, 1982:87-88).

 

Hasibulah Satrawi dari Moderate Muslim Siciety mengusung “Deradikalisasi Berbasis Ideologi”. Ada lima buku yang diterbitkan Jama’ah Islamiyah Mesir terkait dengan deradikalisasi berbasis ideology. Maklumat Deradikalisasi, Pengharaman Radikalisme Keagamaan dan Pengafiran Sesama Umat Islam, Mengungkap Kesalahan dalam Memahami Jihad, Nasihat Deradikalisasi dalam Penegakan Amar Makruf dan Nahi Munkar, Jawaban atas Pernyataan tentang Agama-agama Samawi (KOMPAS, Sabtu, 29 Oktobetr 2011), hal 7, Opini).

 

SABILI, Jakarta, No.7 Th.XIX, 5 Januari 2012/11 Safar 1453 menampilkan antara lain “Waspadai Bom-Bom Pemikiran”, hal 84, 87. Prof Dr dr KH Zainal Arifin Adnan Sp PD menulis “Kritik Evaluasi & Dekonstruksi GERAKAN DERADIKALISASI Aqidah Muslim di Indonesia”. Harits Abu Ulya menulis “Antologi, Ustadz ABB di mata Kami”.

 

Persepsi

 

Dalam bidang Optik, sesuatu objek bisa saja terlihat berbeda-beda, tergantung dari faktor sikon disekitarnya. Adakalanya disebabkan karena adanya bias (pembiasan), deviasi (penyimpangan, pembelokan), depresiasi (penurunan).

 

Dalam bidang Psikologi pun sesuatu objek bisa terlihat berbeda-beda, tergantung dari faktor sikon disekitarnya yang mempengaruhinya dan dari cara, sikap pandang si pengamat (observer) sendiri. Persepsi, observasi, evaluasi, pengamatan, penilaian seseorang terhadap sesuatu masalah selalu akan berbeda-beda, tergantung pada sikon disekitar masalah dan sikon disekitar si pengamat.

 

Bila objek dinyatakan sebagai premise mayor (muqaddam kubra) dan sikon sebagai premise minor (muqaddam shughra), maka dalam bidang Logika (Mantiq), persepsi dapat dinyatakan sebagai konklusi (natijah). Dan bila objek dinyatakan sebagai genotip (bawaan) dan sikon sebagai (fenotip) (lingkungan), maka dalam biologi, persepsi dapat dinyatakan sebagai sosok.

 

Persepsi, observasi, evaluasi bersifat sangat relatif, nisbi. Pengamatan, penilaian yang satu tak bisa menyalahkan pengamatan, penilaian yang lain. Dalam Islam disebutkan bahwa sesuatu ijtihad tak dapat membatalkan (la yanqudhu, tak dapat menolak, menafikan, membantah) ijtihad yang lain. Hanya persepsi yang sama sekali bebas dari pengaruh asumsi, prasangka yang bersifat absolut, mutlak.

 

Dalam hubungan ini, kini, belakangan ini marak isu, berita tentang tindak kejahatan, tindak kriminal berkedok, mengatasnamakan NII (Negara Islam Indonesia). Sesuai dengan cara, sikap pandang masing-masing, maka ada yang berkesipulan bahwa NII (Islam) itu menghalalkan segala cara. Dan ada pula yang berkesimpulan sebaliknya bahwa NII (Islam) itu didiskreditkan, dipojokkan dengan berbagai cara.

 

Memperjuangkan tegak-berdirinya NII (Negara Islam Indonesia) secara demokratis di negeri ini, di bumi pertiwi ini, di persada tanah air ini adalah sah, legal saja. Ketika Pancasila dilahirkan, dicetuskan oleh penggagasnya Ir Soekarno dalam siding BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan, Dokuritsu Zyunbi Tyuoosakai) pada 1 Juni 1945, umat Islam diajak agar bekerja sekeras-kerasnya, sehebat-hebatnya supaya hukum-hukum yang keluar dari Badan Perwakilan Rakyat adalah hukum-hukum Islam. Percaya dengan ajakan Ir Soekarno, penggagas Pancasila tersebut, maka tokoh-tokoh umat Islam yang duduk dalam BPUPK menerima, menyepakati ide Pancasila. Negara yang memberlakukan hukum-hukum Islam secara positif adalah Negara Islam. Baldatun thaiyibatun wa rabbun ghafur. Kenapa begitu antipati terhadap hukum Islam ?

 

Masih dalam hubungan ini, kini juga marak isu, berita tentang studi banding ke luar negeri yang dilakukan oleh wakil-wakil rakyat di DPR. Kenapa tak berminat melakukan studi banding ke dalam negeri ? Studi banding antara sitim pemerintahan Minangkabau dengan sitim pemerintahan Jawa ? Studi banding antara  sistim pemerintahan parlementer dengan sistim pemerintahan presidensial ? Studi banding antara konsitusi UUDS-1950 dengan konstitusi UUD-1945 ? Studi banding antara konstitusi NII (NKA, Negara Karunia Allah) dengan konstitusi NKRI ? dan lain-lain, dan lain-lain. Studi banding seyogianya membandingkan negara semacam Brunei, Singapura, Malaysia, Taiwan, Korea, dll  yang tak mengenal Pancasila, tetapi rakyatnya lebih sejahtera dar pada rakyat Indonesia. Kenapa ?

 

Written by Asrir Sutanmaradjo at BKS1105060500

 

Memahami Islam

 

Setiap kita dibentuk oleh pemahaman kita, persepsi kita,. Maksudnya sikap, tingkah laku kita ditentukan, digerakkan oleh pemahaman kita. Pemahaman kita diperdapat, diperoleh dari pendidikan, pengalaman, perasaan, bacaan, tontonan, lingkungan yang merupakan pintu masukan (input gate). Sedangkan pemahaman kita merupakan hasil keluaran (output). Dalam alQur:an surah anNahl (surah 16) ayat 78 disebutkan : “Dia (Allah) memberi kamu pendengaran (assam’a), penglihatan (alabshara) dan hati (alifdah) agar kamu bersyukur.

 

(Kebudayaan itu merupakan hasil bentukan dari pemahaman [Prof Dr Muhammad Ahmazun : “Fitnah Kubro”, 1994:30]. Manusia itu dibentuk oleh pemahamannya. Setiap diri dibentuk oleh pemahamannya, oleh persepsinya

 

Sikap keadaan keberagamaan Islam seseorang sangat beragam. Ketoleransan keberagamaan Islam seseorang sangat luas. Seseorang yang sudah bersyahadat, sudah mengakui ketuhanan Allah dan kerasulan Muhammad saw, ia sudah memilih identitas Islam. Tak seorang pun memiliki otoritas untuk menggugat sikap kesadaran keberagamaan Islam diri. Setiap orang bebas memiliki pandangan sendiri, apakah bid’ah itu termasuk dhalalah ataukah hasanah. Apakah Islam itu diperjuangkan secara terbuka, terang-terangan (ghuraba, ekslusif) ataukah  secara tertutup, sembunyi-sembunyi (inklusif, pluralis). Apakah infaq itu hanya seucil (remah-remah) dari hasil penghaslan, pendapatan, atau sebagian ataukah seluruhnya diserahkan untuk kepentingan perujangan Islam (Simak antara lain : “AlLukluk wal Marjan” Muhammad Fuad Abdul Baqi, bab “Haram Membunuh Orang Kafir Ssudah Mengucapkan : La ilaha illallah”, HR Bukhari, Muslim dari aMiqdad bin alAswad dan dari Usamah bin Zaid)

 

Dalam bahasa biologi dapat disebutkan bahwa perilaku kita ditentukan oleh fenotipe dan genotype. Dalam bahasa psikologi oleh bakat (anleg) dan lingkungan (milieu) seperti dirumuskan dalam Hukum Stern. Sedangkan dalam terminologi Islam mengacu pada sabda Rasullah saw bahwa : “Setiap yang lahir (maulud) dilahirkan (yulad) menurut fithrah (bakat), maka pengasuhnya (lingkungannya, milieunya, abawahu) mengyahudikannya, atau menasranikannya, atau memajusikannya. (H Salim Bahreisy : “Tarjamah Al-Lukluk wal MarJan” Muhammad Fuad Abdul Baqi, jilid II, hal 1010, hadis 1702, Bab : “Tiap Bayi ilahirkan Dalam Fithrah”).  Kekeliruan yang terjadi di kalangan umat manusia adalah kekeliruan yang disesatkan oleh bujukan/godaan/rayuan/bisikan/waswas setan/iblis Kekeliruan itu berkembang menjadi begitu banyak kekeliruan (Asy-Syahrastani : “Al-Milal wa Al-Nihal”, alihbahasa Prof Asywadie Syukur, Lc, Bina Ilmu, Surabaya, hal 5, 7-8). “Aku (kata iblis) pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS 15:39). “(Aku berlindung) dari kejahatan (bisikan/was-was) khannas (dari jin dan manusia)” (QS 114:4-6). Simak juga ayat QS 91:8 yang menyatakan “Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasiqan dan ketaqwaan”. Dalam setiap diri (sedikit atau banyak) terdapat pola pikir, sikap mental fujur (jahili/sekuler). Kontaminasi pola pikir jahili/sekuler ini menyebabkan beda pendapat, silang sengketa baku hantam antar sesama.

 

Untuk memahami Islam bagi orang yang mengerti bahasa Arab ialah dengan memahami alQur:an secara langsung. Hal-hal yang mash belum jelas, maka penjelasannya dapat ditemukan dalam alHadits. Seandainya masih ada juga yang masih belum jelas, maka dari keterangan para sahabat Rasulullah, para tabi’in (sahabat dari sahabat Rasulullah), dan akhirnya dengan menggunakan pertimbangan nalar, akal sehat.

 

Sedangkan bagi yang tak mengerti bahasa Arab ialah dengan memahami terjemahan alQur:an. Yang belum jelas ditelusuri dari terjemahan alHadits. Selanjutnya dari keterangan para sahabat Rasulullah, para tabi’in, dan akhirnya dengan menggunakan pertimbangan nalar, akal sehat. Ringkasnya bisa diperoleh dari bacaan buku/majalah, tayangan televisi, siaran radio, ceramah/taklim.

 

Bagaimanapun tak semua hal tentang Islam dapat dipahami secara nalar, akal, logika. Ini hanya dapat dipahami, diterima dengan iman. Logika manusia terbatas. AlQur:an adalah kalamullah, firman Allah, bukan kalamunnas, kata-kata manusia. Kalamullah tak dapat dipahami secara logika semata, tetapi dengan iman.

 

Sistimatika susunan alQur:an sangat unik. Tak sama dengan sistmatika karya ilmiah. Abul A’la Maududi menyebutkan bahwa alQur:an merupakan satu buku yang dari awal sampai akhinya menghimpun butiran-butiran mutiara yang bertebaran dan permata-permata yang berserakan, yang terkumpul dalam berbagai susunan yang saling sambung menyambung dan untaian yang saling kait mengait. Simaklah bukunya : “Dasar-Dasar Fikiran dan Metoda untuk Memahami alQur:an”.

 

Penjelasan satu ayat alQur:an dapat ditemukan pada ayat yang lain, yang disebut dengan Penafsiran alQur:an dengan alQur:an. Penjelasan, pengertian rukun Iman dalam sesuatu ayat dapat ditemukan dalam ayat yang lain. Sedangkan terminologi rukun (pilar, tiang, sendi, basis, pondamen) tak terdapat baik dalam alQur:an maupun alHadits. Dmikian juga dengan pengertan Mukmin, Muslim, Muttaqin. Di satu tempat dijelaskan secara ringkas, di tempat lan secara luas. Untuk memahaminya haruslah secara menyeluruh saling terkait (totalits terintegrasi).

 

Rukun Iman tentang Qadha dan Qadhar memang memang tak ada secara spesifik, secara khusus terdapat dalam alQur:an, tetapi terdapat dalam alHadits riwayat Muslim bersumber dari Umar bin Khaththab seperti tertera dalam Hadits Arba’in anNawawiah, hadis nomor 2. Dalam alQur:an dapat ditemukan tentang takdir : tentang hakikat takdir, ketentuan takdir, gerakan hati, gerakan anggota, gerakan alam semesta, dan lain-lain. Tidak satu pun yang dapat bergerak tanpa idzin Allah. “Tak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan idzin Allah”.

 

Inti ajaran alQur:an, ajaran Islam adalah agar beriman kepada Allah, bahwa Allah itu Mahakuasa, bahwa tak ada kekuasaan tanpa idzin Allah, agar bertakwa, beribadah kepada Allah, ta’at patuh mengikuti ajaran, perintah Allah. Bahkan sakinah (rest), mawaddah (love), rahmah (mercy) dalam ayat Qur:an surah arum (surah 30) ayat 21 merupakan indikasi (ayat) tentang keMahakuasaan Allah. Materi dan tujuan dakwah terinci dalam cabang-cabang iman, daam ajaran tauhid dalam pengertian luas.

 

Biang Sengketa

 

Dari sudut pandang sosiologi, dari kisah anak-anak nabi Adam as yang tak tertera secara eksplisit dalam Qur-an, diperoleh pelajaran/tafsiran, bahwa sumber, biang konflik, sengketa itu bersfat dunaiwi, materialistic [harta, wanita, tahta] bukan bersifat ukhrawi, spiritualistic.

 

Dari kisah-kisah para Rasul dalam Qur-an, konflik, sengketa itu terdapat pada yang bersifat ukhrawi, bidang akidah, kerohaniaan. Dapat dikatakan bahwa kisah-kisah para Rasul dalam Qur-an memuat pertarungan ideology, pertarungan akidah, antara pendukung akidah tauhid, dengan pendukung akidah syirik.

 

Persengketaan, pertikaian bisa menjurus pada petarungan fisik/qital. Dalam pertarungan fisik, yang menang adalah yang kuat [secara fisik, logistic], bukan yag benar [kuat secara spiritual].

 

Dalam mengatasi persoalan kehidupan, manusia bisa belajar dari alam, menjadikan alam sebagai guru [simak antara lain ayat QS 5:31].

 

Bersikap menyerah, tidak melawan kekerasan merupakan skap patuh terhadap Penguasa Alam Semessta [simak antara lain ayat QS 5:28].

 

Sengketa antara shahabat Rasulullah

 

Kabar, berita, riwayat, informasi tentang prselisihan, pertikaian, pertarungan di antara para shahabat Rasulullah beragam. Ada yang dinyatakan sebagai berita factual, sahih, tercantum dalam kitab-kitab klasik/mutaqaddimin yang dapat ditelusuri kesahihan sandanya [rangkaian pembawa beritanya]. Ada pula yang dinyatakan sebagai berita fiktif, rekayasa.

 

(Antara mental emosional dan rasional. Yang berpikir pendek/pragmatis, yang tidak bisa berpikir rasional, tenang, cenderung, gampang dibakar emosinya, gampang diprovokasi berbuat kebrutalan, yterburu-buru dalam metoda penelitian. Sedangkan yang biasa berpikir logis rasional, cenderung tak gampang terprovokasi, bersikap kritis/tabayun terhadap semua informasi yang ia terima [Dr Daud Rasyid MA : “Fitnah Kubro” Prof Dr Muhammaed Amhazun, 1994:XVI, “kata Pengantar”].

 

Segala yang terjadi adalah sesuai dengan scenario, ketentuan, takdir, snnatullah).

 

Pemberontakan boleh dilakukan antara lain bila tidak akan menimbulkan fitnah/kekacauan dan akan dapat menghaslkan sesuatu yang lebih bak [“Fitnah Kubro”, 1994:565]).

 

Bekasi 20 Januari 2006 05.00

 

Unjuk rasa, unjuk kuasa, unjuk gigi, unjuk kebolehan

 

Catan serbaneka asrir pasir (Asrir Sutanmaradjo)

 

Unjuk rasa atau demonstrasi adalah salah satu alat, sarana perjuangan untuk mendesak menyampaikan tuntutan. Dalam ajaran Islam tak terdapat apa yang namanya unjuk rasa atau demonstrasi atau yang semacam itu. Hanya yang ada dakwah, tabligh, taushiah. Tapi dalam sejarah Islam memang terdapat yang semacam dengan unjuk rasa atau demonstrasi itu, bahkan sampai ke tingkat bughat, pembangkangan, perlawanan, pemberontakan. Kelompok kecil yang diprovokasi oleh Abdullah bin Saba mengobarkan api pemberontakan melawan Khalaifah Usman bin Affan. Mereka menempuh jalan pembangkangan dan perlawanan, dan bukan jalan gerakan yang meluas (Abul A’la Al-maududi : “Khilafah dan Kerajaan”, 1984 :149; Prof Dr A Syalabi : “Sejarah dan Kebudayaan Islam”, 1982:196; simak juga SUARA MUSLIM, Bekasi, Edisi 30, Thn 2011M, hal 8-13, “Hukum Bughat”, oleh Ahmad Salimin Dani MA). Isteri-isteri Rasulullah pernah bersama-sama menuntut nafkah dan perhiasan. Sehubungan dengan itu Allah menurunkan ayat QS 33:18 sebagai petunjuk kepada Rasulullah agar isterinya menentukan sikap, memilih Rawsulullah atau memilih harta benda (“Tarjamah Asbabun Nuzul, hal 388, re QS 33:28; “Tarjamah  Al-Lukluk wal Marjan”, jilid II, hal 524, hadis 945). Pendapat seyogianya disampaikan secara laiyina, santun, sopan,bijak,  cerdas, baik-baik, dengan adu argumentasi, bukan dengan adu jotos. Adu jotos, bakuhantam bisa terjadi adakalanya dipicu oleh karena hasad, dengki, iri dalam masalah kekayaan atau dalam masalah kekuasaan. Kekayan atau kekuasaan tak tersebar merata, atau dengan kata lain tak adanya keadilan.

 

Umat Islam dalam memperjuangkan Islam seyogianya tak mudah ikut-ikutan menggunakan sarana perjuangan tanpa lebih dulu mengkajinya, apakah sarana itu sesuai dan dibenarkan oleh Islam. Umat Islam dalam memperjuangkan Islam seyogianya menggunakan sarana perjuangan yang sesuai dengan yang dibenarkan oleh ajaran Islam. Zionis Israel Yahudi dan Salibis Amerika Sakson bekerjasama mutual simbiosis. Satu sama lain saling membantu. Keduanya adalah sama-sama musuh Islam (simaklah antara lain ayat QS 2:120). Untuk menghadapi kerjasama Zionis dan Salibis tersebut, Umat Islam haruslah menggalang persatuan yang kompak (solid) sesama umat Islam, melakukan konsolidasi, saling bekerjasama, saling membantu. Menyiapkan segala sesuatunya, seperti infantry, artilri, kavaleri, logistic yang dapat menggetarkan mereka (Simak antara lain ayat QS 8:60). Dengan demikian umat Islam akan diprhitungkan lawan, tidak akan dilecehkan, diremehkan lawan, tak akan terjadi kekacauan dan kerusuhan (Simak antara lain ayat QS 8:73).

Ditiup-tiupkan bahwa politik itu kotor, penuh intrik kelicikan, karena itu Islam jangan dibawa-bawa ke dalam politik, bisa-bisa Islam tercemar kotoran dan kelicikan. Padahal islam itu berperan, berfungsi membersihkan kotoran dan kelicikan baik dalam politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain.

 

Bekasi 18 April 2005 05.45

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: