Tantangan Kristen-Amerika

Tantangan Kristen-Amerika

Harian INDONESIA RAYA tanggal 17 Juli 1969 menyiarkan wawancara wartawannya dengan Professor Stanley Spector dari ashington University. Professor tersebut pernah di Jakarta memimpin de4legasi 22 sejarawan Amerika dan mengadakan seminar tentang Studi Asia Tenggara di Bandudng. Menjawab pertanyaan wartawan itu, Professor Spector berpendapat bahwa bukan komunis yang benar-benar berahaya, tetapu “umat Islam konservatif dan fanatik”. Ia mengatakan : “mereka erbahaya karena menghendaki suatu tatanan masyarakat reaksioner dan statis. Reformasil Islam progressil dan modern penting untuk mengatasi ancaman itu (Maryam Jamilah : “Islam & Modernisme”, 1982:243-244). Seorang penulis dalam analisanya dalam koran WASHINTONG POST mengatakan “Tampaknya Islam itu cocok untuk mengisi peran jahat setelah berakhirnya perang dingin. Ia besar, menakutkan, musuh Barat, dihidupi dengan kemiskinan dan kemarahan, di samping juga menyebar di berbagai belahan bumi di dunia ini. Karena itu, peta dunia Islam mungkin dapat dditampilkan di layar TV dengan warna hijau, sebagaimana sebelumnya dunia komunis ditampilkan dengan warna merah” (“Rekonstruksi Pemikiran …”, 2000:206-207).Richard Nixon, mantan Presiden Amerika, dalam bukunya “Kesempatan Emas” mengatakan “orang yang berineraksi dengan dunia Islam, kondisinya seperti seorang yang berada dalam lubang sempit, ditemani sejumlah ular berbisa, racunnya mengandung berbagai ideologi yang sling bertentangan dan paham nasionaalisme yang salaing memukul”. Dalam bukunya “Di Balik Islam”, Richard Nixon mengatakan “Kepentingan-kepentingan hidup kita – yang terejawantahkan dalam bentuk perlindungan bgi negara Israel dan perlawanan terhadap kelompok teroris dan radikal – telah menimbulkan pengaruh nyata terhadapa dunia Islam. Seakan ia (dunia Arab) adalah kantong yang berisi orang-orang Arab idiot yang tidak mencukur jenggotnya an orang-orang Parsia ekstrem keturunan abad-abad pertengahan” (“Rekonstruksi Pemikiran …”, 2000:204-205).Ada kontradiksi dalam perjalanan demokrasi Barat ketika berhadapan dengan Islam. Mereka bersikukuh menganggap bahwa Islam adalah penyebab keterbelakangan. Mereka mengatakan bahwa Islam dan demokrasi adalaha dua hal yang saling bertentangan. Para aaktivis Islam – menurut mereka – hanya memanfa’atkan demokrasi tetapi tidak mempercayainya. Mereka hanaya mengambil seagiannya dan mengekspolitasinya, namun tidak memiliki kesiapan yang lebih dari itu (“Rekonstruksi Pemikiran …”, 2000:63-64).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: