Mencari Format Khilafah

Mencari Format Khilafah (Pola Tata Negara) Mencari Format Khilafah Dalam Tatanegara Nubuwah, Nabi sekaligus bertindak sebagai Kepala Negara, melaksanakan tugas eksekutif dan yudikatif, memusyaarahkan masalah teknis kenegaraan yang pelik dengan Sahabatnya dan mempertanggungjawabkan urusannya sepenuhnya kepada Allah swt. Syari’at Islam berfungsi sebagai undang-undang dan hukum positif. Dalam Tatanegara Khilafah, Kepala Negara dipilih oleh tokoh-tokoh umat. Masa jabatannya sampai akhir hayatnya. Kepala Negara melaksanakan tugas eksekutif (ri’ayah), memusyawarahkan masalah teknis kenegaraan dengan sahabatnya (menerinya) dan mempertanggungjawabjan urusannya kepada Allah swt dan juga kepada umat. Tugas yudikatif (qadhi) diserahkan Kepala Negara kepada sahabatnya (menerinya). Syari’at Islam berfungsi sebagai undang-undang dan hukum positif. Dalam Tatanegara Daulah, Kepala Negara secara turun temurun. Kepala Negara melaksanakan tugas eksekutif, memusyawarahkan masalah teknis kenegaraan dengan wazirnya (menterinya) dan mempertangungjawabkan urusannya kepada Allah swt dan juga kepada umat. Tugas yudikatif (qadhi) diserahkan Kepala Negara kepada wazirnya (menterinya). Syari’at Islam berfungsi sebagai undang-undang dan hukum positif. Dalam Tatanegara Monarsi Konstitusional, Kepala Negara secara turun temurun sebagai Raja. Tugas eksekutif dilaksanakan oleh Kepala Pemerintahan (Perdana Menteri). Tugas yudikatif dilaksanakan oleh aparat kehakiman. Tugas legislative dilaksanakan oleh parlemen (Badan Perwakilan Rakyat). Masa jabatan anggota parlemen ditetapkan dengan undang-undang. Dalam Tatanegara Republik, Kepala Negaraa dipilih oleh rakyat secara langsung (atau oleh wakil rakyat secara tak langsung). Masa jabatan Kepala Negara ditetapkan dalam UUD. Dalam sistim presidensial, Kepala Negara merangkap sekaligus sebagai Kepala Pemerintahan, melaksanakan tugas eksekutif dan mempertanggungjawabkan urusannyaa kepada rakyat (atau kepada wakil rakyat). Dalam sistim parlementer, Kepala Negara tak melakanakan tugas eksekutif, legisltif, yudikatif.Tugas yudikatif dilaksanakan oleh aparat kehakiman. Tugas legislative dilaksanakan oleh parlemen (Badan Perwakilan Rakyat). Masa jabatan anggota parlemen ditetapkan dengan undang-undang. Di kalangan yudikatif, dikenal terminology intervensi. Intervensi berarti menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi keputusan pengadilan agar berlaku curang (tak adil). Dengan demikian, maka menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi keputusan Pengadilan agar berlaku adil (jujur) bukanlah termasuk ke dalam kategori intervensi. Untuk mendirikan Khilafah, dimulai dengan dengan dakwah agar terwujud Syakhsiyah Islamiyah (Pribadi Islam). Kemudian agar terwujud Usrah Islamiyah (Rumah Tauhid, Keluarga Islam). Berikutnya agar terwujud ummah Islamiyah (Masyarakat Islam, Masyarakat IMTAQ; Simak Sayid Quthub : “Masyarakat Islam”, AlMa’arif, Bandung, 1983). Seterusnya agar terwujud Daulah Islamiyah (Negara Islam; Simak Abul A’la alMaududi : “Metoda Revolusi Islam”, ArRialah, Yogyakarta, 1983). Akhirnya agar terwujud Khilafah Islamiyah (Kekhaalifahan Islam). Proses pembentukan Negara. Pembentukan Negara Islam itu sebagai hasil dari proses perjuangan yang alami. Negara dalam bentuk apa pun tumbuh di dalam masyarakat secara alami, berdasarkan faaaaaktor-faktor akhlak, kejiaan, social, politik dan sejarah yang saling terkaaait. Negara dapat berdiri dengan kokoh sebagai hasil alami dari tuntutan sikon yang saling terjalin. Pembentukan suatu Negara sangat tergantung kepada sikon yang melahirkannya. Suatu masayrakat yang lingkungannya, falsafahnya dan kebiasaan-kebiasaannya brlainan dengan Islam tidak akan dapat melahirkan Negara Islam. Sebuah Negarqa lahir tidak akan jauh brbeda dengan factor dan kondisi-kondisi yang membentuknya. Diperlukan usaha yang sungguh-sungguh, perjuangan yang terus menerus serta kesabaran yang tinggi menciptakan sikon yang dapat melahirkan Negara Islam. Negara Islam hanya dapat lahir dalam masyarakat yang sikon sosialnya Islam. Diperlukan usaha yang sungguh-sungguh agar tercipta masyarakat yang sikon sosialnya Islam. Negara Islam tak dapat lahir secara instan. Negara itu terbentuk sesuai dengan ideology, akhlak, kultur, moral, filsafat, pandangan hidup masyarakatnya. Dakwah berupaya menggarap lahan agar dapat tumbuh subur syari’at Islam, agar lahir sosok-sosok yang Islami. Diperlukan jama’ah dakwah wal jihad (Simak Abul A’la alMaududi : “Metoda Revolusi Islam”, 1983:13-17,38). Masyarakat Islam adalah masyarakat yang orang-oraaaaaaaaangnya berjiwa taat kepada Allah, takut akan murka Allah, lebih mengutamakan kehidupan akhirat dari pada kesenangan dunia, lebih memperhatikan yang halal dari pada yang haram, tunduk kepada undang-undang Allah, senantiasa mencari keridhaan Allah, tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, menjauhkan diri dari fikiran sempit dan fanatic buta, tidak menjadi sombong jika mendawat kurnia Allah. Masyarakat Islam adalah masytarakat yang mengacu kepada syari’at Islam. Masyarakat yang tiap anggotanya tidak melayangkan pandangan matanya kepada kenikmatan dan kesenangan dunia, bersifat amanah, jujur (idem 1983:30-31). Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Syarak mangato, adapt mamakai. Syari’at Islam menciptakan masyarakat Islam, Masyarakat Islam melahirkan Negara Islam. Adat kebiasaan Islam diciptakan berdasarkan syari’at Islam. Tujuan dakwah : agar yang didakwahi mengenali Allah, mencintai Allah, mengenail Qur:an, mencintai Qur:an, mengenali Islama, mencintai Islam, rela diatur Islam. Kaderisasi dakwah : agar yang didakwahi siap secara estafet melanjtukan dakwah sebagai da’i. Materi dakwah : tidak bersssssifat filosofis, tapi bersifat informative, edukatif. Tahap dakwah : agar terwujud masyarakat Islam, yaitu masyarakat yang mengacu pada syari’at Islam, masyarakat yang rela diatur oleh syari’at Islam, masyarakat yang intinya (kernnya) terdiri dari orang-orang Islam yang taqngguh, yang hidup matinya lillahi rabbal’alamin, dan plasmanya segenap orang tanpa membedakan asal, suku, agama yang bersedia melakukan yang baik dan tidak melakukan yang jahat serta siap sedia secara bersama-sama menindak yang melakukan tindakan kejahatan, dan menyelesaikan sengketa menurut hukum Allah. (BKS0912030800) Sicumpas Noda-noda hitam dalam sejarah Islam Berlumuran noda-noda hitam damal sejarah Isam. Sejarah Islam penuh dengan lumuran noda-noda hitam. Mulai dari penggugatan, pendongkelan akan legalitas/keabsahan kekhalifahan tsman bin ‘Affan. Berlanjut dengan aaksi perlawanan, pembangkangan pasukan Mu’awyah bn Abi Sufyan terhadap kekhafahan ‘Ali bin Abi Talib. Diteruskan dengan aksi perlawanan, pembangkangan Bani ‘Abbas terhadap kehalifahan Bani Umaiyah. Apai akhirnya dengan penumbangan kekhalifahan Bani Seljuk. Para pemikir-pemikir Isam seyogianya secara serius merenungkan, melakukan inftrospeksi diri. Kenapa mat Islam anya betah diatur oleh Islam selama 25 tahun yaitu pada masa Rasulullah dan masa Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Masyarakat Islam sejahtera adil makmur pada masa Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz hanya sekitar dua tahun. Setelah itu umat Islam mlai merasa gerah datur oleh Islam, meskipun masih ada yang menyeru agar kembal pada Islam (Qur:an dan Hadits). Kenapa pemerintahan Islam tak bisa bertahan, tak bisa langgeng lestari, hanya berusia pendek, sekitar 25 tahun ? (Simak antara lain Sayyid Quthb : “Keadilan Sosial Daam Islam”, Pustaka, Bandung, 1994:262). Bangsa, umat ini hanya tertarik mengambil kapitalisme atau komunisme untuk menyelesaikan masalanya. Kenapa bangsa, umat ini tak tertarik pada solusi yang ditawarkan Islam untuk menyelesakan masalahnya ? Apakah karena para da’i, muballigh, pemikir, ideology Islam dpandang tak memiliki sifat, sikap AlAmin, orang kepercayaan, orang terpercaya ? Apakah karena solusi ang ditawaran tak lebih hanya sebatas wacana (diawang-awang, tak membumi, tak aplikatif) ? Sampai saat ini dunia anya tertarik pada Sistim Ekonomi Kapitalis (Adam Smith) atau Sistim Ekonomi Sosialis (Karl Marx) dan tak tertarik pada Sistim Ekonomi slam (Taqiyuddin?). Ataukah slusi yang ditawarkan tak dapat dipaami leh mereka ? “Berbicaralah kepada manusia menurut kadar kecerdasan mereka masing-masing” (HR Muslim). Terjemakanlah ajaran Islam sesuai dengan daya nalar objek dakwah (Simak antara lain M Natsir : “Fiqhud Dawah”, Ramadani, Semarang, 1981:162; PANJI MASYARAKAT, No.249, 15 Juni 1978, halaman 30). Noda-noda hitam itu seluruhnya berkaitan, berhubungan dengan masalah ketatanegaraan. Siapa yang berhak menjadi Kepala Negara. Bagaimana susunan sistim pemerintahan. Dan lin-lain. Kini di kalangan non-Islam marak pertanyaan “Apa untungnya menjadi Negara Islam” (Silakan buka di google). Dan di kalangan Islam muncul pertanyaan “Apa perlunya Negara Islam” (Simak antara lain http://lintastanzhim.wordpress.com). Jika dicermati secara sungguh-sungguh, daulah Islamiyah tak mengenal Trias Politica. Kepa Negara bertanggungjawab penuh atas tugas eksekutif (ri’ayah) dan yudikatif (qaadhi). Tak dikenal terminology intervensi, menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi keputusan pengadilan. (Asrir BKS1007250900) Negara Islam itu apa ? Kini marak bermunculan di kalangan non-Islam pertanyaan “Apa untungnya menjadi Negara Islam” dan di kalangan Islam sendiri pertanyaan “Apa perlunya negara Islam” (Silakan telusuri di google). Seyogianya tokoh, pemikir, ideology Islam proaktif, serius menjelaskan secara gambling perbedaan antara Negara Islam dengan Negara sekuler. Apa bedanya sosok khalifah dengan raja, presiden, perdana menteri. Berapa lama jabatan khalfah. Kepada siapa khalifah bertanggngjawab. Siapa yang berhak menjadi khalifah. Bagaimana cara penghormatan terhadap khalifah. Bagamaa tatacara penghormatan dalam pasukan/militer Islam. Bagaimana cara pengawalan khalifah. Apakah system protokoler sesuai dengan asas demokrasi, asas persamaan (eqalite). Apakah Negara Islam itu mengenal pembagian kekuasaan (Trias Politica), liberte, egalite, fraternite, pemilu. Bagaimana wujud, bentuk kemerdekaan, kebebasan, persamaan, persaudaraan dalam Islam. Apakah konsep musyawarah itu sama dengan demokrasi. Apa saja wewenang ulil-amri. Apakah sama dengan majeis permusyawaratan rakat. Apakah Negara Islam mengenal pemilu. Apakah Negara Isla itu mengenal Bank. Apakah Baitulmaal itu sama dengan Bank. Bagaimana wewenang Negara Islam terhadap kecerdasan dan kesejahteraan umat. Apa beda politik ekonomi Islam dengan olitik ekonomi kapitalis danpolitik ekonomi sosialis. Dan lain-lain (Telusuru di google “Penghalang tegaknya syari’at Islam” dan “Ajaran jahili sekuler”). Bagaimana kaitan antara watak kepemimpinan dengan sikap mental zuhud, qana’ah, wara’. Negara Islam dibangun atas dasar akidah Islamiyah yang undasng-undangnya bersumber pada akidah tersebut. Dalam Islam, Negara merupakan saana untuk terlaksananya hukum-hukum Islam dalam semua urusan kenegaraan dan tersiarnya dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Negara Isam merpakan Negara kesatuan umat di bawah pemerintah pusat yang berdaulat penuh ke dalam dank e luar. Dasar undang-ndang dalam Isam adalah Qur:an dan tafsiran penjelasannyHarapan kepada Presiden Pak Esbeye. Manfa’atkanlah seluruh potensi yang Anda miliki untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat Indonesia. Waktu, tenaga, dana, ilmu, pikiran, kolega, keluarga untuk kemakmuran rakyat banyak. Hendaklah Anda selektif dalam memenuhi undangan/acara/upacara, baik di dalam maupun di luar negeri. Hanya undangan/acara/upacara yang benar-benar langsung berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat banyak. Tingkatkan, naikkan, mi’rajkan spirit, semangat kepedulian Anda terhadap rakyat banyak . (Simak Amanat Presiden Soekarno di Istana Negara, tanggal 2 Desember 1964 berjudul : “Temukan Kembali Api Islam”). Tinggalkanlah nama baik Anda dalam catatan sejarah Indonesia. Selektiflah menempatkan, memakai pembantu Anda yang benar-benar peduli akan kesejahteraan rakyat. Jangan dengarkan, pedulikan suara, bisikan, sanjungan di sekitar Anda. Jangan pedulikan Trias Politica Montesquieu. Jangan biarkan diri Anda terbelenggu oleh pilar demokrasi. Jadilah otoriter yang pedul akan rakyat, despot yang bijak (semacam Frederik II, Katharina II, Jozef II, Aranda, Pombal, dan lain-lain. Demokrasi tak ada kaitannya dengan Republik atau Monarki, dengan Kesatuan atau Federal). Siang malam yang harus Anda pikirkan, yang harus Anda lakukan adalah hal-hal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Buanglah konsep pencitraan. Persetan dengan Ttrias Politica. Persetan dengan Citra Diri. Lakukanlah segala cara, system, konsep untuk kesejahteraan rakyat, bukan demi Negara seperti yang diajarkan oleh Nicco Macchiavelli. “Siang dan malam bagi Muhammad Rasulullah saw digunakan untuk memikirkan urusan-urusan manusia dan masyarakat dan berusaha menyelesaikan dengan seksama dan bijaksana. Itu adalah ibadat yang utama dan usaha untuk taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan amal kebajikan yang membawa manfaat bagi hidup dan kehidupan manusia dan masyarakat” (Khalid Muhammad Khalid : “Kemanusiaan Muhammad”, Pustaka Progressif, Surabaya, 1984:268). (written by sicumpaz@gmail.com at BKS1106290600)a adalah unnah Rasulullah. (Asrir BKS1007280730) Harapan kepada Presiden Pak Esbeye. Manfa’atkanlah seluruh potensi yang Anda miliki untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat Indonesia. Waktu, tenaga, dana, ilmu, pikiran, kolega, keluarga untuk kemakmuran rakyat banyak. Hendaklah Anda selektif dalam memenuhi undangan/acara/upacara, baik di dalam maupun di luar negeri. Hanya undangan/acara/upacara yang benar-benar langsung berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat banyak. Tingkatkan, naikkan, mi’rajkan spirit, semangat kepedulian Anda terhadap rakyat banyak . (Simak Amanat Presiden Soekarno di Istana Negara, tanggal 2 Desember 1964 berjudul : “Temukan Kembali Api Islam”). Tinggalkanlah nama baik Anda dalam catatan sejarah Indonesia. Selektiflah menempatkan, memakai pembantu Anda yang benar-benar peduli akan kesejahteraan rakyat. Jangan dengarkan, pedulikan suara, bisikan, sanjungan di sekitar Anda. Jangan pedulikan Trias Politica Montesquieu. Jangan biarkan diri Anda terbelenggu oleh pilar demokrasi. Jadilah otoriter yang pedul akan rakyat, despot yang bijak (semacam Frederik II, Katharina II, Jozef II, Aranda, Pombal, dan lain-lain. Demokrasi tak ada kaitannya dengan Republik atau Monarki, dengan Kesatuan atau Federal). Siang malam yang harus Anda pikirkan, yang harus Anda lakukan adalah hal-hal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Buanglah konsep pencitraan. Persetan dengan Ttrias Politica. Persetan dengan Citra Diri. Lakukanlah segala cara, system, konsep untuk kesejahteraan rakyat, bukan demi Negara seperti yang diajarkan oleh Nicco Macchiavelli. “Siang dan malam bagi Muhammad Rasulullah saw digunakan untuk memikirkan urusan-urusan manusia dan masyarakat dan berusaha menyelesaikan dengan seksama dan bijaksana. Itu adalah ibadat yang utama dan usaha untuk taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan amal kebajikan yang membawa manfaat bagi hidup dan kehidupan manusia dan masyarakat” (Khalid Muhammad Khalid : “Kemanusiaan Muhammad”, Pustaka Progressif, Surabaya, 1984:268). (written by sicumpaz@gmail.com at BKS1106290600)

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: