Mubahalah

Mubahalah
Catatan serbaneka asrir pasir (Asrir Sutanmaradjo)
Selama hidupnya Rasulullah saw tidak prnah ragu dan bimbang sedikitpun terhadap apa yag dibacakan oleh Tuhan kepadanya. “Apa yang telah Kami ceritakan itu) itulah yang benar, yang dating dari Tuhanmu. Karena itu, janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu” (QS 3:60). Seorang Nabi percaya kepada dirinya sendiri dan kepada wahyu yang diterimanya, dan karena itu ia menghadapi dunia dengan rasa yakin (CA Qadir : “Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam”, 1991, hal 90). “Rasul itu percaya kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya” (QS 2:285). Dia sendiri terlebih dahulu yakin bahwa dia emang Utusan Allah. Dia tidak ragu sedikitpun akan hal itu. Kalau bukan dari sangat yakinnya bahwa dia memang Utusan Tuhan, tidaklah dia akan sudi menderita. Dia sangat percaya bahwa Allah ada, dan dia sangat tekun beribadat kepada Allah yang sangat dipercyainya akan adanya itu. Tidak mungkin penguasa alam itu berbilang. Dia mesti satu, Esa. Ia yakin bahwa petunjuk yang sangat dipercayainya itu, turun dari langit dengan tidak perantaraan. Didengarnyalah suara jiwanya sendiri. Dan semua suara jiwanya diakuinya sebagai kabar Yang Benar dari Tuhan. (Simak Prof Dr Hamka juzuk III, juzuk III, PanjiMas, Jakarta, hal 91; juzuk XI, ManjiMas, Jakrta, hal 136)
Allah memberikan pengarahan kepada Rasul-Nya yant mulia untuk mengakhiri bantahan dan perdebatan dan nengajak mereka ber-mubahalah. “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah dating ilmu (Yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu. Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta” (QS 3:61).
Rasulullah saw mengajak orang-orang yang membantah tentang masalah ini untuk berkumpul di suatu tempat, kemudian semuanya memohon kepada Allah supaya Dia menurunkan laknat-Nya kepada siapa yang berdusta di antara kedua golongan ini. Mereka takut akibatnya dan tidak mau melakukan mubahalah. Menurut beberapa riwayat, mereka tidak juga mau memeluk Islam. Penyebabnya karena mereka masih mencintai kayu-palang (salib) dan minuman keras dan makan daging babi.
( Simak Sayyid Quthub : “Tafsir Fi Zhilallil Qur-an Di Bawah Naungan Al-Qur-an”, jilid 3, Gema Insani Press, Jakarta 2001, hal 117-118; Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, juzu III, Ustaka PanjiMas Jakarta, 190-191).
Bekasi, 19 Mei 2012 012.45

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: