Ahmadiyah, Qadianiyah, Qiadah I

Ahmadiyah, Qadianiyah menyimpang dari Islam. Mengingkari Muhammad Rasuullah saw sebagai Nabi penutup. Menyelewengkan nash-nash Qur:an

Ahmadiyah, Qadianiyah lahir, muncul dalam proteksi (perlindungan, pengayoman) kolonalis imperialis Inggeris di India Pakistan. Meniadakan kewajiban jihad. Membantu, bekerjasama dengan imperialisme, zionisme serta kekuatan-kekuatan yang menantang Islam. Merusak akidah Islamiyah yang meyakini bahwa Qur:an tidak pernah mengisyaratkan datangnya Nabi setelah Muhammad Rasulullah saw, yaitu dengan keyaknan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi setelah Muhammad Rasululla saw. Pemimpinnya Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Nabi.

Ahmadiyah, Qadianiyah mengakui bahwa setelah uhammad masah ada Nabi, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dan setelah Mirza Ghulam Ahmad masih ada khalifah sebagai pengganti Mirza. Untuk meyakikan pengikutnya, Mirza bersmpah : “Saya bersumpah. Dmi llah yang menguasai rohku, Allahlah ang mengutusku sebagai nabi”. Bahkan, Mirza mengatakan sebagai nabi dirinya lebih mlia dari para Nabi Ulul Azmi, termasuk Mhammad saw sendiri (“Haqiqatul Wahyi”: 257). Orang yang tidak berian kepadanya diagap kafir, kerena berarti ingkar kepada Allah dan RasulNya (“Haqiqatul Wahyi” : 163).

Salah satu “prestasi” Mirza Ghulam Ahmad adalah pengaqbdian total kepada Inggeris. Itu diakuinya secara jujur : “Sebagian dari umurku kukerahkan untuk mendukung pemerintahan Inggris dan memenangkannya. Da aku telah tulis untk melarang jihad (melawan Inggris)”.

Dalam kesempatan lain, Mirza Ghulam Ahmad mengatakan : “Dari masa mudaku – dan kini umurku yang ke 60 aku berjuang dengan lidah dan penaku untuk menarik hati kaum Muslimin supaya patuh pada pemerintahan Inggris dn ramah dengannya. Aku menentang ide jihad yang dianut sebagian Muslimin yang jahil dan menghalangi untuk patuh pada Inggris” (“Pelengkap Sadaatul Qur:an”).

Seperti dijelaskan oleh ulama-ulama besar India, Abl Hasan Ali anNadwi dan Abul A’la alMaududi : “Mirza mulai berakting dari mengaku sebagai pembaharu meningkat sebagai Mahdi. Dari pengakuan sebagai Mahdi lantas sebagai alMasih, dan dari alMasih lantas mengaku Nabi”.

Pada sat India berjuang melawan Inggris, Ahmadiyah malah hanya sibuk dengan perdebatan-perdebatan soal wafatnya alMasih, hidup dan turunnya, serta kenabiah Ghulam Ahmad. (SABLI, No.3, Th VIII, 26 Juli 2000, “Sejarah Kelam Ahmadiyah”, “Menggugat Kesesatan Amadiyah”).

Apa yang seharusnya dilakukan umat Islam terhadap Amadiyah, Qadianiyah, Qiadah ? Pengikutnya haruslah diperlakukan sebagai objek dakwah. Ajarannya pun diperlakukan sebagai halnya ajaran, alairan, paham, isme, agama selain Islam.

Acuannya antara lain pada tuntunan berikut : “Serulah mereka kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik (QS 16:25). “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (QS 29:46). “Sesungghnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakNya” (QS 28:56). “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka” (QS 3:129).

Ta ada isyarat, baik dalam alQur:an maupun dalam alHadits yang memerintahkan agar melarang ajaran, aliran, paham, isme, agama selain Islam (yaitu semua yang sesat dan menyesatkan). Pemerintah Islam hanya terbatas berhak, berwewenang memaksa pengikut yang sesat dan menyesatkan tersebut supaya patuh, tnduk serta membayar jizyah (uang jaminan keamanan diri mereka), bukan menghabisi mereka. Yang mau silakan beriman. Yang mau silakan kufur. Ayat QS 9:29 mengisyaratkan agar orang kafir yang tinggal di Negara Islam tunduk patuh membayar kewajiban jizyah sebagai imbalan keamanan diri mereka, bukan mengisyaratkan agar orang kafir itu dibunuhi kalau tidak mau masuk agama Islam (Artono Amad Jaiz “Moqsith Pembela Nabi Palsu” dalam QIBLATI, Edisi 07, Tahun III, April 2008, halaman 74).

A Hassan Baandung (Bangil) tahun 30-an telah melakukan serangkaian debat terbuka dengan tokoh-tokoh Ahmadiyah. Di Perpustakaan PERSIS (Persatuan Islam) Jalan Pandean 503, Bangil, Jatim tersimpan rapi buku-buku karya Ghulam Ahmad yang orisinl, asli.

Abdullah Hasan alHadar tahun 80-an menuls buku “Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah” yang diterbitkan oleh alMaarif Bandung. PANJI MASYARAKAT, No.498, dan No.269 juga mengupas Ahmadiyah. TEMPO, 8 Nopember 1975, ALMUSLIMUN, No.142, Januari 1982, SABILI, No.3,4,5,6, Th.VIII,2000 pun mengupas perihal Amadiyah. Simak pula “Tafsir alQur:an” Ibnu Katsir III:49, I:586, IV:363.

Fatwa MUI No.05/Kep/Munas II/MUI/1980 tanggal 1 Juni 1980 berlandaskan pada 9 buah buku acuan/rujukan tentang Ahmadiyah.

(BKS0508070615)

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: