Akademi Teroris Internasional

Akademi Teroris Internasional

Reaksi tergantung dan sebanding dengan aksi. Semakin besar
aksi maka semakin besar pula reaksi. Boyle dan Gay Lussac mengemukakan
bahwa perbandingan antara hasil kali tekanan (P) dan volume (V) dengan
suhu (T) suatu gas di dalam ruang tertutup
adalah tetap (C). Artinya tekanan kali volume itu sebanding dengan suhu.
Semakin tinggi suhu, maka semakin besar tekanan kali volume.

Dalam kehidupan sosial, radikalisme itu sebanding dengan
penykisaan. Semakin keras siksaan, maka semakin keras pula radikalisme.
Penyiksaan senantiasa menghasilkan perilaku radikal. Pemberontakan
biasanya berlansung secara diam-diam dalam suas ana yang endemik dan aksi
terencana terhadap kekuasaan (AlChaidar : �Wacana Ideologi Negara Islam�,
1999:122). Orang kecil, jika dikerasi, maka akan menimbulkan kekejaman.

Terorisme adalah salah satu saja dari bentuk radikalisme.
Tetapi terorisme bukanlah hanya salah satu bentuk radikalisme, tapi juga
adalah bentuk nafsu tak terkendali untuk mendapatkan kesenangan duniawi.
Sedangkan radikalisme berpangkal dari s uatu cita-cita, ideologi.

Cuba, secara tak sadar telah dikembangkan (oleh KGB-DGI)
menjadi �akademi terorisme internasional�. Salah satu muridnyaa adalah
Ilich Ramirez Sanchez, seorang Venezuela yang lebih dikenal dengan nama
Carlos, yang merupakan pimpinan kelompok ra dikal. Dengan skenario KGB
mereka memainkan peran yang cukup besar dalam sejarah terorisme di
perbagai neara. Mereka ditempatkan di Timur Tengah, Afrika Selatan,
Amerika Latin, dan sebagainya (Mingguan LIBERTY, No.1584, 11 Februari
1984, hal 80, DGI : Din as Rahasia Cuba). Carlos pernah memperkelankan
gerombolan merke sebagai �Tentara Revolusi Arab�, yang tak pernah
terdengar sebelumnya (Bonus MATRA, Agustus 1988, hal 13).

Negara Adikuasa (AS dan sekutunya) biasa menuding pelaku
terorisme (kelompok radikal) itu adalah kalangan fanatis Muslim. Tak
pernah predikat teroris itu ditudingkan AS kepada fanatik Katholik atau
fanatik Sosialis (Reza Sudrajat : �Penjajahan
Terminologi�, Risalah Dakwah HUSNAYAIN, Edisi 160, Agustus 2001,
AalChaidar : �Wacana Ideologi Negara Islam�, 1999:29).

Sikap negara adikuasa yang menuding negara-negara Muslim
seagai biang terorisme, seyogianya disambut oleh negara-neara Muslim
dengan memutuskan hubungan politik, ekonomi, budaya dengan neara-negara
adikuasa dan pendukung-pendukungnya.

Seyogianya para adikuasa dan pendukungnya mengambil I�tibar
(pelajaran) bahwa semakin ditekan, ditindas, disiksa baik secara politik,
ekonomi, militer, maka akan semakin merebak radikalisme. Untuk meredusir,
mengeliminer radikalisme adalah den gan memberantas, membasmi penekanan,
penindasan, penyiksaan (blokade politik, ekonomi, militer). Teror tak akan
bisa dibasmi dengan aksi kontra teror.

Amerika Serikat yang semula diangung-agungkan sebagai negara
demokrasi, namun sejak 1898, setelah berhasil menancapkan kekuasaannya di
Filipina, dan sebelumnya berhasil membuka pelabuhan Jepang bagi
kapal-kapalnya 1854, mulai menjadi Diktator Demokrasi, meluaskan
pengaruhnya di wilayah Pasifik dan Asia, bahkan Afrika. Timbullah
ketegangan-keegangan di Korea, Vietnam< Indonesia (PRRI/Permesta), Somali,
Irak, Iran, Afghanistan, akaibat ulah dari CIA.

Teror mencakup statemen, pernyataan, ucapan, aktivitas,
kegiatan, perbuatan, tindakan yang dilancarkan untuk menimbulkan
ketakutan, kecemasan, keelisahan, keresahan orang per orang mau pun
bersama-sama. Bentuknya bisa berupa ancaman lewan tilp on atau pun lewat
media massa, unjuk gigi, pembajakan kendaraan, dan lain-lain. Pelakunya
bisa bermacam-macam. Bisa yang tertindas, yang teraniaya. Bisa pula yang
menindas, yang menganiaya, sebagai kontra terror (Teror lawan Teror).

Terorisme semula bermakna tindakan kekerasan disertai dengan
sadisme yang dimaksudkan untuk menatuk-nakuti lawan. Namun kemudian dalam
kamus AS dan sekutunya, arti terorisme disimpangkan menjadi tindakan
protes yang dilakukan negara-negara Mus lim atau kelompok-kelompk kecil.

AS dan sekutunya sangat benci dan dendam terhadap Islam.
Ketika terjadi peristiwa peledakan gedung Morrah di Oklahoma maka para
�pakar� dan masyarakat AS senada menyebut �pasti� orang Islamlah
pelakunya. Namun ketika ternyata bom itu diledakak an oleh orang AS
sendiri, kulit putih pula, �nyaris� nyaring terdengar desah kekecewaan
(mengapa akok bukan orang Islam pelakunya), dari penuding itu, demikian
komentator siaran TV BBC yang melakukan investigasi mengenai masalah itu.
Sudah begitu pun, sal ah seorang yang diwqawancarai menyebut �kenyataan
itu sama sekali tidak menghilangkan kecurigaan terhadap orang Islam�
(hanya karena Islamnya). Padahal, orang-orang Islam itu ikut menyumbang
mengumpulkan dana korban Morrah (Reza Sudrajat : �Penjajahan Ter
minologi�, Risalah Dakwah HUSNAYAIN, Edisi 160, Agustus 2001).

Kehancuran WTC (World Trade Centre) dan Pentagon dijadikan
momentum untuk memojokkan Islam dan Ummat Islam, dengan menuduhnya sebagai
teroris, pelaku peledakan itu. Bahkan setelah peristiwa tragis itu, George
W Bush, Presiden AS mengatakan �Pe rang Salib dimulai lagi� (Ahlul Irfan,
SPd MM : �Terorisme versus Jihad Fisabilillah�, Bulletin NADZIR, Edisi 23,
September 2001).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: