Dialog tanpa Epilog

Date: Sat, 22 Oct 2011 17:53:08 +0700
Subject: Dialog tanpa Epilog
catatan sebaneka asrir pasir

1. Dialog tanpa epilog (Diskusi tanpa henti)

Pada masa shabat mapun masa Bani umaiyah telah banyak para ulama
telah banyak bicara/membahas/berdiskusi/berdilog tentang masalah
takdir dan kekuasan manusia dalam kaitannya dengan kekuasaan Allah
swt.

Abdullah bin Abbas berbicara/berdiskusi/berdialog di hadapan kaum
Jabariyah penduduk Syam dan meminta mereka agar meningglkan
pendapatnya.

Hasan Bashri berkirim surat berdiskusi/berdialog kepada jaum jabariah
penduduk Bashrah

Ibnu Abbas dan Al-Hasan menolak pendapat orangorang yang berpendirian
bahwasanya manusia berada dalam keterpaksaan dan melaukan segala
prbuatannya.

Antara kaum Jabariyah dan kaum Suni terjadi dialog/diskusi berkepanjan
tanpa akhir. Juga antara kaum Jabariyah dan kaum Qadariah, dan seperti
itu juga antara kaum Qadariyah dan kaum Suni. (silakan smak
dialog/diskusi mereka ini dalam buku Syakh Muhammad Ahmad Abu Zahrah,
fasal Jabariyah, Qadariyah, Suni, yang dikisahkan oleh Ibnu Qaiyim).

2. Diskusi antara al-As’ari ( M-Murid) dan al-Jubba’I (G-Guru) :

M : Bagaman pendapat tuan mengenai tiga orang ini, yaitu orang mu’mim,
orang kafir dan anak kecil ?
G: Oang Mu’min termasuk kelompok yang mempunyai derajat yang tinggi;
orang kafir termasuk kelompok yang memikiki derajat yang rendah; dan
anak keil termauk orang yang selamat dari neraka.
M; Jika anak kecil itu berkeiningan untuk naik ke peringkat yang
tinggi ( setelah peringkat yang tinggi hanalah memalui ketaatannya,
sedangkan kamu tidak hasil mempunyai ketaatan seperti itu”.
M : Jika sia anak berkata : “Kealahan tidak terletak padaku. Kalau
sekiranya Engkau (Ya Allah) lamakan hidupku, nisaya aku erbuat taat
sebagai mana ketaatan orang Mukmin”.
G; Allah akan menjawab, “Aku telah mengetahui ahwa sekiranya engkau
tetap hidup, niscaya engkau akan durhaka dan disiksa. Maka Aku
memelihara kemashlahatanmu. Aku mematikanmu seelum mencapati usia
taklif”.
M : Sekiranya orang kafir berkata, “Engkau telah mengetahui keadaanu
sebagaimana Engkau mengetahui keadaan anak kecil ini. Mengapa Engaku
tidak memelihara kemashalahatanku sebagaimana engkau memelihara
kesehatan anak kecil itu ?
G: diam.

3. Dialog antara Iblis dan Malaikat
(Silakan simak “Al-Milal wan Nihal” oleh Syahrastani, pada
“La-Muqddamah ats-tsalitsah”, yang diIndonesiakannya oleh H Ali Fahmi
Arsyad, dalam SUARA MASJID, No.192, Maret 1988, hal 50-52)
Hamka menggugat Jabariyah

Dalam DDC (Dewey Decimal Classifiation) 200-299 veri Arab-Islam
terbitan Kuwait, 1984, bahwa yang tergolong pada Aliran/Sekte/Firqah
Islam di antaranya adalah : Murjiah, Mu’tazilah, Khawarij, Syi’ah,
Rafidhah, Sunni, Asy’ari, Druz, Qadiani, dan lain-lain. Bagaimana pun
mereka itu masih dikategorikan sebagai penyandang predikat Islam,
sebab semua masih mengacu pada Quran dan Hadits (Simak “Tafsir
Al-Azhar”, juzuk IV, halaman 55, re tafssiran ayat QS 3:105).

“Jabariyah” berpaham bahwa segala sesuatunya aalah taqdir suratan
daari Tuhan, dan kita manusia tidak ada ikhtiar sama sekali (idem,
juzuk XX, halaman 19, re tafsiran ayat QS 8:53). “Jabaariyah” berpaham
bahwa “Nasibku yang malang adalah akdir Allah”. “Kalau tidak atas
kehendak Allah, tidaklah nasibku akan begini” (idem, juzuk IV, halaman
97, re tafsiran ayat QS 8:148). Intinya bahwa hanya Allah Yang Maha
Kuasa, Yang Maha Berdaulat. Keuasaan an Kedaulatan Allah tak terbagi
dengan siapa pun.

Dalam hubungan ini simak pula tanggapan Ibnu Arabi yang mengatakan,
bahwa “Sungguh perbuatan baik dan buruk, iman dan kufur, tha’at dan
maksiat, penciptanya semua ialah Allah, yang tidak ada sekutu bagiNya
dalam mencipta. Dan tidak pula dalam menciptakan apa jua pun. Tetapi
yang buruk tidaklah boleh disangkutkan kepadaNya dalam sebutan,
meskipun itu ada. Semuanya itu ialah untuk mendidik kita beradab,
bersopan santun mengajar kita memuji Dia” (idem, juzuk XXIII, halaman
271, re tafsiran ayat QS 28:41).

Ibnu Katsir dalam mengupass tentang Khilafah mengatakan bahwa “Kalau
Di (Allah) menghendaki, boleh saja dijadikan sekalaigus, tidak
dijadikan turun demi turunan, atau sebagai kejadian Adam saja dari
tanah. Dan kalau Dia (Allah) kehendaki bisa saja yang setengah adakan
keturunan dari yang setengah, tetapi tidak dimatikan yang mula-mula
lebih dahulu, melainkan sekaligus semuanya kelak dimatikanNya”.
Pastilah ada hikmahnya. “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui” (QS 2:30) (idem, juzuk XX, halaman 19(.

Subhat dan Mutasyabihat

Muh Quthub menarang buku berjudul “Subhat Haul al-Islam”. Alwi AS
mengindonesiakannya “Jawaban Terhadap Alam Fikiran Barat Yang Keliru
Tentang Al-Islam” (Membongkar kebohongan orientalis tentang Islam),
tertian Diponegoro, Bandung, 1982.

Dalam QS 3:7 terdapat kata “muhkamat” dan “mutasyabihat”. Apakah makna
“ayat mutasyabihat” ? Apakah ayat yang masih dipertanyakan,
dipersoalkan, dipermasaalahkan ? Apakah ayat yang masih memerlukan
tafsiran, yang ghairu ma’qul, yang tak logis ?

Apakah makna “La quwwata illa billah” (QS 18:39) ? Apakah berarti
bahwa tak ada yang terjdi tanpa idzin/kehendak Allah ? Apakah berarti
bahwa semuanya (yang baik dan yang buruk) terjadi atas kehendak/mauNya
Allah ? Apakah makna “fa’alu lima yurid” (QS 11:107)” ? Apakah berarti
bahwa Allah berbuat sekehendaknya, semaunya, sewenang-wenang ? Karena
“Dia tidak ditanya tentaaaang apa yang diperbuatNya, dan merekalah
yang akan ditanyai” (QS 21:23).
Akah sebenarnya maunya Allah ? Dalam QS 51:56 disebutkan bahwa “Dan
Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah Allah” ? Apakah seluruh (kulli) jin dan manusia tanpa
kecuali (tapa eksepsi, tanpa istitsna) ? Ataukah hanya sebagian
(juz-i) kecil saja dari manusia yang diciptakan Allah untuk mengadi
kepadanYa ? Namun kenyataan (Das Sein) yang terjadi menunjukkan tak
semua manusia yang mengabdi kepada Allah. Allah sendiri Maha Kuasa.
Mampu mewujudkan kehendaknya “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia
menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepaanya ‘Jadilah’ maka terjadila
ia” (QS 36:82, simak juga QS 76:30, 81:29). Kenpa tak terwujud seperti
kehendakNya ? Apakah ini suatu pengecualiaan, sksepsi, sititsna ? Jika
hal ini memang kehendakNya menciptakan seluruh jin dan manusia
mengabdi kepadaNya, untuk apa diciptakannYa neraka ? Pasti ada
hikmahnya. Tak perlu ditanyakan.

Dalam QS 8:25 disebutkan bahwa siksaan Allah tidak khusus hanya
menimpa orang-orang yang zhalim saja ? Allah sendiri Maha Kuasa. Mampu
melokalisir siksaan hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja. Kenapa
hal ini tak terwujud dalam kenyataan ? Pasti ada hikmahnya. Tak perlu
ditanya.

Allah Maha Kuasa buat mengumpulkan mereka (manusia ?) dalam satu kaum,
satu kepercayaan, satu petunjuk sehingga tidak ada yang membantah
lagi, setuju saja semuanya. Allah sanggup berbuat begitu (Simak Prof
Dr Hamka “Tafsir Al-Azhar”, juzuk VII, hal 207, re tafsiran QS 6:35).

Kalau Allah mau, maka Allah dapat saja membuat manusia itu menjadi
mukmin semua, dan kemusyrikan jadi hilang, orang bersatu semua dalam
tauhid (idem, juzuk VII, hal 34 re tafsiran QS 6:107).

Allah Maha Kuasa. Bsa membuat seluruh isi bumi ini beriman kepada
Allah, tak ada yang durhaka kepada Allah. Semua orang akur. Semua
manusia yang hidup di dunia ini percaya kepada Allah, tidak seorang
juga yang membantah. Kalau Allah menghendaki supaya manusia itu
beriman semua, seluruhnya percaya saja kepada Allah, yaitu
dihentikanNya manusia brfikir dan dihilangkanNya segala perjuangan
buat manusia (idem, juzuk XI, hal 347, re tafsiran QS 10:99).

Kalau Allah menghendaki, bisa juga manusia itu bersatu semua, akur
semua, tidak ada berkelahi. Akur dalam membangun. Akur dalam
berketurunan. Allah sanggup mentakdirkan manusia seperti demikian.
Akan tetapi Allah telah mentakdiran lain. Manusia tetap saja dalam
perselisihan atau perkelahian. Ada yang jadi Fir’au. Ada yang jadi
Musa. Ada yang jadi Abu Jahal. Ada yang jadi Nabi Muhammad saw. (Idem,
simah juz XII, hal 153, re tafsiran QS11:118).

Allah berkuasa buat menjadikan syari’at itu satu saja. Coraknya satu
saja zaman Adam sampai zaman Muhammad, sampai hari kiamat. Bangsapu
satu semua. Adat istiaat satu semua, prkembangan hiduppun satu saja
semua. Allah berkuasa membuat demikian kalau Dia mau (idem, juzuk VI,
hal 268, re tafsrin QS 5:48). (macam di surga/ tanpa prlu adanya dunia
dan akhiat ?)

Allah berkuasa membuat umat ini jadi umat yang satu, tidak ada
pertikaian, tidak ada perselisihan (idem, juzk XI, hal 290, re
tafsiran QS 16:193, juzuk III, hal 8 re tafsiran QS 2:253).

Kalau diteruskan, bisa saja muncul pandangan bahwa kalau Allah
menghendaki maka tak ada senketa antara Qabil dan Habil, tak ada
perperangan, tak perlu ada bahtra Nabi Nuh, unggun yang disipkan
Nmburz bagi Nabi Ibrahim, tak perlu Fir’aun kejeur ke dalam lautan.
Seluruh fenomena alam dirncang Allah untuk kemanan manusia, tak ada
tsunami, tak ada gempa bumi, tak ada bencana alam, tak ada manusia
yang keinjak-injaaaaak. Bahkan tak pula ada pengadilan, tak perlu
neraka, tak perlu ada kematian. Cukup hanya surga tanpa dunia, tanpa
akhirat, tanpa mati ?

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1109181100)

catatan serbaneka asrir pasir
Cuplikan Surat Emha
1 Manusia tidak pernah tahu-menahu mengenai kelahiran dan hakikat
azalinya (?). Ia tak pernah merqancang, bahkan juga tak pernah meniati
bahwa ia akan lahir dan menjadi seorang anak manusia, menjadi putra
ibu dan bapaknya. Manusia juga ta pernah – dalam aarti yang
sesungguhnya – memiliki dirinya sendiri serta apa pun yang lain dalam
kehidupannya. Ia ada karena ada sesuatu yang memungkinkan dan
mengizinkannya untuk ada. Ia “memiliki” sesuatu dalam keberadaannya
itu bukan karena haq-nya aalah memiliki sesuatu, melainkan karena ada
sesuatu yang meminjamkan kepadanya. ia bias berjalan dan menggerakkan
tubuhnya bukan karena sejak semula ia merencanakan dan menentukan
bahwa ia bias berjalan dan menggerakkan badan, melainkan karena ada
sesuatu yang memungkinkan dan mengizinkannya bias berjalan dan
menggerakkan badan (Emha Ainun Nadjib : “Surat Kepada Kanjeng Nabi”,
Mizan, bandung, 1997, hal 441).
2 Ada tiga jenis manusia. Pertma adalah manusia yang memperoleh
kehormatan (karamah) dari Allah untuk memiliki potensi istimewa, tidak
terlalu tergatnung kepada arus lingkungannya. Manusia macam ini
ditaruh di mana pun tetap unggul. Kedua adalah manusia yang memiliki
ketergantungan “normal” terhadap lingkungan pendidikannya, terhadap
sejarah dan nyali yang membesarkannya. Ketiga manusia yang aka cepat
memperoleh kasih Allah. manusia yang juga tidak tergantung pada system
yang mendidiknya, tapi dalam kapasitas sealiknya. Meskipun dia dididik
bagaimanapun, dia akan tetap jadi manusia tak terdidik (Idem, hal 306)
(Manusia: supra, biasa, infra, tajrid, kasab. “”Kuliah Ma’rifat”, hal
22).
3 Ibrahim bersedia menyembelih anaknya dn Ismail ikhlas melepas
nyawanya, karena mereka Nabi. Kita belum brsedia melepas jabatan atau
sesuatu yang lebih penting dari itu bagi hidup kita, karena kita bukan
Nabi ? (QS 3:92) (idem, hal 446).
4 Orang “dimobilisasi” secara psikologis untuk menaati rukun agama,
untuk shalat, puasa, dan lain-lain dengan argumentasi ekonomis
(tijarah), yakni mendapat pahala. Kita dididik untuk hanya mencari
laba di hadapan Allah. Seakan-kan Ia adalah “Bandar” (idem, hal 361).
(Simak juga Hukum-hukum reflex-reflex bersyarat yang didapat oleh
Pavlov, yang juga brlaku pada manusia. Dr R Paryana Suryadipura :
“Manusia Dengan Atoomnja”, terbitan Ussaha manusia, Semarang, 1958,
hal 234).
5 Tuhan berkali-kali mengiming-imingi surga. Seolah-olah iming-iming
surga itu suatu kesengajaan agar manusia melakukan transendensi
atasnya, kemudian mencari, merindukan, dan mengejar sesuatu yang lebih
hakiki, sejati, serta kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya (idem, hal
393). (Bagaimana wujud surga itu dalam pandangan mereka-mereka yang
dicap teroris ).
6 Allah berkali-kali mengiming-imingi surga : sungai susu, kebun
hijau, bidadari, dan hidangan-hidangan. itu adalah idiom tentang surga
berdasar kepada konteks pengalaman budaya masyarakat Arab yang pasti
berbeda dengan “idiom-surga”-nya orang Jawa misalnya. Jika orang Jawa
mengobsesikan surga, maka formula yang muncul di benaknya bukanlah
sungai, karena kita sudah kaya sungai. Bukan pula bidadari, karena
alam kita telah menyediakan “bidadari-bidadari”. Surga orang Jawa
mungkin juga tidak sama : bergantung pada kondisi masing-masing.
(idem, hal 392).
7 Kebahagiaan. Apakah kebahagiaan itu. Bagaimana konsep kebahagiaan
bagi orang gila, edan, sinting. Apa perlu mereka akan kebahagiaan ?
Apakah kebahagiaan bagi orang yang gila kekayaan, gila kekuasaan ? Apa
kebahagian bagi yang kecanduan narkotik. Apakah mereka merasakan
bahaya kerusakan dari narkotik itu. Apakah kebahagiaan bagi yang
kecanduan bid’ah ? Apakah mereka merasakan bahaya kerusakan dari
bid’ah itu. Apakah kebahagiaan bagi yang kecanduan kemewahan ? Apakah
mereka merasakan bahaya kerusakan dari kemewahan itu ? (nilai bahagia
lps dari ukuran mubadzir). “Kalu sekiranya kebenaran mengikut hawa
nafsu mereka (tradisi-budaya ?), niscaya binasalah langit dan bumi dan
siapa-siapa yang didalamnya” (QS 23:71).
8 Sudah barang tentu, di “luar rumah” kita berusaha lebih beradab dan
beradat. Kita meladeni hamper segala apa pun yang menjadi
keseyogiaannya Hari Raya dalam kultur lingkungan kita. Semua itu lebih
bersifat cultural daripada religus. Lebih merupakan mekanisme adat
budaya keagamaan disbanding manifestasi nilai-nilai agama itu sendiri.
Menurut adat “feodalisme” penduduklah yang meminta maaf kepada Pak
Lurah, padahl banyak kenyataan yang “memerintahkan” sealiknya. kalau
para penduduk bermaaf-mafan dengan Pak Lurah, apakah gerangan artinya
? Apakah mereka bermaf-mafan dalam konteks individu (manusia), ataukah
dalam konteks sosialitas (structural) ? Apakah seorang penduduk minta
maaf kepada Lurah karena ia pernah ngrasani kepala desanya itu ?
Ataukah karena ia pernah tidak setuju kepada keputusan mengenai Tebu
Rakyat, Bimas atau uang-uang pajak yang “sirna” tanpa kejelasan ? Dan
kalau Pak Lurah minta maaf juga kepada penduduk, apakah kemudian
penduduk memaafkan segala ketidakberesan tindakannya sebagai Lurah
selama ini ? (idem, hal 412).
9 Perlu diketahui bahwa semua lelaki normal pasti terangsang melihat
goyang pinggul kostum mini yang bahenol. Cuma persoalannya ada factor
lain di dalam diri manusia, umpamanya kesadaran tentang baik dan
buruk, sikap terhadap hokum moral, serta mungkin gaairaqh untuk
memelihara kesehatan mental masyarakat, termasuk dirinya. Hal-hal itu
yang membikin seseorang tak memilih kesenangan dengan menonton badan
semok (seksi dan montok), tapi berpihak pada kesadarannya yang lain
(idem, hal 28).
10. Bersamaan dengn usaha gigih mnusia meningkatkan produk teknologi
untuk memudahkan kehidupan, maka teknologi seks juga tak mau
ketinggalan. Pabrik-pabrik segera bikin alat-alat persetubuhan
sintetis, vagina sintetis, zakar intetis, serta segala macam perangkat
untuk itu (idem, hala 29).
11 Kita boleh memperebatkan masalah keadilan social secara terbuka
dan tanpa resiko politis apa pun, asal yang dimaksud adalah keadilan
social dari masyarakat anonym (anta beranta), atau setidaknya “Ketidak
adilan social di Nairobi”, misalnya. Kita boleh mengecam intervensi
Irak ke Kuwait, asal jangan dihubungkan dengan kasus Timor Timur.
Iklim semacam itu melahairkan generasi kelu dan bisu (budaya diam),
karena bapak sejarah mereka tertutup dan ngratu (idem, hal 234).
12. Kebuayan Negara dan masyarakat kita tidak menyediakan
infrastruktur dan infrakultur untuk keberlangsungan egalitarianitas
mekanisme dialog. Tak akan pernah terjadi musyawarah kalau yang satu
kuat dan yang satu lemah. Orang Indonesia itu tengeng lehernya. Ia
cenderung tidak bias menoleh ke kiri atau ke kanan. Biasanya Cuma
mendongak ke atas atau ndingkluk ke bahwah”. Manusia Indonesia
seolah-olah hanya mempunyai garis budaya vertical dan tidak memiliki
garis budaya horizontal. naluri dan cara pandang yang dididikan ialah
memandang orang lain sebagai atasan atau bawahan (idem, hal 231).
13 Masyarakat kita belum cukup memiliki modal (kultural, intelektual,
mental) untuk berdemokrsi, untuk berbeda, untuk menyangga kebebasan,
serta untuk dewasa di tengah ragamnya pilihan-pilihan. Subyektivisme
kekuasaan di negeri ini merupakan contoh terpendam dari
ketidakpastian. Belum ada kesungguhan iktikad untuk berdemokrasi.
Lebih dari soal ketidaksiapan mental dan budaya adalah ketidakadilan
social ekonomi dan subyektiisme kekuasaan yang berkepanjangan. Negara
kita “diselmatkan” (selamat dari rhythm of explosion) oleh
ketidakpampatan geografis, teluk-teluk permisivisme dan selat-selat
kulturalisme, juga tingkat kekayaan alamiah, sehingga jumlah hance of
explosion bias dibikin busung dengan sendirinya (idem, hal 247-248).
14 Dosa ‘ain adalah dosa individual. dosa kifayah adalah dosa
structural (idem, hal 417).
15 Kita ini orang-orang lemah yang tidak saling bergandengan tangan,
tidak beroganisasi, tidk berjama’ah. Kita ini orang lemah yang tidak
tahu kelemahan-kelemahan kita sendiri. kita ini orang-orang lemah,
karena itu kita membutuhkan persatuan dan organisasi di antara
oang-orang lemah (idem, hal 158) (Berjama’ah dituntut dalam ibadah
ritual dan juga dalam ibadah social).
(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1110031030)

catatan serbaneka asrir pasir

Bagaimana memahaminya ?

Untunglah, kata sejumlah orang mulia yang cerdik cendekia : Allah
sendiri itu Maha humor. Sudah enak-enak hidup sendiri kok bikin
macam-macam makluk yang lucu-lucu begini. Apa Dia kesepian. Adam sudah
nyaman-nyaman di surga, dibiarkan tercampak ke bumi. Kok lucu. Buah
Quldi saja kok ndak boleh dimakan. Mbok ya biar. Apa sih ruginya Tuhan
kehilangan sebiji Quldi ? Mbok biarkan Adam kawan sama hawa di surge,
pengantinan dan pesta sampai anak turunannya sekarang ini. Kenapa
makhluk-makhluk itu harus menunggu terlalu lama untuk memperoleh
kesempatan bercengkerama mesara denganNya. Lucu. Pakai bikin
Iblis-Setan segala (Emha Ainun Nadjib : “Surat Kepada Kanjeng Nabi”,
Mizan, bandung, 1997, hal 162, dari SUARA MERDEKA, 25 September 1992).

Penting pulakah Anda menanyakan kenapa Tuhan, melalui nabi Ibrahim,
menentukan Ka’bah didirikan di tempat itu ? Adakah karena kebetulan
saja kampong Ibrahim memang di situ ? Kenapa pula Tuhan menentukan
Ibrahim lahir di negeri dan tanah itu, dan tidak di Timor Timur
misalnya ? Bahkan kenaapa pula seluruh Nabi hanya muncul di Timur
Tengah ? Kenapa tak dibagi : Cina punya satu Nabi, India punya satu
Nabi, Jawa punya satu Nabi, dan seterusnya ? Ini pertanyaan bukan
untuk “menggugat” Tuhan, melainkan justruuntuk membuka pintu rahasia
ilmu dan kehendak-Nya (idem, hal 118, dari SUARA MERDEKA, 18 Juli
1992).

Barangkali saja kehidupan memang memiliki watak dan gayanya sendiri :
manusia hidup dalam berbagai perbedaan, pertentangan, bahkan
ketimpangan. Seolah-olah Tuhan sengaja menakdirkan seseorang menjadi
kaya, sementara yang lain melarat, semelarat-melaratnya. seseorang
bisa memiliki sekaligus ratusan perusahaan, yang diperoleh secara
wajar, professional, maupun melakukan bocoran-boran brokratisme dan
nepotisme, sehingga setiap saat bisa disewanya seribu pesawat untuk
dimilikinya sendirian. Sementara seorang yang lain membeli ratusan map
dan kertas surat lamaran kerja yang bertahun-tahun tak diterima oleh
kantor perusahaan mana pun. Atau membanting tulang daging sehari penuh
untuk beberapa ratus rupiah (idem, hal 58, dari SUARA MERDEKA, 30
Oktober 1991). (Sekedar ilustrasi, simak juga kasus Muhamamd
Nazaruddin, Gayus Tambunan, pencuri tiga buah coklat, dan lain-lain).

Amir Hamzah menggambarkan betapa tak berdayanya, tak mampunya manusia
dalam menghadapi kehendak/kekuasaan Tuhan. manusia dilukiskan
seakan-akan hanalah merupakan permainan belaka, seumpama golek
(boneka) dalam permainan wayang untuk menghibur (menyenangkan) sang
dalang (Drs Samaun : “Napas Ketuhanan Dalam Puisi Indonsia Modern”,
dalam GELANGGANG Sastera, Seni dan Pemikiran, Nop.2, Tahun I, 1967,
hal 11).

Salah satu dari ucapan Jaham ibnu Shafwan – pemimpin jabariyah –
adalah sebagai berikut : Manusia tidak mempunyai kodrat untuk berbuat
sesuatu, dan ia tidak mempunyai “kesanggupan”. Dia hanya terpaksa
dalam semua perbuatannya. Dia tidak mempunyai kodrat dan ikhtiar,
melainkan Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan pada dirinya.
dia adalah laksana sehelai bulu yang terkatung-katung di udara,
bergerak ke sana-sini menurut hembusan angin (Prof Dr A Syalabi :
“Sejarah dan Kebudayaan Isla”, Pustaka al-Husna, Jakarta, 1983, jilid
II, hal 379).

Allah kasih manusia rejeki menurut kemashlahatan mereka. Ia
mengkayakan orang yang memang laya memiliki kekayaan. Dan memiskinkan
orang yang memang berhak jadi orang miskin. Allah lebih tahu apa yang
bermashalahat bagi manusia, dan yang tidak bermashlahat bagi mereka
(PANJI MASYARAKAT, Jakarta, No.537, hal 7, dari Al-LIWA al_ISLAM).

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS9801290700)

Alur Fikir Emha Ainun Nadjib

Mengikuti alur fikir/logika Emha Ainun Nadjib tersebut diatas, maka
akan muncullah dialog segitiga Jabariah-Sunni-Qadariah tentang takdir,
KemahaKuasaan dan KemahaEsaan Allah yang tak akan pernah selesai
berakhir. Allah itu MahaKuasa, MahaEsa, MahaTahu. Tahu yang sebelum
terjadi. Tahu yang akan terjadi. Allah mampu memprogram sesuai sesuai
dengan iradah kehendaknya. (Simak juga kuliah subuh Prof Dr Mahfud MD
di TVRI pada Rabu, 21 September 2011 dalam acara “Hikmah Pagi”, jam
05.00)

Simaklah dialog antara Auza’I dengan Qdari (penganut paham Adariyah).

Auzai’I : “Pilihlaaah yang kamu suka (tiga, empat atau saatu) kalimat”.
Qadari : “Tiga kalmat”.
Auza’I : “Apakah Allah menuuruh sesuatu yang terlarang ?”
Qadari “ “Aku tak bisa menjawab”.
Auza’I : Apakah Allah menghalangi apa yang ia perintahkan ?”
Qadari “ “Ini lebih silit daripada yang tadi. Aku tak bisa menjawb”.
Auza’I : “Apakah Allah membolehkan apa yang Ia haamkan ?”
Qadari : “Ini leih sulit daripada yang pertama dan kedua. Aku tak bisa
menjawab”. (Simak dari “Al-Mazahib al-Islamiyah” paham Qadariyah).

Allah dengan iradat dan qudratNya mampu menciptakan manusia dan jin
semuanya tunduk patuh mengabdi, menghamba kepadaNya, tanpa kecuali.
(Simak QS 51:56). Apa hikmahnya Allah menciptakan neraka lagi
disamping surga ? Apa pula hikmahnya alam semesta ini dihancur
leburkan dan kemudian diciptakan lagi alam akhirat. Apa hikmahnya
Allah tak sejak awal membuat planning tanpa ada kiamat?

Apa hikmahnya Allah tak menciptakan manusia ini semuanya orang
baik-baik, sehingga tak perlu diciptakan neraka ? Tak perlu diciptakan
kiamat. Apa hikmahnya neraka itu bagi Allah sendiri yang triliunan
tahun menyaksikan tumpukan suasana yang tak sedap (Simak antara lain
QS38:55-64).

Apa hikmahnya Islam itu tak disampaikan Allah kepada seluruh manusia
sejak awal melalui Nabinya Adam as. Apa hikmahnya proses evolusi Islam
itu disampaikan Allah hanya terbatas di lingkungan Bani Israil dan
Bani Ismail ?

Bagaimana memahami dialog dengan malaikat :

Iblis berkata kepada malaikat : “Sesungguhnya aku percaya bahwa
Pencipta Yang Maha Tinggi, aalah Tuhanku dan Tuhan sekalian makhluk;
Dialah yang maha Tahu. Maha Kuasa dan Dia tak perlu ditanya tentang
kekuasaanNya dan kehendakNya, yang apapun kehendakNya, Dia cukup
mengatakan “adalah”, maka jadilah “ada”, dan Dialah Yang Maha
Bijaksana. Namun, Dia telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di dalam
jalur kebijaksanaanNya itu”.

Malaikat : “Apakah pertanyaan-pertanyaan itu, dan berpa banyaka ?”

Iblis menjawab :

Pertama : Bahwa Dia telah mengetahui segala sesuatu sebelum
kejadianku, mengetahui apa saja yang bakal keluar dari perbuantku,
kenapakah aku yang dijadikanNya pertama dan apa hikmahnya Dia
menciptaknKu ?”
Kedua : Manakala Dia menciptakanku menurut iradah dan keinginannNya,
maka amengapa Dia membebankan atas diriku untuk mengenal dan
menta’atiNya ? Apa hikmahnya alam pembebanan ini, seentara Dia tidak
mendapatkan keuntungan oleh “ketaatan” dan tidak mendapat kerugian
dengan “kedurhakaan” ?

Ketiga : “Manakala Dia telah menciptakanku, membebaniku, lalu aku
penuhi “pembebanan”Nya itu dengan mengenal serta menta’atinNya, maka
kenapa Dia membebaniku pua untuk mentaatiAdam dan sujud kepadanya ?
Apa hikmahnya dalam pembbanan ini, khususnya sesudah hal itu tidak
akan menambah pengenalanku dan ketaatanku kepadaNya ?”

Keempat : “Manakala Dia telah menciptakan dan secara mutlak
membebaniku, dan secara khusus membebaniku untuk ini (sujud kepada
Adam) maka ketika aku tidak sujud kepada Adam kenapa Dia mengutukiku
dan mengusirku dari surga ? Apa hikmahnya yang demikian itu, sesudah
sebelumnya aku tidak pernah berbuat sesuatu yang buruk, kecuali
ucapanku “aku tidak sujud kepada sesuatu kecuali kepadamu ?”

Kelima : “Manakala Dia telah menciptakan ku, lalu membebaniku secara
mutlak dan secara khusus, lalu aku tidak taati, sehingga Dia
mengutukku dan mengusirku, maa kenapa Dia membri kesempatan padaku
menemui Adam, sehingga aku masuk ke surga untuk kedua kalinya dan Adam
kutipu dengan tipu-dayaku, sehingga ia memakan buah dari pohon
larangan itu, lalu Dia mengeluarkannya (Adam) dari sorga bersama aku.
Apakah hikmahnya dalam hal itu, paahal alau Dia mencegahku memasuki
surga, tentulah Adam terhindar dari godaanku, dan tetap keal di dalam
sorga ? “

Keenam : “Manakala Dia telah menciptakanku, lalu membebaniku seara
umum dan secara khusus, kemudian melaknatku, lalu membiarkanku masuk
ke urga, sedang antara aku dan Adam dalam permusuhan, kenapakah aku
dikuasakan atas keturunannya (Adam) sehingga aku dapat melihat
mereka, sementara mereka tak dapat melihatku, dan mengutamakan
tipu-dayaku atas mereka, sedangkan usaha dan kekuatan mereka tidak
didahulukan padau, apakah hikmahnya dalam hal demikian itu, padahal
kalau mereka diciptakan menurut fitrah, tanpa adanya yang
menyimpangkan mereka dari fitrah itu, tentulah mereka akan hidup dalam
kesucian, patuh, dan taat, dan yang demikian itu pantas buat mereka.

Ketujuh : “Aku mempercayai semua ini. Dialah yang telah menciptakanku,
membebaniku secara mutlak dan yang mengikat, dan manakala aku tidak
mematuhiNya, Dia melaknatku dan mengusirku, dan ketika aku ingin masuk
surga, Dia perkenanku dan member kesempatan, kemudian manakala aku
prbuat usahaku, Dia mengusirku, kemudian menguasakan kepadaku atas
bani Adam, maka kenapa ketika aku minta tangguh dia memperkenankannya,
ketika aku berkata : “tangguhkanlah aku hingga hari berbangkit”. Dia
berfirman : “Sesungguhnya engkau diberi tangguh sampai kepada waktu
yang telah ditentukan”. Apakah hikmahnya dalam hal demikian, padahal
kalau Dia memusnahkanku langsung, tentulah Adam dan semua makhluk
merasa aman dari ku dan tentulah tiada kejahatan di dinia ? Bukankah
tetapnya dunia dalam peraturannya yang baik jauh lebih bagus dari pada
campur aduknya dengan kejahatan ?”

(Dikatakan bahwa Allah mewahyukan kepada Malaikat, katakana kepadanya)
: “Sesungguhny engkau di dalam penyerahanmu yang pertama : “Bahwa Aku
adalah Tuhanmu dan Tuha semua makhluk”, “tidak benar dan tidak
ikhlas”. “Andainya engkau benar-benar jujur dalam ucapanmu : “Bahwa
Aku Tuhan sekalian alam, tentulah engkau tidak menghukum Aku dengan
kata : “kenapa ? sedangka Aku adalah Allah, yant tiada Tuhan selain
Aku”. “Aku tidak mesti ditanya, atas apa yang Kuperbuat, tetapi
maklkuklah yang mesti ditanya” (Simak ”Ghazwul Fikri Sudah Ada Sejak
Nabi Adam as”, oleh H Ali Fahmi Arsyad, dalam SUARA MASJID, No.162,
Rajab-Sya’ban 1408H – Maret 1988, dari “Kitab Al-Mihal wan_Nihal”,
oleh Imam Syahrastani pada “Muqaddamah atTsalatsah).

catatan serbaneka asrir pasir

Teka-teki

Apa hikmahnya dalam alQuran terdapat hal-hal yang berupa seolah-olah
teka-teki, berupa mutasyabihat, padahal dinyatakan bahwa dalam alQuran
itu yang ada hanyalah yang pasti, yang tak diragukan, yang tak
debatable. Misalnya tentang jumlah ahlul kahfi, jumlah pemuda yang
bersembunyi di gua, apakah tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan
dengan anjingnya (QS 18:22). Tentang sosok DzulQarnin (QS 18:82),
Yakjuj wa Makjuj (QS 18:94), Luqman (QS 31:12), mertua Nabi Musa (QS
28:27), malam qadar (QS 97:3), kadar/lama satu tahun (QS 32:5, 70:4),
tempat nabi Isa (QS 3:55, 4:158), makna senggol/lamas (QS4:42, 5:6),
penyebutan budak (ma malakat aimanuhum) dalam sejumlah ayat (antara
lain dalam QS 23:6, 70:30) ?
(Simak Dr Shalah Abdul Fatah Al-Khalidi : “Pengantar Memahami Tafsir Fi Zhilalil Quram Sayid Qutub”, Intermedia, Solo, 2001, hal331, Misteri-misteri Alquran)
(written by sicumpaz@gmail.com at BKS1107121900)

Assalamu’alaikum w.w.

Re : Mecari Persepsi (Wacana) tentang misi Islam

Mohon penjelasan perihal berikut :

1. Terkait akhir ayat QS 5:3, apakah misi Islam sudah selesai, sudah
berakhir ketika dinyatakan bahwa agama Islam sudah lengkap, sempurna ?

2. Terkait ayat QS 9:33, 61:9, apakah misi Islam sudah selesai, sudah
berakhir, ketika agama Islam sudah merata di seluruh jazirah Arab,
sudah tak ada lagi kaum musyrik ?

3. Terkait ayat QS 9:28, dan tafsirnya (dalam “Tafsir AlAzhar”, X:162,
XXVIII:68,181), apakah kaum musyrik itu sebatas kaum kafir Quraisy
pada masa Rasulullah saw ?

4. Terkait gambar/lukisan surga dalam Quran, apakah misi Islam
terbatas untuk penghuni jazirah Arab masa lalu (“Idiom tentang surga
berdasarkan kepada konteks pengalaman budaya masyarakat Arab pasti
berbeda dengan ‘idiom surga’nya orang Jawa”, kata Emha Ainun Nadjib,
dalam “Surat Kepada Kanjeng Nabi”, Mizan, Bandung, 1997:392) ?

Terima kasih.

Wassalam.

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: