Aliansi Kristen di Asia Tenggara

Aliansi Kristen di Asia Tenggara

Beberapa lembar fotokopi tulisan ”Arab gundul” diterima redaksi Republika. Rupanya, itu adalah fotokopi sebuah majalah Mujtama’ yang terbit di Kuwait. Majalah itu memuat utuh sebuah dokumen yang disebut sebagai surat Gloria Macapagal Arroyo, Presiden Filipina, ke George W Bush, Presiden Amerika Serikat.

Isinya menyeramkan: semacam proposal untuk membangun aliansi berdasarkan agama (Kristen) untuk menguasai wilayah Asia Pasifik dengan Filipina sebagai pusatnya.

Penguasaan itu dilakukan melalui dukungan dan pembentukan pasukan separatis di sejumlah wilayah di Malaysia dan Indonesia. Setelah memerdekakan sejumlah wilayah, dibentuklah aliansi Filipina, Singapura, Taiwan, Hongkong, Macao, Sabah-Sarawak-Perlis-Penang-Selangor-Perak, dan Maluku-Timor Leste-Sulawesi. Untuk itu, Filipina membutuhkan dukungan politik, persenjataan, dan dana. Sedangkan Amerika akan memiliki sejumlah pangkalan militer, penguasaan sumber daya alam, kontrol terhadap senjata kimia-biologi-nuklir, dan penguasaan atas kawasan ini.

Otentikkah dokumen itu? Benarkah isinya? Seorang aktivis menyatakan, ”Bisa jadi dokumen itu tidak otentik, tapi isinya ‘kan yang kini sedang terjadi.”

Era baru memang sedang terbit. Setelah era perang dingin (atau biasa disebut war against communism) berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet, sejumlah tema dimunculkan. Ronald Reagan, Presiden AS saat itu, meluncurkan ide star wars. Tetapi, ia tidak cukup mampu menghela dunia untuk mengikuti gagasannya. Lalu Bill Clinton, Presiden AS lainnya, membawa tema lingkungan hidup, hak asasi manusia, dan demokratisasi. Selama 10 tahun dunia ketiga dilanda arus demokratisasi, termasuk lahirnya negara-negara baru, seperti Timor Leste.

Di sejumlah negara berpenduduk Muslim, itu juga berarti kebangkitan politik Islam. Celakanya, mereka memunculkan nasionalisme yang sangat kuat dengan antidominasi asing yang juga kuat. Bagi sejumlah kelompok ekstrem, itu juga kebebasan mereka menggunakan senjata yang tercecer dari era perang dingin. Maka, pada saat yang tepat, Bush melahirkan tema yang sangat menggelegar: war against terrorism.

Apalagi sebelumnya juga sudah diprediksi Samuel P Huntington sebagai perang peradaban (clash of civilization), antara Barat (Kristen) dan Timur (Islam dan Konfusius). Kini, suka tidak suka, dalam praktiknya, perang melawan teror juga berarti perang terselubung terhadap Islam. Asal bernama Arab dan beragama Islam, seseorang bisa digeledah, termasuk dipaksa buka baju dan sepatu, setiap memasuki Amerika ataupun sekutu-sekutu terdekatnya. Termasuk ditolak permohonan visanya, tanpa bisa banding.

Secara yuridis, kata perang itulah yang digunakan, termasuk dalam resolusi dan konvensi PBB tentang terorisme. Sehingga, pada hukum perang yang digunakan itu Tidak ada lagi HAM. Semuanya sah dilakukan untuk mencegah teror terjadi, asal tidak membunuh. Itulah hukum perang berdasarkan aturan PBB. Maka muncullah kamp-kamp militer, seperti di Guantanamo. Karena perang pula, peran intelijen menjadi sangat kuat.

Maka muncullah dokumen-dokumen gelap, termasuk Dokumen Jibril. Antara fakta nyata dan fakta intelijen saling bersusulan, tidak jelas mana yang mendahului, termasuk bom Bali. Manusia kembali dikutubkan secara ideologis, juga dalam hal percaya dan tidak percaya terhadap teori konspirasi.

Dalam konteks itulah surat Arroyo diletakkan. Surat itu bertanggal 20 November 2001, dua bulan setelah tragedi WTC. Pihak kedutaan Filipina di Jakarta mengakui mereka pernah menerima dokumen itu tahun lalu. Surat 10 halaman itu berkop Gloria Macapagal Arroyo, President of the Republic of the Philippines. Sedangkan, di bagian akhir, di bagian kanan, tertera sebuah tanda tangan yang bersusunkan huruf-huruf g-m-a-r-r-o-y-o. Di bawah-kiri, tertera semacam stempel berisi tiga baris kalimat yang bertuliskan George W Bush, President of the United States of America, The White House, Washington DC. Juga ada gambar semacam tampak muka Gedung Putih, kantor presiden AS itu.

Pihak kedutaan Amerika maupun Filipina membantah keras autentisitas dokumen tersebut. Namun, Mujtama’, seperti dikatakan pemimpin redaksinya, Ahmad Izzudin, menyatakan yakin atas autentisitas dokumen tersebut. ”Belum ada bantahan [ke kami] dari Filipina,” katanya. Untuk meyakinkan Republika, ia bersedia mengirim versi ”asli” dokumen tersebut, yang tentu saja ditulis dalam bahasa Inggris.
1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: