Antara Rasional dan Irrasional

Antara Rasional Dan Irrasional

Abraham Lincoln said that “You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the peoples all the time.

Setelah peristiwa kepergian, kematian Yesus, maka Roh Kebenaran datang membawa kebenaran, merangkan perihal dosa, keadilan, hukum (Yohannes 16:8-12). Apakah dan dimanakah keadilan, hukum, kebenaran itu ? Dan siapakah Roh Kebenaran yang membawa kebenaran, menerangkan perihal dosa, keadilan, hukum ? Yesus ? Paulus ? Pernahkah mereka itu menegakkan keadilan, hukum ? Di mana ? Di Kerajaan Sorga ?

Berpikir rasional adalah berpikir bahwa Satu ya Satu. Berpikir irrasional adalah berpikir bahwa Satu dalam Tiga, Tiga dalam Satu, meskipun berkoar meneriakkan menyatakan bahwa perbedaan adalah perbedaan, tidak perlu justifikasi.

Masih ada justifikasi supaya yang irrasional bisa jadi rasional, yaitu dengan memanifestasikan, menjabarkan Satu sama dengan Satu kali Satu kali Satu, Satu sama dengan Satu pangkat Tiga, One is Triple one (1=1x1x1).

Yang berpikir rasional mulai meninggalkan kehidupan agana Nasrani, meninggalkan ajaran dogmatis Bapa-Bapa Gereja yang irrasional. Yang masih berpikir irrasional di Barat tampil membawa misi Narani ke Timur.

Sekali gereja lebih cenderung pada hal-hal bersifat spiritual kerohanian. “Render unto Caesar what is Caesar’s. Render unto God what is God’s” (Matheus 22:21). Mengajarkan bagaimana mencapai kebahagiaan di akhirat tanpa berbuat apa-apa untuk mencapai kebahagiaan di dunia. “I fear that Christians who stand with only one leg upon earth also stand with only one leg in heaven” said Dietrich Bonhoetter. Gereja mengharamkan segala bentuk keduniaan, karena bagi Yesus hanyalah Kerajaan Sorga bukan kerajaan dunia. Paulus mengajarkan bahwa “the source of all sin in the flash”, sehingga supaya Bapa-Bapa Gereja dianggap suci, maka mereka harus menjauhi wanaita. Apakah ini sesuai dengan fitrah kebenaran ?

Namun lain kali Gereja cenderung rakus, tamak, serakah, sarat dengan penindasan orang-orang melarat. Para pakar ekonomi menjelaskan adanya hubungan kolusi Nasrani dengan Kapitalisme (moyangnya Kolonialisme). Bapa-Bapa Gereja bahu-membahu dengan kaum bangsawan aristokrat dan para tuan tanah feodal dalam melhairkan Imperialisme dan penindasan kaum melarat. Bisa saja untuk justifikasi dikemukakan bahwa ini adalah bukti bahwa jika agama sudah dijadikan kedaraan politik. Tapi siap yang melakukannya ? Bapa-Bapa Gereja ? Kristen munafik ? Islam mengingatkan bahwa “Sesungguhnya kebanayakan pemimpin-pemimpin agama dari paderi dan pendeta itu memakan harta milik manusia dengan jalan yang salah, dan mereka pergunakan untuk menahan-nahan jalan keadilan Tuhan” (Tarjamah Qur:an Surah Taubah 9:34, dalam Z A Ahmnad : “Dasr-Dasar Ekonomi Dalam Islam”, 1952:26).

Dan pada kali yang lain Gereja menindas sarjana-sarjana Nasrani. Darah manusia berlumuran dalam perang-perang agama. Kebebasan politik digerogoti oleh kekuasaan agama. Kebebasan intelektual tidak mendapat tempat dalama “theokrasi”. Terjadi konflik antagonis antara ilmu pengetahuan yang rasional dengan dogma-dogma Gereja yang irrasional.

= Bekasi 22 September 2000 =

asrir sutan

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: