Berpikir Rasional

Berpikir Rasional

1 Berpikir rasional

Seandainya lahir dan dibesarkan di kalangan Kristen, tetapi dididik berpikir logis-rasional, maka rasanya payahlah untuk dapat menerima BIBEL sebagai Kitab Suci. Ketika baru saja membaca beberapa halaman BIBEL (Fasal Kejadian, Ulangan, Yehezkiel, Semuil, Galatia, dll) serasa sedang membaca kumpulan catatan berbagai hal pada berbagai masa, oleh berbagai kalangan Yahudi. Ada yang logis rasional. Ada yang bernada historis. Ada yang fiktif-fantastis-legendaris-khayali. Ada yang manipulatif. Ada yang jorok-pornografis.

Bagaimana mungkin dalam Kitab Suci terdapat KISAH PARADE PERZINAAN ? Seorang Nabi bisa mabuk jatuh pingsan dalam keadaan bugil ? Berbuat mesum ? Bahkan dengan puteri sendiri ? KISAH MASTURBASI-ONANI ? KISAH AMAT SERONOK KAKAK BERADIK ? Tuhan bisa melayang-layang di atas air ? Menyesal menciptakan manusia ? Makan roti dan gulai ? Bergulat semalam suntuk dengan seorang Nabi ? Memperisteri Yerusalem ? KISAH PERSUNDALAN YERUSALEM ? KISAH YANG MERENDAHKAN MARTABAT NABI Ya’kub. KISAH MANIPULATIF Hajar dan Ismail ? Ajaran TAUHID (Monetheis) yang bisa berubah dimanifestasikan jadi TRINITAS ? Sungguh Aneh bin Ajaib. Justifikasinya Iman, Iman, sekali lagi Iman. Iman tak perlu logis-rasional.

Namun demikian, seorang anggota Partai Buruh dalam sidang Parlemen Inggeris 1964 mengusulkan kepada pemerintah Inggeris agar BIBEL dilarang beredar di seluruh Inggeris Raya, karena dalam BIBEL terdapat pelbagai hal yang memuakkan, selain kecabulan, juga segala bentk kebencian dan pertentangan ras, kisah-kisah yang campur aduk yang dahsyat tentang kesadisan, penghalan dan korban-koraban manusia.

Mr RT Payet said that “I know of no book in history which colud compere with the BIBLE as source of brutality and sadistic conduct”. And St Agustine said that “I should not believe in the GOSPEL if I had authority of the CHURCH for so doing”.

Dibutuhkan Tuhan yang benar-benar Tuhan. Bukan Tuhan-Tuhanan. Bukan Tuhan Jadi-Jadian. Bukan Setengah Tuhan, Setengah Manusia. Bukan Tuhan yang menjelma menjadi Manusia. Bukan Tuhan yang bisa bekeluarga, beranak, bercucu. Bukan Tuhan dalam khayalan. Bukan Tuhan yang dapat diserupakan dengan makhluk. Bukan Tuhan yang dapat digambarkan, dilukiskan, dipatungkan. Tapi Tuhan Yang Tak Ada Tuhan Selain Dia. Tuhan yang memiliki sifat Maha Kesempurnaan, bebas dan bersih dari segala sifat kekurangan.

(ALHIKMAH 26:1995:6-9, SABILI 7:2000:37, ALAZHAR XX:39, XXIII:235-236).

= Bekasi 7 Februari 2000 =

2 Antara Rasional Dan Irrasional

Abraham Lincoln said that “You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the peoples all the time.

Setelah peristiwa kepergian, kematian Yesus, maka Roh Kebenaran datang membawa kebenaran, menerangkan perihal dosa, keadilan, hukum (Yohannes 16:8-12). Apakah dan dimanakah keadilan, hukum, kebenaran itu ? Dan siapakah Roh Kebenaran yang membawa kebenaran, menerangkan perihal dosa, keadilan, hukum ? Yesus ? Paulus ? Pernahkah mereka itu menegakkan keadilan, hukum ? Di mana ? Di Kerajaan Sorga ?

Berpikir rasional adalah berpikir bahwa Satu ya Satu. Berpikir irrasional adalah berpikir bahwa Satu dalam Tiga, Tiga dalam Satu, meskipun berkoar meneriakkan menyatakan bahwa perbedaan adalah perbedaan, tidak perlu justifikasi.

Masih ada justifikasi supaya yang irrasional bisa jadi rasional, yaitu dengan memanifestasikan, menjabarkan Satu sama dengan Satu kali Satu kali Satu, Satu sama dengan Satu pangkat Tiga, One is Triple one (1=1x1x1).

Yang berpikir rasional mulai meninggalkan kehidupan agama Nasrani, meninggalkan ajaran dogmatis Bapa-Bapa Gereja yang irrasional. Yang masih berpikir irrasional di Barat tampil membawa misi Narani ke Timur.

Sekali gereja lebih cenderung pada hal-hal bersifat spiritual kerohanian. “Render unto Caesar what is Caesar’s. Render unto God what is God’s” (Matheus 22:21). Mengajarkan bagaimana mencapai kebahagiaan di akhirat tanpa berbuat apa-apa untuk mencapai kebahagiaan di dunia. “I fear that Christians who stand with only one leg upon earth also stand with only one leg in heaven” said Dietrich Bonhoetter. Gereja mengharamkan segala bentuk keduniaan, karena bagi Yesus hanyalah Kerajaan Sorga bukan kerajaan dunia. Paulus mengajarkan bahwa “the source of all sin in the flash”, sehingga supaya Bapa-Bapa Gereja dianggap suci, maka mereka harus menjauhi wanaita. Apakah ini sesuai dengan fitrah kebenaran ?

Namun lain kali Gereja cenderung rakus, tamak, serakah, sarat dengan penindasan orang-orang melarat. Para pakar ekonomi menjelaskan adanya hubungan kolusi Nasrani dengan Kapitalisme (moyangnya Kolonialisme). Bapa-Bapa Gereja bahu-membahu dengan kaum bangsawan aristokrat dan para tuan tanah feodal dalam melahirkan Imperialisme dan penindasan kaum melarat. Bisa saja untuk justifikasi dikemukakan bahwa ini adalah bukti bahwa jika agama sudah dijadikan kedaraan politik. Tapi siap yang melakukannya ? Bapa-Bapa Gereja ? Kristen munafik ? Islam mengingatkan bahwa “Sesungguhnya kebanyakan pemimpin-pemimpin agama dari paderi dan pendeta itu memakan harta milik manusia dengan jalan yang salah, dan mereka pergunakan untuk menahan-nahan jalan keadilan Tuhan” (Tarjamah Qur:an Surah Taubah 9:34, dalam Z A Ahmnad : “Dasr-Dasar Ekonomi Dalam Islam”, 1952:26).

Dan pada kali yang lain Gereja menindas sarjana-sarjana Nasrani. Darah manusia berlumuran dalam perang-perang agama. Kebebasan politik digerogoti oleh kekuasaan agama. Kebebasan intelektual tidak mendapat tempat dalama “theokrasi”. Terjadi konflik antagonis antara ilmu pengetahuan yang rasional dengan dogma-dogma Gereja yang irrasional.

= Bekasi 22 September 2000 =

3 Bahan Renungan

Dikemukakan bahwa Yesus mengajarkan “Kasihilah musuhmu” (Love our enemies). Karl Marx menuntut bukti konkrit (Does not every minutes of your practicle live give the lie to your theory). Siapa pengikut Yesus yang telah mempraktekkannya ?

Dikemukakan bahwa jalan Tuhan itu tidak selalu sesuai dengan pikiran manusia, bahwa penjajahan Barat itu soal “blessing in disguise”. Dipertanyakan, selain penjajahan itu, fakta sejarah apa lagi yang dijustifikasi dengan dalih “blessing in disguise” ?

Dikemukakan bahwa Yesus rela disalib, mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan umat manusia, menebus dosa manusia. Dipertanyakan, apakah Yesus yang tak kuasa menyelamatkan dirinya dari salib, akan mampu menyelamatkan manusia dari siksaan Tuhan ? Jika Yesus telah menebus dosa manusia, maka yang di hatinya ada kasih Yesus, tentu tak terhalang lagi berbuat dosa ?

Dikemukakan bahwa Yesus datang melengkapi hukum Taurat. Dipertanyakan, hukum Taurat mana saja yang telah ditegakkan oleh pengikut Yesus ? Apakah sudah pernah pengikut Yesus menegakkan hukum rajam seperti dalam Taurat terhadap pezina ? Siapakah yang memenggal (memasung, mengacak-acak) hukum Taurat. Siapakah yang membolehkan tak berkhitan ? Siapakah yang membolehkan memakan daging babi ? Hukum Taurat ? Siapakah yang akan menegakkan hukum Taurat itu, kalau berpegang pada “berikan kepada Allah apa yang jadi hak Allah dan berikan kepada Kaisar apa yang jadi hak Kaisar” ? Untuk apa hukum, kalau tak ada penegak hukum ? (PANJI MASYARAKAT 246:38).

Dikemukakan bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan untuk mendirikan negara, bahkan Kristen tidak pernah mempunyai keinginan untuk berkuasa. Dipertanyakan, pengikut siapakah yang memegang kekuasaan mengobarkan Perang Salib, Inkwisisi, merebut kekuasaan di Asia dan Afrika ? Siapa yang menyuruh menetapkan dalam UUD bahwa agama Katholik menjadi agama negara, bahwa agama Protestan menjadi agama negara, bahwa Kristen Orthodok menjadi agama negara, di Eropah Barat, di Eropah Selatan, di Eropah Timur, Di Amerika Utara, Di Amerika Tengah, di Amerika Selatan, di Afrika Selatan, di Australia, dan lain-lain ? Siapa ?

Dikemukakan bahwa berlumuran darahnya penjuru dunia atas nama Yesus adalah karena agama sudah dijadikan kendaraan politik. Dipertanyakan siapakah yang melakukan ini, dan apakah Paus-Paus itu termasuk Kristen Munafik ? Ataukah ada dalih lain yang juga dijustifikasi ?

4 Menyoal Poligami.

Di tataran teoritis. Poligami digugat sebagai pelecehan wanita, menjadikan wanita sebagai “pelayan” (pemuas?) lelaki, menindas rasa keadilan. “Berlaku adil dalam konteks poligami nyaris mustahil” kata Luthfah Sungkar. “Al-Qur:an sudah mengatakan bahwa tidak akan bisa berlaku adil” jelas Luthfah (QS Nisaa 4:129) (SABILI 8:2000=25). Pembela monogami, pembela emansipasi wanita (woman lib) menghalalkan pergaulan bebas tanpa batas, melakukan kumpul kebo, melegalisasi pelacuran, melembagakan pergundikan, menghalalkan isteri orang diajak untuk berdansa, berbelanja berwisata, bberdua, menjajakan keindahan tubuh wanita untuk dunia promosi/reklame, filem, televisi (SABILI 8:2000=3). Hanya dengan monogami bisa diperoleh kebahagiaan sejati. Tapi kenyataannya bagaimana ? Di tataran praktis. Bila isteri dalam kondisi berhalangan (tak bisa) memenuhi kebutuhan biologis suami, misalnya pada waktu mensturasi, setelah melahirkan, setelah menopose, ketika sakit, bagaimana caranya suami agar dapat memenuhi kebutuhan biologisnya ? Apa yang harus dilakukan suami ? Apakah akan menyiksa diri, atau melacur, atau melakukan sodomi, atau melakukan onani, atau melakukan hubungan seksual dengan boneka atau satwa ? Dalam hal ini, Islam bukanlah semata-mata mengatur ibadat, kepentingan tiap-tiap pribadi dengan Allah saja, tetapi juga memikirkan dan mengatur masyarakat. Peraturan haruslah sesuai dengan keadaan masyarakat yang sebenarnya, sesuai dengan jiwa manusia agar ditaatinya. Islam memandang bahwa persetubuhan bukanlah dosa, bahwa tidak menikah bukanlah hidup yang lebih suci, bahkan beristeri lebih dari satu bukanlah suatu kejahatan (Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, QS Nisaa 4:3). Islam tidaklah menempatkan wanita sebagai perayu, penggoda lelaki. Bersolek, berdandan, mempercantik diri memikat lelaki dengan berpakaian mini, bahkan sampai bugil (Maryam Jamilah : “Islam & Modernisme”, 1982:191).

5 Be fair to yourself

Allah mengingatkan bahwa “orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS Baqarah 2:120). Sebagai Humanis yang berpihak pada Kristen, JEHIDAS pasti akan menolak seruan Kedamaian-Keselamatan Islam, bahkan akan sinis, mentertawakan Islam dan Muhammad saw, karena tak mengenalinya secara baik (tak mengimaninya), dan akan tetap bersikukuh menyatakan bahwa banyak contoh kasus negara Islam (Afghanistan, Pakistan, dll) yang gagal dan tidak applicable. Bahwa ide menjadikan Indonesia sebagai negara Islam adalah arogansi. Tak perlu pakai label negara Islam. Yang penting bukan sampulnya (pembungkusnya boleh saja buruk), tetapi pelaksanaannya (prakteknya, isinya indah menggembirakan). Bahwa persamaan pria dan wanita kurang dihargai Islam (di Timur Tengah, perempuan hanya diberikan lingkungan kerja terbatas; di Afghanistan, perempuan ditindas). Bahwa poligami (beristeri lebih dari satu) tidak akan pernah memberikan rasa keadilan. Bahwa Islam hanyalah sebatas kata-kata iklan, slogan propaganda. Bahwa agama hanyalah ciptaan manusia. Bahwa agama adalah urusan pribadi dengan Tuhan. Negara tak perlu campur. Bahwa Negara Agama membuat maanusia menjadi munafik. RENDER UNTO CAESAR WHAT IS CAESAR’S. RENDER UNTO GOD WHAT IS GOD’S (Matheus 22:21). Bahwa fakta sejarah bukanlah bukti konkrit (nyata). Bahwa teroris itu dari golongan Islam (Libya, Abu Sayaf, DII/TII). Bahwa penjajahan Barat (Inggeris, Belanda) itu suatu “blessing in disguise”, sehingga Asia Tenggara (Malaysia, Indonesia) tidak tinggal di jaman batu. Bahwa kemajuan Barat itu atas konstribusi Kristen. Bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Satu dalam Tiga. Tiga dalam Satu (Tritunggal, Trinitas). Bahwa Yesus itu Tuhan, Manusia, Penebus Dosa. Bahwa Yesus datang melengkapi hukum Taurat. Bahwa Muhammad tidak dinubuatkan di dalam Bible. Bahwa ajaran Nabi selain Yesus, sarat dengan nafsu kemanusiaan. Bahwa Islam itu mengekslusifkan diri sendiri, membenar-benarkan dan memuji-muji diri sendiri, mengangkangi kedaulatan Tuhan.

Diskusi akan beralih menjadi debat kusir selama tidak ada titik temu (pokok pandang yang sama), meskipun bertumpuk fakta sejarah sebagai bukti nyata. Yang satu memandang bahwa Satu itu ya Satu. Tapi yang lain memandang bahwa Satu itu dalam Tiga, dan Tiga dalam Satu. Yang satu memandang bahwa Manusia itu ya Manusia. Yang satu memandang bahwa Menyembah Yesus itu adalah dosa. Tapi yang lain memandang bahwa Menyembah Yesus itu adalah kewajiban. Yang satu memandang bahwa wajib mengimani Yesus sebagai Rasul. Tapi yang lain memandang bahwa wajib mengimani Yesus sebagai Tuhan. Yang satu memandang bahwa Yesus tak kuasa menyelamatkan diri dari salib.. Tapi yang lain memandang bahwa Yesus rela mengorbankan diri disalib.

Dengan demikian maka semakin lebar perbedaan pengertian antara yang satu dengan yang lain. Tak ditemukan satu pengertian yang sama tentang Iman, Islam, Keselamatan, Juru Selamat, Kasih, Mengasihi, Menolong, Universal, Applicable, Arogansi, Persamaan, Keadilan, Kejujuran, Kebenaran, Kemanusiaan, Kerukunan, Toleransi, Demokrasi, Kebajikan, Pertolongan, Kejahatan, Pembantaian, Haus Darah, Benar Sendiri, Teroris, Agama, Negara, Hukum, Kedamaian, Kesejahteraan, Pelanggaran, Penjajahan, dan lain-lain.

Contoh visi dan persepsi lain. Menurut sementara pengamat Injil, keadilan itu mutlak kepunyan Tuhan. Dia yang berhak menghidupkan. Dan Dia pula yang berhak mematikan. Seandainya manusia yang memegang keadilan pastilah dia jadi pembunuh. Karena keadilan itu adalah peristiwa kepergian, perpisahan, kematian (Yohannes 16:10). Jalan untuk mewujudkan keadilan adalah kematian. Tanpa kematian, maka keadilan tak dapat tegak. Yang mati dalam menegakkan keadilan disebut pahlawan. Setelah peristiwa kepergian, kematian, maka Roh Kebenaran datang membawa kebenaran, menerangkan perihal dosa, keadilan, hukum (Yohannes 16:8-12). Siapakah Roh Kebenaran yang membawa kebenaran, menerangkan perihal dosa, menegakkan keadilan dan hukum ?

Pentolan persamaan hak, pendukung inklusifme mengajak agar membedakan hak antara yang mengimani Yesus sebagai Tuhan, Manusia Penebus Dosa, dengan yang mengimani yang mengimani Yesus sebagai Rasul Tuhan. Yang mengimani Yesus sebagai Tuhan, Manusia Penebus Dosa akan ditebus dosanya oleh Yesus bagaimanapun sadisnya dosa-dosanya. Sedangkan yang mengimani Yesus sebagai Rasul tak akan ditebus Yesus dosa-dosanya. Membedakan antara Paus dan Domba-Domba Bani Israil. Paus terlarang nikah, kawin. Tapi Domba-Domba Bani Israil tak terlarang nikah, kawin. Hanya boleh kawin sekali seumur hidup. Meskipun sudah tak ada lagi kesesuaian antara suami isteri harus tetap tak boleh nikah, kawin lagi. Jalan keluarnya ? Zina dilarang Ten comandement. Jadi bagaimana ? Juga membedakan antara warga Eropah Timur dari warga Eropah Barat. Warga Eropah Timur ditempatkan di bawah kelas warga Eropah Barat. Persamaan dalam perbedaan. Keadilan dalam penindasan. Toleransi dalam diskriminasi.

.

Allah mengingatkan umat Islam bahwa “kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakinya” (QS Qashash 28:56). Bahwa “bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta itu ialah hati yang di dalam dada (QS Haj 22:46). Tak akan berfaedah bukti nyata (fakta sejarah). Menyuruh menyatakan “untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku” (QS Kafirun 109:1-6, Yunus 10:104). Adios amigos

6 Amerika di mata Amerika (Menggugat Kebebasan dan Persamaan)

Perlakuan kita (Amerika) terhadap orang Indian dan Negro (Amerika), merupakan sikap tidak konsisten bangsa kita (Amerika) yang selalu menyerukan demokrasi “Kebebasan dan Persamaan untuk Semua”, hal yang selalu dengan sukar diperjuangkan bangsa lain.

Kita (Amerika) menjadi bangsa dan negara besar. Negara kita (Amerika) telah menjadi negara yang besar di dunia, disebabkan karena cara pemerintahan yang bebas, yang memberikan pada rakyatnya yang bebas, hak untuk kebangsaan apa pun, hak untuk memperoleh kesempatan bekerja yang serasi dengan siapa saja. Tapi tidakkah bangsa lain yang kini tidak memiliki apa yang kita (Amerika) miliki, bila mendapatkan kesempatan yang sama seperti kita (Amerika), juga akan berkembang seperti bangsa kita (Amerika) ? Mereka telah tersisihkan dari kesempatan untuk maju, karena tanahnya telah diambil (dijajah) oleh kekuatan yang lebih besar. Kita (Amerika) tidak pernah boleh lupa, bahwa tanah ini (Amerika), kita ambil (rampas) dari orang Indian. Kita (Amerika) merebutnya, karena kita (Amerika) ingin mempunyai kebebasan individual yang lebih besar, lebih banyak ruang bergerak, kesempatan yang lebih besar.Dan kita (Amerika) merampasnya tanpa memperhitungkan bangsa Indian yang sampai hari ini, tetap tidak mempunyai hak warganegara. Inilah noda di muka kita (Amerika) yang paling memalukan dan paling menyedihkan.

Semula ketika penjarah Eropah ke Amerika, penduduk asli Indian dari Amerika Utara dan Selatan hampir seperempat ummat manusia. Penduduk Meksiko saja diperkirakan lebih dari 30 juta. Kemudian jumlah orang Indian dan Eskimo antara Rio Grande dan Arctic kurang dari 10 juta. Menjelang 1850 penduduk Indian dari Amerika Utara berkurang menjadi 200 dan 50 ribu orang saja. Orang Indian (Amerika) menjadi korban orang kulit putih (Amerika) karena mereka menduduki tanah-tanah subur yang cocok dengan kependudukan orang kulit putih. Kira-kira 300 orang Sioux dibunuh di Wpunded Knee pada 1890.Kekejaman-kekejaman terhadap orang Indian (Amerika) masih berlanjut sampai sekarang. Amerika Serikat telah mengadakan pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang kulit merah melalui sterilisasi. Amerika Serikat dan Brazil merupakan biang kemusnahan orang Indian. Sejuta orang Indian merah di Brazil terancam pemusnahan sistimatik.

Sampai saat ini orang Negro (Amerika) telah dibayar dengan perumahan yang buruk, kesempatan yang tidak seimbang dengan orang kulit putih (Amerika), serta diskriminasi dalam tingkat sosial dan ekonomi. Orang kulit putih (Amerika) tidak akan sudi tinggal di gubuk-gubuk di tempat orang Negro (Amerika) terpaksa harus tinggal.

Orang Negro (Amerika sama hak warganegaranya seperti saudaranya yang berkulit putih (Amerika), bila Undang-Undang Dasar kita (Amerika) menyatakan hal yang sebenarnya. Ia seharusnya menerima upah buruh yang sama dengan buruh kulit putih, bila ia melakukan pekerjaan yang sama pula. Bila kita (Amerika) juga menginginkan kebebasan yang sama pada saudara kita kulit hitam (Amerika). Ia juga mempunyai tekad dan keikhlasan yang sama untuk membela negaranya.

Mengapa kita (Amerika) harus mencoba menarik orang-orang yang berbeda dari kita ini (Amerika) supaya menjadi sama dengan kita (Amerika), sementara kita sendiri tahu bahwa kita (Amerika) tidak mau ditarik supaya menjadi sama dengan mereka ? Bukankah kita (Amerika) hanya akan menimbulkan rasa tidak suka dan kebencian yang makin mendalam dalam diri manusia dengan mencoba menerapkan pemikiran dan konsep kita (Amerika) pada orang lain secara paksa ?

(Sumber : Harold Sherman : “Bagaimana Menguasai Pikiran Anda” 1986:130,135,136,137; Maryam Jamilah : “Islam dalam Kanca Modernisasi”, 1983169,170,171; AM Furqan : “Amerika di Mata Orang Amerika”, dalam SABILI 5-VI:61); Golan W.Choudhury : Islam and the Modern World” 1993:215; Prof Dr Sammuel Huntington : The Clash of Civilization”, p.46)

= Bekasi 19 September 2000 =

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: