Bila Islam berdaulat

1 Negara Islam. Apa itu ?

Negara Islam adalah negara yang masing-masing warganya berkewajiban melaksanakan ajaran agamanya. Yang Yahudi melaksanakan ajaran Taurat. Yang Nasrani melaksanakan ajaran Injil. Yang Islam melaksanakan ajaran Qur:an (Read : Terjemah Qur:an, Surah Ma:idah 5:66)

Negara Islam adalah negara yang semua negaranya memiliki kemerdekaan, kebebasan manusiawi, yang dibatasi oleh norma-norma moral universal, bukan memiliki kebebasan hewani, bukan kebebasan serigala gila lapar yang kesurupan iblis. Masing-masing warganya bebas melaksanakan ajaran agamanya (idem, Surah Kafirun 109:6). Segala jenis kepercayaan, aliran dan fikiran dapat hidup dalam naungannya. Tindakan memaksa bukanlah wataknya (idem, Surah Baqarah 2:256). Islam menuntun manusia untuk jadi manusia dan tak tergelincir jadi hewan berupa manusia. Karenanya tak bebas melampiaskan nafsu syahwat hewaninya.

Negara Islam adalah negara yang semua warganya memiliki HAM yang sama, tanpa memandang perbedaan etnis, tradisi, agama, bahasa, budaya, tingkat sosial-ekonomi. Semua perbedaan dimanfa:atkan untuk saling mengarifi, saling memperhatikan (idem, Surah Hujurat 49:12).

Negara Islam adalah negara yang semua warganya memiliki perasaan bersaudara sesama manusia, bukan perasaan “right or wrong my country”.

Negara Islam adalah negara yang menegakkan kebenaran dan keadilan paripurna. Yang benar dinyatakan benar. Yang salah dinyatakan salah. Keadilan Islam meliputi semua warganegara (idem, Surah Taubah 9:6), tanpa pilih kasih, serta memperhatikan norma-norma moral universal.

Islam tidak mengenal terminologi ekstrim, radikal, fundamentalis, orthodoks, konservatif, moderat, inklusif, eksklusif. Terminologi tersebut asing bagi Islam. Terminologi tersebut memang akrab di kalangan Katholik dan Protestan. Islam sudah sangat kenyang dengan segala macam tudingan provokatif, yang dilontarkan oleh kalangan fanatisme anti Islam. Islam dituding tak toleran, tak demokratis, tak menghargai HAM, melecehkan perempuan, suka perang, dan lain-lain semacam itu.

= Bekasi 1 November 1998 =

2 Di bawah naungan Islam. Bagaimana ?

Di bawah naungan Islam, setiap orang (siapapun) bisa bekerja, berusaha sesuai menurut kemampuannya. Yang lebih dari keperluan-kebutuhannya dititipkan, ditabungkan dalam Baitulmal (Dana Kesejahteraan Umum) berupa wakaf, zakat, sedekah, infak. Fakir-miskin, gelandangan, pemulung, pengemis, pengamen, tuna karya, yang terlantar, yang terkena pehaka, yang banyak anak memperoleh jaminan hidup dari Baitulmal (Read : Terjemah Qur:an, Surah Taubah 9:60). Tak ada waswas, kawatir, takut akan kehilangan jaminan hidup bilamana sakit, kehilangan pekerjaan, kehilangan orangtua.

Ini realita, bukan utopia. Kepala Negara Madinah, Umar bin Khatab biasa membawa, mengantarkan, menyerahkan, mencukupi sendiri keperluan, kebutuhan warga yang terlantar. Pada masa pemerintahan Islam, Umar bin Abdul Aziz tak dijumpai warga yang terlantar yang memerlukan bantuan untuk mencukupi kebutuhannya.

Secara teoritis (wacana akademis) memang ada undang-undang tertulis bikinan manusia yang mencantumkan bahwa “Fakir-miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Tapi tak pernah dijumpai dalam praktek nyata. Baik komunis, kapitalis maupun ajaran lain tak pernah memberikan jaminan hidup kepada yang terkena pehaka, yang banyak anak. Malah yang banyak anak ditakut-takuti, diberikan gambaran suram akan masa depan anak-anaknya, dipojokkan, disudutkan sebagai beban pembangunan. Agar hidup tak terlantar, agar mendapat jaminan hidup, rasanya tak ada pilihan lain selain berada di bawah naungan Islam.

= Bekasi =

3 Seruan Islam. Kemana ?

Sejak Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad saw, bahkan sampai kiamat, seruan Islam tetap sama, tidak berubah (Read : Terjemah Qur:an, Surah Syura 42:13). Islam menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat jelek (idem, Surah Ali Imran 3:104).

Islam menyeru bahwa hanya Allah yang Tuhan. Tak ada Tuhan selain Allah. Allah itu Maha Esa. Jangan Tuhankan selain Allah (termasuk Ezer dan Yesus). Jangan bersujud, beribadah, berdoa, menyembah kepada selain Allah. Bersujud, beribadah, berdoa, menyembahlah hanya kepada Allah saja. Berpeganglah pada Hukum Allah sepanjang masa. Hormatilah ibu-bapa. Jangan membunuh, membantai, menumpahkan darah, menghilangkan nyawa. Jangan berzina, melacur, berbuat mesum, kumpul kebo. Jangan mencuri, merampas, menjarah milik sesama. Jangan berkata dusta, bersaksi palsu. (idem, Surah An:am 6:151-153, simak juga Exodus 20:1-21, Deutronomy 4:15-40, 5:6-21, 6:1-5).

= Bekasi 30 September 1987 =

4 Wajah Islam. Bagaimana ?

Wajah Islam itu penuh damai, cinta kasih. Melebihi yang lain. Siap dan mampu mengatur masyarakat majemuk/pluralistis. Sanggup mencarikan solusi masalah yang timbul. Bebas dan bersih dari tuduhan dan tudingan asosial, menolak keberadaan masyarakat yang pluralistis, ekspansif, memaksakan diri jadi penguasa (tak toleran, tak demokratis, tak menghargai HAM, melecehkan perempuan, sadis, suka perang, dan lain-lain tuduhan semacam itu).

Memang Islam pada dirinya melekat amanat untuk tampil sebagai monoreligius unggul (Read : Terjemah Qur:an, Surah 9:33, 48:28, 61J . Tiada lain Islam harus berpegang pada tuntunannya. Tapi meskipun demikian dakwah Islam bukanlah dilakukan dengan cara-cara paksaan, ekspansif, tetapi hanya dengan menunjukkan mana yang benar, dan mana yang sesat (idem, Surah 2:256, 18:29, simak juga KOMPAS, Kamis 23 Januari 1997, hal 14, “Jangan Jadikan Agama Terjebak Pada Subyektivitas dan Asosial).

Dan memang pedang Islam itu sangat tajam terhadap penindas, penganiaya, mereka yang ingin menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, mereka yang bermaksud menimbulkan perpecahan, mereka yang mengganggu keamanan. Tetapi pedang Islam itu sangat tumpul, tidak berdaya apa-apa terhadap mereka yang bukan penindas, penganiaya, pengacau, perusuh. Islam memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk memeluk agamanya sesuai keyakinannya. Islam tidak mengganggu hak seseorang.

= Bekasi 5 Maret 1997 =

5 Introspeksi diri.

Tetapi aku berkata kepadamu : Kasihanilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44). (Love our enemies)

Tetapi aku berkata kepadamu : Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:31). (If anyone strikes you on the right cheek, turn to him the other also),

Does not every minutes of your practicle live give the lie to your theory (Karl Marx).

Siapakah yang menjajah kita ? Orang Eropah ? Apakah agama mereka ? Kristen ? Apakah agama mereka mengajarkan penjajahan ? Mereka bukan menjajah, tapi membawa misi kerajaan laangit ? Kalau begitu, mengapa mereka dilawan ?

Hasil penelitian Cornell Universty (USA) sampai pada kesimpulan bahwa Dr Sam Ratulangi (an astute Christian politician from Manado) berhasil mementahkan konsensus nasional Piagam Jakarta (22 Juni 1945) yang juga turut ditandatangani oleh A A Maramis.

Bukannya Aku (Yesus apa Paulus) datang membawa keamanan, melainkan pedang. Siapa sebenarnya yang menyuruh umatnya mengangkat pedang, berperang menghabisi nyawa orang ?

Sejarah mencatat bahwa selama abad ke-11, 12 dan 13 di Madrid (Spanyol) saja 300.000 orang telah dibunuh karena tuduhan menyimpang dari ajaran agama. Dengan Inkwisisi dari 1481 sampai 1808, 340.000 orang telah dijatuhi hukuman, dan hampir 34.000 dibakar. Siapa yang melakukannya. Dan kini ?

Dan sejarah juga mencatat bahwa sejak masa permulaan agama Kristen hingga masa kini, seluruh penjuru bumi telah berlumuran darah atas nama Yesus. Telah dilumuri oleh Rumawi, dilumuri oleh bangs-bangsa Eropah. Perang-perang Salib terjadi karena dikobarkan oleh orang-orang Kristen, bukan oleh orang Islam. Mengalirnya pasukan-pasukan tentara sejak ratusan tahun dari Eropah menuju daerah-daerah Islam di Timur, adalah atas nama Salib :peperangan, pembunuhan, pertumpahan darah (berpanngkal pada Glory, Gospel, Gold). Dan setiap kali paus-paus sebagai penganti Yesus, memberikan berkah dan restu kepada pasukan-pasukan tentara itu.

= Bekasi =

6 Persamaan dalam Islam. Bagaimana ?

Sir C.P.Ramaswamy Ayer, seorang ahli pikir Hindu yang terkemuka menulis : “Apakah yang dikehendaki Islam ? Menurut hemat saya, dan semua orang yang berpikir akan mengakui Islam sebagai satu-satunya keyakinan yang demokratis yang sesungguhnya. Sebagai seorang Hindu, yang yakin benar akan kepercayaan Hindu, saya terus terang berkata demikian. Agama saya sendiri tidak berhasil, kendatipun filsafat dasarnya, dalam melaksanakan dalam praktek “ketunggalan kemanusiaan” (the oneness of humanity). Tak ada agama lain, bagaimana pun juga teorinya, dapat membawakan dalam praktek gagasan hakiki tentang ketunggalan manusia di hadapan Tuhan sebagaimana Islam mengajarkannya (Eastern Times, 22 December 1944).

7 Keadilan dalam Islam. Bagaimana ?

Islam menuntun umatnya agar senantiasa berlaku adil, terhadap siapa pun, bahkan terhadap yang dibenci sekali pun (Read Terjemah Qur:an, Surah 16:90, 6:152, 5:8). Keadilan Islam itu mutlak, merata. Tanpa dipengaruhi rasa benci atau simpati. Tanpa terpengaruh oleh hubungan darah/daerah, ikatan kelompok, rasa segolongan. Tanpa membedakan asal-usul, bangsa, keturunan, keyakinan, kepercayaan, agama, status sosial-ekonomi.

Eksistensi SARA bagi Islam bukanlah sebagai pemicu disintegrasi (li-tafarraqu), tetapi untuk li-ta’arafu, untuk saling mengarifi, memahami, memperhatikan, saling memudahkan, saling membantu, menolong, bekerjasama (idem, Surah 49:13, 43:23, 5:2).

Islam sangat adil. Keadilan Islam amat unik. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bersikap ekslusif pada yang harus ekslusif, dan bersikap inklusif pada yang harus inklusif. Bersikap humanis pada yang humanis. Islam menyamakan yang pantas disamakan, dan membedakan yang pantas dibedakan. Islam menetapkan garis tegas pemisah yang jelas dalam hidup tentang pedoman/pandangan, tujuan, tugas, peran/fungsi, kawan, lawan, teladan, bekal, dll.

Islam membedakan antara persaudaraan se-iman yang terekat pada kasih sayang karena Allah semata, dan persaudaraan dengan yang bukan se-iman yang hanya berdasarkan kepentingan bersama. Islam tak membenarkan yang Islam bermesraan, berkoalisi, beraliansi, berelasi dengan yang bukan Islam.

Sanksi hukum dalam Islam berlaku umum buat semua tanpa diskriminatif, tidak membedakan asal-usul, etnis, gender, bangsa, agama. Tapi dalam hal warisan, kesaksian, pertemanan (bithanah, walijah), kepemimpinan (walaa), Islam membedakan atas keturunan, gender, agama. Lembaga yudikatif, legislatif, eksekutif dalam Islam bersifat ekslusif, membedakan gender, agama.. Fiqih mu’amalah versi Matan Taqrib Abi Syuja’ mensyaratkan personil yudikatif, legislatif, eksekutif terbatas bagi lelaki dewasa Muslim yang waras cerdas berpengetahuan, cakap berkemampuan dan memahami serta mengamalkan Islam.

Persetujuan antara sesama Islam diputuskan dalam musyawarah dengan suasana ruhamaa yang bersifat ekslusif (terbatas kalangan Islam). Sedangkan persetujuan antarta Islam dengan yang bukan Islam ditetapkan dalam ikatan perjanjian dengan suasana asyiddaa yang bersifat inklusif (tak terbatas kalangan Islam). Organisasi, perkumpulan, himpunan yang berupaya membela ‘izzah Islam dan umat Islam bersifat ekslusif, terbatas bagi yang Islam.

T W Arnold menulis : “Ketika tentara Islam mendekati lembah Yordan dan pimpinan pasukan, Abu Ubaidah mendirikan kemahnya di Fihl, penduduk Nasrani menulis kepada orang-orang Arab mengatakan : “Oh kaum Muslimin, kami memilih kalian dari pada orang-orang Bizantium, walaupun mereka kawan seiman dari pada kami, karena kalian menimbulkan kepercayaan kepada kami dan perintah kalian lebih baik dari pada perintah mereka. Mereka telah merampas harta-harta kami dan rumah-rumah kami. Rakyat Amessa menutup gerbang kotanya terhadap tentara Heraklius dan berkata kepada kaum Muslimin bahwa mereka lebih menyukai pemerintahannya, keadilannya lawan ketidak-adilan dan penindasan orang-orang Yunani” (The Preaching of Islam, page 55). Apakah ada yang lebih adil dari Islam ?

= Bekasi 13 Januari 1999 =

8 Bila Islam berkuasa. Bagaimana ?

Sejarah mencatat bahwa di setiap masa atau fase pemerintahan negara Islam (dimana orang-orang Islam memegang teguh nilainilai Islam), maka keamanan, kemerdekaan beragama dan ketenteraman rakyat yang bukan Islam (istimewa rakyat yang beragama Kristen) dijamin oleh negara. Manakala ajaran agama tumbuh dalam jiwa yang baik, jauh dari fanatik buta dan perasaan congkak (arogan) dan berlebih-lebihan, di waktu itu sinar kebebasan beragama tampak dengan jelasnya. Seorang Muslim dengan seorang Kristen bertemu dalam karya positif, bergandengan bahu satu sama lain di bawah panji-panji kekhalifahan. Demikian diungkapkan oleh Pastor Barsum Syahatah, wakil Golongan Penginjil di Mesir. Dan Bishop Gregorius (juga dari Mesir) mengemukakan “kami sebagai orang Kristen tidak menentang dilaksanakannya Syari:at Islam di Mesir, kalau yang demikian itu memang keinginan saudara-saudara kami yang beragama Islam. Pada hemat saya, ini tak dapat direalisasikan kecuali apabila kita dapat memberikan kedaulatan hukum penuh kepada pengadilan dengan bebas tanpa ikatan dapat menyelesaikan persoalan kriminil yang dihadapinya dengan adil” (PANJI MASYARAKAT, No.221, 15 April 1977, hal 18-20

Dengan jujur George Bernard Shaw mengakui bahwa “If any religion has the chance of rulling over England, nay, Europe, within the next hundred years, it can only be Islam”. “I have always held the religion of Muhammad in high estimation because of its wonderful vitality. It is the only religion which appears to me to posses the asimimilating capability to the changing phase of existence, which can make its appeal to every age. I believe that if a man like Muhammad were to accume the dictatorship of the modern world he would succeed in solving its problem in way that would bring in much needed peace and happiness”.

= Bekasi =

9 Kerukunan Kristen dan Islam

Sehubungan Poros alAzhar-Vatican (MIMBAR UMMAT, Sabtu, 8 juli 2000, hlm 2, klm 1) sejarah pernah mencatat beberapa syarat bagi orang Kristen yang tinggal di tengah-tengah orang Islam, antaranya : Tidak akan mendirikan gereja atau biara di tengah masyarakat Islam. Tidak mengizinkan mata-mata berada di dalam gereja. Tidak akan melarang keluarga masuk Islam. Berjanji akan menghormati orang-orang Islam. Tidak akan meniru kaum Muslimin dalam berpakaian atau dalam bercakap-cakap. Tidak akan membawa senjata tajam. Tidak akan mengukir cincin-cincin mereka dengan huruf atau bahasa Arab. Tidak akan memperdagangkan miras. Tidak akan menampakkan salib di depan gereja mereka. Tidak menyembunyikan lonceng-lonceng gereja secara keras. Tidak akan mengeraskan suara mereka ketika berbicara, baik di gereja maupun di depan orang-orang Islam. Demikian antara lain janji dan syarat yang diberikan orang-orang Kristen Syria (Syam) kepada Kepala Negara Umar bin Khathab (Simak Terjemah Tafsir Ibnu Katsir tentang Qur:an Surah Taubah ayat 9:29).

= Bekasi 10 Juli 2000 =

10 Penaklukan Dunia Islam

Tiga puluh tiga tahun yang lalu (Nov/Des 1967) sesuai kode dan etika Dakwah Islam agar berlaku adil terhadap semua umat beragama (simak Tarjemah Qur:an Surah Syuraa 42:15) dan mengembalikan persoalan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, maka pimpinan DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) Mohammad Natsir menyampaikan seruan :

A Kepada umat Kristen (Ahli Kitab) agar kembali kepada titik temu antara Islam dan Kristen, yaitu agar sama-sama tidak mempertuhankan selain Allah dan tidak mengkultuskan antara satu sama lain (idem, Surah Ali Imran 3:64), tidak melakukan PENAKLUKAN DUNIA ISLAM (la conquote du monde musulm), tidak melakukan kristenisasi, menyebarkan Kristen kepada umat Islam, baik dengan menawarkan makanan, pakaian, obat-obatan, atau dengan mengedarkan buku-buku Kristen ke rumah-rumah orang Islam, tidak mendirikan gereja-gereja di tengah-tengah umat Islam yang tidak ada Kristennya, yang menyulut timbulnya fitnah, gangguan, ancaman bagi kerukunan hidup beragama, yang melukai perasaan umat Islam, agar menghargai dan menghormati eksistensi dan toleransi Islam dan umat Islam.

B Kepada umat Islam agar senantiasa teguh penmdirian berpegang pada akhlak karimah, bersikap tegas terhadap yang mengingkari kebenaran Islam (idem, Surah Fathi 48:29), tidak membiarkan penginjil-penginjil (Yahudi-Kristen) memasuki rumah-rumah orang Islam, tidak menjual tanah-tanah untuk kepentingan kegiatan kristenisasi (seperti gereja dan rumah sakit)

Dua belas tahun kemudian (Sep 1979) Program Kristenisasi Jangka Panjang di Indonesia diputuskan Dewan Gereja Indonesia di Jakarta (MEDIA DAKWAH, Juni 1990). Semoga saja menjaga rambu-rambu hidup bersama.

= Bekasi 25 Januari 2000 =

11 Menghindari benturan kepentingan

Pada tahun 1997 mantan Kanselir Jerman, Helmut Schmidt memperkenalkan “Konsep Deklarasi Umum Kewajiban Manusia”. Diantaranya dikemukakan, bahwa para tokoh agama wajib menghindari prasangka dan diskriminasi terhadap agama lain dan mendorong diciptakannya toleransi dan rasa hormat di antara seluruh umat manusia. (Islam wanti-wanti memperingatkan bahaya prasangka, dan menyeru pada kerukunan, seperti tertuang pada QS 49:11-13 dan TAP Madinah). Agar yang ingin tak ingin dilakukan orang terhadap diri, jangan lakukan pada orang lain. (Islam menyebutkan agar menggauli manusia dengan cara yang disukai mereka menggauli diri). Bahwa standar minimal etika yang diakui oleh seluruh dunia (Islam menyebutkannya ahlak karimah paripurna) menjadi suatu kebutuhan yang penting untuk kehidupan manusia secara bersama. Sehingga bisnis, perdagangan cenderung ke arah yang baik. Sehingga konglomerasi perusahaan yang memproduksi pasokan untuk pasar internasional, dan mendanai perdagangan tak cenderung pada kapitalisme tanpa batas. Sehingga media elektronik internasional tak cenderung meracuni manusia dengan tayangan berlebihan tentang pembunuhan, kekerasan dan kejahatan. Bahwa semua orang dituntut untuk memajukan pembangunan yang berkelanjutan, agar harkat, martabat dan keadilan akan terjamin untuk seluruh manusia. Bahwa tidak satu pun dari ungkapan pernyataan itu boleh digunakan untuk melakukan sesuatu yang berfokus pada penghancuran hak dan kebebasan (SCALA, Keduber Jerman, Edisi 1998, hlm 2-3). Kami tidak pernah ragu, kata Sayid Qutub, bahwa pimpinan untuk kemanusiaan akan kembali pada Islam (Hari Esok Untuk Islam).

= Bekasi 11 Maret 1999 =

12 Siapa sih yang peduli dengan nasib rakyat Timtim

Siapa sih yang sebetulnya peduli dengan nasib, hak rakyat Timtim ? Siapa yang peduli dengan hak-hak orang Mikronesia, Melanesia, Polinesia ? Siapa yang peduli dengan hak-hak orang Aborigin, Maori, Negro, Indian ? Siapa sih yang benar-benar membela Hak Asasi Manusia ? Apakah Australia, Amerika, Portugal, PBB peduli dengan Hak Asasi Manusia ? Apakah HAM bisa ditegakkan dengan senjata ? Apakah untuk damai harus siap untuk perang ? (IGITUR QUI DESIDERAT PACEM, PRAERAT BELLUM). Siapakah yang bisa menciptakan rekonsiliasi di antara yang bersengketa. Apakah pihak-pihak yang punya kepentingan ? Apakah pihak-pihak yang hanya teriak tentang HAM padahal sesungguhnya merekalah yang begitu getol menginjak-injak HAM dengan mengatasnamakan membela HAM ? Yang sangat diperlukan oleh pihak yang kalah jajak pendapat di Timtim adalah konsep yang jelas tentang hak-hak sipil dan politik mereka, hak untuk tetap menjadi WNI, hak untuk tetap tinggal berdomisili di Timtim, hak jaminan keselamatan mereka. Apakah hal ini bisa dipercayakan pada pihak-pihak yang membersihkan etnis Aborigin, Maori, Indian, Negro, dll. Sikap diskriminatif terhadap Aborigin, Indian, Negro, dll merupakan inkonsistensi akan demokrasi (Harold Sherman).

= Bekasi 20 September 1999 =

13 Jaminan keselamatan hak yang kalah

Pada masa Timtim masih bergabung dengan Indonesia, orang-orang Katolik di sana begitu berani mengintimidasi orang Islam. Kenapa ? Apa memang sejarah Katolik senantiasa berlumuran darah ? (SABILI, No.7, 22 September 1999, hlm 60, 61). Atau orang Islam tidak berpegang pada Islam, tidak menegakkan keadilan secara benar ? (QS Ma:idah 5:2). Atau Indonesia tak menjamin hak Timtim ?

Orang-orang Nasrani di Himsh (Syam) lebih menyukai di bawah pemerintahan kaum Muslimin, dari pada di bawah pemerintahan orang-orang Byzantium, meskipun mereka teman seiman. Kenapa ? Apa karena pemerintahan kaum Muslimin menegakkan keadilan yang sempurna tanpa diskriminasi, tanpa pilih kasih ?

Begitu yakin bahwa rakyat Timtim akan bergabung dengan Indonesia, dilontarkan gagasan-bijak berupa jajak pendapat. Hasilnya kemenangan mutlak bagi pendukung kemerdekaan 80:20. Kenapa ? Apa karena Timtim tak pernah memperoleh jaminan keselamatan hak dari Indonesia ?

Jajak pendapat segera disambut dengan amukan. Kenapa ? Apa karena sebelumnya tak pernah dirumuskan, ditetapkan, disepakati tentang hak-hak yang kalah untuk tetap sebagai WNI, untuk tetap tinggal berdiam, berusaha bersama keluarganya di tanah tumpah darah kelahirannya ?

Begitu yakin akan kemampuan TNI dan POLRI dinyatakan Timtim dalam keadaan darurat militer. Akhirnya bertekuk lutut di bawah tekanan masyarakat internasional. Kenapa tak mau belajar dari pengalaman dan mengoreksi kegagalan-kebijakan ?

14 Timtim butuh jaminan keselamatan HAM

Membeludaknya arus pengungsian besar-besaran keluar dari Timtim disebabkan karena tidak adanya jaminan kepastian keselamatan dan keamanan HAM bagi mereka. Kesepakatan tripartit antara Indonesia-PBB-Portugal di New York tentang penentuan pendapat TIMTIM sama sekali tidak menetapkan hak-hak sipil dan politik warga Timtim yang menolak paket otonomi bilamana yang menang adalah yang menerima paket otonomi, dan juga tidak menetapkan hak-hak sipil dan politik warga Timtim yang menerima paket otonomi bilamana yang menang adalah yang menolak paket otonomi. |Kini setelah terlanjur mengadakan penentuan pendapat yang menghasilkan 80:20 untuk yang menolak paket otonomi, seharusnya kesepakatan New York diikuti dengan kesepakatan tentang hak-hak sipil dan politik warga Timtim yang menerima paket otonomi, yang memilih kewarganegaraan Indonesia, hak untuk tetap tinggal hidup berdiam, berusaha, belajar di bumi tanah kelahiran mereka sendiri, bukan untuk diungsikan keluar dari tanah tumpah darah mereka. Untuk menetapkan hak-hak tersebut, demi kepentingan rakyat Timtim seluruhnya, terletak pada kemauan yang sungguh-sungguh dari rakyat Timtim sendiri untuk mengadakan rekonsiliasi yang menyeluruh. Mengharapkan pada badan internasional semacam PBB seperti yang diperlihatkan oleh UNAMET rasanya tak akan menyelesaikan persoalan. Mengharapkan Indonesia dengan TNI-nya juga tak akan lebih baik, seperti telah ditunjukkannya selama lebih dua puluh tahun tak berhasil menggalang rekonsiliasi antara yang pro dan anti-otonomi. Agar darah tak tertumpah lagi, dan tak saling baku-hantam antar sesama warga Timtim, dan sesuai dengan hasil jajak pendapat, seyogianya badan internasional semacam PBB membagi wilayah Timtim atas lima bagian. Empat bagian untuk yang pro-kemerdekaan, dan satu bagian untuk yang pro-integrasi. Jika badan internasional tak mengambil prakarsa yang realistis, maka tak tertutup kemungkinan jajak pendapat akan menghasilkan bom-waktu yang sewaktu-waktu siap meledak. Badan internasional PBB hendaknya menghargai suara pro-integrasi dengan mengakui Liquisa, Aeliu, Same, Maliana, Ainaro sebagai wilayah pro-integrasi.

= Bekasi 13 September 1999 =

15 Kisah-Kisah Parade Perzinaan

Pada tahun 1964 oleh Menteri Dalam Negeri Inggeris (The British Home Secretary) di ajukan ke sidang Parlemen Inggeris Rencana tentang penyensoran literatur, buku, majalah, bacaan, gambar, film, seni yang mengandung unsur pornografic (cabul). Dalam sidang tersebut, Mr RT Payet, seorang anggota dari Labour Party mengemukakan antara lain bahwa :

“Tidak ada di dalam sejarah satu buku yang merupakan sumber dari perbuatan-perbuatan yang brutal dan sadis selain Bibel”. “Dalam Bibel terdapat pelbagai hal memuakkan, selain kecabulan, juga segala bentuk kebencian dan pertentangan ras, kisah-kisah yang campur aduk yang dahsyat tentang kesadisan, penghalalan dan korban-korban manusia”

Ia mengemukakan beberapa bukti, antara lain :

1 Nabi Nuh oleh Bibel disebutkan minum anggur sampai mabuk, sampai jatuh pingsan dalam keadaan bugil (Kejadian 9:21).

2 Nabi Luth oleh Bibel disebutkan berbuat mesum (Kejadian 19:33-36), demikian juga Nabi Daud (Semuwil 11:2-5).

3 Tuhan oleh Bibel disebutkan melayang-layang di atas air, berteriak-teriak memanggil Adam dan Hawa, menyesal menciptakan manusia, makan roti dan gulai ketika bertamu di rumah Nabi Ibrahaim, bergulat semalam suntuk dengan Nabi Ya’qub, dan lain-lain (Kejadian 1:2, 3:9-10, 6:6-7, 18:1-10, 32:24). Na’udzubillahi min dzalik.

Berdasarkan hal tersebut Mr RT Payet mengusulkan kepada pemerintah Inggeris agar Bibel juga dilarang beredar di seluruh Inggeris Raya.

(Disimak dari bulanan ALHIKMAH, Bekasi, No.26, Desember 1995, hlm 6-9, Wawasan; dari Majalah Islam SABILI, No.7, Th VIII, 20 September 2000, hlm 37, dan dari Tafsir ALAZHAR, juzuk XX, hlm 39, dan juzuk XXIII, hlm 235-236).

= Bekasi 19 Sya’ban 1416H =

16 Laskar Jihad Selamatkan Warga Kristen

Seorang wanita warga Kristen RMS (Republik Maluku Selatan) yang sedang kebingungan dan terancam bahaya, Minggu 13 Agustus 2000, diselamatkan oleh anggota Laskar Jihad Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA). Wanita itu adalah Etty (54th), warga desa Waai, kecamatan Salahutu, Kodya Ambon, diamankan Laskar jihad dari amukan massa RMS yang membabi buta menyerang Muslimin di desa Tulehu. Wanita tua yang berjalan dengan gontai, seperti orang linglung tidak mempedulikan keselamatan dirinya, atas inisiatif Laskar Jihad langsung diamankan dan diserahkan kepada Mayor Sumardi dari TNI AD selaku aparat keamanan setempat. Langkah Laskar Jihad mengamankan wanita baya tersebut didasarkan pada ajaran Islam, bahwa meskipun di dalam perang, tidak diperbolehkan membunuh anak-anak, wanita dan orang tua.

(Buletin FKAWJ “MALUKU HARI INI”, Ambon, 14 Agustus 2000)

= Bekasi =

asrirs@yahoo.com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: