Christians speak Christianity

1 Christians speak Christianity

The divinity of Jesus Christ is not proved from the Gospels. It is a dogma which the Christian coscience has deried from the notion of the Messias.

The doctrine concerning Christ taught by Paul, John and the Councils Nicae, Ephesus and Chalcedon is not that which Jesus taught but that which the Christian consience conceived concerning Jesus.

The doctrine of the expiatory death of Christ is Pauline and not evangelical.

There is noting to prove that the rite of the Sacrament of Confirmation was employed by the apostles

Not everything which Paul narrates concerning the institution of the Encharist (I Cor, 11:23-25) is to be taken historically (“Jesus The Prophet of Islam”, by Muhmmad ‘Ataur Rahmim, via KIBLAT magazine, No.4/XXXI).

I – said St Agustinus – should not believe in the Gospel if I had not the the authority of the Church for so doing (O Hashem : “Menaklukakan Dunia Islam”, 1965:52).

I – said Mr R T Payet – know of no book in history which could compare with the Bibles as source of brutality and sadistic conduct (Magazine ALHIKMAH, Bekasi, No.26, Desember 1995, page 6).

2 Holybook and Prophet of Islam in Christian Encyclopedia

Muhammad is the most succesful of all Prophets and religious personalities (Encyclopedia Britanica).

In his twenty-five year Muhammad married a widow named Khadija. She ws fiteen years older than he, but he lived with her in happy and faithful wedlock. He seems to have had from his youth a propensity to religious contemplation, for he was every year accustomed, in the month of Ramadhan, to retire to a cave in Mount Mina, near Mecca, and dwell there in solitude.

There is no doubt that Muhammad was a man of extraordinary insight and deep reflection. Thouegh without booking-learning, he had a deep knowledge of man, nd possed a grasp of the eternal greound of all religions.

His religion inculctes prayer, including prepatory purifications. Prayer must be engged in at five stated periods ach day. Second in im portance to prayer is the duty of giving alms. Next comes the duty of fasting. Wine and intoxicting liquors are strictly forbidden. Games of chance and usury are condemned. Images are contrary to law. Charity, probity in all transactions, veracity and modesty are indispensable virtues. ( The Modern Encyclopedia).

The language of the Qur:an is considered the purest Arabic, and contains such charms of style and poetic beatuties that it remains inimitable. Its moral precepts are pure. A man, who should observe them strictly, would lead a virtous life. It inculcates obedience to God, Chrity, mildness, abstinence from spirituous liquors, and toleration, and ascribes particular merit to death in the cause of religion (The New Popular Encyclopedia).

The ethics of the Qur:n are not brought together in one or two Surahs (chapters), but like ‘golden threads’, they are woven into the huge fabric of the religious constituion of Muhammad. Injustice, falsehood, pride, revengefulness, calumny, mockery, avarice, prodigality, debaucherry, mistrust, and suspicion are inveighed against as ungodly and wicked, while benevolence, libeality, modesty, forbearance, patience, endurance, frugality, sincerity, straightforwardness, decency, love of peace and truth, and above all trust in God, and submission to His will, are considered as the pillars of the piety and the principals signs of a true believer. Nor Must we omit to point cut expressly that Muhammad never laid down that doctrine of predestination which destroys foolhardiness is distinctly prohibited in the Qur:an (II:196). Caution is recommended (Chambers Encyclopedia).

The moral precepts of the Qur:an exhibit a lofty feeling of humanity and a profound sense of ethical law reduced to most practical forms. They inculcate all nobles virtues and pieties – obedience to Divine commandments, charity, humility, mildnes, temperance, toleration, and the strong virtues of courage, faith and justice (Encyclopedia Americana).

The Qur:an is written in Arabic, in rhyme prose. The languge is universally acknowledged to be the most perfect form of Arabic speec, and soon become the standard by which othe Arabic literary composiitions had to be judged (Catholic Encyclopedia).

3 Koreksi Kritis Dari Sarjana Kristen Tentang Islam

Penyerangan terhadap Nabi Muhammad telah dilakukan secara intensif, demikian pula terhadap alQur:an. Cacian-cacian palsu yang dilkukan di Barat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, yang hidup pada abad pertengahan (abad 5-15) diusahakan untuk ditunjang dengan “ilmu pengetahuan” “pseudo science) secara ceroboh. Orientalis-orientalis semacam Theopanes, de Nogent, de Lemns, Ricoldo, Martin Luther, Theodor Noldeke, DS Margoliouth, DB Macdonald, Washington Irving, JM Rodwell, Palmer bersam-sama dengan beribu-ribu kawannya yang lain telah mempelajari Islam dan sejrah kaum Muslimin untuk menulis buku-buku yang dipesan oleh para politisi imperialis. Seagian lagi mengakuin kemudian akn keunggulan agama Islam, namun sebagian orang Barat yang ingin mempertahankan vested interestnya mereka dengan tidak malu-malu mengutamakan kepentingannya dari pada kebenaran. Yulian Benda dalam bukunya “La trahision des clercs” melukiskan bahwa kaum “alim” (gereja) mempergunakan keahliannya untuk segolongan kecil kemanusiaan, untuk golongan, ras, agama dan bangsa, sambil tidak malu-malu memperkosa keadilan dan kebenaran.

Namun demikian di tengah-tengah hinaan terhadap Islam itu ada pula sarjana-sarjana yang tak tahan mendengar kepalsuan-kepalsuan yang terus-menerus dijatuhkan kepada Nabi Muhammad saw dan agama Islam yang berdasarkan alQur:an dan Sunnah.

George Bernard Shaw (1856-1950), dalam bukunya “Getting Married” mengatakan bahwa gereja-gereja Kristen dalam abad pertengahan, karena kejahilan dan ketololan menggambarkan Islam dalam warna-warna yang paling gelap. Memang mereka dilatih untuk membenci Muhammad dan agamanya. Bagi mereka, Muhammad adalah anti Kristus. Saya – kata George Bernard Shaw – telah mempelajari dia. Dia (Muhammad) adalah seorang laki-laki yang menakjubkan, jauh dari pada Kristus. Ia harus disebut Juru Selamat Umat manusia yang terbesar. Saya percaya bahwa apabila orang seperti dia akan memegang pucuk pimpinan dunia modern ini, ia akan membawa kedamaiaan dan kebahagiaan yang sangat dihajatkan itu. Seperti napoleon, saya pun lebih suka akan ajaran Muhammad. Saya percaya seluruh imperium Inggeris akan menganut ajarannya sebelum abad ini berakhir. Pribadi Muhammad sungguh agung. Saya kagumi dia dan saya amenganut dia dalam pandangan hidupnya….. Selalu saya menjunjung agama yang dibawa Muhammad setinggi-tingginya, karena gaya hidup yang menakjubkan dari agama itu. Itulah satu-satunya agama yang nampak bagi saya memiliki kesanggupan-kesanggupan yang sesuai dengan fase-fase yang berubah-ubah yang dapat menempatkan dirinya pada setiap masa. Tidak ragu lagi bahwa dunia akan memberikan penilaian tinggi tentang ramalan saya. Saya telah meramalkan bahwa agama yang dibawa Muhammad patut diterima oleh Eropa sekarang.

Thomas Carlyle dalam bukunya “On Heroes, Heroworship and the Heroic in History” mengatakan bahwa anggapan kita (orang Barat) yang lazim tentang Muhammad ialah bahwa ia seorang penipu, penjelmaan penipuan, bahwa agamanya penuh kedajalan dan kebodohan. Ajaran ini sekarang sungguh tak dapat dipertahankan lagi kepada siapa pun juga. Tuduhan-tuduhan bohong yang ditumpukkan sekitar orang ini (Muhammad) hanyalah mencemarkan diri kita (orang Barat) sendiri. Mengapa kita keberatan bila kaum Muslimin menamakan dia Nabi ? Ia (Muhammad) tegap berdiri di sana berhadapan muka dengan mereka, terang-terangan tidak diselubungi apa pun, mereka tentulah telah melihat laki-laki yang bagaimanakah dia, biarlah dia (Muhammad) dipanggil apa saja sesuka hati kita. Namun tidak ada kaisar dalam pakaian kebesarannya yang dita’ati sebagai laki-laki yang memperbaiki pakaiannya sendiri. Kepercayaan manusia sungguh besar artinya, memberi tenaga hidup. Sejarah suatu bangsa menjadi berbuah, mengangkat jiwa menjadi besar, segera setelah bangsa itu percaya. Bahwa orang besar ini (Muhammad) selalu seperti hlilintar dari langit, manusia lainnya menanti dia sebagai bahan bakar kemudian mereka pun akan menyala. Kita harus meninggalkan semua itu tuduhan bahwa ia itu penipu, sebab ini adalah suatu tuduhan yang tidak bisa disiarkan, harus dilenyapkan oleh kita (orang Barat). Sejak kecilnya, ia (Muhammad) telah tampak sebagai seorang pemikir. Kawan-kawannya amenamakannya “Alamin”, orang yang dapat dipercaya, seorang laki-laki jujur dan setia, jujur dalam perbuatan, perkataan dan fikiran. Seorang lelaki yang singkat bila berkata, berdian diri bila tidak perlu bicara, namun tetap bijaksana. Jujur bila ia berkata, selalu memancarkan cahaya terang terhadap masalah. Sepanajang hidup ia dipandang sebagai satu paduan dari kekuatan, persaudaraan dan kelaki-lakian. Satu watak yang teguh dan sungguh, tetapi ramah, tulus, menarik, bahkan bersendagurau dengan senyuman manis, tidak seperti orang-orang yang senyumannya palsu dan tidak tertawa. Tentang kebagusan Muhammad : mukanya yang elok menandakan kecerdasan dan kejujuran, putih kemerah-merahan dengan mata hitam bersinar. Muhammad adalah seorang laki-laki tajam, spontan, tetapi justru berhati jujur, penuh tenaga keras, api dan cahaya, keutamaan asli tidak melalui pendidikan.

R Bosworth Smith dalam bukunya “Muhammad and Mohammedanism” mengatakan bahwa Muhammad menguasai hati manusia sebagai kepala negara dan kepala agama. Dia adalah Kaisar dan Paus serentak dalam satu tubuh, tetapi dia adalah Paus tanpa kepongahan-kepongahan dan tuntutan-tuntutan Paus dan Kaisar tanpa barisan pengawal Kaisar. Tanpa Angkatan Perang yang selalu dipersiapkan, tanpa pengawal pribadi, tanpa istana, tanpa memungut pajak. Sekiranya ada yang berhak mengatakan bahwa ia telah memerintah berdasarkan hukum Ilahi, maka orang itu adalah Muhammad. Karena ia mempunyai segala kekuatan tanpa alat-alat dan tanpa topangan alat-alat. Ia bangkit menjulang melebihi segala gelar, dan upacara, melebihi tetek bengek yang diupacarakan dan khidmat-khidmatkan dan melebihi kerendahan-kerendahan hati yang dibuat-buat sebagai kebanggaan dalam etiket-etiket istana. Bahwa kedudukan Muhammad dalam sejarah sungguh unik sepenuhnya. Ia adalah penubuh ganda tiga dari suatu bangsa, suatu imperium dan satu agama. Walaupun ia sendiri buta huruf …. Ia adalah pengarang satu kitab yang sekaligus merupakan puisi, hukum, kitab ibadat dan satu Bibel dan dimuliakan hingga hari ini oleh seperenam umat manjusia sebagai satu keajaiban kemurniaan gaya, kebijaksanaan dan kebenaran. Itulah mukjizat yang dinyatakan oleh Muhammad, mukjizat abadi. Dan memang sesungguhnya Qur:an itju merupakan mukjizat. Tetapi dengan melihat keadaan pada waktu itu, pada penghormatan yang tidak terbatas dari pengikut-pengikutnya, dan dengan membanding-bandingkan dengan Bapa-Bapa gereja atau dengan Orang-Orang Suci di abad pertengahan, menurut pikiran saya, yang paling ajaib ialah bahwa tidak pernah mengaku melakukan mukjizat-mukjizat atas kekuasaannya sendiri. Namun apa saja yang dikataakannya, dapat ia melaksanakannya yang langsung disaksikan oleh mata kepala pengikut-pengikutnya …. Bukti yang lebih besar manakah yang mash diperlukan untuk menunjukkan kesucian hatinya ? Hingga ke akhir hidupnya Muhammad tidak mempertahankan sesuatu tentang dirinya, kecuali apa yang diakuinya sejak semula. Dan dengan filsafat yang paling tinggi serta agama Kristen yang paling benar, saya yakin, sepakat akan menyerah kepadanya, yaitu bahwa ialah Nabi utusan Allah yang sesubngguhnya.

` Alphonse de Lamartine (1790-1869) dalam bukunya “Hisgtoire de la Turque” mengatakan bahwa kalau kebenaran tujuan, kecilnya alat dan hasil yang dicapai yang menakjubkan merupakan tiga kriteria jenius seorang manusia, siapakah yang berani membandingkan Muhammad dengan orang besar siapa saja dalam sejarah modern ? Orang-orang paling mashur menciptakan senjata undang-undang dan eksprimen-eksprimen melulu. Mereka mendirikan – kalaupun ada – tidak lebih dari kekuatan materiil yang sering ambruk di hadapan mata mereka sendiri. Laki-laki ini (Muhammad) tidak hanya menggerakkan tentara, hukum, imperium, manusia dan dinasti-dinasti, berjuta-juta manusia dalam sepertiga bagian dunia yang telah dikenal pada masa itu, dan lebih dari itu, ia menggoncangkan rumah-rumah berhala, agama-agama, ide-ide, kepercayaan-kepercayaan serta jiwa amanusia. Di atas dasar sebuah Kitab yang setiap hurufnya telah menjadi hukum, ia menciptakan suatu nasionalita spiritual yang mempersatukan manusia dari segala ras dan bahasa. Bahwa Nabi Muhammad itu adalah filosof, orator, pembawa hukum, pejuang, penakluk ide-ide, pembangun dogma rasional dari suatu agama tanpa patung-patung, penubuh dua puluh imperium spirituil, itulah dia Muhammad. Berhubung dengan suatu standard yang dapat dipergunakan untuk me ngukur kebesaran manausia, kita (orang Bvarat) boleh bertanya : adakah orang yang lebih besar dari dia ?

Napoleon Bonaparte (1769-1825) dalam beberapa tulisannya mengakui bahwa ia adalah seorang Muslim (Christian Cherfils : “Bonaparte et l’Islam”, Surat-surat Napoleon sering dikutip oleh orientalis Perancis, E Dinet. Napoleon mengatakan bahwa Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi, Muhammad kepada dunia yang tua ini …. Bangsa Arab adalah penyembah berhala ketika enam abad setelah Yesus. Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan dari Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan pertanyaan tentang sifat Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan bahwa tidak Tuhan selain Allah yang tidak berayah, tidak beranak dan bahwa Tritunggal itu merupakan ide kaum kafir … Muhammad mem,ang seorang paangeran. A mempersatukan patriotnya. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin menguasai setengah bulatan bumi. Mereka menyelamatkan lebih banyak jiwa, merobohkan lebih banyak berhala dana kuil penyembahan Tuhan-Tuhan palsu dalam waktu lima belas tahun dari pada yang dilakukan pengikut-pengikut Musa dan Isa dalam masa lima belas abad. Muhammad adalah seorang besar. Sebenarnya mungkin ia telah menjadi dewasa sekiranya revolusi yang dibangunkannya tidak dipersiapkan oleh keadaan. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam perang saudara (Cherfils : “Bonaparte et l’Islam”). Dalam sebuah suratnya Napoleon mengatakan bahwa ia berharap tidak lama alagi dapat dikumpulkan orang terpelajar di negeri ini (Perancuis untuk menetapkan aturan-aturan hukum berasaskan alQur:an yang menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan manusia. Dalam salah satu suratnya yang lain yang dikutip E Dinet dari Cherfils menyebutkan bahwa sudah seringkali dikatakannya terang-terangan dalam pidagto-pidatonya, bahwa ia (Napoleon) itu adalah seorang Muslim, muwahhid, takzim hormat kepada nabi Muhammad dan cinta kepada umat Islam.

Max Meyerhof menyangkal fitnahan palsu yang menghina Nabi Muhammad dan kaum Muslimin. Ia mengatakan bahwa setengah orang ingin memperlihatkan Muhammad sebagai orang yang dihinggapi penyakit urat syaraf, padahal riwayat hidupnya dari awal hingga akhirnya tak terdapat di dalamnya barang satu pun yang menunjukkan keadaan demikian.

Robert Koch mengatakan bahwa ia tahu dari sejarah yang telah ia baca, bahwa Muhammad adalah seorang pemimpin bala tentara yang ulung, seorang ahli politik yang mahir, seorang hakim yang adil, seorang guru beszar dan seorang penganjur agung. Tetapi dulu ia tidak menyangka bahwa beliau (Muhammad) juga seorang tabib yang paling mahir di dunia. (O Hasheem : “Menaklukkan Dunia Islam”, 1965:44-51).

4 Gustave Le Bon bicara tentang keunggulan Islam

Dr Gustave Le Bon mengatakan bahwa sesungguhnya bangsa-bangsa yang dapat melebihi Arab dalam segi kemajuan amat sedikit sekali. Kami tak dapat menamakan mereka sebagai sesuatu umat, seperti bangsa Arab yang telah membuktikan ciptaan-ciptaan yang besar dalam waktu yang relatif amat singkat sekali. Bangsa Arab telah membina sesuatu agama yang paling kuat dan paling bermutu yang telah dapat meliputi seluruh dunia. Mereka telah dirikan sesuatu agama yang selalu memberikan kesan yang amat vital dan penuh semangat hidup dinamika yang besar, yang tak dpunyai oleh agama-agama lain. Dari segi politik mereka telah dapat mendirikan sesuatu pemerintahan yang amat besar, yang pernah dikenal sejarah. Mereka telah mengajar Eropah dan memajukannya dengan unsur kebudayaan dan akhlak. Dasar-dasar yang telah mengangkat derajat bangsza Arab dan yang telah menjauhkan mereka amatlah luar biasa. Belum pernah muncul di dalam sejarah, sifat-sifat yang telah dialami dan dimiliki oleh bangsa Arab itu, yang dapat dianggap sebagai contoh yang jelas bagaimana berpengaruhnya faktor-faktor yang memungkinkan bangsa itu dapat mendirikan pemerintahan yang besar, dari sejak kebesarannya sampai kepada kemundurannya.

Monsieur Duval (1855-1906) mengatakan bahwa “Jasa-jasa Islam di antaranya ialah : lenyapnya patung-patung dan sesembahan-sesembahan dari dunia, mengharamkan dikorbankannya jiwa manusia, melarang memakan daging manusia, melindungi hak-hak kaum wanita, membatasi prinsip-prinsip kebolehan poligami dengan mengaturnya ke batas orang tak bisa sampai kepada hak yang mutlak menertibkan hubungan-hubungan keluarga, menjadikan budak termasuk dalam lingkungan keluarga sebagai anggota, membuka banyak jalan yang mudah untuk memerdekakan budak-budak itu, membersihkan tabiat dan akhlak yang bersifat umum, meningkatkan akhlak dan budi pekerti dengan kewajaiban shalat dan zakat, memberikan tempat tinggala bagi orang-orang asing, menghaluskan perasaan dengan menanamkan sifat-sifat keadilan dan ihsan (berbuat baik, mengajar dan menyuruh pembesar-pembesar dan penguasa-pengasa dan semua orang orang bertugas sebagai orang –orang pemerintahan supaya tahu kewajibannya terhadap rakyat yang dipimpinnya, membina masyarakat di atas dasar yang teratur dan tersusun rapi. Andaikata – biasanya – bila terjadi di dalam masyarakat Islam itu kezaliman yang ta dapat dihindarkan, sebagaimana yang lazim juga terjadi di tempat lain, maka mereka berlindung kepada Keadilan Ilahi yang dapat mengurangkan tekanan kezaliman itu. Hal yang demikian ialah dengan mengharapkan kehidupan akhirat, di mana akebahagiaan dan pahala mebnjadi sandaran bagi yang kena musibah dan bagi yang menjadi korban penganiayaan. Itulah sebahagian dari kebaikan-kebaikan yang membantu tersiarnya Islam di tiap-tiap kawasan pada masyarakat (Gustave Le Bon : “Hadharat ul Arab”, cetakan II, halaman 735, via PANJI MASYARAKAT, ThXVI/556, halaman 42, 1 Januari 1974.

Reymond Dagell mengatakan bahwa telah terjadi satu hal yang sangat heran orang Arab menerimanya, seketika kaum kita (Pasukan Salib telah dapat menguasai parit rentang kota Yerusalem dan benteng-benteng pertahanannya. Dipotongi kepala-kepala mereka (pasukan Muslim). Itulah hukum yang paling ringan. Atau dikorek perut mereka sampai terbusai (keluar) isnya. Atau disuruh melompati dari dinding kota yang tinggi itu sehingga remuk sampai dibawah. Setengahnya lagi dibakar di jalan-jalan raya lain tidak adalah timbunan kepala-kepala yang telah cerai dari badan atau potongan-potongan tangan kaki-kaki orang-orang Arab, sehingga ke mana saja pun pergi, hanya terpandang bangkai-bangkai yang putus-putus. Itu hanyalah sebagai bagian dari siksaan yang mereka terima. Yang lain banyak lagi. Bahwa kaum kita (pasukan Salib) telah menumpahkan darah dengan sangat berlebih-lebihan di Haikal Sulaiman. Bangkai-bangkai orang-orang yang dibunuh bergelimpangan di sana sini dalam masjid. Tangan-tangan dan kaki-kaki terserak-serak di sana sini, seakan-akan hendak menjemba (meraih) salah satu bangkai di dekatnya, hendak melekapkan (mendekatkan) diri kepada bangkai yang bukan pasangannya. Kalau dcoba menghubungkan satu potongan tangan dengan satgu tubuh, tidaklah sesuai. Serdadu-serdadu yang melakukan itu sampai tidak kuat menahan bau anyir (amis) darah yang keluar dari bangkai-bangkai itu. Kaum Salib yang sangat “Saleh” itu rupanya belum juga puas. Lalu diadakan suatu rapat membulatkan suara bahwa seluruh penduduk kota Yerusalem, Musliminnya, atau Yahudinya, atau orang-orang Nasrani yang dipandang tidak setia, yang jumlahnya seluruhnya tinggal 60.000 orang, semuanya musti dibinasakan. Maka dijalankanlah keputusan itu dalam masa delapan hari, sehingga hasbislah seluruh penduduk kota, tidak terkecuali perempuan, anak-anak atau orang-orang tua (Gustave Le Bon :”The Civilization of Arab” (Kebudayaan Arab), via Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, juzuk X, hal 111-112).

5 Pandangan Sarjana Kristen tentang Kristen

Kalau dulu agama Kristen dianggap sebagai agama yang diajzarkan Isa, maka sekarang dunia Barat sendiri membuktikan bahwa pokok-pokok ajaran Kristen yang dianut gereja bukanlah ajaran Isa, tetapi ajaran-ajaran kafir yang dimasukkan oleh Paulus dan kawan-kawannya atas nama Isa. Dengan demikian pendekatan terhadap Islam dari dunia Barat berjalan bersamaan dengan penjauhan diri dari gereja. Ajaran-ajaran gereja tentang dosa warisan, trinitas, penebusan dosa yang diajarkan Paulus itu pada hakekatnya tidaka dipercaya di Barat.George Benard Shaw dalanm bukunya “Androcles and the Lion” mengatakan bahwaz tak ada satu kata pun dari ajaran-ajaran Kristen ciptaan Paulus kita sekarang yang merupakan ucapan Isa. Tak ada catatan bahwa Isa pernah berkata “pergilah dan berbuat dosalah sesuka hatimu, engkau dapat menyerahkan dosamu kepadaku (O Hasheem : “Menaklukkan Dunia Islam”, 1965:51-52).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: