Igauan Ulil

Senin, 18 November 2002

Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.

Saya melihat, kecenderungan untuk “me-monumen-kan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini.

Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi “paket” yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.

Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal.

Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.

Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak.

Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya.

Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.

Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.

Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang terpisah dari golongan yang lain. Umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan, dengan Islam.

Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.

Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama.

Menurut saya, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari’ah, atau tujuan umum syariat Islam.

Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial tertentu, itu adalah urusan manusia Muslim sendiri.

***

BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).

Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual.

Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah, sebab apa yang dilakukan olehnya di Madinah adalah upaya menegosiasikan antara nilai-nilai universal Islam dengan situasi sosial di sana dengan seluruh kendala yang ada. Islam di Madinah adalah hasil suatu trade-off antara “yang universal” dengan “yang partikular”.

Umat Islam harus ber-ijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. “Islam”-nya Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara lain, dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.

Oleh karena itu, umat Islam tidak sebaiknya mandek dengan melihat contoh di Madinah saja, sebab kehidupan manusia terus bergerak menuju perbaikan dan penyempurnaan. Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi; wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia. Wahyu verbal memang telah selesai dalam Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal manusia terus berlangsung.

Temuan-temuan besar dalam sejarah manusia sebagai bagian dari usaha menuju perbaikan mutu kehidupan adalah wahyu Tuhan pula, karena temuan-temuan itu dilahirkan oleh akal manusia yang merupakan anugerah Tuhan. Karena itu, seluruh karya cipta manusia, tidak peduli agamanya, adalah milik orang Islam juga; tidak ada gunanya orang Islam membuat tembok ketat antara peradaban Islam dan peradaban Barat: yang satu dianggap unggul, yang lain dianggap rendah. Sebab, setiap peradaban adalah hasil karya manusia, dan karena itu milik semua bangsa, termasuk milik orang Islam.

Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu penafsiran Islam oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena itu harus ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk yang datangnya dari luar Islam. Setiap golongan hendaknya menghargai hak golongan lain untuk menafsirkan Islam berdasarkan sudut pandangnya sendiri; yang harus di-“lawan” adalah setiap usaha untuk memutlakkan pandangan keagamaan tertentu.

Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun tempatnya, sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.

Saya tidak lagi memandang bentuk, tetapi isi. Keyakinan dan praktik keIslam-an yang dianut oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai umat Islam hanyalah “baju” dan forma; bukan itu yang penting. Yang pokok adalah nilai yang tersembunyi di baliknya.

Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan “baju” yang dipakai, sementara mereka lupa, inti “memakai baju” adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.

Ada periode di mana umat beragama menganggap, “baju” bersifat mutlak dan segalanya, lalu pertengkaran muncul karena perbedaan baju itu. Tetapi, pertengkaran semacam itu tidak layak lagi untuk dilanggengkan kini.

***

MUSUH semua agama adalah “ketidakadilan”. Nilai yang diutamakan Islam adalah keadilan.

Misi Islam yang saya anggap paling penting sekarang adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik dan ekonomi (tentu juga di bidang budaya), bukan menegakkan jilbab, mengurung kembali perempuan, memelihara jenggot, memendekkan ujung celana, dan tetek bengek masalah yang menurut saya amat bersifat furu’iyyah. Keadilan itu tidak bisa hanya dikhotbahkan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk sistem dan aturan main, undang-undang, dan sebagainya, dan diwujudkan dalam perbuatan.

Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi.

Masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata merujuk kepada “hukum Tuhan” (sekali lagi: saya tidak percaya adanya “hukum Tuhan”; kami hanya percaya pada nilai-nilai ketuhanan yang universal), tetapi harus merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah sendiri dalam setiap bidang masalah. Bidang politik mengenal hukumnya sendiri, bidang ekonomi mengenal hukumnya sendiri, bidang sosial mengenal hukumnya sendiri, dan seterusnya.

Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa’alihi bil ‘ilmi, wa man aradal akhirata fa ‘alihi bil ‘ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai kebahagiaan di dunia “nanti”, juga harus pakai ilmu. Setiap bidang ada aturan, dan tidak bisa semena-mena merujuk kepada hukum Tuhan sebelum mengkajinya lebih dulu. Setiap ilmu pada masing-masing bidang juga terus berkembang, sesuai perkembangan tingkat kedewasaan manusia. Sunnah Tuhan, dengan demikian, juga ikut berkembang.

Sudah tentu hukum-hukum yang mengatur masing-masing bidang kehidupan itu harus tunduk kepada nilai primer, yaitu keadilan. Karena itu, syariat Islam, hanya merupakan sehimpunan nilai-nilai pokok yang sifatnya abstrak dan universal; bagaimana nilai-nilai itu menjadi nyata dan dapat memenuhi kebutuhan untuk menangani suatu masalah dalam periode tertentu, sepenuhnya diserahkan kepada ijtihad manusia itu sendiri.

Pandangan bahwa syariat adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan.

Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana. Saya tidak bisa menerima “kemalasan” semacam ini, apalagi kalau ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan hukum Tuhan. Jangan dilupakan: tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah sunnah Tuhan serta nilai-nilai universal yang dimiliki semua umat manusia.

Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme, sejenis keyakinan yang tertutup bahwa suatu doktrin tertentu merupakan obat mujarab atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia terus berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga sekarang adalah hasil usaha bersama, akumulasi pencapaian yang disangga semua bangsa.

Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami” dengan “mereka”, antara hizbul Lah (golongan Allah) dan hizbusy syaithan (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara “Barat” dan “Islam”; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu.

Pemisah antara “kami” dan “mereka” sebagai akar pokok dogmatisme, mengingkari kenyataan bahwa kebenaran bisa dipelajari di mana-mana, dalam lingkungan yang disebut “kami” itu, tetapi juga bisa di lingkungan “mereka”. Saya berpandangan, ilmu Tuhan lebih besar dan lebih luas dari yang semata-mata tertera di antara lembaran-lembaran Quran.

Ilmu Tuhan adalah penjumlahan dari seluruh kebenaran yang tertera dalam setiap lembaran “Kitab Suci” atau “Kitab-Tak-Suci”, lembaran-lembaran pengetahuan yang dihasilkan akal manusia, serta kebenaran yang belum sempat terkatakan, apalagi tertera dalam suatu kitab apa pun. Kebenaran Tuhan, dengan demikian, lebih besar dari Islam itu sendiri sebagai agama yang dipeluk oleh entitas sosial yang bernama umat Islam. Kebenaran Tuhan lebih besar dari Quran, Hadis dan seluruh korpus kitab tafsir yang dihasilkan umat Islam sepanjang sejarah.

Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).”

Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.

Maka, fastabiqul khairat, kata Quran (QS 2:148); berlombalah-lombalah dalam menghayati jalan religiusitas itu.

Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.

Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.

Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan itu, maka Islam yang semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia.

Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri.

ULIL ABSHAR-ABDALLA, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta
1

Mempersoalkan Penafsiran Ulil

Islam bisa dipandang sebagai sesuatu yang “elastis”, yang dapat berkembang sesuai dengan seala tempat, dengan segala masa, tapi bukan sesuai dengan sekalian nafsu. Jangan sesuaikan (reinterpretasikan) Islam dengan nafsu, selera, pendapat. Tapi jadikan pendapat, selera, nafsu sesuai dengan Islam.

Apakah memang benar “Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini”?

Inti, sekaligus sumber ajaran Islam adalah Qur:an. Apakah memang perlu “penafsiran Islam (Qur:an) yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai dengan nadi peradaban manusia yang sedang terus berubah”?

Apakah memang didalam Islam (Qur:an) itu terdapat unsur-unsur yang merupakabn kreasi budaya lokal (pengaruh kultur Arab), dan yang merupakan nilai fundamental?

Apakah memang jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah merupakan ekspresi lokal (cerminan kebudayaan Arab, partikular Islam di Arab?

Sesuai perkembangan kebudayaan manuysia, apakah pakaian yang pantas secara umum untuk masa kini, adaalah pakaian bikini, ultra mini (semi bugil)?

Apakah memang Qur:an menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama (tanpa melihat perbedaan ketaqwaannya)? Allah itu Maha Adil. Menyamakan yang pantas disamakan. Membedakan yang pantas dibedakan. Allah tidak menyamakan penghuni neraka dengan penghuni surga. Tidak menyamakan orang yang beriman serta amengerjakan amal saleh dengan orang yang durhaka. Tidak menyamakan orang yang hanya mempertuhankan Dia, dengan orang yang juga mempertuhankan selain Dia. Sebaliknya Allah menyamakan orang yang duduk berserta orang-orang yang mengingkari dan memperolok-olokan ayat Allah adalah serupa dengan mereka. Tanpa membedakan asal usul, latar belakang seseorang kepada yang benar-benar beriman kepadaNya, bertuhan kepadaNya, beriman kepada hari akhirat, beramal saleh, memutuskan sesuatu menurut apa yang diturunkanNya, semuanya akan mendapatkan ampunanNya dan limpahan rahmatNya di dunia dan di akhirat, tanpa merasa kecemasan dan kesedihan.

Apakah memang benar “Segala produk hukum Islam klasik membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam” (tak ada keadilan hukum dalam Islam klasik)? Yang benar adalah segala produk hukum Islam (kapanpun) tak pernah membedakan kedudukan si pelaku kejahatan, tapi membedakan jenis kejahatan, pelanggaran yang dilakukannya.

Apakah memang Islam (Qur:an) itu hanyalah doktrin dan praktik peribadatan yang sifatnya partikular yang merupakan urusan Allah, dan sama sekali tidak mengatur kehidupan publik yang merupakan urusan manusia melalui prosedur demokrasi. Kalau memang begitu, kenapa berupaya memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama.

Apakah memang benar “tidak ada yang disebut “hukum Tuhan”. Dalam pengertian yang dipahami kebanyakan orang Islam, “hukum Tuhan” itu adalah “Hududullah” yang tak boleh dilanggar “take it or leave it”. “fa man syaa:a fal yukmin, wa man syaa:a fal yakfur”.

Apakah memang maqashidus Syari’ah (tujuan umum syari’at Islam) itu adalah untuk melindungi kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan? Ataukah tujuan umum syari’at Islam itu untuk melindungi (memelihara) agama (tidak murtad), akal (dari tindakan minum-minuman keras), harta (dari tindakan pencurian), keturunan (dari tindakan zina), kehormatan (dari tuduhan palsu, pencemaran nama), nyawa (dari tindakan pembunuhan).

Apakah memang kerasluan Muhammad saw harus dikaji ulang secara kritis? Padahal Allah menyatakan benar bahwa Muhammad saw adalah RasulNya. Ataukah memang keTuhanan Allah itu juga harus dikaji ulang secara kritis? Bahkan kewahyuan Qur:an itu sendiri juga harus dikaji ulang secara kritis?

Apakah Islam di Madinah itu Islam historis, partikular dan kontekstual yang tak boleh dijadikan seagai referensi.

Sungguh benar, bahwa “Hikmah (ilmu) itu adalah barang hilang orang Mukmin, maka dimana saja dijumpai, ia lebih berhak terhadapnya”. “Islam itu bukanlah kepunyaan Barat maupun Timur”.

Keadilan dalam Islam merupakan salah satu aspek dari syari’at Islam. Bagaimana Islam itu dapat menegakkan keadilan, sementara bersikeras menantang tegaknya syari’at Islam? Ummat Islam yang memahami syari’at Islam secara benar (baik dalam pengertiannya yang sempt maupun dalam pengertiannya yang luas), sangat yakin bahwa “semua masalah akan selesai dengan menggunakan syari’at Islam”.

Musuh yang paling berbahaya adalah ketidak-adilan, memutlakkan kebenaran pendapat sendiri, mencap dogma pendapat orang yang berbeda dengan pendapat sendiri.

Apakah memang semua agama benar? Kalau memang begitu apa perlunya dakwah, seruan ke jalan Allah, seruan ke dalam Islam?

2

Rabu, 04 Desember 2002

Menyegarkan Kembali Sikap Islam

* Beberapa Kesalahan Ulil Abshar Abdalla

Oleh A. Mustofa Bisri

KETIKA harian Kompas (18/11/2002) menurunkan tulisan Ulil Abshar Abdalla, Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, saya menduga bakal muncul banyak reaksi. Benar. HP saya dibanjiri komentar reaktif beberapa orang atas artikel itu. Semuanya bernada “mempertanyakan”.

Tulisan itu bernada “teror”. Saya nyaris yakin, saat menulis, di depan Ulil ada bayangan orang-orang berjubah dan berjenggot, membawa pedang yang di bayangan Ulil terus meneriakinya agar dia juga berpakaian dan berjenggot seperti mereka jika tidak mau masuk neraka. Dari awal tulisan, nada geram sudah tercium. Selanjutnya, Ulil seperti hanya ingin membuat geram mereka yang membayanginya. Mereka yang ia sebut sebagai orang-orang yang memiliki kecenderungan “me-monumen-kan” Islam.

Maka diulang-ulangnya kalimat yang mirip-atau sengaja diambil dari-ungkapan-ungkapan kebanyakan orientalis Barat yang paling dibenci oleh mereka yang “membayangi Ulil” itu.

Bila dugaan saya benar, inilah kesalahan pertama Ulil. Tulisan itu mestinya bukan di Kompas yang umumnya tidak dibaca oleh mereka yang ingin dibuatnya geram. Pembaca Kompas-wallahua lam-umumnya mereka yang masih mau menyisakan perhatian dan waktu untuk membaca atau mendengar pendapat orang lain. Melihat nada tulisannya, Ulil jelas hanya menujukan kepada mereka yang ia sendiri sepertinya sudah yakin tidak akan mau “mendengarkan”-nya. Akibat salah memilih media, tulisan itu justru lebih membuat bingung mereka yang selama ini tidak bertipe sebagaimana sasarannya. Mereka yang selama ini menyikapi artikel sebagai penuangan pikiran-bukan untuk hal lain, seperti men-“teror” orang-akan bertanya-tanya, apa maunya Ulil?

Kesalahan kedua, sekali lagi bila dugaan saya itu benar: Ulil menulis dengan geram! Kegeraman, sebagaimana sikap-sikap  athifie lainnya, bisa mengacaukan pikiran yang jernih; bisa membuat orang bersikap berlebihan; membuat orang tidak bisa berlaku adil, jejeg. Sikap yang justru dia sendiri serukan sebagai sesuatu yang mesti diutamakan. Itu sebabnya hakim yang sedang geram tidak boleh memutuskan hukuman. Ulil pasti sudah hafal mahfuzhat yang berbunyi “Kaifa yastiqiemudzillu wal  uudu a waj?”, “Bagaimana bayangan bisa lurus bila tongkat yang menimbulkan bayangan, bengkok?” Ya bagaimana kita akan meluruskan kalau kita sendiri kacau?

KESALAHAN lain yang mestinya tidak boleh terjadi dari seorang intelektual ialah menggunakan kemampuannya untuk atau mencampurnya dengan urusan “nafsu”. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Inna akhwafa maa akhaafu  alaa ummatie: asyirku billah. Alaa inni laa aquulu ta buduuna watsanan walaa qamaran walaa syamsan; walaakin al-a maal lighairillahi wa syahwatin khafiyyah.” Au kamaa qaala Rasulullah SAW. “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku ialah menyekutukan Allah. Ingat, aku tidak berkata kalian akan menyembah berhala, rembulan, atau matahari; tapi yang kumaksud: amal-amal yang dilakukan bukan karena Allah dan adanya kepentingan yang tersamar.

Amar makruf nahi munkar yang populer itu, hakikatnya adalah manifestasi dari kasih-sayang. Maka, ada dawuh, “Amar makruf nahi munkar, hendaklah dilakukan secara makruf dan tidak boleh dilakukan secara munkar.” Untuk dapat ber-amar-makruf-nahi-munkar secara benar, menurut saya, harus didahului kasih sayang. Orang yang tidak mempunyai rasa kasih sayang, sulit dibayangkan dapat melakukan amar makruf nahi munkar. Dengan kata lain, amar makruf nahi munkar adalah istilah lain dari rahmatan lil  alamien. Wallahu a lam.

Semua orang tahu, semangat yang berlebihan kadang menyeret orang kepada perbuatan bodoh. Apalagi, bila tidak disertai pemahaman yang cukup atas apa yang disemangati. Ulil sudah tahu, bahkan tampak sudah menjadi “obsesi”-nya, banyak di antara kaum beragama yang terlalu bersemangat dan tidak disertai pemahaman cukup atas agamanya, justru terbukti lebih banyak merugikan, terutama bagi citra agama itu sendiri. Maka sudah semestinya Ulil tidak bersikap sama. Terlalu bersemangat dalam “memerangi” apa yang dianggapnya “musuh Islam”, sehingga justru mengaburkan pikiran jernih yang ingin dikemukakan.

Kesalahan terakhir-mudah-mudahan benar-benar terakhir-Ulil menulis itu pada bulan suci Ramadhan, dimana seharusnya umat Islam menyerap kasih sayang Ilahi bagi merahmati sesama.

Sengaja saya tidak menanggapi isi atau materi tulisan, karena seperti dikemukakan di atas, saya tidak melihat tulisan Ulil kali ini dimaksudkan untuk mengutarakan pikiran, bahkan wacana sekali pun. Saya yakin kalau membaca lagi tulisannya, dia akan menyesal, minimal agak menyesal, atau saya mengharapkan begitu.

A. Mustofa Bisri, Mertua Ulil Abshar Abdalla
3

Rabu, 04 Desember 2002

Beberapa Pertanyaan untuk Ulil

Oleh Haidar Bagir

BARANGKALI tak ada seorang pun pembaca artikel Ulil Abshar Abdalla, Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam (Kompas, 18/11/2002) yang tak terprovokasi olehnya. Banyak yang menarik perhatian, bahkan terlalu banyak untuk artikel ringkas semacam itu. Meski demikian, lepas dari gaya provokatif dan kesan “entusiasme seorang inovator” dalam diri penulisnya, sebenarnya tak banyak hal baru yang diungkapkan Ulil dalam lontaran mutakhirnya ini.

Sejak awal abad 20, para pemikir yang disebut sebagai “pembaru pemikiran Islam”-dengan berbagai variasi gaya dan kecanggihan-telah melontarkan sebagian atau semua unsur yang terangkum dalam tulisan Ulil itu. Ada  Ali Abdurraziq, Sayid Ahmad Khan, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, hingga Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Muhammad  Abid al-Jabiri, untuk menyebut hanya beberapa di antaranya.

Di Indonesia pun ada Cak Nur dan Gus Dur. Bedanya, para pendahulu Ulil itu telah menulis banyak buku, setidaknya puluhan makalah serius untuk menyampaikan gagasan-gagasan pembaruannya, Ulil meringkaskannya dalam satu artikel pendek dan popular di sebuah koran. Sekadar contoh, Rahman menulis buku-buku seperti Islamic Methodology in History, Major Themes of the Qur an, Islam and Modernity, dan berbagai buku lainnya. Sementara Abu Zayd dan al-Jabiri menulis ribuan halaman buku -lebih dari seribu halaman di antaranya didedikasikan hanya untuk mempelajari metode ta wil (hermeneutika tradisional) kaum rasionalis Mu tazilah dan teosof model Ibn  Arabi. Itu yang pertama.

Sementara para analisis Barat menganggap, mayoritas Muslim di Indonesia cukup moderat, terbuka, dan inklusivistik dalam cara pandang keislamannya. Ulil terkesan menggeneralisasi (mayoritas) masyarakat Islam di Indonesia atas dasar pandangan sekelompok umat Islam yang biasa disebut sebagai “literalis”. Saya khawatir, sikap Ulil merupakan imbas pertarungan kelompok Islam Liberal yang dikoordinatorinya dengan “Islam Literal.” Begitu keras, immediate, dan pressing-nya pertentangan itu bagi Ulil cs, sehingga tampaknya Ulil lupa, “musuh” yang mereka hadapi-meski vokal-tak mewakili pandangan mayoritas masyarakat Muslim di Indonesia.

LEPAS dari gaya penyampaiannya, concern Ulil dalam tulisannya itu sudah merupakan concern, bahkan wacana yang kompleks, canggih, dan rigoris di kalangan para sarjana Islam selama berabad-abad. Tak sulit untuk mencari dasar bagi prinsip-prinsip pemikiran Ulil dalam artikel itu-sebagaimana juga tak sulit untuk mendapat dukungan, yang sama-sama canggih bagi pendapat-pendapat yang menentangnya-dalam wacana-wacana itu. Termasuk di dalamnya soal nilai penting prinsip-prinsip (moral) universal atau maqashid al-Syari ah versus hukum-hukum yang bersifat partikular, sifat progresif pemikiran dan penafsiran Islam serta keharusan ijtihad tanpa henti, pemberian perhatian pada konteks hermeneutik selain teks tradisi suci, sifat abadi dan temporal doktrin-doktrin keislaman, inklusivisme Islam, sekularisasi, dan sebagainya. Bahkan, peolakannya terhadap apa yang disebutnya sebagai “hukum Tuhan”, dan alternatif “Sunnah Tuhan” yang ditawarkannya pun sebenarnya tak sulit dipahami-meski tak berarti harus disetujui-dalam kerangka sifat progresif ajaran Islam dan penekanannya pada prinsip-prinsip universal itu.

Saya khawatir, problem artikel Ulil -lagi-lagi- tak diungkapkannya metodologi yang memandunya untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan itu. Sehingga, saya khawatir, bagi sebagian pembaca yang tinggal adalah kesan arbitrer dan kurangnya dasar bagi penarikan kesimpulan-kesimpulan itu. Padahal, kabarnya di waktu belakangan ini Ulil sedang memusatkan perhatiannya pada penyusunan semacam metodologi bagi perumusan pandangan-pandangan Jaringan Islam Liberal. Di bawah ini adalah beberapa contoh masalah yang dikemukakan Ulil, yang saya pikir menuntut penjelasan yang bersifat metodologis itu.

Ulil menyatakan, “Aspek-aspek Islam yang merupakan cermin kebudayaan Arab, tak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam Arab. Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia.”

Dalam cuplikan itu, Ulil mencampurkan antara isu-isu yang memperoleh dukungan petunjuk Al Quran yang diangap valid dalam hal transmisi (qath iy al-wurud) dan-nyaris juga-valid dalam hal maknanya (qath iy al-dilalah), seperti jilbab dan potong tangan, dengan yang dukungan-tekstualnya bersifat kontroversial seperti memelihara jenggot, memendekkan celana, bahkan hukum rajam (Tak ada salahnya saya ingatkan di sini bahwa hukum rajam sama sekali tak disebut dalam Al Quran).

Kenyataannya, keharusan memakai jilbab-dalam makna pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan-dan kerudung (khumur) secara eksplisit diungkap dalam Al Quran. Maka, jika hendak ditafsirkan secara lain, tentu diperlukan argumentasi yang meyakinkan. Demikian juga dengan pernyataan bahwa yang lebih esensial adalah keharusan untuk memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Quraish Shihab pun berpendapat demikian berdasar kualifikasi Al Quran sendiri atas ayat jilbab itu-yakni potongan ayat yang berbunyi “kecuali yang (selayaknya) terlihat dari (aurat) itu (illaa maa zhahara minhaa).” Namun, untuk meyakinkan orang mengenai pendapatnya, Quraish merasa perlu mengerahkan kepiawaiannya dalam tafsir. (In passing, ingin saya tegaskan di sini, penafsiran para ulama tentang hukuman potong tangan pun amat beragam, mulai penerapan secara “boros” pemotongan telapak tangan, hingga secara reluctant menjadikan pemotongan dua jari sebagai hukuman maksimal bagi tindakan pencurian yang tak memiliki alasan sah).

SATU contoh lagi. Menurut Ulil, “Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi, tanpa memandang aspek beliau sebagai manusia yang banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah). Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya (Ulil Haidar Bagir) mempunyai perbedaan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul menghadapi banyak keterbatasan. Rasul berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual.”

Tidak sulit untuk memahami pandangan Ulil mengenai belum selesainya-bahkan mungkin, baru bersifat awal-hasil pekerjaan Rasul Muhammad SAW. Selanjutnya merupakan tugas penerus Rasul, termasuk ulama dan intelektual, untuk membawa kehidupan pada tujuan penciptaan dengan upaya-upaya ijtihad mereka. Juga mudah dimengerti, karya Rasul merupakan “hasil maksimal” dari negosiasi antara nilai-nilai ideal Islam yang dibawa dengan kenyataan masyarakat Arab di masanya. Karena itu, bersifat historis dan-setidaknya sampai batas tertentu-bersifat partikular dan kontekstual.

Namun, menisbahkannya ketaksempurnaan itu kepada kekurangan-kekurangan sang Rasul saya kira membutuhkan suatu penjelasan. Dalam sejarah pemikiran Islam, sudah merupakan pandangan mainstream  ulama Sunni, dalam kesempatan tertentu Rasul ditegur atau diluruskan oleh Allah. Juga, Rasul disebut-sebut sebagai mengakui kekurangannya sendiri seraya menunjuk orang sebagai lebih tahu darinya dalam hal-hal duniawi (antum a lamuu bi umuuri dunyakum). Tetapi, tak satu pun di antara para ulama itu, sependek pengetahuan saya, yang berpendapat, Rasul bisa salah dalam menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan. Al Quran secara eksplisit menyatakan hal ini dengan menyebutnya sebagai “tak berkata-kata dari hawa-nafsunya” dan bahwa semua yang disampaikannya dalam hal ini “tak lain adalah wahyu yang diturunkan.” Bahkan, dalam memastikan makna ini, para penafsir bersusah-payah dalam membedakan peran Rasul sebagai-menggunakan istilah Al Quran sendiri-basyar (manusia secara biologis) yang bisa salah dan perannya sebagai Rasul yang ma shum (infallible).

Saya percaya Ulil cukup resourceful melakukan tugas ini. Bila tidak, saya khawatir pikiran-pikiran yang diungkapkan secara provokatif dan off hand seperti ini tak akan mendapat apresiasi selayaknya. Bukan menyuburkan iklim dialog produktif, namun jangan-jangan mengentalkan sikap penolakan a priori atas upaya pembaruan pemikiran Islam, bila tidak malah memancing konfrontasi yang tidak perlu.

Haidar Bagir, Direktur Utama Penerbit Mizan dan Kandidat Doktor di bidang Filsafat Islam

4

Agama Islam Beku, Akal Terus Berkembang

Oleh Fauzan Al-Anzhari

DALAM seminar di Riyadh (22 Maret 1972, yang diselenggarakan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KAS), hadir sejumlah cendekiawan dan ahli hukum Barat yang tertarik menyelidiki pelaksanaan syariat Islam hak asasi manusia dari tangan pertama.

Pertemuan ilmiah pertama dilakukan di Riyadh, lalu di Vatikan, terakhir di Strassbourg. Seminar diikuti delegasi KAS, dan ahli-ahli hukum beberapa negara Eropa.

Dalam seminar itu banyak pertanyaan dari delegasi Eropa, di antara undang-undang dasar, undang-undang perdata, pidana, dan sebagainya harus didasarkan pada Al Quran. Ini patut dipelajari dan dipikirkan kembali, karena kehidupan selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Menurut mereka, bukan untuk kepentingan Islam bila semua bentuk hukum diatur berdasar Al Quran, karena hal itu dapat merusak Al Quran sendiri, karena kehidupan berkembang dan kondisi telah berubah.

Kedua, mereka menanyakan hukuman hudud (potong tangan dan rajam) yang tidak boleh diamandemen oleh akal manusia, sehebat apapun dia.

Delegasi KAS menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menjelaskan dimensi-dimensinya sesuai pesan Al Quran, “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik!” (QS An-Nahl/16:125).

Jawaban untuk masalah pertama, yaitu berpegang teguhnya kaum muslimin kepada Al Quran dalam membentuk segala hukum positif mereka dianggap akan merusak Al Quran sendiri. Ketika diselenggarakan Pekan Fiqh Islam di Paris tahun 1951, yang dihadiri para ahli ilmu hukum dari berbagai universitas di dunia, di antara peserta ada yang mengemukakan persoalan berikut.

Agama tidak akan dapat mempertahankan kesuciannya bila agama itu tidak senantiasa seperti sebagaimana adanya menurut pendapat para pengikutnya, meski masa kedatangan agama telah lama. Agama seharusnya tidak berubah dan tidak berkembang, alias beku. Bila agama berubah dan berkembang, ia kehilangan tempatnya yang mulia dan kesuciannya. Karena itu, tiap kitab suci yang dimiliki agama manapun harus beku, tidak berubah. Kalau begitu, bagaimana mungkin membangun sistem hukum positif atas dasar kitab suci, karena hukum itu selalu berkembang sesuai perkembangan zaman?

Harus diakui, saat itu hukum agama akan mendapat sifat kebekuan, karena segala sesuatu yang dibangun atas dasar kebekuan pasti beku pula. Inilah yang mengkhawatirkan Ulil Abshar Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) yang galau melihat meningkatnya semangat umat Islam menerapkan syariat Islam di seluruh aspek kehidupan.

Ulil menawarkan “pemahaman yang segar”, Islam harus dipandang sebagai “proses” yang tak pernah selesai. Tawarannya diturunkan dalam opini Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam (Kompas, 18/11). Alasannya, kenyataan di mana kehidupan dan kebutuhan selalu berubah dan berkembang. Karena itu, agama harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia. Sehingga QS Ali Imran/3:19 yang artinya “Sesungguhnya agama (yang diridoi) di sisi Allah hanya Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab (maksudnya Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran), kecuali setelah datang pengetahuan (wahyu ini) kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa kafir (menolak) ayat-ayat Allah, maka sebenarnya Allah amat cepat hisab-Nya” harus diartikan lain menurut versinya menjadi “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesaimenuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).” Konsekuensinya, wahyu tidak boleh dianggap tuntas. Ayat alyauma akmaltu& ” (QS Al Maidah/5:3), wahyu penutup Al Quran sebagai bukti kesempurnaan agama Islam terpaksa diabaikan.

Secara keseluruhan saya memahami pemikirannya, juga komunitas JIL sesuai prinsip gagasan Islam liberal yang ditulis Greg Barton (1999) yaitu 1) pentingnya kontekstualisasi jihad; 2) Komitmen atas rasionalitas dan pembaruan; 3) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama; 4) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.

Para tokoh seniornya di Indonesia: Cak Nur, Gus Dur, Djohan Effendi, dan (alm) Ahmad Wahib. Dengan dana unlimited dari The Asia Foundation, ide-ide kelompok JIL mampu terus menghiasi media massa. Hampir seluruh media publik memberi akses tak terbatas kepada kelompok ini guna memasarkan ide-idenya. Sayang, gagasan-gagasan yang dijual, menurut saya, tidak lagi segar karena komoditasnya “barang lama yang dikemas ulang”.

MUNCULNYA pertanyaan pertama lebih karena kesalahpahaman mereka atas pengertian agama. Setiap bertemu Ulil di forum diskusi (tiga kali) ia selalu mengatakan, agama adalah masalah pribadi (privat), bukan publik, sehingga negara tidak berhak “mengatur” agama seseorang. Realitasnya Pemerintah Indonesia telah memformalkan UU Zakat, Haji, Perbankan Syariah dan sebagainya. How do you mind? Dalam La Grande Encyclopaedia des Sciences, des Letters et des Arts misalnya, memuat kata-kata “agama”. Di situ disebutkan ada seratus definisi agama, sembilan puluh delapan darinya dianggap tidak ilmiah.

Oleh karena itu, yang dipegang hanya dua definisi: 1) agama adalah cara manusia merealisir hubungannya dengan kekuatan gaib yang maha tinggi. 2) Agama mencakup segala sesuatu yang dikenal dan segala kekuasaan yang tidak sesuai ilmu pengetahuan.

Islam jelas beda pendapat dengan pengertian pertama, karena mencakup segala sesuatu yang diketahui, yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang maha tinggi, juga hubungan manusia dengan manusia. Islam juga beda pendapat dengan definisi kedua, karena Al Quran berkata, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran/3:190). Maksudnya, agama dalam Al Quran adalah segala sesuatu yang sesuai dengan ilmu pengetahuan, otak, dan pemikiran.

Orang-orang yang mengajar pengertian agama kepada orang Islam hanyalah mereka yang punya pengetahuan, menggunakan otak dan kaum pemikir. Karena itu, tidak aneh bila umat Islam merasa wajib menegakkan tiap hukum positif bersumber dari syariat Islam atas dasar Al Quran dan sunnah Rasul yang telah memberi pengertian tentang agama

Beberapa ulama, seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Di mana ada kemaslahatan dan kepentingan umum, di sanalah terdapatnya syariat.” Juga yang dikatakan Ibnu Uqail, lanjutan dari apa yang tersebut tadi, “walaupun dalam hal itu tidak ada wahyu dari Tuhan dan juga tidak pernah dikatakan oleh Nabi.”

Demikianlah agama Islam yang syariatnya bersesuaian dengan ilmu pengetahuan, akal, dan pemikiran, tentu sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang selalu berubah. Agama Islam sanggup memberi jawaban, berdasar maslahat dan kepentingan umum, terhadap persoalan hukum, konstitusi, perdata, pidana, perkawinan, waris, dan sebagainya, meski dalam hal itu tidak ada teksnya (nash-nya).

Sayang, Ulil tidak bisa membedakan mana hudud, mana tazir, sehingga ia ingin mengamandemen seluruh “hukum Allah” dengan mengatasnamakan kemaslahatan manusia. Padahal, Allah lebih tahu. Itu tidak berarti Allah butuh manusia, tetapi sebagai bukti Allah mencintai ciptaanNya. Sayang, kebanyakan manusia tak tahu diri akan kelamahan akal mereka.

Fauzan Al-Anshari MM, Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin
5

Catatan Terhadap Pemikiran Tokoh Islam Liberal

Setelah sebulan enam hari Bom Bali, Harian KOMPAS menurunkan tulisan Ulil Abshar Abdalla yang berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” (KOMPAS, 18/11/2002). Tulisan itu merupakan “Bom” pemikiran yang “diledakkan” mengiringi Bom Bali. Tanggapan pun kemudian muncul dari banyak pihak.

Yang diangkat Ulil Abshar dalam tulisan tersebut, sebagaimana dikatakannya, adalah “Mempersoalkan cara menafasirkan agama”, yang katanya sebagai “Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam”. Alasannya, ia melihat adanya “kecenderungan untuk memonumenkan Islam amat menonjol saat ini” atau menjadikan Islam sebagai “agama fosil”. Sementara ia sendiri meletakkan Islam sebagai “organisme” yang hidup atau sebuah agama yang berkembang.

Untuk menuju ke arah itu, kata Ulil, diperlukan beberapa hal.

1. Penafsiran Islam secara nonliteral, substansial, kontekstual, dan sesuai dengan peradaban yang terus berubah.

2. Memisahkan unsur budaya setempat (Arab) dengan nilai fundamental.

Akan tetapi, setelah dicermati, ternyata Ulil tidak lagi berbicara bagaimana menyegarkan pemahaman agama atau cara menafsirkan ajaran Islam. Pembicaraan lebih pada sikap dan pandangannya pada Islam. Karena itu kemudian melahirkan dalam uraian berikutnya banyak kerancuan (hampir tiap bagian, untuk tidak mengatakan tiap paragraf) dalam tulisan tersebut.

Sesuai dengan “tantangan”nya untuk menanggapi disertai dengan alsan (SABILI, Des 2002), maka penulis tertarik untuk memberikan beberapa catatan, tetapi terus terang, seenarnya penulis merasa kerepotan untuk menanggapi. Bukan karena hebatnya gagasan dan kuatnya argumen, akan tetapi karena inkonsistensi dan kesemerawutan jalan pikirannya, di samping banyaknya kata/kalimat bersayap. Sehubungan dengan itu, tulisan ini bukan untuk membantah, tetapi sekedar menunjukkan kekeliruan atau keblingerannya. Sebab, jika seorang mempunyai pandangan, penilaian, dan sikap yang keliru, apapun yang terlahir dari pikirannya itu pasti akan keliru juga. Kalau betul, cuma kebetulan.

Penulis mengharapkan uraian ini dapat menjadi balance. Kalau bisa sekaligus sebagai taushiyah buat Ulil. Semoga Allah menunjuki Ulil dan menjadikannya sebagai pejuang Islam yang Tidak Sekedar cara Menafsirkan.

Dengan jelas Ulil, dalam tulisannya, mengajak untuk “Menyegarkan kembali pemahaman Islam”. Namun ternyata tidak demikian. Ulil, dalam uraiannya, justru menyatakan “sikap”, ‘pandangan”, dan “penilaian”nya terhadap Islam. Kemudian ia mengusulkan merombak Islam. Sama sekali ia tidak berbicara bagaiamana menafsirkan ajaran Islam. Pertama, kata-katanya yang diulang-ulang (dengan sedikit perbedaan redaksi), seperti : “Menurut sya, tidak ada yang disebut hukum Tuhan, yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan. Ia menegaskan dengan kata-kata : “Jangan dilupakan : “Tak ada hukum tuhan, yang ada adalah Sunnah Tuhan”. (Simak juga perbedaan antara “functional meaning” dengan “intentional Meaning” seperti dari Zainuddin Ahmad MA dalam “Filsafah Audio-Visual Communication”, Majalah ADMINISTRASI NEGARA, No.8-9, Tahun IV, Agust-Sept 1962, hal 224 – asrir).

Kalau seandainya saja Ulil membaca dan tidak membuang ayat alQur:an, pastilah ia akan menemukan ayat-ayat tentang hukum Tuhan, seperti ayat 50 QS alMaidah, atau ayat 40 QS Yusuf. Kalau ia mengetahui ayat-ayat tersebut, tentunya tidak akan mengatakan berulang-ulang bahwa hukum Tuhan tidak ada. Kecuali ia mengartikan atau menafsirkan hukma dengan “kepantasan umum’ atau “tempe goreng”, baru tidak ada hukum Tuhan. (atau Ulil sengaja pura-pura tak menemukan ayat tersebut, atau ia menggunakan “functional meaning” otaknya dan meninggalkan “intentional maning” Qur:an – asrir).

Dengan menghilangkan hukum Tuhan seperti itu, maka Ulil tidak bericara tentang bagaimana menyegarkan pemahaman terhadap Islam, bukan bagaimana cara menafsirkan Islam. Ia sesungguhnya telah mempreteli ayat-ayat Allah dalam AlQur:an, mempersempit Islam dan menyudutkan Islam ke pojok yang pengap. Sejarah akan mencatat, Ulil akan gagal total jika tidak bertaubat nashuha. Mungkin Ulil termasuk dalam apa yang disinyalir dalam bagian akhir ayat 40 QS Yusuf, yang artinya “akan tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahui”.

Kedua, kesamaan agama. Rupanya Ulil lupa kalau ada ayat QS AlKafirun yang menjelaskan, bahwa kemusyrikan dan kekafiran pun termasuk sebagai diin (agama). Islam secara substansial mengajarkan monotheisme (tauhidullah), sedangkan kemusyrikan mengajarkan politheisme, dan kekafiran mengajarkan atheisme. Kalau Ulil menggunakan akal sehat, tak akan mungkin mengatakan bahwa semua agama (diin) itu benar.

Mengingkari Metode Ilmiah

Ulil melakukan penafsiran non-literal (ngawur). Tidak menggunakan referensi, maraji’, literatur Islam yang bersumber dari AlQur:an dan Sunnah rasul. Akibatnya ia jatuh pada cara yang tidak ilmiah. Subjektif (su:uz zhaan? – asrir), tidak objetif.

AdDiin (dalam ayat 19 QS Ali Imran) ditafsirkan Ulil (sesuai dengan “functional meaning” otaknya – asrir) “jalan religiutas yang benar” dan AlIslam ditafsirkannya “proses yang tak pernah selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Besar)”. Ia lupa atau tidak tahu (tidak mau tahu) bahwa lafal kata itu lengkapnya adalah AlIslam, bukan Islam saja. AlIslam adalah sebuah nama, bukan istilah (term). Setiap menyebut atau membicaakan Islam sebagai agama, AlQur:an selalu menggunakan al (alif lam) dal lengkapnya AlIslam (misalnya dalam QS Ali Imran 3:19, dan QS AlMaaidah 5:3).

Kegerahan dan Provokasi

Tulisan Ulil tersebut merefleksikan beberapa sikapnya.

Pertama, ada kegerahan yang akut. Mungkin usahanya melakukan liberalisasi Islam kurang segera berhasil, sementara iaa melihat (secara berlebihan) adanya salah satu kecenderungan sebagian (kecil) umat Islam yang ingin menegakkan syari’ah Islam. Ia sewot, lantas mengklaimnya bahwa mereka memonumenkan Islam dan menjadikannya sebagai “agama fosil”.

Orang yang memahami syari’ah Islam bersifat lengkap dan ingin menegakkan syari’ah dikatakannya sebagai tidak berdaya, tidak rasional, kolot dan dogmatis. Orang yang ingin menjadikan Islam sebagai solusi dikatakannya sebagai kemalasan berpikir dan eskapisme.

Kedua, sebagai lanjutan dari kegerahan akutnya tersebut, ia cenderung provokatif. Ini terlihat dari kata-katanya seperti “tidak usah diikuti”.

Setiap orang sesungguhnya mempunyai kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan dan agamanya sendiri, bebas untuk ikut budaya manapun sesuai dngan selera dan “kepantasan” masing-masing. Anehnya, Ulil menganut paham liberal, tetapi sikapnya tidak demokratis, tidak mencerminkan label “liberal” yang disandangnya. Ia ngata-ngataian orang seenaknya. Ia mau liberal hanya untuk dirinya sendiri. Sungguh ironis dan tidak adil.

Tuan makan Senjata

Dalam pemahaman agama dan penafsiran agama (Islam) Ulil maunya tanpa referensi (dalam bahasa dia non-literal). Anenya, karena harus menyebut “Nabi”nya, ia ternyata menggunakan referensi. Ia mengutip kata-kata Nurcholis madjid. Ia menulis “Islam seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikiran lain …”.

Kaidah penafsiran yang ditetapkannya, yakni non-literal dianggapnya sendiri, di”caplok”nya sendiri. Rupanya sulit untuk konsisten. Tuan makan senjata.

Ulil mati-matian mengatakan bahwa “tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah Sunnah Tuhan”. Namun, ketika mengusulkan penyelesaian masalah kemanusiaan, ia mengatakan “…harus merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah sendiri dalam setiap bidang masalah”. Katanya hukum Tuhan tidak ada, tetapi ia merujuk pada hukum Tuhan. Katanya, yang ada sunnah Tuhan, tetapi ia merujuk pada hukum atau sunnah Tuhan. Sungguh tak logis.

Gegabah dan Sembrono

Ulil mengatakan bahwa “Jalan satu-satunya untuk menuju kemajuan Islam” adalah dengan “mempersoalkan cara menafsirkan agama”. Logikanya, kalau Ulil sudah ribut bin sibuk mempersoalkan cara menafsirkan agama, sebagaimana dalam tulisannya itu, Islam akan maju. Kalau sudah membuat penafsiran baru sak karepe dhewe (sesukanya sendiri), Islam akan maju. Sungguh tak logis sama sekali. Hanya orang-orang yang tidak waras (irrasional – asrir) saja yang akan menerima cara memahami atau menafsirkan Islam ala Ulil dan konco-konconya di Jaringan Islam Liberal, seprti yang diusulkannya itu, yang katanya “satu-satunya jalan”. (tafsiran manipulatif – asrir)

Khatimah

Sebenarnya ulil tidak sedang mengajak menyegarkan kembali pemahaman Islam, tetapi malah mengajak memporakporandakan Islam. Apa yang dikatakan oleh Ulil dengan JILnya itu, tidak lain hanayalah merusak Islam dari dalam. Pihak lain memburukkan citra Islam dan ummatnya dengan bom, maka Ulil dan kawan-kawannya memburukkan citra Islam dengan “bom pemikiran”. Se,oga Allah menunjuki orang-orang yang dikehendakiNya dan melaknat orang-orang yang zhalim. Semoga keselamtan atas orang yang mengikuti petunjuk. (Abu ‘Azmi ‘Azizah AlMuslim, Lisanmalam, Surabaya : “Catatan Terhadap Pemikiran Tokoh Islam Liberal”, dalam Lembaran Dakwah USWATN HASANAH, Np.759/Th.XV, 2 Mei 2003).

6
Sekularisme acuan Islam Liberal
Sekularisme bisa saja mengakui agama, tapi perannya dipersempit pada persoalan-persoalan indivvidu (ritual) dan moral. Agama tidak boleh campur tangan dalam ihwal politik, ekonomi, pendidikan, dan persoalan-persoalan publik lainnya. Kalaupun ingin berperan, agama hanya sebatas memberikan nilai-nilai (value) yang universal seperti keadilan, persamaan, kerja keras, atau sebatas moral (etik) seperti kejujuran, keterbukaan, dan sebagainya. Namun agama tidak boleh diformulasikan dalam bentuk-bentuk aturan (laws) (SABILI, No.5, Th.VII, 25 Agustus 1999, hal 40, Takwin : “Bahaya Sekularisme”). Sekularisme menempatkan Islam hanya urusan ibadah. Islam tidak memiliki kaitan dengan masalah yang bersifat keduniaan. Islam tidak memiliki tautan apapun dengan politik. Islam tidak memiliki syari’at yang mengatur masalah harta maupun masyarakat. Islam tidak memiliki ajaran tentang jihad. Semuanya itu adalah urusan duniawi, dan bukan urusan ibadah yang diatur oleh Islam. Demikian ditanamkan dari teori politik Ali Abdul Raziq (Dr Dhyiya:ad-Din ar-Rais : “Islam dan Khilafah”, 1985:191). Sekularisme menempatkan Islam hanaya sekedar nilai. Islam itu hanya sebatas hakikat, sebatas nilai. Menggali esensi, jiwa, semangat, nilai-nilai syahadat, shalat, shaum, zakat, haji, qurban, jihad, dan lain-lain. Sedangkan bentuk, wujud, format, kaifiat dari syahadat, shalat, shaum, zakat, haji, qurban, jihad, dan lain-lain itu terserah selera masing-masing sesuai dengan perkembangan zaman. Dan akhirnya Islam tinggal hanya sekedar nama. Sekularisme menempatkan harakah dakwah tanpa harakah siasah. Berupaya amenyesuaikan kehidupan umat Islam dengan perubahan zaman. Memisahkan Islam dari negara dalam suatu pemerintahan. Memisahkan gerakan dakwah dari aktivitas politik. “Qur:an tak pernah memerintahkan agar negara diatur, ditata oleh Islam”. “Islam hanyalah dakwah diniyah. Semata-mata mengatur hubuangan manusia dengan Tuhan. Tak ada hubuangan apa-apa dengan masalah keduniaan, seperti urusan peperangan dan urusan politik”. “Agama adalah satu hal, dan politik adalah satu hal yang lain”. Demikian, antara lain yang dimamah dari teori politik Ali Abdul Raziq (idem). Sekularisme jadi acuan Islam Liberal, Islam Kontekstual, Islam Rasional. Luthfi Asysyaukanie, Dosen Universtias Paramadina dari kalangan Islam Liberal, dalam tulisannya “Pendidikan Agama Melalui Pelajaran Umum” mengemukakan bahwa dengan sistem edukasi sekuler, dengan menjadikan sekularisme sebagai ruh kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sebagai sumber moralitas dan kebajikan, masyarakat Barat hidup amat teratur, bersih, tidak korup, dan menghargai sesama. Katanya “Ada baiknya kita mengacu kepada pengalaman yang jelas-jelas sudaha berhasil dalam masalah ini, yakni sistem edukasi yang dilakukan sekolah-sekolah di Barat. Di negara-neara dimana sekularisme menjadi salah satu ruh kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sumber moralitas dan kebajikan tidak dibatasnya hanya pada agama. Tetapi ia inheren ada pada semua lembaga sosial dan keilmuan non-agama”. “Dengan kondisi seperti itu, agama menempati posisi pinggiran dalam dunia pendidikan, toh, secara umum, masyarakat Barat hidup dengan amat teratur, bersih, tidak korup, dan menghargai sesama. Setidaknya jauh lebih baik jika dibanding negara-negara Muslim yang mengklaim menjunjung tinggi nilai-nilai agama, tetapi hampir semua aspek kehidupan yang dijalankannya bertentangan dengan nilai-nilai itu (KOMPAS, Sabtu, 15 Maret 2003, hal 4,5). Berangkat dari alur dan pola pikir demikian, seyogianya Luthfi Asysyaukanie menulis artikel “Tak Perlu Pendidikan Agama”. Dengan menggunakan ukuran-ukurabn sekularisme, maka masyarakat sekuler, masyarakat modern yang membenarkan kumpul kebo, SBM (sex befor mariage), barganti pasangan, berWIL (wanita idaman lain), berPIl (pria idaman lain), sodomi, lesbianisme, pornografi, striptis, diskotik, suap, sogok, spekulasi, manipulasi, penindasan (seperti yang telanjang dilakukan trio Amerika Serikat, Inggeris, Australia terhadap Irak) adalah masyarakat teratur, bersih, menghormati sesama manusia, adalah masyarakat terhormat. Baik secara implisit, maupun secara eksplisit, Luthfi Asysyaukanie ingin menegaskan bahwa dengan sistim edukasi Islami, dengan menjadikan Islam sebagai ruh kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sebagai sumber moralitas dan kebajikan, maka masyarakat Muslim hidup dalam kekacauan (tak teratur), jorok (tak bersih), korup, barbar (tak menghormati kemanusiaan). Menyimak alur dan pola pikir Luthfi Asysyaukanie tersebut, terlintas kekecewaan Prof Dr HM Rasyidi atas “pengalaman pribadi” Prof Dr Harun Nasustion yang begitu mudah (tanpa kritis) menerima anggapan bahwa orang Nasrani umumnya berkelakuan baik, berpengetahuan tinggi dan menghargai kebersihan, sedang umat Islam pada umumnya kurang dapat dipercayai, bodoh-bodoh dan tidak tahu kebersihan (ALMUSLIMUN, No.189, Desember 1985, hal 80, “Koreksi Terhadao Prof Dr Harun Nasution”.
7

Antara Islam Liberal dan Ikhwanus Shafa

Islam Liberal, Pantau Komunitas, Komunitas Utan Kayu mempunyai beragam kegiatan, antara lain berupa ISAI, Radio 68H, Jaringan Islam Liberal, Teater Utan Kayu, Jurnal Kebudayaan KALAM, Toko Buku KALAM, galeri LONTAR, Majalah PANTAU (REPUBLIKA, Jun’at, 14 Feburari 2003, hal 11, Nasional : “Majalah PANTAU Berhenti Terbit”).

Sebagai wadah, Islam Liberal barangkali dapat diacukan kepada perkumpulan Ikhwanus Shafa. Tapi dari segi bobot akademik, sama sekali tak dapat diacukan kepada perkumpulan Ikhwanus Shafa trsebut.

Ikhwanus Shafa (Saudara Kesucian) adalah suatu perkumpulan para cendekiawan. Muslim dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Perkumpulan itu muncul di Basharah pada abad ke-10 Masehi di masa Al-Farabi. Penggeraknya adalah para ahli filsafat di kala itu, seperti : Al-Muqaddasi, Al-‘Aufi, Zaid bin Rifa’ah, dan lain-lain. Anggota perkumpulan itu membahas, mengupas dan memprbincangkan segalam macam ilmu pengetahuan, seperti : Matematika, Fisika, Psikologi, Teologi, Metafiska, Etika, Kosmologi, Logika, Filsafat, Tasauf, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk memahami ajaran Islam yang asli, untuk mendapat keridhaan Allah atas semua amal usaya yang dikerjakan. Mereka tak terikat dengan satu aliran, satu madzhab. Semuanya mendapat kesempatan untuk berijtihad tenang keislaman yang rasional. Mereka menolak fanatisme terhadap satu aliran, satu madzhab. Mereka itu berakhlak baik (Husein Bahreisy : “Himpunan Pengetahuan Islam”, Al-Ikhlas, Surabaya, 1980:86, M.Natsir : “Ichwanoes-Shafaa’”, ALMANAR, No.I, hal 21-28, Pemandangan Oemoem).

8

Ide Pemisahan Negara Dari Agama

Ide pemisahan negara dari agama bukanlah lahir dari Islam. Watak Islam tidak mengenal model semacam itu (Sayid Quthub : “Keadilan Sosial Dalam Islam”, Pustaka, Bandung, 1994, hal 3, Pandangan Islam Tentang Agama Dan Masyarakat”). Ide pemisahan negara dari agama biasanya dikaitkan pada ajaran Kristen yang tercantum dalam Perjanjian Baru, Matius 22:21 yang berbunyi : “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah (“Alkitab”, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1984, Perjanjian Baru, hal 32, “Tentang Membayar Pajak Kepada Kaisar”).

Ajaran Kristen memang tak memuat tata-aturan hidup bersama, hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Agama hanya urusan pribadi dengan Tuhan. Negara tak perlu campur. Negara Agama hanya membuat manusia menjadi munafik. RENDER UNTO CAESAR WHAT IS CAESAR’S, RENDER UNTO GOD WHAT IS GOD’S. Yesus sebenarnya datang melengkapi hukum Taurat.

Syeikh Ali Abdul Raziq menggunakan Matius 22:21 “Berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”, sebagai salah satu rujukan teori politiknya “Islam and the Principles of Government” (“AlIslam wa Ushul AlHukm”, Qahirah, 1925) (Dr Dhiya AdDin ArRais : “Islam Dan Khilafah”, Pustaka, Bandung, 1985, hal 147).

Ali Abdul Raziq (1888-1966) menggunakan jalur agama untuk mengerahkan nasionalisasi. Dalam bukunya “Khilafah Dan Pemerintahana Dalam Islam” itu, Ali Abdul Raziq melancarkan propaganda menentang adanya khilafah dan mengajak agar umat Islam mengambil sekularisme dan nasionalisme (Maryam Jameelah : “Islam Dan Modernisme”, AlIkhlas, Surabaya, 1982, hal 202).

Untuk sampai kesini disusunlah teori politik, bahwa Islam itu sendiri mutlak tidak ada hubungannya dengan negara, bahwa tidak ada sedikitpun kaitan antara Islam dengan masalah kekhilafahan. Kekhilafahan Islam yang muncul dalam sejarah, menurut Ali Abdul Raziq bukanlah bercorak Islam (keagamaan), melainkan merupakan kerajaan Arab (kerajaan duniawi). Dalam kaitan ini Ali Abdul Raziq mengutipkan Matius 22:21 (Dr Dhiya AdDin ArRais : “Islam Dan Khilafah”, Pustaka, Bandung, 1985, hal 35).

Muara dari Ide Pemisahan Negara dari Agama adalah Deislamisasi, peminggiran, penyingkiran syari’at Islam dari mu’amalah (sosial, kultural, ekonomi, hukum, politik, militer, dan lain-lain). Di Indonesia marak aksi-aksi menetang penerapan syari’at Islam. Di Iran juga marak aksi-aksi menentang penerapan syari’at Islam.

Aktivitas Deislamisasi mencakup sinkritisasi (talbis), mempersatukan agama-agama yang ada di dunia (religious syncretism is the fusion of diverse religious beliefs and practices). Salah satu bentuk sinkretisme adalah Pancasila, yang mempersatukan Islam, Nasionalis/Sekularis, sosialis/Komunis. Sinkretisme menyatu dengan sekularisme.

Menurut versi Muhammad Imarah, pada akhir abad ke-18 Jamaluddin alAfghani ikut memarakkan gerakan pernyatuaan agama-agama samawiyah. Ia antara lain berucap : “Sesungguhnya tiga agama yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam mempunyai dasar dan tujuan yang sama. Apabila salah satu di antara ketiganya punya kekurangan di dalam penerapan ajaran kebaikan, maka dapat disempurnakan oleh yang lain. Karena itu saya berharap agar penganaut tiga agama tersebut bersatu padu” (“Musykilat Dalam NU”, hal 60).

Akhir-akhir ini di Indonesia, kegiatan yang cenderung sinkretis sering dilakukan. Antara lain oleh Dr Said Aqiel Siraj, Gus Dur dan pengikutnya. Pendapatnya tidak jauh berbeda dengan tokoh sinkretisme Dr Mohammad Imarah (pengarang buku “Ghazwun min ad Dakhil”) dan Dr Rifa’ah atThahthawi (Luthfi Basori : “Perkuat Keimanan Islam”, dalam “Musykilat Dalam NU”, oleh FNKS (Forum Nahdhiyin untuk Kajian Strategis).

Kalangan muda Nu lebih tergerak mempelajari karya-karya Mahmud Thaha dan Abdullah an Naim, tokoh pluralis Sudan yang menentang keras islamisasi pemerintahan (“The Second Message Of Islam”, 1988), dan bukan memilih hassan Turabi, tokoh penggerak islamisasi di Sudan. Juga mereka lebih tertarik gagasan Hassaan Hanafi (tokoh kiri Islam) katimbang pada pemikiran Islam fundamentalis, seperti Hassan alBanna, atau Sayid Quthub (A Dulmanan Amsar : “Demokrasi Berimplikasi Sekularisasi”, dalam REPUBLIKA, 30-7-1998).

Di Sudan, Ir Mahmud muhammad Thaha (1911) menentang keras penerapan hukum Islam. Ia dijatuhi hukum mati dengan tuduhan zindiq dengan menentang syari’at Islam. Ia mendirikan AlHizb AlJuhari Fi AsSudan (Partai Republik Sudan). Partai Republik Sudan ini menyerukan kebebasan mutlak, bebas berpikir, bebas berkata, bebas berbuat sebebasnya tanpa batas. Untuk mendukung seruannya ia memanipulasi ayat-ayat alQur:an dan alHadits. Ir mahmud Muhammad Thaha adalah lulusan Universty Khartum (Akademi Khartum monumental) pada tahun 1936 (WAMY : “Gerakan Keagamaan Dan Pemikiran”, 1995, hal 129-137).

Ada lagi Dr Hasan Hanafi, tokoh kiri Islam yang terang-terangan mengatakan bahwa hakikatnya agama itu tidak ada (Hasan Hnafi : “AtTurats wa AtTajdid”, hal 22). Dr Muhammad Imarah yang mengarang buku “Islam Dan Pluralitas”. Rafi’ah Thahthawi dan Khairuddin AtTunisi yang setelah belajar di Perancis menyebarkan ide-ide untuk memasyarakatkan dasar-dasar sekularisme rasional.

Semula pihak gereja melihat kekejaman yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan feodal yang mempermainkan hak milik serta memeras keringat dan tenaga budak-budak belian dan rakyat jelata. Dengan alasan hati kasih dan cinta dari Tuhan Bapa, pihak gereja mencoba masuk mencemplungkan kaki kekuasaan mereka ke dalam lapangan perekonomian di samping kekuasaan mereka di lapangan rohani dan kebatinan. Dengan alsan “Mission Sacree” (seruan suci dari Tuhan) mereka dapat menjinaki hati manusia untuk menyerahkan seluruh produksi kepada mereka untuk Tuhan Bapa (ZA Ahmad : “Dasar-Dasar Ekonomi Islam”, Antara, Djakarta, 1952, hal 31-32).

Kemudian tiba masanya, di mana gereja memiliki para penguasa negara, tentara, dan kekuasaan yang tdiak kalah besarnya dengan yang dipunyai oleh kerajaan-kerajaan. Terjadilah perbenturan antara gereja dengan kerajaan, antara para pastor dan penguasa. Biasanya gereja selalu berada di pihak yang kalah. Kemudian muncul konsensus antara dua kekuatan untuk menciptakan kebaikan bangsa dalam menguasai massa dan menghindarkan kehancuran (Sayid Quthub : “Keadilan Sosial Dalam Islam”, Pustaka, Bandung, hal 7).

Padahal semula gereja tak tertarik dengan masalah keduniaan, termasuk masalah hukum. Namun kemudian setelah masa Kaisar Constantin Agung (setelah abad ketiga) kaum gereja memegang tampuk kekuasaan negara yang dipengaruhi oleh nafsu keduniaan yang berlebihan. Paus, Kepala Gereja Katholik yang berkedudukan di Roma, kemudian sekaligus juga sebagai Kepala Negara yang memimpin politik kenegaraan. Seluruh penduduk Italia memberikan kepada paus kekuasaan yang sebesar-besarnya semenjak tahun 726. Dengan demikian Paus menempati suatu kedudukan yang tertinggi sekali, ia mengendalikan urusan keagamaan dan keduniaan sekaligus.

Paus itu mempunyai daerah kekuasaan yang luas sekali diatas dunia dan mereka mempunyai hak yang bisa buat mengangkat dan memberhentikan Raja-Raja di Eropah menurut kemauan mereka. Paus itu mempunyai tiga mahkota, satu diatas yang lainnya, untuk menunjukkan kesempurnaan dan kebesaran kekuasaannya. Di tangannya terletak perang atau damai, dan ia berhak membakar hidup-hidup orang yang menyalahinya, dengan api yang menyala-nyala.

Kekuasaan sewenang-wenang Paus ini sampai kepuncaknya dan kemudian mulai jatuh terguling sehingga hqancur sama sekali pada tahun 1871. Rakyat Italia menyerbu ke Ibukota kerajaan Paus dan merebut kekuasaan dari tangan Paus, sehingga Paus hanya tinggal menjadi Kepala Agama katholik semata-mata dan terkurung di dalam Gereja Roma di Vatikan (ZA Ahmad : “Dasar-Dasar Ekonomi Dalam Islam”, Antara, Djakarta, 1952, hal 35, dari “Tafsir Jawahir”, re S 9:34).

Pada masa Renaissance yang dipandang sebagai masa individualistis, masa kemajuan muncullah ide pembebasan dari berbagai ikatan-ikatan dan kewajiban lama. Agama kristen tak lagi menjadi dasar hidup, gereja bukan lagi satu-satunya tempat keselamatan manusia. Lambat laun orang kurang percaya akan agama, atau agama ditentangnya. Renaissance ialah masa kekuasaan, kesadaran, keberanian, kepandaian yang luar biasa, kebebasan. Acapkali semuanya itu tak ada batas-batasnya lagi dan kesusialaan diabaikan (Prof F Beerling : “Pertumbuhan Dunia Modern”, jilid I, hal 45).

Namun bagaimanapun, negara-negarqa Eropah masih saja mencantumkan agama dalam konstitusi negaranyaa, seperti negara Spanyol, Portugal (Katholik), Inggeris (Protestant Episcoal),s Norwegia, Swedia, Denmark, Eslandia, Finlandia (Luthern Evangelica) ( H Zainal Abidin Ahmad : “Miagam Nabi muhammad saw”, Bulan Bintang, jkarta, 1973, hal 173-178).

Peradaban Barat modern adalah suatu pemberontakan terhadap gereja Eropa yang korup, sehingga sekularisme, materialisme dan scientisme (keserba-ilmuan) mencengkam agama di negara-negara Barat. Terjadilah konflik antara Ilmu dan Kristianisme. Dalam konflik ini Kristianisme merupakan pihak yang kalah dan kekuatan yang menang adalah sekularisme yang kemudian menyebut Kristianisme dengan lonceng, buku dan lilin (Khurshid Ahmad : “Islam Lawan Fanatisme Dan Intoleransi”, Tintamas, Djakarta, 1968, hal 1-2, Bab I).

Ide pemisahan negara dari agama, sebenarnya berpangkal pada hawa nafsu yang menghendaki kebebasan mutlak, kebebasan sebebasnya tanpa batas. Bebas berfikir, berbuat, mendengar, melihat sessukanya (Simak QS 45:23-24). Tak mau diatur, dikendalikan oleh siapapun, baik oleh negara, apalagi oleh negara. Setidaknya negara tak boleh mencampuri apa yang disebutnya hak kebebasan pribadi. Islam dipandang (oleh hawa nafsu) sangat banyak membatasi kebebasan pribadi (wilayah priat). Oleh karena aitu agama diupayakan dengan sekuat tenaga agar tak ikut mengatur negara. Negara itu haruslah bebas dari agama.

Ide pemisahan negara dari agama mencakup pemisahan agama dan politik, pemisahan hak privat darn hak politik. Menghendaki kebebasan mutlak yang sebebas-bebasnya tanpa batas. Mengebiri, mengebiri, memasung, memandulkan, melumpuhkan Islam. Meredusir, mereduksi, membatasi hakikat dakwah, hakikat jihad. Menolak Islaam didakwahkan sebagai acuan alternatif. Menantang hak individu diintervensi, diatur oleh Islam. Mengusung ide pemisahan wilayah publik dan wilayah privat, bahwa agama adalah soal individu (bersifat pribadi), sedangkan soal publik adalah hak negara (SABILI, No.25, Th.IX, 13 Juni 2002, hal 81, “Melacak Jejak Liberal di Iaian”). Menolak Islam diterapkan secara formal. Menolak formalisasi/legalisasi ketentuan syari’at Islam kedalam peraturana perundangan sebagai hukum positip. Melakukan lebelisasi/stigmatisasi umat Islam dengan julukan seperti sekretarian, primordial, ekstrim, fundamentalisme, terorisme, dan lain-lain yang sejenis dan yang menyakitkan.

Penantangan terhadap agama (Islam) terdapat dalam setiap bidang kehidpan : politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, pendidikan. Dalam bidang pendidikan, agama ditolak sebagai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan hanya sebatas dalam kecerdasan (akal. Yang sudah berikrar mengucapkan syahadatain dan menyatakan bahwa “aku rela berTuhankan Allah, beragamakan Islam, bernabikan Muhammad saw”, maka seharusnya rela diatur oleh Islam. Tujuan pendidikan menurut Islam agar bebas dari adzab siksaan Allah (Simak QS 66:6). Sebaliknya tujuan pendidikan sekuler hanyalah agar mendapatkan kesenangan duniawi sebebasnya, seperti dilukiskan dalam QS 45:23-24). Yang ilmiah adalah yang aqliyah, banyak qala wa qila (kutipan pendapat manusia). Yang tak ilmiah adlah Naqliyah, yang mengutip wahyu.

Dikemukan bahwa Islam itu sangat menjungjung kebebasan tanpa menjelaskan kebebasan yang bagaimana yang dikehendaki Islam. Dikehendakimya kebebasan seebasnya tanpa batas. Untuk membebaskan diri dari ikatan Islam diupayakan dengan menggunakan pamndangan Islam sendiri. Kelihatannya sangat Islami, tetapi menolak formalisme syari’at islam, bahkan bisa benci Islam secara ideologis. Lahirnya dipermukaan tampak Islam, tetapi Islamnya hanya sampai di tenggorokannya. Terdapat hadits-hadits dari Abu AlKhudri tentang orang-orang Khawarij (yang keluar dari agama) yang menyiratkan, mengesankan suruhan/perintah untuk membunuh orang-orang yang mengaku Islam, tetapi punya pandangan anti Islam, menolak formalisasi syari’at Islam (Mohammad Fauzil Adhim : “Kupinang Engkau Dengan Hamdalah”, 2001, hal 113). Alergi, jijik, sinis terhadap syari’at islam.

Fundamentaalisme Islam diartikan menolak ajakan-ajakan pembaruan keagamaan dan gigih membela kemapanan (pro status quo). Memuja dan ingin mengembalikan kejayaan masa lalu, memahami ajaran agama secara rigid (kaku) dan literal (tekstual). Membawa kalim-klaim teologis yang subjektif, seperti “Islam adalah solusi (alternatif)”, “ajaran Islam sesuai dengan situasi dan kondisi”, ‘Islam adalah agama dan negara” (KOMPAS, Sabtu, 14 Juni 2003, hal 4, Rubrik Opini : “Islamisme Dan Fundamentalisme Islam”, oleh MG Romli).

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: