Menjadi Negara Islam

Date: 6 Sep 2000 21:43:47 -0700
To: asrirs@yahoo.com
From: jehidas@asiamail.com
Subject: Re: Menyoal ‘APA UNTUNGNYA MENJADI NEGARA ISLAM’, ‘KENAPA BEGITU TAKUT DENGAN NEGARA ISLAM’
Terima kasih atas posting anda, akhirnya saya bisa membaca semua attachment anda. Saya pikir, saya tidak pernah menyebutkan soal ketakutan menjadi negara Islam. Saya hanya mempertanyakan kenapa sekelompok orang begitu gigih untuk mewujudkan sebuah negara Islam dalam konsep bernegera setelah sekian banyak contoh kasus yang gagal dan tidak applicable menurut pandangan asas-asas universal manusia yang kita saksikan di dunia ini. Lihat saja contohnya di Afghanistan, Pakistan, dll. Lagipula kemajemukan penduduk di Indonesia, ide untuk menjadi negara islam bukanlah pemikiran yang agamais ataupun pemikiran yang bijak melainkan sebuah arogansi. Ijinkan saya mengomentari point-point yang ada majukan untuk memberi jawaban terhadap posting saya. 1 Negara Islam. Apa itu ? ASRIR : Negara Islam adalah negara yang masing-masing warganya berkewajiban melaksanakan ajaran agamanya. Yang Yahudi melaksanakan ajaran Taurat. Yang Nasrani melaksanakan ajaran Injil. Yang Islam melaksanakan ajaran Qur:an (Read : Terjemah Qur:an, Surah Ma:idah 5:66) JEHIDAS : Kalau konsep negara Islam adalah seperti yang tertulis di atas ini, lalu untuk apa disebut negara Islam? Ibarat kado bukankah lebih baik melihat bungkus yang buruk tetapi mempunyai isi yang menggembirakan daripada pembungkus yang indah tetapi isinya buruk?. Negara Islam adalah negara yang semua negaranya memiliki kemerdekaan, kebebasan manusiawi, yang dibatasi oleh norma-norma moral universal, bukan memiliki kebebasan hewani, bukan kebebasan serigala gila lapar yang kesurupan iblis. Masing-masing warganya bebas melaksanakan ajaran agamanya (idem, Ssurah Kafirun 109:6). Segala jenis kepercayaan, aliran dan fikiran dapat hidup dalam naungannya. Tindakan memaksa bukanlah wataknya (idem, Surah Baqarah 2:256). Islam menuntun manusia untuk jadi manusia dan tak tergelincir jadi hewan berupa manusia. Karenanya tak bebas melampiaskan nafsu syahwat hewaninya. JEHIDAS : Kebebasan yang seperti apa Sdr Asrir, bukankah persamaan hak pria dan wanita kurang dihargai di Islam? Lihat contohnya di Timur Tengah sana, perempuan hanya diberikan lingkungan kerja yang terbatas, lihat di Afganistan sana, perempuan ditindas. Kalau boleh tanya adalah agama lain yang mengajarkan nafsu hewani? Bahkan beristri lebih dari satu (menduakan istri) tidak diijinkan karena dengan alasan apapun setiap pembagian yang dilakukan oleh manusia biasa tidak akan pernah memberikan rasa keadilan yang hakiki. Ajaran Islam bagus tetapi kenyataan yang kita lihat sekarang seperti apa? Kalau ajaran agama hanya menjadi semacam propaganda untuk apa? Saya lebih tertarik menjadi humanis daripada mempropagandakan agama. Bagaimana saya sujud di bawah kebesaran Tuhan, biarlah itu menjadi urusan pribadi saya dengan Tuhan. Tidak perlu orang melihat saya berdoa, lebih baik saya disebut orang sebagai seorang atheis tetapi saya menyembah Tuhan saya daripada mengaku menjadi orang beragama tetapi menjalankan ritual agama hanya sebuah kemunafikan. Selayaknya urusan beragama (saya lebih suka menyebut ber-Tuhan) tidak perlu diatur-atur agama. Hanya negara yang dipimpin atau mayoritas berpenduduk Islam yang mengatur-atur urusan beragama penduduknya, sedang untuk negara non-Islam rakyatnya dibiarkan dewasa memilih cara bertuhan yang diyakininya atau bahkan tidak beragama, karena memang bertuhan itu adalah hak azasi manusia yang paling hakiki. Seharusnya tidak ada rasa ketakutan atau kecemasan yang berlebihan terhadap keimanan seseorang sehingga mengadakan pembatasan untuk tidak bisa konversi agama khusus untuk agama Islam (seperti yang terjadi di Malaysia). ASRIR : Negara Islam adalah negara yang semua warganya memiliki HAM yang sama, tanpa memandang perbedaan etnis, tradisi, agama, bahasa, budaya, tingkat sosial-ekonomi. Semua perbedaan dimanfa:atkan untuk saling mengarifi, saling memperhatikan (idem, Surah Hujurat 49:12). JEHIDAS : Ini perlu dibuktikan dengan contoh konkrit Sdr. Asrir, atau apakah Negara Islam yang dicita-citakan di Indonesia berbeda dengan negera Islam yang sudah ada? Makanya saya sebutkan, tidak perlu pembungkus kata-kata yang indah, yang penting adalah prakteknya. ASRIR : Negara Islam adalah negara yang semua warganya memiliki perasaan bersaudara sesama manusia, bukan perasaan “right or wrong my country”. JEHIDAS : Saya kurang memahami arti tulisan ini. Tetapi bukankah orang Islam selalu menyebutkan orang non-Islam sebagai orang kafir? ASRIR : Negara Islam adalah negara yang menegakkan kebenaran dan keadilan paripurna. Yang benar dinyatakan benar. Yang salah dinyatakan salah. Keadilan Islam meliputi semua warganegara (idem, Surah Taubah 9:6), tanpa pilih kasih, serta memperhatikan norma-norma moral universal. JEHIDAS : Semua ajaran agama juga seperti ini Sdr, tetapi kenapa penganut agama lain tidak pernah bercita-cita menjadi negara ini dan itu? Bagi mereka yang penting bukan sampulnya tetapi pelaksanaannya. ASRIR : Islam tidak mengenal terminologi ekstrim, radikal, fundamentalis, orthodoks, konservatif, moderat, inklusif, eksklusif. Terminologi tersebut asing bagi Islam. Terminologi tersebut memang akrab di kalangan Katholik dan Protestan. Islam sudah sangat kenyang dengan segala macam tudingan provokatif, yang dilontarkan oleh kalangan fanatisme anti Islam. Islam dituding tak toleran, taka demokratis, tak menghargai HAM, melecehkan perempuan, suka perang, dan lain-lain semacam itu. JEHIDAS : Tetapi dalam kenyataan sehari-hari apa yang kita lihat Sdr. Asrir? Dari golongan manakah teroris terbesar di dunia? Negara apakah Libya itu? Siapakah Abu Syayaff itu? Pasukan Jihad? DII/TII? 2 Di bawah naungan Islam. Bagaimana ? ASRIR : Di bawah naungan Islam, setiap orang (siapapun) bisa bekerja, berusaha sesuai menurut kemampuannya. Yang lebih dari keperluan-kebutuhannya dititipkan, ditabungkan dalam Baitulmal (Dana Kesejahteraan Umum) berupa wakaf, zakat, sedekah, infak. Fakir-miskin, gelandangan, pemulung, pengemis, pengamen, tuna karya, yang terlantar, yang terkena pehaka, yang banyak anak memperoleh jaminan hidup dari Baitulmal (Read : Terjemah Qur:an, Surah Taubah 9:60). Tak ada waswas, kawatir, takut akan kehilangan jaminan hidup bilamana sakit, kehilangan pekerjaan, kehilangan orangtua. JEHIDAS : Di negara bukan Islam-pun seperti ini ada Sdr. Lihat di USA, negara Eropah, Australia yang mayoritas penduduknya bukan Islam. Anda bisa bayangkan tidak apa yang terjadi jika semua orang Islam di ASIA hanya bisa sekolah di Timur Tengah sana. Jika saja tidak terjadi koloni Inggris (di Malaysia), Belanda (di Indonesia) mungkin kita akan masih tetap tinggal di jaman batu. Memang jalan Tuhan tidak selalu sesuai dengan pikiran manusia, kejadian pahit yang kita lihat dengan mata telanjang sering sekali kita vonis menjadi malapetaka (contohnya penjajahan itu yang mau tidak mau telah dicap oleh umat Islam sebagai penjajahannya umat Kristen), tetapi kita tidak pernah berpikir soal soal “blessing in disguise”. Kita terlalu suka hanya melihat ke belakang sehingga lupa memebenahi yang di hadapan kita. ASRIR : Ini realita, bukan utopia. Kepala Negara Madinah, Umar bin Khatab biasa membawa, mengantarkan, menyerahkan, mencukupi sendiri keperluan, kebutuhan warga yang terlantar. Pada masa pemerintahan Islam, Umar bin Abdul Aziz taak dijumpai warga yang terlantar yang memerlukan bantuan untuk mencukupi kebutuhannya. JEHIDAS : Di Amerika di Inggris juga tidak ada yang terlantar Sdr padahal Amerika bukan negara Islam. Jadi bukan karena Islam atau non Islamnya suatu negara saudara, tetapi tergantung kepada manusianya. ASRIR : Secara teoritis (wacana akademis) memang ada undang-undang tertulis bikinan manusia yang mencantumkan bahwa “Fakir-miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Tapi tak pernah dijumpai dalam praktek nyata. Baik komunis, kapitalis maupun ajaran lain tak pernah memberikan jaminan hidup kepada yang terkena pehaka, yang banyak anak. Malah yang banyak anak ditakut-takuti, diberikan gambaran suram akan masa depan anak-anaknya, dipojokkan, disudutkan sebagai beban pembangunan. Agar hidup tak terlantar, agar mendapat jaminan hidup, rasanya tak ada pilihan lain selain berada di bawah naungan Islam. JEHIDAS : Pertanyaan saya adalah yang menjadi pemimpin negara selama ini di Indonesia siapa? Kristen? Buddhist atau Hinduist? Kenapa slogan di atas tidak terlaksana? Salah siapa? Salah orangnya bukan salah agama orangnya. 3 Seruan Islam. Kemana ? ASRIR : Sejak Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad saw, bahkan sampai kiamat, seruan Islam tetap sama, tidak berubah (Read : Terjemah Qur:an, Surah Syura 42:13). Islam menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat jelek (idem, Surah Ali Imran 3:104). JEHIDAS : Saya pikir ini tidak berbeda dengan ajaran Bible, Veda atau Tripitaka. Jadi saya pikir bukan suatu keistimewaan, slogan tidak penting yang penting adalah pelaksanaan. Apa gunanya kita selalu menyerukan kita pencinta damai tetapi setiap hari yang terjadi adalah pembataian atas nama agama, what for? Lebih baik dicap sebagai pembunuhh tetapi tidak pernah membunuh daripada disebut manusia suci tetapi pembantai. ASRIR : Islam menyeru bahwa hanya Allah yang Tuhan. Tak ada Tuhan selain Allah. Allah itu Maha Esa. Jangan Tuhankan selain Allah (termasuk Ezer dan Yesus). Jangan bersujud, beribadah, berdoa, menyembah kepada selain Allah. Bersujud, beribadah, berdoa, menyembahlah hanya kepada Allah saja. Berpeganglah pada Hukum Allah sepanjang masa. Hormatilah ibu-bapa. Jangan membunuh, membantai, menumpahkan darah, menghilangkan nyawa. Jangan berzina, melacur, berbuat mesum, kumpul kebo. Jangan mencuri, merampas, menjarah milik sesama. Jangan berkata dusta, bersaksi palsu. (idem, Surah An:am 6:151-153, simak juga Exodus 20:1-21, Deutronomy 4:15-40, 5:6-21, 6:1-5). JEHIDAS : Jika orang Kristen menyembah Jesus adalah Tuhan, Firman Allah yang menjadi manusia, tidak boleh disalahkan dong sebagaimana orang Kristen memandang Muhammad sebagai nabi meskpiun itu tidak tertulis bahkan tidak dinubuatkan dalam Biblenya orang Kristen. Yesus adalah manusia, tetapi bukan manusia biasa yang penuh lumur dosa seperti anda dan saya. Juga Yesus tidak sama dengan Muhammad. Yesus itu suci, perbuatan dan keinginannya tidak dama dengan keinginan dan nafsu manusia biasa. Dia rela disalibkan untuk menebus dosa anda dan saya. Adakah orang di dunia yang mau mengorbankan nyawanya untuk orang lain? Bukan juga Nabi Muhammad. Yesus datang ke dunia tidak pernah mengajarkan manusia untuk mendirikan negara Yesus (atau negara Kristen) karena bagian Yesus adalah kerajaan sorga bukan kerajaan dunia. Tetapi dia tidak ingin manusia seperti anda dan saya mati dalam dosa sebagai akibat kehidupan dunia yang sudah penuh dosa sehingga dia datang ke dunia mengajarkan mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Meski dia tidak menikah dia tidak mengajarkan orang untuk tidak menikah, sebagaimana Muhammad membolehkan orang islam untuk menikah lebih dari sekali karena beliau juga mempunyai banyak istri. Yesus datang melengkapi hukum Taurat dan menyelamatkan umat manusia. Dia yang akan datang kembali pada akhir jaman untuk menghakimi saya dan anda. Lalu kenapa harus tidak mempercayai Yesus? Bukankah di dalam Qur’an (dalam Surah An-nisa) nama Yesus juga disebut?. Demikian pula Sidharta Gautama, dia mengajarkan kesederhanaan, kerendah-hatian, dan kebajikan lainnya tetapi dia tidak pernah menjanjikan keselamatan. 4 Wajah Islam. Bagaimana ? ASRIR : Wajah Islam itu penuh damai, cinta kasih. Melebihi yang lain. Siap dan mampu mengatur masyarakat majemuk/pluralistis. Sanggup mencarikan solusi masalah yang timbul. Bebas dan bersih dari tuduhan dan tudingan asosial, menolak keberadaan masyarakat yang pluralistis, ekspansif, memaksakan diri jadi penguasa (tak toleran, tak demokratis, tak menghargai HAM, melecehkan perempuan, sadis, suka perang, dan lain-lain tuduhan semacam itu). JEHIDAS : Seperti yang selalu saya sebutkan Sdr Asrir, hanya bukti nyata yang dapat membuat semuanya jelas sehingga menjadi sebuah kebenaran. Kenapa Islam dituduh seperti itu? Ini harus menjadi pertanyaan. Tidakmungkin ada asap kalau tidak ada api kan? Kenapa umat Islam (in particular in ASIA) menganggap Kristen itu sama dengan penjajah (asapnya) , apinya adalah karena dulu Belanda /Inggris/Portugis (dikenal sebagai kristen) datang menjajah ke ASIA. ASRIR : Memang Islam pada dirinya melekat amanat untuk tampil sebagai monoreligius unggul (Read : Terjemah Qur:an, Surah 9:33, 48:28, 61. Tiada lain Islam harus berpegang pada tuntunannya. Tapi meskipun demikian dakwah Islam bukanlah dilakukan dengan cara-cara paksaan, ekspansif, tetapi hanya dengan menunjukkan mana yang benar, dan mana yang sesat (idem, Surah 2:256, 18:29, simak juga KOMPAS, Kamis 23 Januari 1997, hal 14, “Jangan Jadikan Agama Terjebak Paqda Subyektivitas dan Asosial). JEHIDAS : Ketika saya secara sadar memilih cara Kristen untuk berTuhan, bukan karena keturunan (orangtua saya Kristen taat yang membolehkan anak-anaknya memilih agama sesuai dengan keyakinannya) maka saya mensyukuri Tuhan membimbing saya kepada cara yang saya yakini benar. Saya bisa mengasihi sesama tanpa memandang dia Kristen atau tidak. Anak-anak asuh saya kebetulan kebanyakan beragama Islam, bukan karena mereka islam sehingga saya menyekolahkan mereka, tetapi karena saya mensyukuri kasih Tuhan dalam hidup saya maka saya mengasihi yang lain. ASRIR : Dan memang pedang Islam itu sangat tajam terhadap penindas, penganiaya, mereka yang ingin menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, mereka yang bermaksud menimbulkan perpecahan, mereka yang mengganggu keamanan. Tetapi pedang Islam itu sangat tumpul, tidak berdaya apa-apa terhadap mereka yang bukan penindas, penganiaya, pengacau, perusuh. Islam memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk memeluk agamanya sesuai keyakinannya. Islam tidak mengganggu hak seseorang. JEHIDAS : Saya pikir hanya Islam yang berbicara soal pedang yang tajam, ajaran Yesus mengatakan “Orang yang mempergunakan pedang akan mata oleh pedang” tidak perduli dipergunakan untuk apa itu pedang. Yesus bahkan mengajarakan “Kasihilah musuhmu”. Ini bukan ajaran manusia biasa yang sarat dengan mafsu kemanusiaan seperti anabi-nabi lain. 5 Introspeksi diri. ASRIR : Tetapi aku berkata kepadamu : Kasihanilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44). (Love our enemies) Tetapi aku berkata kepadamu : Janganlah kamu melawan orang yang berubat jahat kepadamu, melainkan siapapu yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:31). (If anyone strikes you on the right cheek, turn to him the other also), Does not every minutes of your practicle live give the lie to your theory (Karl Marx). JEHIDAS : Tentu saja ini ajaran Yesus yang paling istimewa, not everybody could do that, but that doesn’t mean not applicable. Yesus telah mempraktekkannya, ketika dia disalib, dia tidak memanggil Bapanya yang MAHA KUASA untuk menghukum para penyalibnya, malah dia berdoa “BAPA AMPUNILAH MEREKA KARENA MEREKA TIDAK TAHU APA YANG TELAH DIPERBUATNYA”…it’s very wonderful and amazing forgiveness, isn’t it? Karl Max sebagai seorang atheis tentu saja menertawakan kata-kata ini karena dia tidak kenal Tuhan. Tapi jika kasih Yesus ada di hati kita, tentu saja kita bisa mempraktekkannya. Why not? But, it’s

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: