Pemilintiran (Tahrif Kalamallah)

Pemelintiran (Tahrif Kalamallah)

Islam menempatkan sesuatu pada tempatnya yang pantas.

Menyamakan sesuatu yang pantas disamakan. membedakan

sesuatu pada yang pantas dibedakan. Dalam pahala

ketaqwaan, Islam tak memperbedakan gender, etnis.

Dalam warisan, kepemimpinan (walaa), pertemanan

(bithanah, waliijah), Islam membedakan antara pria dan

wanita, antara yang Islam dan yang bukan Islam

(Yahudi, Nasrani, Zionis, Komunis, dll). Islam sangat

tak suka memplintir yang sudah terang (muhkamat)

menjadi yang kabur (mutasyabihat). membuat hal-hal

yang sudah diyakini (qath’i), yang sudah disepakati

(ijma’) menjadi hal-hal yang diperdebatkan, yang

diperselisihkan. Misalnya nash tentang kepemimpinan

sudah sangat terang (muhkamat) menjelaskan bahwa yang

pria, yang Islam itu lah yang menjadi pemimpin.

Memplintir yang sudah terang ini menjadi yang kabur

adalah merupakan fitnah (bahaya) terbesar yang

dihadapi Islam. Deislamisasi, deformalisasi syari’at

Islam bergandengan memplintir yang muhkamat, yang

sudah jelas, yang sudah pasti menjadi yang

mutasyabihat, yang diragukan. “Orang-orang yang dalam

hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka

mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk

menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya”

(QS Ali Imran 3:7).

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: