Persamaan persepsi dalam politik

Persamaan persepsi dalam politik

Para sahabat Rasulullah saw telah mendapat pendidikan dan pelajaran secara laansung dari Rasulullah, sehingga mereka mengetahui benar arah dakwah Rasulullah saw. Mereka telah mewariskan perlunya persaman visi dan persepsi dalam memelihara dan menjaga keutuhan jama’ah ummat islam. Semuanya berpihak pada pendapat, paham yang lebih dekat pada kebenaran, meskipun pada mulanya mereka tidak sependapat, tidak sepaham. Mereka bukanlah manusia-manusia yang suka ngotot, bersikeras menegakkan benang basah, mempertahankan pendapat yang lemah.

Sesudah Rasulullah saw wafat, para sahabat Anshar berkumpul di sebuah balai Bani Sa’idah, bermusyawarah memilih, mengangkat seorang di antara mereka menjadi Khalifah dari Rasulullah saw, yaitu Sa’ad bin Ubadah. Sahabat Anshar memandang diri mereka lebih berjasa membantu dan membela agama Islam serta memperkuat perjuangan Rasulullah saw. Sebaliknya para sahabat Muhajirin memandang, bahwa hak/wewenang pemerintahan itu adalah pada suku Quraisy, sesuai keterangan yang berasal dari Rasulullah saw. Dengan menyadari perlunya persamaan persepsi dalam memelihara dan menjaga keutuhan jama’ah ummat Islam, akhirnya semua pihak sepakat memilih, mengangkat, melantik, membai’ah Abu Bakar sebagai Khalifah.

Ali bin Abi Thalib memandang dri beliau paling berhak untuk diangkat menjadi Khalifah, berdasarkan kedudukan beliau dalam Islam, apalagi sebagai kerabat karib Rasulullah, yaitu sebagai menantu Rasulullah saw. Tapi setelah isteri beliau Saidah Fatimah meninggal dunia, beliau segera membai’at Abu Bakar.

Berita wafatnyha Rasulullah tersebar dengan cepat keseluruh jazirah Arab. Hal ini membangkitkan nafsu beberapa kabilah untuk memberontak dan keluar dari Islam. Ada beberapa golongan yang masih tetap dalam Islam, tetapi mereka enggan memenuhi alah satu rukun Islam, yaitu mereka tidak mau mengeluarkan zakat. Para apembangkang zakat berkumpul dan mengadakan gerombolan yang siap di dekat kota madinah. Mereka mengirimkan pernyataan pembangkangan zakat kepada khalifah di Madinah. Untuk mengatasi hal ini, Khalifah Abu Bakar mengumpulkan sahabat bermusyawarah untuk memerangi kaum pembangkang zakat. Di antara sahabat ada yang sependapat dengan Khalifah, bahwa para ingkar zakat patut dan harus diperangi, karena dengan enggan membayar zakat berarti sama dengan mencoba merobohkan Islam. Umar bin Khaththab dan sebagian sahabat tidak sepaham dengan khalifah, mereka berpendapat bahwa orang yang enggan membayar zakat itu dibiarkan saja untuk sementara, sebab mereka masih tetap beriman kepada Allah dan RasulNya.

Khalifah Abu Bakar tidak membiarkan perbedaan pendapat, perbedaan paham ini berlarut-larut. Khalifah dengan tegas mengajukan hujjah yang lebih kuat, bahwa setiap orang yang membedakan antara shalat dan zakat wajib diperangi. Secara ikhlas sahabat yang pada mulanya tak sependapat dengan Khalifah mengakui kebenaran pendapat Khalifah Abu Bakar, mereka tidak ngotot bersikeras menegakkan benang basah, mempertahankan pendapat sendiri yang lemah dasarnya.

Dalam hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan jama’ah ummat Islam maka setiap perbedaan paham, perbedaan pendapat tidak dibiarkan berlarut-larut berkembang meluas (dari berbagai kepustakaan literatur islam).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: