Politik Kristen

Politik Keristen

Dengan lantang, kini kembali berkumandang dari Kristen Minahasa teriakan menantang dikembalikannya Piagam Jakarta sebagai pembukaan UUD-45. Dulu juga semangat anti Piagam Jakarta ini bertiup, berembus dari Kristen minahasa.

KH Firdaus AN menceritakan bahwa taka ada satu buku di Indonesia yang menjelaskan siapa gerangan yang memberi ultimatum supaya anak kalimat pada alinea keempat Piagam Jakarta yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dicoret. Sampai tahun 1984 tokoh itu masih misterius bagi sejarawan maupun politisi. Barulah setelah Cornel University di Amerika Serikat menerbitkan sebuah buku tentang Indonesia didapat informasi, bahwa tokoh itu bernama Dr Sam Ratulangi yang disebut sebagai “an astute Christian politician from manado, North Sulawesi”, artinya seorang politisi Kristen yang licik dari Menado, Sulawesi Utara (“Dosa-Dosa Yang Tak Boleh Berulang Lagi”, 1992:48).

Watak, tabiat, karakter tersebut memang sangat antipati terhadap Islam. Di Indonesia kentara dari sikapnya yang menantang dikembalikannya Piagam Jakarta. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS 2:120).

Kebencian Kristen terhadap Islam semata-mata hanya emosi. Kristen sendiri tak punya konsep, doktrin, ajaran tentang berbangsa, bernegara. Dalam hubungan dengan politik, Bibel mengajarkan “Render unto Caeser what is Caesar’s, render unto God what is God’s” (Berilah kepada kaisar apa yang menjadi haknya dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi haknya pula) (Matius 22:21).

Pernah Kristen dijadikan kendaraan politik oleh pihak Gereja. Tapi karena pihak gereja sangat rakus dan aniaya (inkwisi), maka munculllah tuntutan “pisahakan agama dari politik”.

Perjalanan sejarah mencatat pula bahwa orang Kristen Ambon/maluku adalah yang paling banyak menjadi kaki tangan KNIL (tentara Kerajaan Belanda) (SABILI, o.05, Th IX, 29 Agustus 2001, hal 76). Semangat patriotisme nasionalismenya rasanya patut dipertanyakan.

Dalam sejarah Indonesia, terdapat pengaburan sejarah. Bahkan ada pemalsuan data sejarah. Misalnya pejuang Ahmad Luey (Pattimura) disebut sebagai seorang pejuang Kristen dari Maluku yang memberontak terhadap Belanda. Padahal sebenarnya ia (Pattimura) adalah seorang pahlawan Muslim (Idem).

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: