Sekularisme acuan Islam Liberal

Sekularisme acuan Islam Liberal
Sekularisme bisa saja mengakui agama, tapi perannya dipersempit pada persoalan-persoalan indivvidu (ritual) dan moral. Agama tidak boleh campur tangan dalam ihwal politik, ekonomi, pendidikan, dan persoalan-persoalan publik lainnya. Kalaupun ingin berperan, agama hanya sebatas memberikan nilai-nilai (value) yang universal seperti keadilan, persamaan, kerja keras, atau sebatas moral (etik) seperti kejujuran, keterbukaan, dan sebagainya. Namun agama tidak boleh diformulasikan dalam bentuk-bentuk aturan (laws) (SABILI, No.5, Th.VII, 25 Agustus 1999, hal 40, Takwin : “Bahaya Sekularisme”). Sekularisme menempatkan Islam hanya urusan ibadah. Islam tidak memiliki kaitan dengan masalah yang bersifat keduniaan. Islam tidak memiliki tautan apapun dengan politik. Islam tidak memiliki syari’at yang mengatur masalah harta maupun masyarakat. Islam tidak memiliki ajaran tentang jihad. Semuanya itu adalah urusan duniawi, dan bukan urusan ibadah yang diatur oleh Islam. Demikian ditanamkan dari teori politik Ali Abdul Raziq (Dr Dhyiya:ad-Din ar-Rais : “Islam dan Khilafah”, 1985:191). Sekularisme menempatkan Islam hanaya sekedar nilai. Islam itu hanya sebatas hakikat, sebatas nilai. Menggali esensi, jiwa, semangat, nilai-nilai syahadat, shalat, shaum, zakat, haji, qurban, jihad, dan lain-lain. Sedangkan bentuk, wujud, format, kaifiat

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: