Antara HAM dan Devisa

Antara HAM dan Devisa

Di antara TKW Indonesia di luar negeri diberitakan ada yang mengalami perlakuan yang tak baik dari majikannya. Pelecehan TKW Indonesia di luar negeri itu ada yang berupa tindak perkosaan, tindak kekerasan, penyiksaan, penganiayaan, tindak yang merugikan materi seperti tak mendapat beberapa bulan pembayaran upah/gaji.

Pihak asing penampung TKW itu memandang kasus pelecehan TKW Indonesia di luar negeri itu adalah maalah kecil, persentasenya amat sangat kecil, bisa diabaikan bila dibandingkan dengan jumlah seluruh TKW Indonsia di luar negeri.

Pihak dalam negeri, baik pemerintah maupun para penyalur tenaga kerja juga memandang kasus pelecehan TKW Indonesia di luar negeri itu sangat kecil, bila dibandingkan dengan jumlah devisa yang masuk ke dalam negeri, bila dibandingkan dengan jumlah TKW yang berhasil mengangkat status sosial-ekonominya. Namun tak pernah iungkapkan berapa besarnya pendapatan para penyalur tenaga kerja yang diperolehnya dari penyaluran TKW tersebut.

Semuanya melakukan mutual simbiosis, saling menguntungkan, saling memamfa’atkan. Pemerintah dan penyalur tenaga kerja memanfa’atkan TKW. Sebaliknya TKW dan penyalur tenaga kerja memanfa’atkan pemerintah. Dan pemerintah serta TKW memanfa’atkan penyalur tenaga kerja.

Sikap mental materialis kapitalis menggunakan tolok ukur uang, devisa yang dapat diperoleh. Sedangkan sikap mental idealis menggunakan tolok ukur sosk TKW itu sendiri. Soso manusia tak dapat diukur nilainya seberapapun. Manusia yang manusia tak akan pernah rela diperkosa, meskipun dengan kompensasi, imbalan jutaan, milyaran, triliyunan rupiah. Tak akan pernah rela disiksa, dianiaya, meskipun dengan pembayaran berapapun. Namun sayang, antara sesama TKW pun tak ada rasa kesetiakawanan, tak ada rasa solidaritas. Masing-masing hanya memikirkan diri sendiri, lu-lu, gua-gua. Pemerintah dan penyalur tenaga kerja pun hanya memikirkan, uang, devisa yang akan diraup, tak pernah memikirkan sosok TKW itu yang tak dapat dinilai seberapapun.

Nasib tenaga kerja di mana pun dan kapan pun tetap sama, yaitu sama-sama sebagai objek dari majikan-kapitalis, tak akan pernah jadi subjek. Di jaman Fir’aun di Mesir, tenaga kerja dari Bani Israil adalah objek dari Kopti Mesir. Para tenaga kerja di di jaman Luis XIV di Perancis adalah objek dari kaum bangsawan dan kaum pendeta. Kaum bangsawan punya hak istimewa, kaum pendeta pun punya hak istimewa (Anwar Sanusi : “Sejarah Umum untuk Sekolah Menengah”, 1954, jilid II, hal 75). Di jaman kini pun, meskipun sudah terorganisir dalam ILO tetap saja menjadi objek dari kaum kapitalis.
1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: