Kebebasan dalam Islam

Kebebasan dalam Islam

Kalangan Liberal menghendaki kebebasan dalam menjalankan kebebasan beragama. “Seandainya ada sebuah paksaan dan mengganggu privatisasi yang diatur dalam Undang-Undang” menurut mereka ini melanggar HAM (SABILI, No.26, Th.IX, 27 Juni 2002, hal 81). HA dimanipulasi untuk mengemas hawa nafsu kebebasan hewani tanpa batas.

Agama itu memuat seperangkat aturan. Aturan agama itu membatasi hak privat dan hak publik. Umat beragama tak dapat bebas berbuat sebebasnya tanpa batas. Hanya dalam batas-batas yang ditetapkan agama, uamt beragama dapat berbuat bebas, sesuai dengan kebebasan manusiawi, bukan berdasarkan kebebasan hewani. Batas-batas tersebut dalam Islam terdapat dalam Qur:an, Hadits, Sirah, baik secara eksplisit maupun implisit.

Dengan perantaraan Khalid bin Sa’id bin al’Ash, pihak Thaif (di Taif) menyampaikan kepada Muhammad bahwa mereka menerima Islam, dengan permintaan supaya Lata, berhala mereka dibiarkan selama tiga tahun jangan dihancurkan, dan merekaa supaya dibiarkan dari kewajaiban shalat. Tetapi permintaan mereka itu sama sekali ditolak oleh Muhammad (Muhammad Husein Haikal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:574-575).

Pernah pada suatu ketika datang seorang lelaki menghadap kepada Rasulullah dengan cara yang sangat terus terang, yang dengan beraninya memohon dengan penuh pengharapan, agar dirinya diperkenankan melakukan perbuatan zina, karena pada ddirinya terdapat kelainan, yang dia sendiri merasa tidak sanggup mengekang nafsu birahinya terhadap wanita. Menghadapi peristiwa yang demikian, dengan kebijaksanaannya Muhammad saw mengupas terlebih dahulu tentang dosa-dosa hingga sampai kepada hukum yang mana perrbuatan zina itu setaraf dengan kejahatan pidana, karena merupakan aancaman yang mengganggu dan menyerang kehormatan wanita, dan termasuk pula tindak aniaya. Rasulullah memecahkan persoalan yang demikian dengan cara memberi bimbingan, pengajaran, penginsafan dan menyebarkan kebaajikan, dengan kehalusan dan keindahannya. Akhirnya lelaki tersebut minta Rasulullah memohonkan kepada Allah, agar Allah menanamakan rasa cinta kedalam hatinya (lelaki itu) akan kesucian dan menjadikan keimanan itu terasa indah, dan agar ditimbulkan dalam hatinya rasa kebencian terhadap kedurhakaan. Berkat do’a Rasulullah, lelaki itu merasa bahwa tiada sesuatu yang dia benci seperti halnya perbuatan zina (Khalid Muhammad Khalied : “Kemanusiaan Muhammad”, 1984:137-149).

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya (interpretasinya), padahal tidak ada yaang mengetahui takwilnya (interpretasinya) melainkan Allah” (QS 3:7). Na’udzu billahi min dzalik.

Orang beriman bila diingatkan dengan Qur:an akan menyambutnya dengan “sami’na wa atha’na”, bukan dengan sambutan “sami’na wa fakkarna, tsumma atha’na”. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin, dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka” (QS 33:36).

Dengan dalih kebebasan, apakah kita berbuat apa saja yang kita inginkan ? Apabila kita bebass berjalan bugil di tempat keramaian, tanpa penutup tubuh sehelai benang pun ? Aapa kita bebas mendengar suara musik di engah malam dengan suara keras, sementara gtetangga kita tengah beristirahat ? Apakah kita bebas mendatangkan tukang kayu di tengah malam untuk memperbaiki milik kita, sementara para tetangga sedang tidur lelap ? Satu-satunya tempat yang bisa bebas berbuat sebebasnya tanpa batas hanyaalah tempat yang tidaka dihuni oleh manusia barang seorang pun. Di sini kita bebas berbuat dan menikmati kebebasan seperti yang kita inginkan (Prof mutawalli asSya’rani, dalam Muhammad alMusnid : “Dulu Maksiat Sekarang Tobat”, 2001:13-14).

Jadikan Masjid Sebagai Pusat Pendidikan Masyarakat

Kondisi beragama generasi kini, generasi 2000, mengenai pemahaman, penghayatan, penerapan, pengamalan Islamnya sangat mempprihatinkan, jauh menurun dibandingkan dengan generasi lalu, generasi 1950. Tanpa perlu bersusah payah mengumpulkan data statistik, hal tersebut tampak nyata terlihat secara umum pada kondisi beragama dalam keluarga sendiri, dalam lingkungan erte sendiri, dalam lingkungan erwe sendiri. Bagaimana tingkat pemaahaman, penghayataan, pengamalan ajaran Islam oleh anak-cucu, dibandingkan dengan ibu-bapaknya, kakek-neneknya. Apakah generasi kini lebih baik dari generasi lalu dalam pemahaaman, penghayatan, pengamalan ajaran Islam, ataukah sebaliknya. Berapa prosen generasi kini yang dengan kesadaran sendiri melaksanakan shalat lima waktu dan shaum Ramadhan secara tekun, teratur, tertib. Daaan berapa prosen pula generasi lalu ?

Salah satu faktor penyebab menurunnyaa sikap beragama generasi kini dibandingkan dengan generasi lalu adalah oleh karena munculnya kecenderungan kebebasan yang hampir tanpa batas dalam segala hal. Pintu-pintu (gerbang, gate, media, sarana) terbuka amat luas bagi generasi kini dibandingkan dengan generasi lalu. Mulai dari koran, majalah, radio, televisi, filem sampai internet. Tayangan televisi merupakan Guru Besar bagi generasi kini. Ukuran kebenaran dirujuk pada tayangan televisi, pada budaya pergaulan bebas di objek wisata. Dakwah, baik yang tatap muka (taklim), apalagi melalui tayangan televisi sepi dari ruh tauhid, dana ruh jihad, tanpa semangat juang tinggi untuk membentuk generasi tangguh pengemban amanat risalah untuk meninggikan, mengunggulkan, memenangkan Islam di atas segala agama, untuk tampil membawa Islam sebagai pemimpin, pengatur dunia.

Generasi 1950 pada umunya, di samping mengikuti pendidikan formal di sekolah umum, juga mengikuti pendidikan agama di madrasah. Di madrasah mereka dididikk untuk beragama, untuk mengenal dan mengamalkan ajaran agama slam, untuk mengenal mana yang halal, yang boleh, dan mana yang haram, yang terlarang. Bukan hanyaa dididik sekedar untuk mengenal saja, tapi sekaligus untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi 2000 sangat membutuhkan pendidikan holistik (integrated, totalitas, kaffah, menyeluruh) terprogram, sistimatis untuk meningkatkan pemaahaman, penghayatan, pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu upayaa dapat ditempuh dengan menjadikan Masjid, Mushalla sebagai pusat pendidikan ajaran Islam bagi masyarakat sekitarnya. Masjid, Mushalla sebagai pusat pendidikan ajaran Islam, beberapa waktu yang lalu pernah dirintis di Masjid Salman dalam Kampus ITB Bandung. Pendidikan Islam di masjid Salman dapat dijadikan sebagai proyek percontohan bagi pendidikan ajaran Islam untuk generasi kini, baik urusan ibadat, mu’amalat, siasat, militer, sebagai pusat kegiatan jama’ah yang mempersatukan umat Islam (Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, XI, hal 46, tentang tafsir ayat QS 9:107).

Generasi pertama (assabiqul awwalun) memandang alQur:an bukan untuk tujuan menambah pengetahuan atau memperluas pandangan, tetapi mereka mempelajari alQur:an untuk menerima perintah Allah tentang urusan pribadinya, tentang urusan golongan di mana ia hidup, tentang persoalan kehidupan yang dihidupinya, ia dan golongannya. Ia menerima perintah itu untuk segera dilaksanakan setelah mendengarnya. Persis sebagaimana perajurit di lapangan menerima “perintah harian:nya untuk dilaksanakan segera setelah diterima (Sayyid Qutb : “Petunjuk Jalan”, hal 14).

Pemimpin ummat, juru dakwah harus mampu membaca situasi, kondisi umat, mampu menganalaisanya, serta mampu menyusun solusinya.

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: