Kesamaran pengertian

Kesamaran Pengertian

1. Mengungkapkan fikiran, gagasan ke bentuk lisan, atau tulisan, agar pendengar, pembaca, pengamat dapat memperoleh pengertian yang tepat, jitu, tidaklah mudah.

Mendiang Bung Karno menyadari pula akan hal ini. Ia merasa kurang yakin, bahwa dengan uraian yang sederhana, fikiran, gagasannya akan berhasil ditanggapi dengan tepat oleh pengamatnya. Ia amerasa perlu menggandengkan kata-kata, ungkapan-uangkapan, kalimat-kalimat yang dianggapnya akan dapat merupakan padanan yang jitu untuk memperjelas uraiannya.

Penggandengan padanan ungkapan tidaklah sepenuhnya berhasil memperjelas pengertian uraian, apalagi jika dilakukan secara berlebihan. Kadangkala, bukannya pengertiannya yang semakin jelas, bahkan sebaliknya timbul pengertian kembar yang samar, kabur.

2. Didalam “Lahirnya Pantja Sila” tercantum uraian mengenai “Prinsip Ketuhanan” demikian :

“Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tapi masing-masing orang Indonesia hendaknja bertuhan Tuhanja sendiri. Jang Kristen menjembah Tuhan menurut petunjuk Isa al-Masih, jang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad saw, orang Budha mendjalankan ibadatnja menurut kitab-kitab jang ada padanja. (Sepintas tampaknya seolah-olah mengacu pada QS 5:66). Tetapi marilah kita semuanja ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara jang tiap-tiap orangnja dapat menyembah Tuhannja dengan tjara jang leluasa. Segenap rakjat hendaknja ber-Tuhan secara kebudajaan, ja’ni dengan tiada “egoisme agama”. Dan hndaknja Negara Indonesia satu Negara jang bertuhan! (Seruan agar Negara Indonesia hendaknya ber-Tuhan secara berkebudayaan diulangi Bung Karno antara lain dalam pidatonya “Temukan Kembali Api Islam” di Istana Negara, pada 2 Desembewr 1964)

Marilah kita amalkan, djalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan tjara jang berkeadaban. Apakah tjara jang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain. Nabi Muhammad saw telah memberi bukti jang tjukup tentang verdraagzaamenheid (saling toleransi) tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamenheid itu”.

3. Untaian kaliamat diatas terasa mengandung unsur-unsur kesamaran, karena didalamnya terselip masalah yang dapat dipertanyakan demikina:

1. Manakah yang benar : “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan”, ataukah “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang percaya kepada Tuhan”?

2. Apakah bangsa Indonesia memang sudah percaya kepada Tuhan, ataukah masih perlu diajak, diseru untuk percaya kepada Tuhan?

3. Apakah agama itu salah satu hasil dari kebudayaan, ataukah kebudayaan itu merupakan hasil karya dari pemeluk agama? (Prof Dr HM Rasyidi dalam bukunya “Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional” menyebutkan bahwa bagi Ummat Islam, religion atau Dien atau agama itu adalah pemberian Tuhan untuk mengatur masyarakat, ekonomi, dan juga teknologi).

4. Apakah memang aa pula cara penyembahan kepada Tuhan menurut cara yang berkebiadaban, disamping menurut cara yang berkeadaban?

5. Manakah yang benar : “Hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan”, ataukah “Hendaknya Negara Indonesia stu Negara yang diridhai Tuhan”?

4. Satu-satunya pengertian yang tak terselip didalam untaian kalimat diatas adalah pengertian : “Kepercayaan kepada Tuhan menurut petunjuk nenek moyang”.

Akan terasa jelas maknanya, jika tersusun demikian :

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang percaya kepada Tuhan, karenanya masing-masing Warganegara hendaknya dapat leluasa menyembah Tuhan, menjalankan ibadat, mengamalkan ajaran agama menurut petunjuk, wahyu Tuhan yang diterima nabi, yang termaktub didalam kitab-kitab suci, dimana satu sama lain saling hormat-menghormati, semoga hendaknya Negara Indonesia adalah satu Negara yang diberkahi, dirahmati Tuhan”.

5. Kesamaran pengertian semacam ini kian hari kian membiak. Perbendaharaan kata dewasa ini semakin dipadati dengan ungkapan-ungkapan, ucapan-ucapan, wejangan-wejangan, pernyataan-pernyataan yang didalamnya terselip pengertian kembar, yang samar, kabur, bahkan mungkin tercipta pengertian yang menyesatkan.

Lembaran teka-teki semakin disarati dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan, yang tak terselesaikan, diantaranya pertanyaan-pertanyaan berikut :

1. Apakah falsafah Pancasila yang seharusnya diamalkan, ataukah ajaran agama yang seharusnya diamalkan?

2. Apakah agama yang harus digunakan sebagai alat politik, ataukah politik yang seharusnya mengindahkan ajaran agama?

3. Apakah kestabilan rohani yang harus dikorbankan untuk kestabilan politik, ataukah kestabilan politik yang harus diciptakan untuk terpeliharanya kelestarian kestabilan rohani?

6. Adalah merupakan suatu amanat bagi perumus-perumus yang berwewenang untuk meluruskan, menjernihkan kembali rumusan-rumusan yang sudah terlanjur bergeser pengertiannya.

Diantara yang memerlukan perhatian adalah rumusan yang mengandung pengertian berikut :

“Negara Indonesia bukanlah berdasarkan atas salah satu ajaran agama, tetapi berdasarkan atas jaminan kebebasan Warganegara melaksanakan ajaran agamanya. Negara haruslah senantiasa mengindahkan ajaran-ajaran agama yang dipeluk oleh Warganegara. Negara haruslah mendengarkan, mengindahkan suara, fatwa pemuka-pemuka agama, sehingga bukannya pemuka-pemuka agama yang dibebani kewajiban untuk menyuarakan kemauan Negara. Kebijaksanaan-kebijaksanaan kenegaraan seharusnya diselaraskan dengan ajran agama, bukan sebaliknya”. 1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: