Lahan demokrasi

Demokrasi, dimana bisa tumbuh ?

Sistem Nazi dan fasisme menghendaki rakyat yang mudah tunduk dan gampang membungkuk. Dapat berlaku di Italia (masa Musolloni), karena rakyatnya bertabiat sebagai domba. Maju satu, ikut semuanaya, asal tahu mengeluarkan pathos, kata-kata yang menggembirakan. Rakyat Jerman (masa Hitler), rakyat serdadu, suka dan ingin menerima perintah. “Ordnung” dalam sekali artinya dalam kalbu orang Jerman. Ordnung itu dasar hidupnya.

Tetapi tidak demikian rakyat Perancis (masa Robespier). Ia benci kepada perintah, amat suka menyatakan pikirannya sendiri. Rakyat Perancis terkenal sebagai rakyat yang terlalu kuat sifat individualisnya. Sifat individualis itulah yang jadi sebab, maka jarang terdapat susunan partai yang kuat di Perancis (menyukai sistem parlementer). Dalam parlemen, orang separtai dapat bertentangan satu sama lain.

Orang Perancis sangat menghargai pahamnya sendiri, sangat suka menyatakan timbangannya yang berlainan. Sekalipun paham sendiri itu dikemukakan dengan penuh semangat dan perasaan, hak orang lain menyatakan pendapatnya dibenarkan (Voltaire berucap : “I don’t agree with what you say, but I wll defend to the dead your right to say it”). Rakyat yang semcam itu hanya dapat hidup dalam peraturan demokrasi.

Semangat rakyat perancis ialah tidak mau dikuasai dengan perkosa. Hitlerisme tidak dapat tumbuh di situ (Mohammad Hatta : “Kumpulan Karangan’, 1953:149-151, dari PEMANDANGAN, 14-7-1941).

Tskysy Jerman termasyhur tentang pahamnya akan disiplin. Karena sangat tertariknya kepada disiplin, rakyat Jerman mudah sekali tunduk kepada kekuasaan.

Seenarnya rakyat Jerman tidak pernah menghendaki demokrasi. Dunia Jerman bersifat monarchis. U pada penghabisan peang besar (1914-1918) hilang pemerintahan monarchi di Jerman.

Demokrasi yang dikenal oleh rakyat jerman semenjak habis perang besar (1914-1918) namanya saja “demokrasi”, sebenarnya masih jauh dari itu (idem, 1953:135-137, dari DAULAT RAKYAT, No.83, 30-12-1933).

Orang Arab pengembara (Badui) tidak mengenal suatu peraturan atau tatacara seperti yang dikenal orang kota. Mereka hanya mengenal kebebasan pribadi, kebebasan keluarga, dan kebebasan kabilah yang penuh. Mereka tidak peduli kemewahan, tidak but6uh dengan ketenangan hidup menetap, juga tidak tertarik kepada apa pun – seperti kekayaan yang menjadi harapan orang kota – selain kebebasannya yang mutlak. Mereka tidak menyukai tindak ketidakadilan yang ditimpakan kepada mereka. Mereka mau melawannya mati-matian. Mereka lebih suka meninggalkan tanah air dari pada tunduk kepada perintah (Muhammad Husein Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:16-17).

idup muhammad”, 19843Hidup

Menurut WS Rendra, gambaran final dari demokrasi itu ya trias politica. Itu tidak bisa dibilang Barat, karena ini tidak Barat, tidak Timur. Trias politica pernah terjadi dalam sejarah Nusantara, yaitu – misalnya – pada jaman Demak. Ketika itu raja berkuasa, tapi didampingi oleh Walisongo. Dan kemudian raaja tunduk kepada hukum, bukan berkuasa tak terbatas. Kemudian pada jaman mataram terjadi kemerosotan cukup tajam. Raja menjadi Panatagama, Pandita menjadi Ratu. Kekuasaan jadi tak terbatas. (Tabloid DETIK, No.029, Tahun XVII, 22-28 September 1993, hal 22).

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: