Negara Indonesia harus menyembah Tuhan YME

Negara Indonesia harus menyembah Tuhan YME

Dalam kuliah umumnya tanggal 2 Desember 1964 di Istana Negara (Penerbitan Chusus Deppen RI No.354), Presiden Sukarno mengemukakan, bahwa semua yang kumelip di dunia ini harus mengerti bahwa Tuhan-lah yang membuat dia. Semuanya, manusia, binatang, pohon, gunung, laut, batu kerikil, juga negara harus menyembah kepada Tuhan. Dia-lah Tuhan-nya manusia, Tuhan-nya binatang-binatang. Tuhan-nya awan, mega putih yang berarak di angkasa. Tuhan-nya gunung-gunung yang membiru. Tuhan-nya lautan yang bergelombang membanting di pantai. Tuhan-nya rumput-rumput kecil. Tuhan-nya kerikil-kerikil yang diinjak.. Tuhan-nya matahari. Tuhan-nya bulan. Tuhan-nya bintang-bintang yang bisa dilihat dana yang tak bisa dilihat. Tuhan-nya alam semesta. Juga Tuhan-nya negara.

Bukan saja manusia, binatang, gunung-gunung, sungai-sungai, lautan-lautan, awan, rumput, tetapi juga negara adalah makhluk, buatan, bikinan Allah swt. Allah membuat manusia, binataang, sungai, laut, gunung juga negara agar supaya mereka semua menyembah kepada-Nya. Negara Indonesia ini haruslah menyembah kepada Allah swt (hal 11-12). Tapi Presiden Sukarno tak menyebutkan tentang tatacara negara amenyembah Allah swt. Alhamdulillah, Sayid Quthub menjelaskan tentang tatacara negara menyembah allah swt adalah dengan menerapakan ajaran, hukum allah dalam seluruh dimensi kehidupan berbangsa bernegara (SABILI, No.01, Th.X, 25 Juli 2002, hal 67).

Presiden Sukarno dalam kuliah umumnya aitu menegaskan, bahwa ketika ia mi’raj, naik kedalam “the world of the mind”, membaca buku, mempelajari sejarah, susunan ekonomi, tata masyarakat dunia, membandingkan agama (vergelijkunde godsdient), berjumpa dan berbicara dengan pemimpin Amerika (George Washington, Rivere, Abigail, Adam Smith), pemimpin Inggeris (Gladstone, Disraeli, Sydney Webb, Beatrice Webb), pemimpin Perancis (Mirabeau, Teroigne de Mericourt, Marat, Aristide Briand, Talleyrand, Jean Jaures), pemimpin Jerman (Bismarck, Karl Liebknecht), pemimpin Italia (Mazzini, Garibaldi, Cafour) pemimpin Sovjet Uni (Lenin, Stalin, Trotzki, Pleghanov), pemimpin Jepang (Kokuma, Saigo Takamori), pemimpin India (Mahatma Gandhi, Mohammad Ali, Syaukat ali, Aruna Asaf Ali, Sarojini Naidu), maka ia bisa mengerti bahwa agama Islam itu bisa diterapkan di mana-mana, di Amerikaa, di Inggeris, di Perancis, di Jerman, di Italia, di Sovjet Uni, di Jepang, di India (hal 19-21).

Amat disayangkan, Presiden sukarno dalam studi perbandingan agama memahami, mengerti bahwa Islam itu bisa diterapkan di mana saja, termasuk di Indonesia. Tetapi ia menolak menerapkan Islam di Indonesia, menolak menjadikan Islam sebagai dasar negara. Dengan dalih untuk menyelamatkan negara, Presiden sukarno membubarkan Konstituante hasil pilihan rakyat dan memberlakukan kembali UUD-45 dengana Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Data historis bahkan menunjukkan, bahwa Presiden Sukarno antara tindakannya dengan ucapannya tak pernah sejalan, tak pernah sesuai, tak pernah sinkron, bahkan saling bertentangan, saling berseberangan, saling bertolak-belakang, untuk tidak mengatakan hipokrit. Ia hanya menyukai Marxisme yang diterapkan di Indonesia yang disebut dengan Sosialisme ala Indonesia atau Marhaenisme. Nasakom 9Nasamarx), Marhaenisme ( Sosialisme Indonesia), Kembali ke UUD-45 Dekrit 5 Juli 1959) merupakan ujud, bentuk penyimpangan, penyelewengan, pengkhianatan Presiden Sukarno terhadap gagasannya bahwa Negara Indonesia ini haruslah menyembah kepada Allah swt (“Temukan Kembali Api Islam”, Penerbitan Chusus Dppen RI No.354, hal 11-12). Padahal dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 (Lahirnya Pancasila) ia berseru : “Marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam kedalam Badan Perwakilan Rakyat. Bekerja sekeras-kerassnya agar supaya 60%, 70%, 80%, 90% utusan yang duduk dalam Badan Perwakilan Rakyat itu orang Islam, pemuka-pemuka Islam, sehingga dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari Badan Perwakilan Rakyat itu, hukum Islam pula” (hal 31).

Ketika naik kedalam ‘the world of the mind”, Presiden Sukarno bisa mengerti bahwa Api Islam yang berkobar-kobar di dalam dada itu merupakan bahaya bagi imperialis (hal 24). Api Islam itu sebenarnya menyala dari pengertian yang mendalam dan tepat tentang kalimah “la ilaah illallah”. Sayid Quthub menyebutkan bahwa seruan “la ilaaha illallah” itu adalah seruan revolusi, pemberontakan terhadap kekuasaan yang memerintah bukan dengan hukum Allah (“Petunjuk Jalan”, hal 23).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: