Pandangan Natsir terhadap Nasionalisme

Berikut petikan pandangan Natsir, pemuda dua puluh tahunan dari PANJI MASYARAKAT, No.155, Th XVI/520-521, 17 Juli 1974, “Di antara Dua Nasionalisme”, tentang nasionalisme

quote

Seorang Mahasiswa yang mamsih muda, usia 22 tahun, Mohammad Natsir muncul dengan tulisannya “Islam yang tidak pakai DAN” dalam majalah PEMBELA ISLAM yang terbit di Bandung (1932).

Natsir memberi ingat kepada kaum Muslimin bahwa berjoang menuntut kemerdekaan tanah air, berjihad hendak mencapai susunan masyarakat yang diridhai oleh allah adalah kehendak dari Islam sendiri. Tetapi bergerak dengan berdasar Kebangsaan, atau demi kebangsaan tak sesuai dengan kehendak Islam.

Kebangsaan atau Nasionalisme yang dibangkitkan di Indonesia sekarang ini – menurut natsir – adalah semacam “Ashabiyah yang jadi dasar hidup orang di zaman jahiliyah. Nasionalisme di Indonesia sekarang ini adalah membangkitkan membangun-bangun rasa kebangsaan dan keaslian sendiri. Nasionalisme hendak dibangkitkan dengan nationale gevoel, nationale will dan nationale daad. Nasionalisme semacam ini baru dapat diapi-apikan, dikobar-kobarkan apabila dibangkit-bangkit sejarah kemegahan bangsa di zaman purbakala, zaman kejayaan majapahit. Dengan “nasionalisme” semacam ini pemeluk islam yang datang dari luar misalnya dari tanah Arab dan Hindustan, tidak diikutsertakan karena mereka adalah asing. Tetapi pemeluk agama Hindu atau orang-orang yang telah murtad jadi Kristen adalah teman, sebab mereka sebangsa. Agama jangan di bawa-bawa.

Oleh sebab itu maka bergerak dengan dasar “Islam dan Kebangsaan” – menurut Natsir – tidaklah timbul dari hasil penyelidikan yang mendalam timbangan fikiran yang logis. Sebab diantara Islam dan Kebangsaan adalah dua yang berlawanan.

Buah fikiran pelajar AMS (Algemeene Middelbare School) yang masih muda itu sangatlah besar pengaruhnya bagi mengembalikan kepercayaan kepada Khittah sendiri di kalangan pejunag-pejuang Islam di zaman itu. Diakui bahwa dahulu dari Mohammad Natsir telah ada juga pemimpin Islam yang menjelaskan tujuan perjuangan Islam. HOS Cokroaminoto di masa pengaruh Komunis sedang naik telah mengeluarkan buku “Islam dan Ssosialisme”. Tetapi kepopuleran beliau waktu itu sedang menurun dengan naiknya popularitas Sukarno.

Natsir dengan karangannya tentang Islam yang tidak pakai DAN” itu adalah titik tolak pertama dari bangkitnya kembali gerak kemerdekaan dari kalangan kaum Muslimin, yang bersumber dari kepercayaan kepada Tuhan, bukan “Ashabiyah-jahiliyah.

Munculnya Natsir sebagai seorang pemuda terpelajar secara Barat yang tulisan-tul;isannya dapat dipaham, karena bahasanya yang sederhana, bukan sedikit memberi pengaruh bagi pejunag-pejuang Islam.

Kritik yang lalu lalang saja dari Soekarno kepada Islam dan kaum Muslimin, sebagai pandeangan seorang intelek didikan Barat telah ditangkis oleh Mohammad Natsir secara intelek pula. Yang bagi orang-orang yang semata-mata dapat didikan sekolah agama di masa itu tidaklah sanggup melaksanakan .

Polemik-polemik yang timbul di antaraa Natsir dan Soekarno di waktu itu telah menambah jelas juga perbedaan latar belakang dari kedua nasionalisme ini.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: