Aceh menuntut kembali ke sebelum 1873

Aceh menuntut kembali ke sebelum 1873

Di tahun 1947 seorang Soekarno yang terkenal gagah berani itu bertandang ke Aceh, bertemu dengan Abu Teuku Daud Beureuh, dan memanggilnya kakak, untuk mengajak Aceh bergabung melawan penjajah. Dengan isak tangis dan pelukan erat, Soekarno berjanji akan menerapkan Syari’at Islam, minimal di Aceh. Janji itu telah dikhianati oleh pidatonya di Amuntai 1954. Beberapa waktu lalu, tangisan itu dicucurkan lagi oleh anaknya Megawati.

Rakyat Aceh telah berkorban menyumbangkan dua pesawat Seulawah dan intan permata, tapi tetap saja hantam maut yang dikenakan. Persoalannya bukan lagi merdeka atau otonomi. Persoalannya adalah tentang kemauan rakyat Aceh sejak dahulu, yaitu diberlakukannya Syari’at Islam di sana, kesejahteraan dan keadilan sosial, dan dikembalikannya kedamaian dan ketenteraman seperti sebelum tahun 1983, ketika mereka berdaulat penuh kedalam dan keluar, dan belum diserang Belanda.

Serambi Mekah, tanah rencong, penyumbang ribuan syuhada, tidak pernah terjajah tangan asing, walaupun sebesar biji nyiur sekalipun. Inilah tanah tempat kaum Muslimin berkumpul untuk berdagang dan berjalan. Tanah yang berdaulat penuh dan mempunyai belasan kedutaan yang atang dari Cina, Turki, Mekkah, Inggeris, hingga Amerika Serikat (Dipetik dari cerita Ekky alMalakky : “Hikayat Bukit Tengkorak”, dalam Lembar Khazanah SABILI, Edisi No.1, Th.VIII, Juni 2000, hal 27-29).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: