Aceh punya siapa ?

Yang punya Aceh itu siapa ? Indonesia atau Aceh ?

Jauh sebelum Majapahit berdiri berikut Sumpah Palapa yang memberi insprirasi bagi wilayah Indonesia, kesulatanan Aceh sudah membangun hubungan dagang dan militer dengan sejumlah negara (Maruli Tobing : “Perjalanan Perlawanan Aceh dan Persepsi Orde Baru”, KOMPAS, Sabtu, 8 September 2001, hal 29).

Kita semua, termasuk elite politik, dengan pongahnya menuding Aceh sebagai ekstremis dan perusuh. Tetapi, kita bukannya mencari jawaban mengapa mereka bewrtindak demikian, melainkan memuji pemerintah pusat di Jakarta yang mencoba menyelesaikan Aceh dengan kekerasan (Idem : “kekerasan di Aceh, Sebuah Perjalanan Panjang”, hal 28).

Setelah kekuasaan berpindah dari penjajah kolonial Belandan kepada Republik Indonesia (17 Agustus 1945, 29 Desember 1950), kedaulatan kesultanan Aceh yang dirampas Belanda tahun 1873 tetap saja tak pernah kembali, yang sebelumnya diperintah oleh Sultan-Sultan dari golongan Said dan dari wangsa Bugis.

Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson dikenal sebagai orang pertama yang memrumuskan, mengemukakan, mengumandangkan, bahwa ‘tiap-tiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri” (right of self determination). Tiap-tiap bangsa berhak menentukan sendiri nasibnya (the right of determination) dimasukkana ke dalam Piagam Atlantik (Atlantic Charter) yang ditetapkan bersama-sama oleh Franklin Delano Roosevelt (Presiden Amerika Serikat), Winston Churchil (Perdanaq Menteri Inggeris) pada pertemuan tanggal 14 Agustus 1941 di lepas pantai New Foundland, yang di belakang hari disetujui pula olehStalin (Perdana Menteri Soviet Rusia) (Tan Malaka : “Dari Penjara Ke Penjara” III, 1948:32).

Sebagai kelanjutan dari Atlantic Charter disusun Charter for Peace (Piagam Perdamaian) pada tanggal 26 Juni 1945, yang isi pokoknya ialah bahwa tiap bangsa mempunyai hak menentukan nasibnya sendiri (right of selef determination) ( Y Wiramiharja/Djuhaeni : “Sejarah Kita : Dunia Sepanjang Masa” 3-B, 1980:10-11).

Alinea pertama Pembukaan UUD-1945 menyebutkan “bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”.

Ir Soekarno mengutip Ernest Renan yang menyebutkan bahwa bangsa itu adalah satu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu (le desir d’etre ensemble), dan mengutip Otto Bauer yang menyebutkan bahwa bangsa itu adalah persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib (Eni nation ist einde aus Schiksalgemeinschaft erwach sene Character gemeinschaft) (Lahirnya Pantjaq Sila, 1947:24:25).

Tokoh-tokoh Aceh yang duduk di pemerintahan, baik di pusat mau pun di daerah merasa bahwa rakyat Aceh itu adalah bangsa Indonesia, merasa dirinya bersatu, satu nasib dengan rakyat lain di wilayah Indonesia. Tapi tokoh-tokoh GAM dan pendukungnya (baik yang terang-terangan,mau pun yang terselubung) merasa rakyat Aceh itu adalah satu bangsa, yaitu bangsa Aceh, yang berbeda dengan bangsa Indonesia, merasa dirinya tak bersatu, tak satu nasib dengan rakyat lain di wilayah Indonesia.

Sebenarnya siapa yang punya Aceh itu ? apakah Indonesia yang memperoleh kekuasaan dari penjajah Belanda ? Ataukah Aceh yang kedaulatannya yang dirampas penjajah Belanda tak pernah dikembalikan ?

Garis perjuangan yang digagas pengusaha sukses Dr Hasan Tiro (cucu pahlawan Teungku Cik di Tiro) lebih pada perjuangan bangsa Aceh (bukan rakyat Aceh) merebut kembali kedaulatan yang dirampas kolonial dan imperialis Indonesia Jawa (KOMPAS, Sabtu, 8 September 2001, hal 29).

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: