Bagaimana rakyat, begitu pemimpin

Bagaimana rakyat, begitu pemimpin

“Apa salah kita memilih pemimpin seperti ini”, gusar Rizki Ridiyasmara (SABILI, No.17, Th VIII, 14 Februari 2001, hal 71, Telaah Utama). Ekspresi kezaliman kita terhadap seorang Gus Dur yang jelas-jelas mengidap kelemahan historis, fisik, mental, maupun sosial ( idem, hal 81, Kezalimn Kuadrat)

Dalam acar Hikmah Fajar RCTI, pagi Kemis 21 Juni 2001, Dr Imaduddin Abdurrahim mengemukakan bahwa menurut formula ilmu politik, pemimpin itu adalah dilahirkan oleh rakyat, bukan rakyt dilahirkan oleh pemimpin. Bukan rakyat hasil rekreyasi pemimpin. Sebagaimana kamu adanya – kata Rasulullah saw – begitu pula kamu akan diperintah (oleh penguasa yang zhalim).

Apabila ingin diperintah oleh orang-orang yang baik, haruslah mengerjakan amal-ml yang baik dan tidak menghendaki gantinya. Allah berfirman ” Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan (QS An’am 6:129).

Karena rakyatnya nerimo, maka penguasanya zhalim. Sikap penguasa itu adalah produk terbalik (refleksi) dari sikap mental rakyat. Bila rakyat bermental bebek, maka penguasa bermental serigala. Bila rakyat bermental domba, penguasa bermental singa.

Apabila Allah ridha kepada suatu bangsa (kaum), maka Dia mengangkat orang-orang bijaksana menjadi pemimpin mereka, dan mereka dihakimi oleh ulama mereka, dan hrta kekayaan mereka dikuasai oleh orang-orang yang murh hati.

Apabila Allah murka kepada suatu bangsa (kaum), maka Dia mengangkat orang-orang jahil menjadi pemimpin mereka, dan mereka dihakimi oleh orang-orang bodoh, dan harta kekayaan mereka dikuasai oleh orang-orang kikir.

Allah kan mengangkat orang-orang jahat menjadi pemimpin suatu bangsa (kaum), bilmana bangsa itu tidak memikirkan keadaan orang-orang yang tidak mau menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan (kemunkaran).

Janganlah sibuk mengutuk, mencaci penguasa, tetapi dekatkanlah diri kepada Allah, berdo’alah kepada Allah agar mereka diberti kebaikan, semoga Allah menjadikan hati mereka kasihan kepadamu. Apa yang terjadi sekarang adalah akibat perbuatan masa lalu. Keadaan penguasa itu sesuai dengan amal usaha rakyatnya (Muhammad Zakaria al-Kandahlawi : “Koreksi Pola Hidup Umat Islam”, Pustaka Progresif, Surabaya, 1986, hal 51-57).

Setiap rakyat wajib mendengar, ta’at, tunduk, patuh pda pemerintah, baik dalam hal yang disetujui, maupun dalam hl yang tidask disetujui. Baik dalam hal yang berat, maupun dalam hal yang ringan. Baik dalam keadaan mudah, maupun dalam keadan susah, asalkan tidak dalam hal maksiat. Rakyat hendaknya sabar menghadapi kebijakan dan tindakan pemerintah yang tidak disetujui, tidak disenangi (Salim Bahreisy : “Tarjamah Riadhus Shalihin” I, 1983, Pasal Wajib Ta’at Pada Pemerintah dalam hal yang bukan ma’siat, dan haram ta’at pada ma’siat).

Apabila suatu bangsa (ummat) menyerahkan suatu urusan (pemerintahaqn negara) kepada pemimpin yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran bangsa itu (Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-zhar”, 1984, juzuk V, hal 120-123, tentang tafsiran QS Nisaa 4:58). Kalau terjadi selisih pendapat di antara sesama pemimpin dan dengan rakyat, maka perbandingkanlah dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya yang terdapat dalam nash Qur:an dan Hadits (idem, hal 133, tentang tafsiran QS Nisaa 4:59).

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: