Biang bencana

Biang bencana

Biang yang mengundang datangnya bencana, musibah, malapetaka adalah sikap mental yang memperlaakukan yang munkar seagai yang makruf, dan yang memperlakukan yang makruf sebagai yang munkar. Bencana itu bisa berupa bencana alam seperti angin topan, gempa bumi, wabah penyakit, kelaparan, bisa berupa kerusuhan, kekacauan, peperangan.

Bahkan membiarkan kemunkaran, kemaksiatan, tak peduli, tak bereaksi terhadap kemunkaran, kemaksiatan akan mengundang datangnya bencana. “Hendaklah kamu suruh menyuruh berbuat makruf, cegah-mencegah berbuat munkar. Suatu ketika kamu akan melihat kebakhilan yang dita’ati (gejala egoisme yang merajalela), hawa anafsu yang diperturutkan (kecenderungan untuk menuruti hawa nafsu), dunia lebih dipentingkan (gejala lebih mengutamakan kehidupan materialisme), ujub (merasa begitu megah) dengan pendapat sendiri. Ketika itu hendakalah kamu memperteguh/memperkuat pribadimu (menjaga dirimu) sendiri, dan biarkan/hindari orang awam (orang kebanyakan). Sesungguhnya di belakangmu akan datang suatu masa yang sangat sukar mempertahankan kesabaran (keteguhan hati) padanaya laksana memegang bara panas. Orang yang beramal di masa itu akan mendapat pahala setara dengan pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalan/amal para shahabat Rasulullah (Disimak dari HR Tirmidzi dari Abu Tsa’labah alKhustaini).

Yang mengundang datangnya bencana itu bisa dipecah atas tiga bagian besar seperti tersebut diatas. Pertama memperturutkan hawa nafsu, punya pola hidup tamak, rakus, serakah. Kedua memenuhi seruan kikir, punya pola hidup pelit, kikir. Ketiga ujub, sombong, pamer diri, punya pola hidup sombong (Berdasarkan HR Abu Syaikh dari Anas). Ada tiga hal yang mengundang datangnya bwencana/petaka. Yaitu : hawa nafsu yang diikuti (nafsu tanpa akendali), kikir yang ditaati (tanpa batas, monopoli, makan tebu dengan akar-akarnya, rakus/tamak dari huku sampai ke hilir), ujub/merasa begitu megah bangga/megah dengan diri sendiri (ambisius).

Yang mengundang datangnya bencana itu bisa pula dipecah atas lima bagian. 1 Prostitusi dilegalisir. 2. Curang dalam berbisnis. 3. Enggan berzakat. 4. Tak mpatuh pada Allah dan Rasul. 5. Berhukum bukan dengan hukum Allah (Berdasarkan HR Ibnu Majah, Hakim dari Ibnu Umar).

Yang mengundang datangnya bencana itu bisa pula dipecah jadi lima belas bagian. 1. Kekuasaan dianggap sebagai keuntungan. 2. Amanat dianggap sebagai harta ramapasan peang. 3. Zakat dianggap sebagai pajak. 4 Tunduk pada isteri. 5 Durhaka terhadap ibu. 6. Patuh pada kawan. 7. Benci padaa bapak. 8. Berbuat berisik dalam masjid. 9. Yang rendah budi jadi pimpinan. 10. Yang jahat yang dihormati. 11. Minuman keras merajalela. 12. Pakaian sutra sudah merata. 13 Penari wanita sudah merata. 14. Pemain musik sudah merata. 15. Generasi kini mengutuki generasi lalu (Berdasarkan HR Tirmidzi dari Ali).

Yang mengundang datangnya bencana itu bisa pula dipecah jadi 74 bagian. Antara lain : 1. Shalat sudah ditinggalakan, sudah disia-siakan. 2. Syahwat sudah diperturutkan. Dana lain-lain, sampai 74 macam (Berdasarkan HR Hudzaifaah bin alYaman).

Bencana/petaka dapat datang bila tindak kejahatan/kemunkaran/kemaksiatan merajalela, antara lain seperti :

– tidak melakaukan amar bil makaruf, nahi munkar.

– tidak menegakkan hukum Allah. Mencampurkan/menserikatkan/mensekutukan hukum Allah dengan hukum buatan manusia.

– menyalahi janji Allah dan RasulNya. Berbuat takhyul, khurafat, bid’ah.

– melakukan/membiarkan pembunuhan, penodongan, pembantaian.

– melakukan/membiarkan perkosaan, sodomi, perzinaan, legalisasi pelacuran (tindak asusila) tanpa malu-malu.

– melakukan/membiarkan perbuatan riba, rente, judi.

– melakukan/membiarkan perbuatan curang, mengurangi ukuran, takaran, timbangan.

– menolak kewajiban berzakat. Menganggap zakat sebagai kerugian/cukai/pajak. Tidak mau menunaikan kewajiban zakat.

– menyalah gunakan kekuasaan (komersialisasi jabatan), power turns to corrupt. Menumpuk kekayaan di tengah rakyat miskin.

– mengkhianati amanah (korup, ghulul). Memperebutkan kredit/fasilitas (monopoli).

– tunduk/ta’at pada isteri, tapi durhaka pada ibu.

– tunduk/ta’at/patuh/setia/penurut/berbakti pada teman, tapi benci/memusuhi bapak.

– melakukan/membiarkan bersuara keras (menjerit, berteriak) di dalam masjid.

– membiarkan domba-domba naik ke atas mimbar/p[anggung/pentas berceramah/berpidato.
1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: