Dalam Keadaan Terpaksa

Syi’ar : “Muhasabah : Dalam Keadaan Terpaksa”

Pada 23 Juli 2001, dalam Sidang Istimewa MPR-RI, sesuai dengan pasal 8 UUD-45, Megawati Soekarnoputri ditetapkan sebagai Presiden RI menggantikan KH Abdurrahman Wahid untuk masa 2001-2004. Ini adalah suatu kenyataan politik. Suatu realita yang harus diterima, baik secara suka, rela, maupun secara terpaksa.

Dalam keadaan normal, bukan dalam keadaan terpaksa, dalam menetapkan pemimpin bangsa, pemimpin negara, haruslah memperhatikan peringatan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abi Bakrah. Peringatan Rasulullah itu menyatakan bahwa suatu kaum, suatu bangsa tidak akan sukses, tidak akan memperoleh kejayaan apabila dipimpin oleh seorang wanita. Peringatan Rasulullah itu merupakan larangan untuk mengangkat seorang wanita sebagai penguasa, pemimpin negara.Larangan itu dalam bentuk celaan terhadap kaum, bangsa yang menyerahkan urusan kekuasaan, pemerintahan negara kepada seorang wanita (SABILI, No.23, 9 Mei 2001, hal 8, Komentar Yasmin Nabila dari FH-UNPAD, SABILI, No.7, 20 September 2000, hal 9, Komentar Iwan Hidayat dari Cikijing, Sabili, No.16, 31 Januari 2001, hal 15, Kolom KH Firdaus AN, Tafsir Ibnu Katsir, tentang QS Nisaa 4:34).

Di samping itu juga harus diperhatikan, bahwa sosok Megawati Soekarnoputri merupakan figur Muslimah yang tidak konsisten dengan keislamannya, diragukan keislamannya, yang sanggup beribadah di Pura, di tempat ibadah orang Hindu (SABILI, No.7, 20 September 2000, hal 9, Komentar Iwan Hidayat dari Cikijing), dan bahwa Megawati itu enggan mengamandemen UUD-1945 (SABILI, No.7, 22 September 1999, hal 10, Komentar Muhammad Nafili dari Bojong).

Dalam hubungan dengan kepemimpinan ini, Islam memberikan tuntunan agar memilih orang yang benar-benar taqwa dari kalangan orang beriman, yang terlihat dalam sikap, amal, akhlaq dan tindak tanduknya. Dan tidak memilih orang yang punya indikasi kafir (yang membangkang terhadap Allah), fasik (yang amal dan tindakannya melawan perintah dan ajaran Allah, seperti peminum, pezina, pejudi), fobi terhadap Islam (yang memusuhi Islam dan ummatnya), pengadu domba (pemecah belah), yang suka mempermain-mainkan agama dan ajaran agama, munafiq (H Mawardi Noor : “Memilih Pemimpin”, 1971:15-16, Prof Dr TM Hasbi ash-Shiddiedqy : Pedoman Shalat”, 1978:348-351, Al-Imam as-Syafi’i : “Al-Umm” (terjemahan Prof Tk H Ismail Yakub SH-MA : “Kitab Induk” I, 1980:340-341), “Kepemimpinan”, KARISMA, 1983:12, I,a, Nawawi : “Riadhus Shalihin” (terjemahan Salim Bahreisy, fasal Wajib Ta’at Pada Pemerintah, Dalam Hal Yang Bukan Maksiat, Dan Haram Ta’at Pada Maksiat).

Dan untuk jangka panjang, harus juga diperhatikan, bahwa orang-orang sekitar Megawati itu adalah orang-orang sekuler radikal, yang anti Tauhid, yang tidak akrab dengan Islam (SABILI, No.1, 4 Juli 2001, hal 7, Komentar Ummu Ibrahim Quthub dari Jaktim, Sabili, No.4, 11 Agustus 1999, hal 12-13, Muhasabah M Zainal Muttaqin).

Dalam keadaan terpaksa, dalam keadaan darurat, maka yang semula terlarang (haram) dapat berubah menjadi yang dibolehkan (halal), selama keadaan terpaksa itu, tetapi senantiasa loyalitas itu terhadap Islam. KH Firdaus mempertanyakan “buat apa Mega maju atau dimajukan oleh PDI-P. Bukankah di sana masih ada laki-laki yang beriman seperti Yulius Usman yang mengerti agama, Prof Dimyati ahli hukum, Laksamana Sukardi, dan Hamdan Zulva (Zulvan Lindan ?) ” (SABILI, No.16, 31 Januari 2001, hal 15).

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: