Dari psywar Landsdale ke terorisme Bush

Dari psywar Landsdale ke terorisme Bush

Kolonel Edward Lansdale adalah pentolan utama yang membangun doktrin kontra pemberontakan, atau juga dispesifikasikan menjadi kontra gerilya. Doktrin Landsdale itu diterapkan antara lain dalam menumpas pemberontakan komunis Huk di Filipina tahun 1950-an, di Kuba awal tahun 1960, di Vietnam menjelang akhir 1960.

Landsdale berhasil mematahkan pemberontakan Huk. Ia mempraktekkan apa yang disebut peang urat saraf, termasuk dengan memenggal kepala warga dan meletakkannya di tepi jalan raya. Ia menimbulkan ketakutan penduduk, dengan harapan penduduk menjadi ragu mengikuti pemberontak. Juga menculik tokoh yang dicintai masyarakatnya, dan menyebarkan isu, bahwa yang melakukannya adalah para pemberontak.

Di Kuba, perang urat saraf yang dilakukan Landsdale tidak membuahkan hasil, meskipun ia sudah mencetak poster-poster Jesus dengan kata-kata yang menyerukan rakyat Kuba melawan komunisme. Di Vietnam, selama tiga tahun operasi diselenggarakan, sedikitnya 20.000 orang tewas dibantai karena dituduh anggota Vietkong maupun simpatisannya.

Di Indonesia, tidak banyak diketahui soal keterlibatan Landsdale dalam pembantaian hampir satu juta rakyat Indonesia setelah pecahnya G30S. Menjelang G30S, CIA sukses di Indonesia mengidentifikasi kader-kader komunis. Dengan daftar hasil identifikasi itulah mereka satu per satu dilikuidasi (dibunuh).

Apa yang dilakukan Jakarta dalam kasus Aceh lebih dipengaruhi oleh doktrin anti pemberontakan/gerilya yang berangkat dari perang urat saraf dan sapu bersihnya Landsdale yang dianut oleh Amerika Serikat. Doktrin anti pemberontakan/gerilya yang dianut oleh Amerika Serikat ini diajarkan di SESKOAD sejak tahun 1960-an, dan dilanjutkan dengan kursus-kursus militer di Negeri Paman Sam itu (Kompas, Sabtu, 8 September 2001, hal 28, Nasional).

Kini doktrin psywar Landsade dilanjutkan dan diterapkan dalam bentuk terorisme George Walker Bush di berbagai wilayah di muka bumi ini, seperti di Afghanistan, di Irak, dan akan menyusul di Iran, Korut, bahkan di Indonesia sendiri. Namun karena doktrin Landsdale sudah masuk ke SESKOAD, maka doktrin Bush pun akan diterima Indonesia dengan senang hati.

Produk Budaya Kekerasan

Pemerhati masalah-masalah internasional A Agus Sriyono melihat masyarakat Amnerika Serikat didominasi “Culture of death”, tempramen kecanduan perang (warlike temprament) sebagai produk budaya akekerasan. Budaya kekerasan tersebut direfleksikan dalam kebijakan luarnegerinya.

Perancis dan Jerman menentang Amerika Serikat yang secara sepihak menyerang Irak. Inggeris mendukung Amerika serikat untuk menenteramkan Amerika Serikat jangan sampai kesepihakan Amerika Serikat keterlaluan dan brutal.

Inggeris berusaha mendorongnya agar PBB diikutsertakan penuh dalam penanganan pasa perang. Namun Amerika Serikat hanya akan memberi peran terbatas kepada PBB.

Amerika Serikat memiliki kelengkapan secara paripurna adidaya, mulai dari bidang politik, ekonomi, budaya, sains dan teknologi, sampai militer. Sistim internasional mau tidak mau diselenggarakan atas dasar keinginan Amerika Serikat (KOMPAS, MInggu, 30 Maret 2003, Fokus : “Ketika Ironi Sejarah Merasuki Peradaban”).

Demokrasi diluncurkan dengan rudal ke Irak

Demokrasi diluncurkan dengan rudal dari Pentagon ke Irak oleh para pengidak “skizofrenia” pewaris Fir’aunisme untuk membebaskan rakyat Irak dari penderitaan dan kemiskinan.

Dalam benak pemerintah Amerika Serikat tertanam keyakinan, bahwa bangsa mereka punya kewibawaan moral (misi suci) paling tinggi di dunia. Akar keyakinan itu terletak pada sejarah mreka. Banyak antaraa leluhur mereka penganaut sekte-sekte yang merasa lebih tinggi moralnya dari pada orang Eropa biasa. Mereka lari ke Amerika Serikat untuk mendirikan sebuah “negara orang suci”. Itu terjadi dua abad yang lalu.

Tapi kini Amerika Serikat bukan lagi negara orang saleh, tetapi negara orang congkak. Dalam benak pemimpin Amerika Serikat tertanam perasaan, ahwa mereka berhak berdiri di atas lembaga-lembaga dan di luar yurisdiksi manusia biasa (Peter Rosler Garcia : “Koboi AS Salah Menaksir”, KOMPAS, Jum’at, 4 April 2003, hal 4).

Dalam benak pemimpin AmerikaSerikat tertanam lukisan bahwa tentaranya adalah “tentara suci”, membawa “misi suci” melakukan “pembebasan” rakyat Irak yang tertindas dari pemimpin yang kejam, serta “melindungi” dunia dari bahaya mematikan. Namun dalam realitasnya, “pembebasan” itu adalah “pembantaian”, “melindungi” itu tak lain dari “membahayakan” dunia global. Itulah artinya dalam “Orwellian”, “Newspeak” Amerika Serikat.

Dalam benak pemimpin Amerika Serikat tertanam lukisan bahwa Irak adalah musuh yang sama sekali tidak memiliki “rasa hormat” pada “konvensi” atau “peraturan perang internasiona”. Namun dalam realitasnya, segala pelanggaran hukum internasional dilakukan oleh Bush, bukan oleh Saddam Husein (Yasraf Amir Piliang : “Kegilaan Fantasi Perang”, KOMPAS, Sabtu, 5 April 2003, hal 4). Bush dengan sikap kobonya telah menghina hukum kemanusiaan bangsa-bangsa beradab, telah memporakporandakan nilai-nilai demokrasi dan sistem hukum internasional. Bush memberlakukan hukum rimba (Peter Rosler Garcia).

Dipertanyakan, apakah penerimaan rakyat Irak terhadap aksi yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya benar akan menerima sebagai pasukan pembebas ataukah sebaliknya sebagai penyebab malapetaka (KOMPAS, Sabtu, 5 April 2003, hal 4, Tajuk Rencana). Namun dalam benak Bush tertanam lukisan bahwa rakyat Irak menjadi saksi semangat “kemuliaan” dan kepatuhan militer Amerika Serikat (Yasraf Amir Piliang).

Dendam terhadap Saddam

Sejumlah anggota Kongres menyaakan bahwa Presiden Walker Bush dapat mengandalkan dukungan dari lembaga tertinggi itu terhadap rencananya menyerang Irak, tanpa mengindahkan apa yang diputuskan PBB.

Para anggota Kongres mendukung rencana Bush untuk menggunakan kekuatan untuk melucuti Saddam Hussein.

Bush yang ingin membunuh rakyat Irak, melakukan tekanan verbal terhadap Saddam dengan menjulukinya sebagai “pembunuh berdarah dingin” (MEDIA INDONESIA, Selasa, Oktober 2002, hal 26).

Enam bulan sebelum itu Amerika Serikat sudah memiliki sekitar 10.000 serdadu di Kuwait, dan erbagai jenis pesawat tempur, tank tempur, helikopter Apache, sejumlah peralatan anti kimia buatan Ceko dan Jerman, serta pesawat Tornado Inggeris, juga sudah ditempatkan di basis militer di Kuwait (KOMPAS, Minggu, 8 Septemer 2002, hal 11).

“Pembunuh berdarah panas” Bush bergembira ria berhasil meringkus “Pembunuh berdarah dingin” Saddam dari tempat persembunyian pada 14 Desember 2003 berkat informasi yang diperoleh dari isteri keduanya (Berita pagi televisi, Senin, 15 Desember 2003, 05.30).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: