Dimensi Sosial Ibadah

Dimensi Sosial Ibadah

Untuk membangun masyarakat yang sejahtera lahir dan batin menurut Ilmu Sosial dilakukan dengan beberapa pendekatan. Pendekatan pertama adalah pendekatan karikatif (charity), pemberian ikan tanpa kail, yaitu membantu berdasarkan belas kasih ata santun, dengan memberikan santunan siap santap (konsumtif). Pendekatan kedua adalah pendekatan pemberian kail tanpa ikan, yaitu dengan memberikan pinjaman modal yang dapat dikembangkan dalam usaha (produktif). Pendekatan ketiga adalah dengan mengubah perilaku dan pola pikir (etos kerja), transformasi iptek/ketrampilan. Pendekatan keempat adalah dengan membangun sumber daya manusia (SDM).

Berbeda dengan Ilmu Sosial, maka akesejahteraan sosial dalam Islam merupakan buah/hasil dari aplikasi ibadah. Islam memberikan sejumlah hak yang tak pernah ditetapkan oleh ajaran atau aturan mana pun, seperti hak tetangga, hak kerabat, hak sesama Muslim di samping hak-hak asasi manusia secara universal. Dengan demikian setiap orang dibebani kewajiban agar saban waktu menyebarkan kebajikan kepada sesama. Dalam hubungan ini disadari benar bahwa ibadah dalam Islam memiliki dimensi sosial, baik prinsipnya maupun prakteknya. Islam mencakup hablum minallah (yang berdimensi personal/individual) dan hablum minannas (yang berdimensi sosial/komunal).

Dalam Islam, bukan hanya shalat, atau shaum, atau dzikir, atau do’a saja yang dkategorikan sebagai ibadah, yang berhak mendapat pahala di sisi Allah swt. Tapi semua aktivitas yang berdaya-guna yang dilakukan dengan tujuan yang baik, bukan mengharapkan pujian atau sanjungan manusia, adalah termasuk kategori ibadah. Banyak sekali aktivitas sosial yang dapat dikategorikan sebagai ibadah. Antara lain, meredakan tangis yang tertimpa musibah. Meringankan kesusahan yang terkena kesulitan. Membalut luka yang kecelakaan. Memenuhi keperluan yang melarat. Membela yang teraniaya. Memberi ma’af yang salah. Membayarkan yang terjepit pinjaman. Menyantuni yang fakir. Menuntun yang sesat jalan. Mengajari yang bodoh. Menampung yang kemalaman. Menghindari bahaya yang akan mengenai seseorang. Membuang gangguan di tengah jalan. Dan lain-lain aktivitas sosial ang berguna. Semua itu adalah ibadah dan sarana pendekatan diri kepada Allah swt, apabila disertai dengan niat yang tulus/suci. Semua itu berdamapak sosial, yang dapat melahirkan masyarakat yang sejatera lahir dan batin, masyarakat yang tiap anggotanya saban waktu menyebarkan kebajikan kepada sesama.

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: