Gus Dur dalam media

Gus Dur dalam media

1 Gus Dur sangat konsisten (istiqamah) pada pemikirannya sebelum menjadi Presiden. Baginya agama tidak boleh dikaitkan dengan urusan negara. Agama diposisikannya sebagai sesuatu yang individual (bersifat pribadi), moral dan semata-mata ritual. Agama hanya berperan sebagai suatu nilai etika (moral, akhlak), bukan sebagai aturan praktis (syari’at Islam). Ia memperjuangkan tegaknya (nilai) Islam yang tidak memberlakukan hukum Islam dalam negara.

Pada pertengahan 1982, Gus Dur menyeru untuk tidak usah membela Tuhan. Tuhan Tidak Perlu Dibela (M Musthafa, KOMPAS Minggu 1999 : ‘Untuk Siapa Agama Sebenarnya ?’).

2 Baru saja jadi Presiden, Gus Dur mengecam Departemen Agama sebagai tempat dagang agama. Secara reaktif mengecam keinginan jihad dari umat Islam. Secara konsisten tidak membiarkan berkembangnya kelompok Islam yang ingin menegakkan syari’at Islam (Farid Wadjdi S.IP, REPUBLIKA, Rabu, 16 Fewbruari 2000, hlm6).

3 Jauh sebelum jadi Presiden, Gus Dur menolak konsep negara Islam. Sejak lama ia mengemukakan bahwa Islam tidak berfungsi ideologi di kalangan mayoritas kaum Muslimin. Bahwa wilayah kehidupan suatu agama amemiliki otonominya sendiri. Bahwa Islam secara historis belum merumuskan tentang negara Islam. Bahwa dari sudut historis, tuntutan harus adanya negara Islam, rapuh sekali. Bahwa dari sudut pemikiran agung tentang keharusan adanya negara Islam. Bahwa Ibnu Khaldun berpendapat, bahwa unsur yang membentuk masyrakat bukanlah agama, melainkan ikatan kebersamaan atau kebangsaan (Rosihan Anwar, PANJI MASYARAKAT, No.528, 21 Januari 1987, hlm 73).

4 Pandangan Gus Dur sejalan dengan aturan main ideologi kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan bangsa, bernegara. Sistem kehidupan yang didasarkan pada pemisahan agama dan negara adalah sistem kapitalis sekuler. Kebijakan negara kapitalis sekuler berdasarkan antara lain pada demokrasi, HAM, pluralisme, ekonomi kapitalistik (pasar bebas, investasi asing, utang). Atas nama demokrasi (suara terbanyak), maka kerusakan moral (korupsi, kebebasan seksual, minuman keras, dll), tindak kejahatan dilegalisir. Atas nama kebebasan, maka ateis, kumpul kebo, homo, lesbi dinyatakan sah. Asas Mashalih Mursalah (al-muhafazhah ‘ala al-qadiim al-shalih wa al-akhzdu bi al-jadid al-ashlah) diselewengkan menjadi kemashlahatan (kemanfa’atan) yang semata-mata memuaskan kenikmatan nafsu hewani (Farid Wadjdi : Idem). Atas nama demokrasi dan HAM, negara kapitalistik-sekuler kaya mengendalikan politik dan ekonomi negara miskin sebagai sarapan empuknya untuk kepentingannya, bahkan menyerang negara yang dinilainya melanggar aturan main internasional (KOMPAS, Rabu, 16 Februari 2000, hlm 3, Paladin).

5 REPUBLIKA 24 Maret 2000 (hlm 2) memberitakan tentang pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid bahwa Masjsid Istiqlal harusnya bisa dikelola semua orang (semua agama) yang dinilai para ulama tidaklah benar. Sebelumnya SABILI 22 Maret 2000 (hlm 14) memberitakan tentang rentetan ketidaksenangan, ketidaksukaan Gus yang kini menjadi Presiden RI terhadap gerakan Islam, apalagi yang menurut persepsinya fundamentalis, dan berkali-kali menyodorkan proyek-proyek yang membuat gemas dan gerah para aktivis gerakan Islam.

6 Gus Dur gigih berupaya menjalin hubungan mesra dengan Zionis Israel. Ia terpilih menjadi anggota Institut Shimon Peres yang berpusat di Israel, dan ketika itu lebih sering terlihat di Israel (8 kali bolak balik ke Israel bersama LB Moerdani) katimbang ke Mekkah. Atas desakan wakil Uskup di Australia dan sejumlah Rabbi Yahudi dari Barat, ia menjadi presiden ICRp (International Conference Religion on Peace) yang berpusat di Roma. Di samping menjadi anggota utama IIAC (International Interreligious Advisory Committee) ia juga menduduki jabatan “presiden” WCRP (The World Council on Religion and Peace) yang berkedudukan di New York, USA. WCRP di Oslo, Norwegia melahirkan “United Nations Declaration on the Elimination of All Forms on Intolerance and of Discrimination Based on Religion or Belief”.

7 Gus Dur begitu gigh berupaya membuka kembali lahan bagi paham komunisme. Ketika melanjutkan studi di Irak (Fakultas Adab, Baghdad, 1970), ia lebih banyak berhubungan dengan partai Ba’aths. Partai ini sangat dipengaruhi oleh ide Sosialisme dan Marxis dan berpegang pada ide sekuler yang melemparkan agama jauh-jauh.Pendirinya adalah Mikhael Aflaq, seorang Kristen Ortodok (Maronit) yang punya komitmen kuat kepada Gereja Timur. Menurut Khalid Mawardi, mantan Dubes Indonesia di Syria, Abdurrahman Wahid bukan saja tertarik pada partai ini, melainkan ia bahkan menjadi anggota inti (core).

8 Kendati masa kanak-kanaknya hidup di lingkungan pesantren, Gus Dur tidak begitu antusias mempelajari agama, karena itu ia setelah SD (awaliyah, ibtidaiyah) ia melanjutkan sekolah lanjutan pertama di SMEP (di Yogyakarta, 1956). Guru privat bahasa Inggerisnya adalah seorang tokoh GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia, sebuah organisasi maantel PKI, Partai Komunis Indonesia). Pada waktu menjadi murid SMEP ia sudah hapal sejumlah pidato Stalin dalam bahasa Inggeris. Di majalah TEMPO (1987) ia pernah menulis sebuah artikel yang salah satu isinya menyatakan, semenjak bersentuhan dengan Marxisme pandangannya terhadapa agama (Islam) mengalami perubahan.

9 Gus Dur begitu geram terhadap gerakan Islam yang menurut persepsinya fundamentalis. Gus Dur begitu geram terhadap ayat 120 surah Baqarah. Gus Dur begitu gigh mencari restu dan dukungan dari luar negeri. Sampai-sampai berupaya mendapatkan penasehat dari luar negeri dan berupaya mengimpor hakim luar negeri. “Dari dulu Gus Dur tidak bersahabat dengan kepentingan Islam. Namun kepada non-Islam yang minoritas dia sangat bersahabat, bahkan memperhatikan mereka secara berlebihan” papar Eggi Sudjani. “Struktur idiologi Gus Dur sejak dulu memang anti Islam. Dika tidak simpati terhadap perjuangan Islam” tegas M.Alfian. “Pernyataan dan sikap perilakunya secara lahiriyah mengindikasikan bahwa Gus Dur adalah kafir”, tegas Dja’far Umar Thalib (Misbah, SABILI 18-22 Th.VII).

10 Pengamat masalah politik dan hukum Hartono Mardjono melihat bahwa Presiden Abdurrahman Wahid melakukan trik politiknya, dengan melontarkan ucapan dan isu yang mengundang reaksi pro dan kontra, membuat orang terjebak dalam kancah perdebatan tentang ucapan dan isu yang dilontarkannya, membangun konflik horizontal di kalangan elit politik, menebar benih pertentangan (REPUBLIKA, Rabu, 17 Mei 2000, hlm 6).

11 Menuju istana, menjadi orang nomor satu di Indonesia, bisa pula dicapai dengan politik “angguk anggak, geleng amuh”, Ogah-ogah, tapi mau”, “yes for no, no for yes”, “keinginan di tampilkan dalam penolakan, penolakan ditampilkan dengan keinginan”. Ketika pengajuan calon-calon Presiden 1999-2004, Abdurrahman Wahid seolah-olah (pura-pura ?) tak kepeningin, tak berminat, tak berambisi jadi Presiden. Menuju istana. Setelah jadi Presiden, sekembalinya dari berkeliling dunia, Presiden Abdurrahman Wahid pernah melontarkan isu seolah-olah Amien Rais berambisi jadi Presiden. Ini tampaknya merupakan trade-mark gaya politik menyembunyikan ambisi pribadi. Gaya politik mencapai tujuan misi dan ambisi dengan kelihaian malu-malu (pura), dengan menebar pertentangan, pro dan kontra, dikhotomi, dialektik, memanfa’atkan ketakstabilan, dulu disebut politik belah bambu, atau divide et impera.

12 Pengagum, penyanjung, pendukung Gus Dur memandang bahwa Gus Dur itu orang yang tidak bisa dimanfa’atkan, dikendalikan oleh siapa pun. Gus Dur itu sangat otonom dalam melakukan apa saja. Sikap, pernyataan Gus Dur yang kontroversial dipandang sebagai gaya, chiri khas spesifik Gus Dur, bukan sebagai taktik, strategi, manuver politik Gus Dur, bukan gaya “dalam dua tengah tiga”, atau “tiga dalam satu, satu dalam tiga”, atau angguk mengindikasikan ogah, geleng mengindikasikan oke”.

13 Gus Dur tampaknya seorang penganut paham pragmatisme – sebuah falsafah yang dipopulerkan oleh Charles S Pierce (1905). Paham ini menetapkan aspek-aspek praktis sebagai parameter benar salahnya suatu pemikiran atau konsep. Dalam perspektif pragtisme itu adalah wajar Gus Dur tetap “ngotot” merangkul Israel, Lee Kuan Yew, Liem Bian Loen (Sofyan Wanandi), karena mereka adalah “penguasa” dunia, pemilik duit saat ini. Dalam perspektif pragmatisme itu pula adalah adalah wajar Gujs Dur sangat partisan terhadap paham demokrasi dan sekularisas. Ia mengikuti garis pemikiran Huntington yang menyatakan, bahwa demokrasi dan sekularisasi tak mungkin dipisahkan, bahwa demokrasi mustahil dilakukan tanpa proses sekullarisasi, karena demokrasi membutuhkan salah satu prasyarat penting, yakni pemisahan agama dan negara. Ia dikenal raajin mempromosikan gagasan penolakan terehadap legislasi hukum Islam ke dalam hukum nasional dan rajin menggugat otoritas Syar’iah dalam semua aspek kehidupan. Tampaknya ia percaya terhadap thesis Donald E Smith, yang menyatakan bahwa sekularisasi adalah fenomena global yang tidak

mungkin dihindarkan sejak satu setengah abad yang lalu. Namun tidak semua asspek langkah dan pemikiran Gus Dur itu bercorak pragmatis. Ada yang tampak sangat partisan dan ideologis, terutama dalam soal hubungan keagamaan yang bersifat sinkretis (talbis). Tergantung sikon dan kepentingan (Adian Husaini, SAKSI, No.11, Thn II, 26 Janauari – 8 Februari 2000, hlm 38-39).

14 Gus Dur sangat terpengaruh HUMANISME. Dalam konteks filsafat HUMANISME, manusia itu semuanya dianggap sama (secara mutlak, baik Muslim, maupun Kafir, karena di matanya semua agama adalah sama). Sayangnya Gus Dur bukan seorang HUMANISME yang adil (konsekwen). Gus Dur berpihak pada non-Islam. Gus Dur tidak simpatik dengan tegaknya syari’at Islam. Tidak setuju dengan pemberlakuan syari’at Islam. Menafsirkan al-Qur:an seenaknya. Mengusulkan agar panitia Masjid Istiqlal orang Kristen. Mengusulkan hubungan dagang dengan Israel. Mengusulkan mencabut TAP XXV MPR. Menuduh bahwa gejolak di Maluku akibat dianak-emaskannya Islam. Untuk kepentingan bangsa tak apa menyembelih tanpa bismillah (SABILI, No.6, 6 September 2000, hlm 45, 79, 83, 91, 93).

15 Gus Dur sangat santun kepada para konglomerat. Dalam suatu kesempatan (pidato perpisahan), mantan Menko Ekuin, Kwik Kian Gie mengatakan, bahwa dalam rapat-rapat kabinet Presiden Gus Dur terang-terangan membela (sangat melindungi) para konglomerat (predator) kelas kakap semacam Syamsul Nursalim, Prayogo Pangestu, Sofyan Wanandi, Marimutu Sinivasan. Rasa-rasanya Gus Dur tak akan mungkin dapat membasmi KKN dan menegakkan clean government, apalagi jika benar-benar terlibat dalam skandal korupsi semacam Buloggate, Bruneigate (SABILI, No.y, Th VIII, 20 September 2000, hlm 33, 83).

= Bekasi 28 Oktober 2000 =

asrir
1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: