Islam itu politik

Islam itu politik

Disebutkan bahwa agama (diin) itu berhubungan dengan mu’amalah (keaktivitasan satu sama lain). Aktivitas kehidupan Rasulullah seluruhnya merupakan implementasi, tafsiran (pencerminan, penjabaran) dari ajaran Islam (yang mengacu pada Qur:an) secara kaffah, utuh, totalitas (QS 33:21, 2:208, 3:31).

Ajaran Islam itu berdimensi, berimplikasi sosial-politik. Ungkapan teo-religi (hablum minallah) berkonotasi (berkaitan dengan) ungkapan sosio-politik (hablum minannaas). Pangkal tolak ajaran Islam adlah loyalitas tunggal hanya kepada Allah semata. Tunduk, patuh, setia akan aturan-aturan Allah. Menantang, membangkang aturan-aturan thagut (tirani). Al-Qur:an menyebutkan agar hanya menyembah allah, tak ada tuhan selain Allah (QS 7:59,65,73,85, 11:50,61,84), dan menjauhi thagut (QS 16:36).

Pada orang-orang yang dikurniai Allah dengan pandangan politik (pandangan filsafat kepemerintahan), akan kentara dengan nyata, bahwa keseluruhan Qur:an, dan Sunnah serta Sirah Rasul, bahkan Islam itu sendiri yang bertumpu pada “La ilaha illallah” (pengakuan akan Rububiyah, Mulkiyah, Ilahiyah Allah) merupakan alasan syar’I tentang wajib adanya Negara Islam (ma’lum minad-din bidh-dharuruah). Sebaliknya pada orang-orang yang buta politik Islam, tak menampak bahwa dalam keseluruhan Qur:an, Sunnah dan Sirah Rasul itu terdapat perintah untuk mendirikan Negara Islam. Qur:an menyebutkan bahwa tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat (QS 39:19-22). AlChaidar menyebutkan bahwa “”kalimat-kalimat atau teks (teologis) keislaman merujuk pada pernyataan-pernyataan yang bersifat politics dan bahkan doctrinal (“Wacana Ideologi Negara Islam”).

H Zainoeddin Hamidy menyebutkan bahwa thagut itu ialah tiap-tiap yang disembah selain Allah. Di antaranya : Syaithan (QS 17:64, 36:60), Orang yang menghukum dengan aniaya (QS 4:60), Orang yang menghukum suatu perkara tidak dengan hukum dan ketentuan allah (QS 5:44-47), Tukang tenung, Sesuatu selain allah yang menyukai dirinya supaya disembah (QS 21:29) (“Ilmoe Tauhid”, 1939:12-16).

Dr Abdullah Azzam menulis buku “Aqidah : Landasan Pokok membina Ummat: (1992).

Sayid Qutub menyebutkan bahwa Rasulullah saw memulai langkahnya yang pertama dalam dakwah dengan menyeru manusia untuk mengakui : La ilaha illallah (Tak ada Tuhan selain Allah). Bahwa La ilaha illallah (mentauhidkan keTuhanan dan menyatukan Allah) itu berarti melucuti kekuasaan yang dipergunakan oleh pemuka (kahin) agama, ketua suku, pangeran dan penguasa, dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Bahwa La ilaha illallah itu adalah suatu revolusi terhadap kekuasaan bumi, pemberontakan terhadap orang yang memerintah dengan hukum yang dibuatnya sendiri tanpa izin Allah. Bahwa La ilaha illallagh berarti : yang berkuasa hanyalah Allah, hukum hanyalah yang datang dari Allah, kekuasaan itu seluruhnya kepunyaan allah. Kekuasaan atas hati nurani, kekuasaan atas perasaan kekuasaan atas kenyataan hidup, kekuasaan atas harta, kekuasaan atas hukum, kekuasaan atas jiwa dan raga. Tidak seorang pun punya kekuasaan terhadap orang lain (“Petunjuk Jalan”, hal 22-25).

Abul A’la al-Maududi menyebutkan bahwa panggilan adzan itu berarti : tidak ada pembuat hukum selain Allah. Tidak boleh tunduk kepada suatu pemerintahan, mengakui suatu undang-undang, mengikuti sesuatu hukum, memenuhi perintah di luar perintah Allah. Tidak boleh terikat kepada kebiasaan dan tradisi jahiliyah. Tidak boleh menerima sesuatu keistimewaan apa pun. Tidak boleh tunduk kepada sesuatu yang dipandang suci. Tidak boleh merendahkan diri pada sesuatu kekuasaan yang menentang kebenaran. Hanya beriman kepada allah, berserah diri kepada Allah, dan menolak segala sesuatu di luar Allah. Menolak segala kepatuhan dusta, kepada Tuhan-Tuhan selain allah (“Metoda Revolusi Islam”, 1983:64-65). Bahwa prinsip-prinsip Risalah yang diemban oleh para Rasul : Melaksanakan revolusi wacana (mencetuskan pergolakan ideologi), Menegakkan undang-undang hukum Islam (“Sejarah Pembaruan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, 1984:39).

Ajaran shalat berjama’ah berdimensi, berimplikasi sosial-politik. Islam tak hanya cukup mewajibkan shalat, tapi juga mewajibkan shalat dengan berjama’ah (Shalat Maktubah, Jum,’at, ‘Id, Janazah, dan lain-lain). Shalat berjama’ah merupakan pendidikan sosial-politik. Secara berkala berkesinambungan dilatih, digembleng memelihara, menjaga kekompakan persatuan, tunduk, patuh, setiaa kepada pemimpin (imam).

A Malik Ahmad menulis buku “Shalat Membina Pribadi dan Masyarakazt” (1987).

AlHafidz Ibnu Hajar al’Asqalany dalam “Fathul Bari” menyebuutkan “Faedah Jama’ah yang dua puluh tujuh” (Prof Dr TM Hasbi ash-Shiddieqy : “Pedoman Shalat”, 1978:588-589).

Amil zakat, pemungut dan penyalur zakat berkonotasi (berkaitan dengan) sosial-politik. Puasa Ramadhan berdimensi, berimplikasi sosial-politik. Mendidik, melatih persatuan dan kebersamaan serta kepekaan sosial. Sama-sama dilaksanakan pada bulan yang sama (yaitu bulan Ramadhan) dengan cara-cara (rukun-syarat) yang sama.

Prof Dr TM Hsbi ash-Shiddieqy menyebutkan bahwa “Sebenarnya, haji itu semata-mata Kongres Dunia, yang dikunjungi oleh bangsa-bangsa di dunia, supaya mereka dapat berkenal-kenalan dan dapat tinjau-meninjau; kemudian dapat pula mengadakan perundingan-perundingan, mengambil keputusan-keputusan dan meninggikan gerak-gerik yang dapat meningkatkan ummat dan melindungi mereka dari pada thamak-loba kaum-kaum penjajah. Di sanalah di hadapan Allah, mereka berjanji akan bekerja sama dan tolong menolong (“Al-Islam”, II, 1977:171).

Prof Dr Hamka menyebutkan bahwa “tidak ada salahnya jika (jama’ah haji) selama di Mina itu ahli-ahli cerdik-pandai dunia Islam bermusyawarah memperkatakan soal-soal nasib negeri-neeri masing-masing, soal ekonomi, politik dan kemasyarakatan dan soal dakwah Islam” (“Tafsir Al-Azhar”, II, 1983:158).

AlChaidar menyebutkan bahwa dalam terminologi kitab suci al-Qur:an, mustakbirin merujuk pada golongan elit penguasa yang angkuh dan suka mengancam, dan mustadh’afin merujuk pada golongan yang tertindas oleh penguasa yang zalim. Ummat Muslim akan dapat mengindentifikasikan siapakah yang dimaksud sebagai glongan “yang terbelenggu” (fir-riqaab) dari sistim sosial politik sekarang (“Wacana Ideologi Negara Islam”, 1999:89).

Dalam Qur:an terdapat satu surah yang berti Negara, yaitu suarah al-Balad (suarah ke-90). Di dalamnya terdapat doktrin Marhanisme (Marhamah) untuk mencapai kejayaan (‘aqabah) dengan membasmi segala kepincangan, ketimpangan sosial-politik, seperti penindasan, pemiskinan (masghabah), keyatiman, kesengsaraan (Prof Dr Hamka : “Tafsir Al-Azhar”, XXX, 1973:144-146, re : QS 90:11-16). Matan ayat QS 90:11-16 memerlukan terjemahan, tafsiran aktual yang bersifat spesifik, empiris, objektif, struktural (komunal), kontekstual, ideologis.

Islam berbicara bahwa secara garis-besar (ideologis-politis-militer) manusia di dunia ini terdiri dari dua kelompok. Pertama, kelompok kawan (kaum Muslimin). Kedua kelompok lawan (kaum kuffar). Kelompok lawan adalah semua kaum kuffar, baik Yahudi, Nasrani, Majusi (QS 4:101). Islam memerintahkan agar memperlakukan lawan itu sebagai lawan, dan bukan memperlakukan lawan sebagai kawan (QS 60:1). Kaum kuffar, baik Yahudi, Nasrani, maupun Majusi sama saja. Di mana dan kapan pun sama-sama tak bersahabat dengan Islam (QS 2:120). Senantiasa antipati teerhadap Islam, hanya semata-mata karena Islamnya (QS 5:59, 7:126, 85:8). Segala sesuatu yang menimpa mereka ditudingkan pada Islam sebagai biang keroknya (QS 36:18-19, 27:47, 7:131). Kaum kuffar, baik Yahudi, Nasrani, mapun Majusi takakan pernah diam berhenti melakukan aksi rekayasa, menciptakan skenario untuk memojokkan Islam dan ummat Islam, membuat stigma negatif terhadap citra Islam.

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: