Jadilah Manusia Seutuhnya

Jadilah Manusia Seutuhnya

(Seruan Dari Manusia Kepada Manusia)

Jadilah kita manusia seutuhnya. Jangan setengah-setengah. Setengah manusia, setengah binatang. Jangan berprikalu setengah manusia, setengah binatang, termasuk berprikalu seksual binatang, apalagi lebih binatang daripada binatang. Jangan bercumbu, berciuman, berpelukan disembarang tempat, tanpa rasa malu, persis seperti binatang.

Jangan melakukan hubungan intim/senggama seperti binatang, tanpa diawali/disahkan agama dengan nikah. Jangan melakukan hubungan seks sebelum/diluar nikah, dan tidak melakukan penyelewengan (Abstinentia Sexual, Be faithful). Jangan buka pintu/peluang aktivitas bagi mucikari, germo, bromocorah, prostitusi, pelacuran, aborsi. Tutup mati ruang gerak penyaluran HAB, Hak Asasi Binatang, kegiatan nafsu birahi binatang. Cegah segala media (gambar, foto, informasi), sarana (hiburan, rekreasi), busana (setengah bugil, bugil total) yang merangsang nafsu birahi binatang. Tangkal prlaku seksual yang lebih binatang dari binatang (freesex, homo, lesbi, bisex, gay).

Gay gigih mengkampanyekan kebebasan seks dan kebebasan dari rasa malu, dengan dalih kebebasan itu adalah hak mereka. Padahal itu semua adalah hak binatang. Dimana pun, kapanpun, binantang bebas melakukan hubungan seks tanpa malu.

Ajaklah kembali jadi manusia. Manusia yang sehat (bio-psiko-sosio-spiritual). Agama tidak mentoleransi, dan menolak merestuai gay (Simak Tabloid BERITA BUANA, Minggu, 16 Agustus 1998, hal 3, Fokus).

Meskipun Kristen memandang hidup yang paling ideal (Das Sollen) adalah membujang, namun Paulus mengajarkan kepada pengikutnya, bahwa lebih baik kawin (Das Sein) daripada hangus karena hawa nafsu (Simak Surat kiriman Paulus kepada Korintus, pasal 7, ayat 8 dan9). Sekalilagi jadilah manusia yang manusiawi, bukan yang hewani.

Pendulum sikap mental manusia bergerak antara menjadi manusia dan menjadi binatang. Sikap mental angsa tamapak pada norma hukumnya. Di suatu negara (Inggeris) bunuh diri dihukum, sedang di negeri lain (Indonesia) tidak dihukum. Di suatu negeri, pelacuran dihukum, sedang di negeri lain tidak dihukum. Di suatu negeri mengemis dihukum, sedang di negeri lain tidak dihukum (R Sidik Soeriadiredja : “Kriminologi”, 1955:6).

Sampaikanlah seruan ini kepada siapa saja.
1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: