Kita ini belum cerdas

1 Kita ini belum cerdas

Salah satu sasaran-tujuan, beban-tugas yang diamanatkan oleh konstitusi UUD-45 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bebas-tugas ini merupakan kewajiban, tanggungjawab dari pemimpin bangsa, pengelola negara ini.

Dalam praaktek kehidupan nyata, tampaknya kita ini masih saja belum cerdas, terutama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Kita lebih cenderung reaktif, responsif secara emosional. Kita belum bisa menata, mengelola emosi kita.

David Gooleman (dalam Emotional Intelligence, 1992) mengajari kita tentang cara menata, mengelola emosi kita secara dewasa (KOMPAS< Minggu, 29 Oktober 2000, hlm 5, Mari Bekerja Lebih Cerdas). Jauh sebelum itu, lebih dari empat belas abad yang lalu, Muhammad Rasulullah saw menyampaikan bahwa "nafsu (hawa, emosi) itu cenderung menyuruh kepada akejahatan" (QS Yusuf 12:53). Dan menyuruh agar tidak gampang marah (HR Thabrani dari Abi Darda).

Insan pers (media cetak dan elektronika) juga masih belum cerdas menyajikan berita. Belum terampil memilih dan memilah berita yang layak untuk konsumsi publik yang dapat "menjalin persatuaan dan kesatuan". Bahkan bisa-bisa provokator (tukang kipas) perseteruan muncul dari kalangan pers itu sendiri.

Dalam hubungan ini Rasulullah saw pun telah menyampaikan " jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu""(QS Hujurat 49:6).

Para pemimpin bangsa, pengelola negara pun juga belum cerdas menata, mengelola mekanisme kontrol. Kapan harus bicara. Kapan harus diam. Dimana harus bicara. Apa yang harus dibicarakan. Dalam hubungan ini Rasulullah saw telah menyampaikan agar mengatakan yang baik, jika tidak, maka diam" (HR Bukhari dan Muslim).

Diperlukan pendidikan mental agar mampu dewasa menata, mengelola emosi, agar mampu bersikap kritis-rasional, dan bukan reaktif-emosional. Demokrasi akan bisa tegak bila didukung oleh sikap mental yang kritis-rasional dan bukan yang reaktif-emosional.

Pendidikan mental kritis-rasional haruslah dimulai dari diri pribadi para pemimpin bangsa, pengelola negara ini. Dan kemudian selanjutnya secaraa bertahap ditularkan kepada seluruh warga-negara. Pemimpin, pengelola negara ini haruslah jadi teladan dari warga-negara. Bila pemimpin bangsa, pengelola negara ini baik, maka rakyat, warga-negara ini akan ikut baik

Diperlukan pendidikan mental demokratis, agar mampu mengelola lidah, mulut, sehingga tidak gampang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang meresahkan, menyesatkan, membingungkan masyarakat banyak.

Dibutuhkan upaya-upaya sistimatis dalam pendidikan politik rakyat dalam arti sebenarnya secara menyeluruh, sehingga di seantero tanah air dan di segala kalangan lahir orang-orang yang bermental demokrat, yang jujur, yang berani mengingatkan bila menyimpang, dan bukan orang-orang yang bermental elitokrat atau plutokrat yang suka cari muka dan tidak mau mengingatkan bila tersalah.

Salah satu biang pemicu pertentangan, perselisihan, perpecahan, perkelahian adalah mulut. "Mulut kamu adalah harimaumu yang akan merekah kepalamu". Islam mengingatkan bahaya mulut itu, serta menunjukkan jalan untuk menghindarinya (Mengenai ini dapat disimak dan diteliti antara lain pada makna kandungan QS Hujurat 49:6,11,12).

Faktor penyebab lemahnya, retaknya, rusaknya persatuan salah satunya adalah perbantahan. Akibat perbantahan ini umat terpecah berkeping-keping. Masing-masing kepingan terpecah lagi menjadi pecahan yang kecil-kecil.

Sejarah mencatat bahwa pernah ada kelompok, golongan, komunitas yang memiliki kekuatan, namun juga memiliki kesenangan berbantah, berdebat, berdiskusi, berpolemik, sehingga mereka terpecah belah hancur berantakan.

Andaikan tidaklah terjadi perbantahan dalam kalangan mereka sendiri, maka besar kemungkinan merekalah yang akan memegang tampuk kekuasaan. Mereka ini adalah kaum Khawarij. Demikian pandangan pengamat sejarah.

Islam mengajarkan agar tidak berbantahan, karena berbantahan itu akan menyebabkan terjadinya kelemahan, hilangnya kekuatan. Diperlukan kesabaran, menahan diri, mengelola marah (QS Anfal 8:46). Larangan perbantahan ini juga tersirat secara implisit dalam QS Kahfi 18:27. Juga dari pesan Rasulullah saw agar menjauhi perbuatan bersilat lidah, bersilang kata, karena itu tidak berguna, bahkan akan menimbulkan kerugian. Rasulullah menjamin suatu tempat di surga bagi yang meninggalkan perdebatan. Sesungguhnya Allah melarang berdebat setelah melarang menyembah berhala. Ketika melepas saudara-saudaranaya kembali dari Mesir, Nabi Yusuf berpesan agar jangan berbantah-bantahan (Genesis 45:24).

Memang watak asli manusia itu adalah selalu membantah (QS Kahfi 18:54). Seandainya terpaksa juga berbantah, hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang santun, simpatik, bermutu, dengan sikap lemah lembut, suka mema’afkan, suka membaur (berjama’ah, bukan munfarid/menyendiri), suka menghargai pendapat (bermusyawarah, berjiwa demokratis) QS Ali Imran 3:158), mengembalikan acuan persoalannya kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya (QS Nisak 4:59), menyerahkan diri kepada kehendak Allah (QS Ali Imran 3:103).

Pameo Minang mengatakan "Iyokan nan di urang, lalukan nan di awak". Sampaikanlah pandangan, pendapat sendiri dengan cara santun tanpa menyalahkan pandangan, pendapat orang lain. Beginilah gambaran sikap mental demokratis, seperti juga terpateri pada ucapan Voltaire, Filosof terkenal "I don’t agree with what you say, but I will defend to the dead your right to say it".

Sayid Mujtaba Musawi Lari dalam "Menumpas Penyakit Hati" (1999) mengutip Dale Carnegie (How to Win Friends and Influence People), bahwa semua orang menyukai pujian dan sanjungan. Menolak celaan, cercaan, kecaman, kritikan. Ia tak akan menerima dikecam, dikritik, dikatakan salah, keliru pendapatnya, pandangannya. Ia akan merasa tersinggung, dihinakan akalnya, kecerdasannya, kepandaiannya, kemampuannya berpikir, kepercayaan dirinya, kehormatannya. Ia akan berkonfrontasi melawan mempertahankan pendapatnya, pandangananya.

Karena itu mengingatkan kesalahan, kekeliruan seseorang haruslah dengan sangat hati-hati, tak secara langssung, tanpa yang bersangkutan merasa digurui. "Mengurui tanpa menjadi guru".

Dalam menghadapi yang berlainan kepercayaan dan keyakinan, Islam berpesan agar jangan menghinakan sembahan mereka (QS An’am 6:108). Jangan berdebat, kecuali dengan cara yang paling baik (QS "Ankabut 29:46). Mengajak mereka untuk sama-sama mentauhidkan Allah dan hanya mempertuhankan-Nya saja (QS Ali Imran 4:17, Ma:idah 5:77). Hendaklah mereka berhukum (memutus perkara) menurut apa yang ditentukan Allah (QS Ma:idah 5:47,68). Tak ada paksaan dalam beragama (QS Baqarah 2:256, Kafirun 109:6).

Dengan memelihara lidah, menjaga ucapan, tidak mengobral pernyataan serampangan, semoga akan terhindar dari perpecahan, perselisihan, pertengkaran, bentrok fisik.Dan dengan mental demokratis, semoga mampu bersikap kritis-rasional, bukan reaktif-emosional, mampu menata, mengelola emosi, sehingga terjalin persatuan dan kesatuan, persamaan dan kesamaan antara seluruh komponen bangsa ini, tumbuh, tegak, berkembang "liberte, egalite, fraternite". Semoga. (Bks 17-1-2000)

2 Mentalitas kultusisasi

Entah budaya kulturisasi yang menyuburkan mental kultusisasi. Ataukah mental kultusisasi yang menyuburkan budaya kultusisasi. Tapi yang jelas, baik dulu, maupun kini, memang sudah terbiasa jadi tradisi, jadi konvensi memuja-mua, menyanjung-nyanjung tokoh idola. Tokoh kharismatik bisa dipuja, disanjung sebagai Pemimpin Besar, atau sebaga Bapak Pembangunan, atau sebagai Bapak Bangsa (Fuehrer). Tokoh idola yang bersikap aneh )wonder figure), nyeleneh, kontroversial, yang sekali ngomong "a", dan lain kali ngomong "b", dipuja dan disanjung sebagai tokoh yang unik, yang langka, yang jenius, yang sulit ditemukan, yang progresif, yang berpikiran maju. Tokoh idolka yang memutuskan sesuatu tanpa musyawarah lebih dulu dipuja dan disanjung sebagai tokoh yang paling demokratis, tokoh demokratis sejati (otoriter-arogan ?). Sang tokoh dipandang telah mempertimbangkan secara matang sebelum mengambil keputusan. Semakin tak dipahami omongannya, alasan, tujuan dan solusinya semakin dipuja, semakin disanjung, semakin meningkat keidolaannya. Pemikiran song tokoh dipandang tidak bisa diselami, dipahami, diukur dari frame pemikiran umum. Punya metoda, irama tersendiri. Umum hanya bisa tinggal melihat hasilnya. Adakalanya yang menurut umum tidak baik, bagi sang tokoh malah sebaliknya (REPUBLIKA, Minggu, 14 November 1999, hlm 16, Rabu, 19 Januari 2000, hlm 3, Pendekatan Formalistik, Kamis, 20 Januari 2000, hlm 2, Kritis Konstruktif). Sang tokoh bisa saja menyeru pendukungnya untuk bersikap kritis, namun yang harus menentukan haruslah sang tokoh, bukan musyawarah. Selain sang tokoh, hanyalah sebagai sparing partner saja bagi sang tokoh. Kritik dianggap angin lalu. Emangnya lu gue pikirin.

3 Program kapitalis-sekularis

Diantara yang termasuk perbuatan munkar adalah mendekat-dekat pada perbuatan keji, memperlihatkan aurat, mengundang (membangkitkan) ghairah birahi, bergaul bebas. Terhadap yang tidak menutup aurat (lutut), Tuan Kadi Tuanku Nan Salapan (Kaum Paderi di Minangkabau) mengenakan sanksi hukum berupa denda uang sebesar dua suku (Prof H Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, 1983:30, Catatan : Suku adalah satuan mata uang waktu itu di Minangkabau).

Meningkatnya tindak kejahatan (kriminil) disebabkan oleh kekacauan "sexueel moraal" (pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan), yang disiram dengan arak dan judi ditambah dengan propaganda film dan bacaan yang bertopeng ilmiah (T M Usman el-Muhammady, Islamic Sociology, 1951:45).

Mempropagandakan pembatasan kelahiran, jika tidak dapat disebut munkar, setidaknya termasuk dalam syubhat. "Katakanlah : Dia yang menjadikan kamu di muka bumi dan kepada-Nya kamu akan dihimpunkan" (QS Mulk 67:24).

Lansung atau tidak lansung, program KaBe tak terlepas dari program politik, yaitu politik ekonomi kapitalis yang mengacu pada teori pertambahan penduduk dari pendeta Nasrani Robert Malthus. Kaum Kapitalis rakus akan kekayaan. Mereka merasa dihantui oleh kaum melarat. Mereka memandang kaum melarat sebagai ancaman yang akan menggerogoti posisi kekayaan mereka. Kaum kapitalis merasa dirugikan bila harus bermurah hati kepada kaaum melarat. Kemelaratan ummat manusia yang sebetulnya akibat kerakusan mereka sendiri, mereka lemparkan sebabnya kepada kepadatan penduduk. Mereka lancarkan propaganda ancaman ledakan penduduk. Mereka rancang program KaBe (Birth Control, Family Planning). Semuanya itu untuk mengamankan kekayaan mereka dari ancaman kaum melarat. Dengan demikian kekayaan mereka dapat aman, tetap terkumpul pada tangana mereka. Pemerataan kesejahteraan tetap tinggal sebagai nyanyian tidur kaum melarat. Penghapusan penyakit, kemiskinan, peperangan tetap tinggal sebagai impian. Sebaliknya untuk menanggulangi kemelaratan, Islam menyuruh menggalakkan infak (QS Baqarah 2:276). Dengan demikian kaum kapitalis tak perlu cemas akan adanya ancaman kaum melarat, tak perlu cemas akan ledakan penduduk. Begitu pula kaum melarat tak perlu menaruh dendama kepada kaum kapitalis. Semuanya dalam suasana tata tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi.

Sesungguhnya kalau berbicaraa soal ekonomi, sukar hidup dan sebagainya secara nasional, seharusnya di negara Inddonesia ini dilarang Keluarga Berencana. Pernahkah terfikirkan secara mendalam, apakah tidak ada kemungkinan saran-saran dan dorongan-dorongan orang dari luar negeri (terutama Eropa) terhadap Indonesia, supaya melakukan Keluarga Berencana itu mempunyai latar belakang politik (Dr Zakiah Darajat, dalam Tafsir al-Azhar VIII:121). (Bks 26-1-98).

4 Lembaga Kajian Kepustakaan Hukum Islam

Abul A’la al-Maududi pernah mengintrodusir diperlukannya suatu Akademi Hukum Islam (Lembaga Kajian Kepustakaan Hukum Islam) yang akan mengadakan penelitian seksama terhadap keseluruhan kepustakaan Islam (ALMUSLIMUN 203). Akademi (Lembaga) ini akan menterjemahkan semua buku-buku (kitab-kitab) yang diperlukan untuk memperoleh pemahaman terhadap jurisprudensi Islam dan Hukum Islam, dan juga membaca (menela’ah), memperbaiki (editing), memberi keterangan (catatan) terhadap buku-buku (jurisprudensi dan hukum Islam) itu menurut metode modern, sehingga bisa dapat diterima oleh orang-orang yang berpendidikan modern dan bermanfa’at bagi keperluan-keperluan umat Islam

Beberapa kitab/literatur yang harus diperlukan untuk diterjemahkan menurut Maududi antara lain : Pertama tentang Tafsir Ayatil Ahkam, karya al-Jasshash, al-‘Arabi, al-Qurthubi. Kedua tentang Syarah Hadits Hukum, karya al-‘Aini, al-‘Asqalany (Syarah Bukhari), an-Nawawi (Syarah Muslim), ad-Dahlawi (Syarah Muwaththa), asy-Syaukani (Syarah Muntaqa). Ketiga tentang Fiqih Mazhab, karya ibnu Humam, asy-Syafi’I, an-Nawawi, Ibnu Qudamah, Ibnu Hazmin, Ibnu Rusydi, Abu Yusuf, as-Sarkhasi, ibnu Adam. Keempat tentang Ushul Fiqhi, karya Ibnu Hazmin, al-Amidi, Muhammad Khudari, asy-Syatibi, Ibnul Qaiyim, ad-Dahlawi.

Disamping menterjemahkan kitab-kitab tersebut – masih menurut Maududi – perlu pula menyusun kembali kandungan-kandungannya dalam pola (sistematika) Kitab Hukum Modern. Judul-judul baru ditentukan. Pembicaraan yang bertebaran tentang problema-problema hukum, harus dikumpulkan (dikoleksikan) dan disusun (dikodifikasi, dikklassifikasi, dikompilasi) di bawah judul-judul (topik/tema) yang relevan, dan indeks pun harus disiapkan. Fiqih Islam (Hukum Islam) mencakup : Hukun antar bangsa, Hukum antar golongan, Hukum Tatanegara, Hukum Tataniaga, Hukum Tatausaha Negara, Hukum Peradilan, Hukum Militer, Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Paja, Hukum Perburuhan, Hukum Perkawinan, Hukum Waris, Tatahukum, Teori Hukum, Hak manusia, Hak Cipta. (Bks 21-9-87).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: