Konstitusi di Negara Islam

Konstitusi di Negara Islam

Kholid Orba Santosa dari IAIN-SGD Bandung menyebutkan, bahwa secara umum tidak ada konstitusi seragam yang diterapakan pada semua negara. Termasuk konstitusi yang dicoba dirumuskan di negara-negara Muslim, seperti Pakistan, Arab Saudi, Mesir dan negara-negara Muslim lainnya. Bahkan negara Madinah pada masa pemerintahan Nabi Muhammad saw dan Khalifah al Rasyidin pun demikian (SABILI, No.2, Th.IX, 18 Juli 2001, hal 74, Kolom, “Konstitusi Islam : Piagam Madinah dan Piagam Jakarta”).

Sayid Quthub almarhum dari Ihwanul Muslimin Mesir menyebutkan, bahwa Syari’at Islam tampak dalam bentuk prinsip-prinsip yang global dan kaedah-kaedah umum. Di bawah naungan Syari’at Islam dapat memancar puluhan bentuk masyarakat yang hidup dan aktif bergerak dalam lingkarannya yang luas, tetapi tetap berpegang pada pokok dasarnya. Dalam prakteknya, akan terjadi pelbagai bentuk penyesuaian menyangkut urusan yang berupa cabang dari pokoknya, akan tetapi semua itu tidak akan menyimpang dari maksud dan tujuannya yang tetap, demi kepentingan manusia sebagai satu keseluruhan, di semua tempat dzn sepanjang masa (“Masyarakat Islam”, 1983:37).

Umar Abduh, mantan Tapol kasus Woyla menyebutkan, bahwa Mujahidin itu hanya mengenal satu piagam, yaitu Piagam Madinah yang akan direkonstruksikan sebagai satu-satunya piagam dalam hidup bermasyarakat, berangsa dan bernegara. Mujahidin itu sama sekali tidak membutuhkan apa yang namanya itu Piagam Jakarta atau Piagam-Piagam lainnya dalam rangka menegakkan syari’at Islam (SABILI, No.7, Th.VIII, 20 September 2000, hal 6).

Piagam Madinah – lanjut Umar Abduh – adalah perundang-undangan Islam yang berlaku universal, bermuatan nilai asasi untuk terwujudnya Hayatan Mubarakaa. Tercatat, bahwa belum pernah ada para Mujahid yang berani membuat pembaruan (innovasi) terhadap Piagam Madinah, kecuali Kemal Attaturk, Kartosuwirjo, dan Kongres Mujahidin I Yogyakarta. Termasuk pula masyarakat Iran dan Dinasti Fathimiyah yang Syi’ah (SABILI, No.16, Th.VIII, 31 Januari 2001, hal 6, SABILI, No.5, Th.VIII, 23 Agustus 2000, hal 30).`

Dari segi bobotnya – lanjut Kholid Orba Santosa – Piagam Madinah, Piagam Negara Islam pertama itu telah merangkum semua sifat yang dibutuhkan oleh organisasi kenegaraan. Baik sifat proklamasi (proclamation of independence), deklarasi (declaration of birth of state), , perjanjian, atau pernyataan-pernyataan lain (declaration of human rights, le droit de l”home et du citoyen) termuat dalam Piagam itu. Oleh karena kualitasnya yang serba mencakup ini, Piagam Madinah diakui sebagai “Konstitusi Tertulis yang pertama di dunia” (SABILI, No.2, Th.IX, 18 Juli 2001, hal 74, dari H Zainal Abidin Ahmad : “Piagam Nabi Muhammad saw”, 1973:61).

Allah swt menyatakan, bahwa “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (Yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dengan kedatangan kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Ahzab 33:21).

Di samping Qur:an dan Hadits, Rasulullah meninggalkan warisan berupa Piagam Madinah sebagai teladan paripurna, sebagai acuan-rujukan dalam menata hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara yang pluralistis (majemuk.

Piagam Madinah bukanlah suatu perjanjian, kesepakatan, konpromi politik, konsensus nasional, bukanlah hasil ketetapan suatu musyawarah Mufakat dari suatu Majelis Permusyawaratan..

Piagam Madinah merupakan anugerah, karunia, pemberian, ketetapan dari Rasulullah saw selaku pemegang amanat kehendak, keinginan, kerinduan masyarakat akan kedamaian, ketenteraman, mewakili publik opini.

Piagam Madinah adalah kitab (nizham, dusatur, peraturan, ketetaapan) yang ditetapkan oleh Rasulullah saw sebagai pemegang amanat yang diakui oleh orang banyak yang bermacam ragam yang sama-sama menghendaki, mengingini, merindukan kedamaian, ketenteraman, kemanan untuk semua orang.

Piagam Madinah ditetapkan Rasulullah sebagai suatu peraturan (nizham) untuk kehidupan umum, yang akan menjadi dasar bagi pembentukan pergaulan bagi segenap warga (penduduk)..

Piagam Madinah meletakkan dasar-dasar masyarakat Islam, dasar-dasar sosial politik dan persatuan masyarakat, dasar-dasar berdiri dan bangunnya negara Islam. Rasulullah mendirikan suatu negara, suatu pemerintahan, suatu persatuan, suatu pergaulan hidup yang berasaskan persatuan dan kemanusiaan.

Piagam Madinah mengatur, menetapkan susunan suatu ummat, suatu masyarakat, suatu pemerintahan. Piagam Madinah ditetapkan Rasulullah untuk semua berdasarkan prinsip-prinsip hubungan bertetangga baik dan persekutuan bersama, yang menjamin kesatuan ummat.

Piagam Madinah memuat hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi semua pihak (defining their rights and obligations), berikut jaminan dan perlindungan.

Piagam Madinah mengatur hubungan persaudaraan antara semua orang, serta menetapkan hak-hak dan jaminan perlindungan terhadap semua orang mengenai harta benda dan agama mereka, untuk menjalankan ajaran-ajaran agama mereka dengan bebas, dan persyartan-persyaratan bepergian yang pantas dalam hidup bersama (ko-eksistensi damai).

Piagam Madinah mengajarkan bahwa suatu negara (daulah) yang merdeka dan berdaulat penuh itu haruslah mempunyai tiga unsur utama. Pertama, negara itu harus mempunyai rakyat (ummat) baik pribumi yang beragama Islam, maupun pribumi yang bukan Islam, serta para pendatang yang Islam (QS 2:213, 10:19). Kedua, negara harus mempunyai wilayah (daerah tritorial) yang ditempati oleh rakyat pribujmi. Ketiga, negara harus mempunyai pemerintah (imam) yang bertindak sebagai hakim dan mandataris ummat dalam menyelesaikan sengketa, memutuskan perkara, memimpin rakyat (ummat), mengikat perjanjian damai, mengeluarkan ijin bepergian, menindak yang berlaku jahat (yang membangkang, bughat), memelihara kerukunan, ketertiban, keamanan, melindungi yang setia (loyal), yang berlaku baik, yang lemah atau teraniaya, memberikan jaminan Allah, menuntut hak Allah. Keempat, negara itu harus mempunyai undang-undang (kanun) yang berdaulat, berdasarkan hukum Ilahi yang menetapkan kewajiban mematuhi hukum Allah, keputusan (sunnah) Rasulullah dan kesepakatan (ijma’) ummat (QS 4:59,65).

Hak dan Kewajiban dalam Islam

Piagam Madinah menetapkan sejumlah hak dan kewajiban rakyat (ummat) dan pemerintah (imam) serta sanksi bagi pelanggar undang-undang, dalam rangka menggalang persatuan Islam dan persatuan ummat. Di antara lain bahwa :

Dalam Islam, jaminan perlindungan adalah satu, menyeluruh, untuk semua, tanpa membedakan asal, suku, agama.

Segenap rang dilindungi jiwa, harta, agamanya oleh undang-undang (hukum), kecuali yang melakukan tindak kejahatan (melawan hukum) atau yang melakukan tindak kekacauan.

Segenap yang lemah, yang teraniaya perlu dilindungi, dibela, dibantu, ditolong, disantuni.

Segenap orang Islam berkewajiban menggalang persatuan Islam, menindak yang melakukan tindak kejahatan (QS 49:9-10, 5:2).

Segenap orang Islam tidak dibenarkan melindungi, membela, membantu, menolong, menyantuni yang melakukan tindak kejahatan atau yang melakukan tindak kekacauan (pelanggaran).

Setiap orang yang menghilangkan nyawa orang Islam tanpa alsan yang benar dikenakan sanksi hukuman qishash, kecuali kalau kaum keluarga yang terbunuh mema’afkannya (QS 17:33, 4:92-93, 2:178).

Segenap orang tidak dibenarkan melindungi, membela, membantu, menolong, menyantuni yang melakukan tindak sabotase, spionase, subversi, intervensi, invasi atau agressi (QS 17:34, 8:55-57, 9:12).

Setiap orang yang melakukan tindak kejahatan atau melakukan tindak kekacauan, ia dan keluarganya harus ditindak. Setiap pimpinan kelompok, golongan (qabilah, qaum, thaifah) bertanggungjawab atas perbuatan kelompok, glongannya.

Setiap orang bebas dari tuntutan atas kesalahan orang lain, dan hanya bertanggungjawab atas kesalahannya sendiri, kecuali kalau kesalahannya itu karena memela diri sebab teraniaya (QS 6:164, 53:38-39).

Setiap orang bebas tinggal dan bepergian dalam wilayah negara.

Segenap orang tidak dibenarkan memasuki wilayah (privasi) orang lain tanpa ijin yang punya (QS 24:27).

Segenap rang berkewajiban menggalang persatuan ummat untuk menindak yang melakukan tindak sabotase, spionase, subversi, interfensi, infiltrasi, invasi atau agressi, anneksasi.

Segenap orang tidak dibenarkan menodai kehormatan rakyat (ummat) dan kehormatan pemerintah (imam).

Segenap orang berkewajiban memikul biaya bela negara.

Dalam Islam, perjanjian damai adalah satu, menyeluruh, mengikat semua, tanpa membedakan asal, suku, agama.

Setiap orang Islam tidak dibenarkan bertindak sendiri membuat perjanjian damai dengan musuh negara tanpa kesepakatan sesama Islam (QS 6:153, 3:159).

Segenap orang berkewajiban menggalang persatuan, memelihara kerukunan, ketertiban, keamanan, kedamaian.

Segenap orang berkewajiban saling nasehat menasehati, saling berbuat kebaikan, dan saling mencegah kejahatan (QS 22:41).

Segenap orang berkewajiban menggalang persatuan menerima ajakan dari musuh rakyat (ummat) dan pemerintah (imam), kecuali terhadap yang masih menunjukkan sikap permusuhan (QS 2:193, 8:61).

Segenap kelompok, golongan (qabilah, qaum, thaifah) diakui keberadaannya, eksistensi dan otonominya dalam persamaan derajat dan kedudukan.

Segenap orang bebas menjalankan agamanya (QS 2:256).

Ummat wahidah atau masyarakat Islamiyah adalah masyarakat (gemeinschaft) yang intinya (kernnya) terdiri dari rang-orang Islam yang tangguh, militan, dan yang plasmanya segenap orang tanpa membedakan asal, suku, agamanya yang mau, bersedia diatur, dihukum, diselesaikan dengan hukum Allah, Tuhan Yang Maha Esa (Sayyid Qutub : “Petunjuk Jalan” , hal 100-101, Bab V : La ilaha illallah Sebagai Metode Kehidupan)

Segala sengketa ummat harus diselesaikan berdasarkan musyawarah dengan kesepakatan ummat (semua pihak) menurut undang-undang (hukum Allah) dan ketetapan (Sunnah0 Rasul (QS 42:38, 3:159, 4:59).

` Undang-undang tidak boleh dimanipulasi, disalahgunakan untuk melindungi, membela, membantu, menyantuni yang melakukan tindak kejahatan atau yang melakukan tindak kekacauan (H Zainal Abidin Ahmad : “Piagama Nabi Muhammad saw, Kontitusi Negara Tertulis Yang Pertama Di Dunia”, 1973:21-37).

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: