Mencari Adat Basandi Syarak (ABS)

1 Mencari Adat Basandi Syarak (ABS)

Belakangan ini masyarakat Minang mengalami krisis identitas. Nilai

moral dan

akhlak masyarakat menurun. Menurut tokoh Muhammadiyah H Syahrudji

Tatang BA,

krisis identitas yang sedang dialami masyarakat Minang saat ini lebih

banyak

disebabkan oleh tidak teraktualisasikannya identitas orang Minang dalam

kehidupan sehari-hari masyarakat Minang (PADANG EKSPRES, Kamis, 11

Januari

2001, hal 10, “Atasi, Krisis Identitas Masyarakat Minang”). “Slogan

Adat

Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) selama ini, hanya

menjadi slogan yang diucapkan pada saat bersama saja, namun tidak

diaktualisasikan dalan kehidupan sehari-hari” ujar Syahrudji..

Adat Minangkabau mencakup ideologi, pandangan hidup, kaidah umum, norma

tata-gaul orang Minangkabau.

Semula Adat Minangkabau mengacu pada ayat-ayat kauniah,

ketentuan-ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam alam.

“Yang setitik dijadikan laut, yang sekepal dijadikan gunung. Alam

terkembang

dijadikan guru”.

Orang diajak menyimak gejala alam. Mampu membaca arah angin yang

berkisar

(punya nalauri politik). Mampu melihat kaki ular yang menjalar. Mampu

membaca yang tersirat di balik yang terusrat. Mampu membaca situasi dan

kondisi (tahu akan ranting yang akan melata. Tahu akan dahan yang akan

menimpa, tahu akan lantai yang akn menjungkat). Mampu melacak, meramal

dan

memprediksi. “Everything depend on condition time and place” (Soegiarso

Soerojo : “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, 1988:394).

Segala gejala alam, kecenderungan masyarakat, peristiwa sosial diamati,

disimak, dipelajari, diselidiki, diteliti, diobservasi, dianalisa.

Hasil

penelitian dan analisa tersebut dijadikan acuan bagi penyusunan norma

tata-gaul.

Bagi peneliti manusia (antropolog), setiap peristiwa sosial (dalam

masyarakat) dapat dijadikan semacam komentator terhadap

peristiwa/kejadian

lainnya.

Setelah orang Minangkabau memeluk agama Islam, maka Adat

Minangkabau berdasarkan syari’at Islam.

“Adat bersandi syarak (syari’at Islam). Syarak bersendi Kitabullah

(Qur:an)”. Qur:an itulah yang jadi panduan hidup orang-seorang dan

masyarakat.

“Syarak mengata (menentukan, menetapkan). Adat memakai (melaksanakan,

menerapkan”.

Nilai dasar dan substansi Adat Minangkabau tetap tak

berobah,

berlaku sepanjang masa.

“Tak lapuk kena hujan. Tak lekang kena panas”.

Norma yang tak termasuk dalam Adat Minangkabau,

jangkauannya

terbatas. Terbatas pada tempat dan waktu (temporer).

“Cupak sepanjang betung (bambu). Adat sepanjang jalan (tak berujung)”.

Dahan dan ranting (cabang dan raanting) Adat Minangkabau

tumbuh

berkembang sesuai tuntutan dan kebutuhan.

“Adat berada pada pertumbuhan (perkembangan). Pusaka berada pada

tempat”.

Aplikasi penerapan Adat Minangkabau bisa berubah menurut

tempat

dan waktu, tetapi tetap tegak pada nilai dasarnya.

“Sekali air gedang (banjir), sekali tepian (tepi kali) beralih

(berpindah)”.

Dasar pokok (tian utama) tata-gaul sosial-politik-ekonomi

orang

Minangkabau adalah tidak aniaya, tidak culas, tidak curang.

“Kalau gedeang (besar) tidak melanda (menindas). Kalau cerdik (pintar)

tidak

menjual (membodohi)”.

Hubungan individu dengan masyarakat dalam Adat Minangkabau

aalah

serasi, selaras, seimbang (harmonis).

“Rancak (bagus) bagi awak (diri), disetujui oleh orang”.

“Sakit pada diri, sakit pula pada orang”.

“Senang bagi diri. Senang pula bagi orang”.

Dalam Adat Minangkabau, masing-masing punya pimpinan.

“Luhak punya penghulu. Rantau punya raja (Ajo). Kampung punya ketua

(Ketua

kampung). Rumah punya tungganai (Kepala rumah)”.

“Kemenakan beraja pada mamak (paman). Mamak beraja pada penghulu

(pimpinan

mamak)”.

Segala urusan dalam Adat Minangkabau harus menempuh

jalurnya.

“Naik melalui jenjang. Turun melalui tangga”.

Dalam Adat Minangkabau, masing-masing harus menjaga,

memelihara

ikatan sosialnya agar tak sampai rusak.

“Dalam bersaudara, ikatan sesaudara dipelihara agar tak rusak. Dalam

berkampung, ikatan sekampung dipelihara gar tak rusak. Dalam bersuku,

ikatan

sesuku dipelihara agar tak rusak. Dalam bernegeri, ikatan senegeri

dipelihara agar tak rusak”.

“masing-masing saling sandar bersandar, bagaikan aur dengan teebing,

saling

menguntungkan (mutual sismbioses)”.

Tata-gaul dalam Adat Minangkabau adalah kebersamaan, bukan

persamaan.

“Yang tua dimuliakan. Yang muda disayangi. Sesama gedang (besar)

hormat-menghormati”.

Kewajiban seseorang dalam Adat Minangkabau berdasarkan

kesanggupan dan kemampuannya.

“Besar kayu, besar bahannya. Kecil kayu, kecil bahannya”.

Perasaan kebersamaan itu dalam Adat Minangkabau melahirkan

rasa

sehina, semalu. Serta kerja bersama.

“Seciap seperti ayam. Sedencing seperti besi. Seiikat seperti lidi.

Serumpun

seperti serai”.

“Berat sama dipikul. Ringan sama dijinjing”.

“Sama mengayun, sama melangkah”.

“Kabar baik diberitakan. Kabar buruk dikunjungi”.

“Jika jauh ingat-mengingat. Jika dekat kunjung-berkunjung”.

“Sedikit beri bercecah. Banyak beri berumpuk”.

“Hati gajah sama dikunyah. Hati tungau sama dicecah”.

“Yang tidak ada dicari bersama. Yang ada dimakan bersama”.

“Mendapat sama berlaku. Kehilangan sama mendapat rugi”.

“Ke bukit sama mendaki. Ke lurah sama menurun”.

“Sama sakit, sama senang”.

Hak seseorang dalam Adat Minangkabau diperlakukan sama

dalam

kebersaman. Persamaan dalam keersamaan.

“Duduk sama rendah. Tegak sama tinggi”.

Keputusan dalam Adat Minangkabau diambil secara musyawarah,

setelah mendekati kesepakatan bersama.

“kalu bulat sudah boleh digolongkan (digelindingkan). Kalau picak

9pipih)

sudah boleh dilayangkan (dilemparkan)”.

Saluran untuk memperoleh kesepakatan (kata sepakat) adalah

dengan permufakatan.

“Bulat air dengan pembuluh, Bulat kata dengan permufakatan”.

“Air bersaluran betung (bambu, buluh). Manusia bersaluran kebenaran”.

Siar kesemarakan Alam Raya Minangkabau terpampang da

terpancang

di mana-mana dengan adanya masjid (tempat beribadat), rumah gadang

(tempat

tinggal), balai adat (tempat pertemuan), gelanggang (arena

hiburan/kreasi),

tepian (tempat mandi) (sarana kebersihan, kesehatan, ketangkasan),

cupak-gantang (alat ukur), emas-perak, beras-padi, lumbung-rangkiang,

sawah-ladang, itik-ayam, kerbau-kambing, tambak-ikan, jalan raya

(sentra

ekonomi pertanian, peternakan), dusun, teratak, kepala kota, korong,

kampung

(sarana pemerintahan), senjata, parit (sarana pertahanan). Semuanya ini

melambangkan masyarakat yang beragam, beragama, beradat, cerda

(berilmu),

aman-makmur-sejahtera (berekonomi baik).

Kepemimpinan dalam Adat Minangkabau ditentukan oleh dukungan

pendukungnya.

“Tumbuhnya ditanam. Tingginya dianjung (diangkat). Gedangnya (besarnya)

digedangkan (dibesarkan)”.

Menurut Adat Minangkabau, tak ada persoalan yang tak bisa

diselesaikan (prinsip optimis).

“Tak ada kusut yang tak dapat diselesaikan. Tak ada keruh yang tak

dapat

dijernihkan”.

Pemimpin dalam Adat Minangkabau haruslah orang yang berjiwa

besar (bealam lapang).

“Pusat jala, timbunan kapal”.

“Lubuk akal, lautan budi”.

“Bagaikan air jernih dalam sayak (wadah) yang landai (ceper)”.

“Bagaikan kayu (pohon) di tengah padang (rimba). Uratnya (akarnya

tempat

duduk bersila. Batangnya tempat duduk bersandar. Dahannya tempat tegak

bergantung. Buahnya untuk dimakan. Airnya untuk diminum. Daunnya untuk

berlindung (kepanasan/kehujanan)”.

Sedikitnya harus ada enam sifat yang harus dimiliki oleh

seorang

pemimpin dalam Adat Minangkabau, yaitu : berilmu, beakal, suka memberi

petunjuk, murah dan mahal, hemat dan himat, yakin dan tawakal (Datuk

Palito

: “Uraian Pepatah Adat : Elok Negeri Dek Penghulu”, Limbago Payakumbuh,

9-6-30).

Pemimpin itu harus bijaksana dalam segala urusan.

“Tepung tak terserak. Rambut tak pututs”.

“Tanduknya ditanam. Daginggnya dilapah. Kuahnya dikacau”.

Pemimpin harus tunduk pada alur dan patut, pada pimpinan

hikmah

kebijaksanaan (kepantasan universal). Tidak boleh berbuat

sewenang-wenang.

“Kemenakan di bawah pimpinan mamak. Mamak di bawah pimpinan penghulu.

Penghlu di bawah pimpinan mufakat. Mufakat di bawah pimpinan alur dan

patut”.

Alur dan patut adalah etika moral universal (akhlak karimah

paripurna).

“Raja (pemimpin) yang adil disembah (diikuti titahnya). Raja (pemimpin)

yang

aniaya disanggah (diganggu-gugat)”.

Pemimpin itu dalam Adat Minangkabau harus siap menghadapi

keluh-kesah, kekesalan, kedongkolan, unjuk rasa bawahan.

“Penghulu (pemimpin) itu bagaikan lantai. Siap dipijak tanpa

menjungkal”.

“Peran (posisi) teluk untuk timbunan kapal. Peran lurah untuk timbunan

angin. Peran gunung untuk timbunan kabut. Peran pemimpin untuk timbunan

umpatan (sasaran kemarahan)”.

“Gunjing dan umpatan bagi pemimpin sejati adalah bagaikan obat

penawar”.

Pemimpin itu harus cermat mewaspadai situasi.

“Ingat sebelum kena. Melantai sebelum lapuk”.

“Ingat, kalau yang di bawah akan menimpa (menghimpit). Kalau yang bocor

(tiris) Sei bawah”.

“Penghulu (pemimpin) jika kena kicuh (tipu muslihat), alamat kampung

sudah

terjual (tak berharga lagi)”.

“Agar suara penghulu (pemimpin) diikuti bawahan, haruslah pandai

bergaul

dengan orang banayak”.

“Pantang bagi penghulu (pemimpin) kusut tak akan selesai”.

“Penghulu (pemimpin) harus tegak tegar menghadapi segala krisis”.

“Penghulu (pemimpin) jika pecah (rusak), maka adat tak akan berdiri

lagi”.

“Kata dan kerja jika tak seiring, maka hilang kepercayaan anak neeri”.

Dalam Adat Minangkabau terdapat pembagian tugas

kepemimpinan/kekuasaan.

# Pemimpin adalah pemimpin adat, menghukum sepanjang adat, menyuruh

berbuat

baik, melarang berbuat jahat. Perkataan penghulu menyelesaikan masalah.

# Malin adalah pemimpin agama, menghukum sepanjang syarak, membedakan

halal

dan haram (menjauhkan sikap cuek terhadap halal haram).

# Manti tegas berbuat, bertindak, menerima dakwaan-pengaduan, menghukum

silang selisih (silang sengketa).

# Dubalang (Hulubalang) mengawal negeri, menindak kejahatan.

Peran Adat Minangkabau dapat disesuaikan dengan situasi dan

kondisi.

“Bisa digumpal sekecil kuku. Bisa dikembang sebesar alam”.

Masing-masing orang dalam Adat Minangkabauberperan sesuai

dengan

posisi dan kedudukannya.

“Kemenakan menyembah secara lahir. Mamak menyembah secara batin”.

“Kemenakan berpisau tajam. Mamak berdaging tebal”

“Orang besar jadi besar, karena dibesarkan”.

Tata-gaul dalam Adat Minangkabau antara seorang lelaki

dengan

anak dan kemenakannya berdasarkan pada perimbangan keserasian,

keselarasan.

“Anak dipangku (digendong, disuapi, dicukupi kebutuhan jasmani dan

rohaninya). Kemenakan dibimbing (dituntun, ditunjuki, diperhatikan

kebutuhan

rohaninya)”.

“Mamak bagaikan payung di kala hujan. Ayah bagaikan payung di kala

panas”.

Ungkapan rasa sayang disesuaikan dengan objek sasaran.

“Sayang pada anak dipecut (digebuk). Sayang pada kampung ditinggalkan

(pergi

merantau)”.

Hubungan pergaulan menurut Adat Minangkabau haruslah

mengindahkan keseimbangan, keserasian, keselarasan.

“Tegangnya terjela-jela. Kendurnya berdenting-denting”.

“Lebih kuat surut dari pada maju”.

“Semut terpijak tidak mati. Alu tertarung patah tiga”.

Menurut Adat Minangkabau, setiap orang, setiap barang

adalah

beguna susuai tempat, waktu dan keadaannya. Tak ada yang tak berguna.

Masing-masingya ditempatkan pada tempatnya yang sesuai.

“Yang buta penghembus lesung. Yang pekak (tuli) pelepas (penembak)

bedil

(senapan). Yang lumpuh penghuni (penunggu) rumah. Yang kuat pembawa

(pengangkut) beban. Yang bodoh untuk disuruh diseraya. Yang cerdik

(pintar)

lawan berunding (untuk bermufakat). Yang cerdik (cendekia) tempat

bertanya.

Yang kaya tempat bertenggang (minta bantuan)”.

“Yang bengkok untuk bingkai bajak. Yang lurus untuk tangkai sapu. Yang

setapak tangan untuk papan tuai (?). Yang kecil untuk pasang sunting

(?)”.

Tata-gaul menurut Adat Minangkabau mengharuskan menempatkan

diri

sesuai dengan posisi, tempat, waktu, keadaan, lingkungan.

“Cupak diisi. Lembaga dituang”.

“Di mana tanah dipijak, di sana langit dijunjung”.

“Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang jawi (sapi) melenguh”.

Adat Minangkabau sangat mengagungkan budi pekerti (budi

bahasa).

“Tak ada yang indah selain budi. Tak ada yang elok selain bahasa”.

“Bukan emas, bukan pangkat, tapi budi yang dihargai orang”.

“Hutang emas dapat dibayar, Hutang budi dibawa mati”.

“Agar jauh silang sengketa, perhalus budi bahasa”.

“Agar pandai, sungguh berguru. Agar mulia, pertinggi budi bahasa”.

Adat Minangkabau menuntut keseimbangan antara sikap

merendahkan

diri dengan sikap menjaga harga-diri (muru:ah, wibawa, gezacht).

“Kalau pergi merantau, mandilah di sebelah bawah, ambillah air di

seelah

hilir”.

“Kalau aliran air ditutup orang, batas sempadan dialih orang,

perlihatkan

sikap seorang lelaki, jangan takut darah tertumpah”.

“Jika dalam kebenaran, setapak jangan surut”.

“Satu hilang, dua terbilang. Sebelum ajal berpantang mati”.

“Menantang guru dengan ajrannya. Menantang mamak dengan petuahnya”.

Malu dalam Adat Minangkabau adalah malu bersama.

“Seekor kerbau berkubang, seluruhnya kena lumpurnya. Seorang makan

nangka,

semua kena getahnya”.

Sanksi Adat Minangkabau yang terberat adalah kutukan masyarakat

(pengadilan

rakyat).

“Ke atas tidak berpucuk. Ke bawah tidak berurat. Di tengah dilubangi

kumbang. Hidup segan, mati tidak mau”.

Masyarakat Minangkabau yang melecehkan tuntunan Adatnya

bisa

saja dilanda kehancuran tata sosial-ekonomi.

“Sawah kering. Tebasan hangus. Rakyat melarat. Negeri rusak”. (Prof Mr

M

Nasroen : “Dasar Falsafah Adat Minangkabau”, Bulan Bintang Djakarta,

1971).

2 Generasi cuek

Imamnya, makmumnya cuek. Pemimpinnya, rakyatnya cuek. Semuanya pada

cuek.

Cuek terhadap masalah halal haram. Sang Pemimpin sangat mahir

mencari-cari

dalil, hujah untuk membenarkan, mensahkan pendapatnya. Benar-benar amat

pintar. Pintar memelintir. Memelintir yang sudah qath’i menjadi dzanni.

Memelintir yang sudah baku menjadi yang diperselisihkan, diperdebatkan.

Amat

lihai mempermainkan dalil-dalil agama.

Untuk melegalisasi, melegitimasi pendapat sendiri yang menyalahi

pendapat

umum (ijma’) digunakan kaidah usul fikih, bahwa “siapa yang ijtihad,

menafsirkan hukum benar, akan mendapat dua pahala, tetapi yang

ijtihadnya

salah mendapat satu pahala”. Kaidah usul fikih “menghindari kesulitan

lebih

utama, dari pada mendatangkan kebaikan” (darul mafasid muqaddam ‘ala

jalabil

mashaalih) digunakan untuk mengamankan, menyelematkan kehilangan,

kerugian

penanaman modal asing, penutupan perusahaan asing. Terganggungnya

investasi

asing yang jumlahnya milyaran, dipandang lebih mafasid dari pada

timbulnya

kebingungan dan keresahan di masyarakat akibat ulah intervensinya dalam

bidang yang bukan wewenangnya, mengeluarkan statement blunder (kacau,

ngawur).

“Yang paling berwewenang dalam menentukan halal haramnya sebuah produk

makanan dan minuman adalah kaum ulama dan ahli syar’iyah”. “Dalam

kapasitas

selaku kepala anegara tidak berwewenang mengeluarkan pernyataan fatwa

tentang halal dan haram suatu produk makanan”.

Ada yang pintar bermain diplomasi menepis timbulnya kebingungan dan

keresahan di kalangan masyarakat akibatnya beragamnya pendapat tentang

halal

haramnya suatu produk makanan dan minuman. “Khilafiyah biasa terjadi

dalam

beragama”. “Perbedaan penafsiran tidak akan membuat bingung masyarakat.

Masyarakat sudah bisa menilai sendiri terhadap mana yang benar”.

Rakyatnya cuek. Masa bodoh. Tak peduli tentang halal haram. “Dari

pemantauan

(pers) di kalangan pedagang diperoleh kesimpulan, bahwa mereka tidak

sempat

memikirkan halal atau haram sebuah barang, pembeli pun begitu. Baginya

yang

penting bisa makan”. “umumnya pelanggan tidak ada yang menanyakan haram

atau

tidaknya apa yang dijual”. “Dari pengamatan (pers), masyarakat (Penjual

dan

pembeli) nyaris tak mempersoalkan haram atau halal apa yang dijual di

warung-warung”. “Hanya sebagian (sedikit) saja yang peduli terhadap

masalah

halal haram” (PADANG EKSPRES, Kamis, 11 Januari 2001, hal 1, 6).

Tugas kewajiban para ulama, da’i, penceramah lah untuk menyeru,

menghimbau,

menyeru, menuntun, membimbing generasi cuek ini menjadi generasi peduli

(terhadap halal dan haram) melalui semua wahyana dan sarana dakwah,

baik

melalui taklim, khutbah, buletin dakwah, media cetak, mapun media

elektronik

seperti radio dan televisi.

Ulama, da’i, penceramah yang akan ikhlas mengemban tugas risalah ini

hanyalah yang mampu menyatakan “Dan aku sekali-kali tidak minta upah

kepadamu atas ajakan-ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan

semesta alam (QS 26:109, 127, 145, 164, 180). Yang sanggup menegaskan

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan

keridhaan allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak

pula

ucapan terima kasih” (QS 76:9).

3 Aktivitas Pemilintiran (Fitnah Terbesar)

Islam mengingatkan agar menjaga ucapan, agar mengatakan yang benar (QS

Ahzab

33:70), atau diam. “Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,

maka

hendaklah dia berkata yang baik atau beridam diri” (HR Bukhari, Muslim

dari

Abu Hurairah). Ada sejumlah jenis, macam ucapan yang buruk, busuk,

karut,

marut, jahat, jorok (aafaul-lisan). Di antaranya adalah memilintir.

Bahasa

asingnya memanipulasi. Padanannya tahrif (penyempitan dan perluasan

makna).

Belakangan ini santer, marak, bahkan merupakan tren gejala pemelintiran

makna ini. Yang sudah benar diplintir menjadi samar. Yang sudah baku

diplintir menjadi ragu. Yang sudah qath’I diplintir menjadi zhanni.

Syari’at

Islam diplintir sedemikian rupa, sehingga hanya sebatas ibadah ritual

(shalat, shaum, zakat, haji). Bahkan hanya sebatas prinsip-prinsip umum

(hakikatnya, nilainya, semangatnya, jiwanya).

Dalil-dalil syar’i, kaidah-kaidah ushul fiqhi diplintir, dimanipulasi.

Makna

syari’at Islam direduksi, sehingga terpisah, bertentangan antara

hakikat dan

syari’at. Makna ayat QS Ali Imran 3 diplintir, dimanipulasi sedemikian

rupa,

agar yang telah beragama jangan didkwahi masuk Islam. Jangan

didakwahkan

Islam itu sebagai acuan tunggal (alternatif).

Makna keadilan diplinitr, dimanipulasi sedemikian rupa sehingga setiap

upaya

untuk memformalkan syari’at Islam dalam perundang-undangan harus

dipandang

diskriminatif terhadap non-Islam.

Pengertian jihad diredusir, diturunkan dari pengertian istilah

(kontekstual,

keagamaan) menjadi pengertian lughawi (tekstual, grammatikal,

kebahasaan0),

yang hanya berarti bekerja keras atau berjuang, bersungguh-sungguh.

Makna ijtihad dipenggal, sehingga tanpa kesungguhan dan kehati-hatian,

fatwa

jama’ah (ijma’ ulama) didongkel, dikalahkan, dibatalkan oleh fatwa

munfarid

(perorangan).

Makna ukhuwah diplintir, dimanipulasi bahwa ukhuwah yang cocok adalah

ukhuwah syu’ubiyah, ukhuwah wathaniyah, sedangkan ukhuwah Islamiyah

akan

menimbulkan perpecahan bangsa, destabilitas dan disintegrasi nasional.

Kafir, kufur diplintir sedemikian rupa sehingga yang sudah berTuhan

bukan

lagi kafir (yakfuruuna bi aayatillah). Dengan pengertian ini maka iblis

pun

bukan termasuk kategori kafir, kufur.

Akibatnya istilah-istilah agama yang sudah baku, seperti halal, haram,

thaib, khubs, khair, syarr, makruf, munkar diplintir sedemikian rupa,

sehingga meskipun lafalnya tetap sama, namun maknanya sudah berubah

sama

sekali. Karena saking pintarnya memilintir, menyebabkan tergelincir.

Tahrif

jalan ke tasykik (meragukan). Kepada Nabi Adam telah dijelaskan Allah

tentang hal yang terlarang, yang haram dilakukan. Namun karena

pintarnya

setan memelintir, maka Nabi Adam sempat tergelincir (QS Baqarah

2:35-36).

Yang sudah kena tasykik tak bisa lagi membedakan antara yang baik dan

yang

buruk, antara yang halal dan yang haram. Rasulullah sudah

memperingatkan,

bahwa “akan datang suatu masa di mana mereka menghalalkan yang haram

setelah

mereka mengganti namanya”.Riba tetap saja riba, meskipun namanya bunga

kembang, jasa administrasi. Judi tetap saja judi. Namanya bisa saja

dana

kesejahteraan sosial, atau arisan sambung rasa, atau multi level

marketing,

atau lainnya.

Islam sangat tak suka memplintir yang sudah teang (muhkamat) menjadi

yang

kabar (mutasyabihat). Membuat hal-hal yang sudah diyakini (qath’i),

yang

sudah disepakati (ijma’) menjadi hal-hal yang diperdebatkan, yang

diperselisihkan. Misalnya nash tentang kepemimpinan sudah sangat

terang,

gamblang (muhkamat) menjelaskan bahwa yang pria, yang Islam itulah yang

menjadi pemimpin.

Memplintir yang sudah terang ini menjadi yang kabur adalah merupakan

fitnah

(bahaya) terbesar yang dihadapi Islam. De-islamisasi, de-formalisasi

syari’at Islam bergandengan memplintir yang muhkamat, yang sudah jelas,

yang

sudah pasti menjadi yang mutasyabihat, yang diragukan. “Orang-orang

yang

dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti

sebahagiaan

ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk

mencari-cari

takwinya” (QS Ali Imran 3:7).

Para Rasul mengingatkan ummatnya agar jangan membuat kerusakan di muka

bumi

(QS 7:74, 11:85, 26:183, 29:36, 2:60). Aktivitas membuat kerusakan ini

pun

semakin marak pula akhir-akhir ini. Membuat kerusakan di semua bidang,

di

semua lapangan. Kerusakan akhlak (dekadensi moral). Batas antara yang

baik

dan yang buruk sudah sangat kabur. Kerusakan tatanan budaya (kultural).

Kerusakan tatanan ekonomi. Kerusakan tatanan politik. Keruskan tatanan

hukum. Dan lain-lain. Semuanya berpangkal dari pemilintiran yang haram

menjadi yang halal (serba boleh).

Untuk memuluskan pemelintiran yang haram menjadi yang halal ini

digunakan

antara lain kaidah ushul fiqhi : “dar:ul mafaasid muqaddam ‘ala jalabil

mashaalih”. Penerapannya disesuaikan dengan selera. Bahkan kaidah ushul

fiqhi ini juga digunakan untuk melegalisasi, meligitimasi, mengesahkan

pandangan politik. Sampai-sampai menimbulkan mafsadah (kerusakan,

fitnah)

yang lebih hebat, seperti perselisihan, perpecahan ummat. (Bks

11-1-2001).

4 Manipulasi terminologi Islam

Istilah, terminologi ajaran Islam sebenarnya mempunyai pengertian yang

sudah

baku. Namun demikian, disamping yang berpegang pada pengertian baku,

ada

pula yang memanipulasi, mereduksi, meredusir pengertian yang sudah baku

itu.

Ada yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam adalah berpegang pada

rukum iman yang enam dan menjalankan syari’at Islam yang lima

(syahadat,

shalat, shaum, zakat, haji). Memahami bahwa Khalifah di kalangan

Muslimin

adalah semacam Paus di kalangan Katholik Kristen. Khalifah itu tanpa

kekuasaan (politik, militer). Istilah-istilah jama’ah, imamah (imarah),

bai’at, tha’at sama sekali tak terkait dengan kekuasaan (politik,

militer).

Tujuan khilafah adalah agar dapat beribadah secara tertib dan

terpimpin.

“Islam hanyalah da’wah diniyah. Semata-mata mengatur hubungan manusia

dengan

Tuhan. Tak ada hubungan apa-apa dengan masalah keduniaan, seperti

urusan

peperangan dan urusan politik”. “Agama adalah satu hal, dan politik

adalah

suatu hal yang lain”. “Qur:an tak pernah memerintahkan agar negeri

diatur,

ditata oleh Islam”.

Ada pula yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam itu adalah

berpegang

pada prinsip-prinsip umum dari hukum Islam (hakikatnya, nilainya,

semangatnya, jiwanya), sedangkan penerapan pelaksanaannya disesuaikan

dengan

situasi, kondisi, suasana, tempat, waktu (makan, zaman). “Islam itu

hanya

sebatas hakikat, sebatas nilai”. Yang diperlukan hanyalah menggali

nilai-nilai syahadat, shalat, shaum, zakat, haji, qurban, jihad, dan

lain-lain. Sedangkan bentuk, ujud, format, kaifiat dari syahadat,

shalat,

shau, haji, qurban, jihad, dan lain-lain terserah selera masing-masing

sesuai dengan perubahan zaman.

Ada pula yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam itu adalah

berpegang

pada rukun iman yang enam dan menjalankan rukun islam yang lima, serta

berjama’ah bersama-sama seara kolektif memberlakukan hudud yang

ditetapkan

Allah sebagai hukum positif seperti yang pernaha dilaksanakan oleh

Rasulullah. Islam itu meliputi semua aspek kehidupan, termasuk politik,

militer. Khilafah itu merupakan kekuasaan (politik, militer) untuk

memberlakukan hudud, syari’at yang ditetapkan Allah.

Untuk memberlakukan hudud, menegakkan syari’at Islam ada yang menempuh

jalur

pendidikan dan bimbingan (tarbiyah dan taklim). Ada yang menempuh jalur

pengabdian masyarakat, aksi sosial. Ada yang melalui dekrit pemerintah,

menempuh jalur politik, jalur parlemen. Ada yang menempuh jalur

kekuatan

militer, dengan kekuatan senjata.

Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya di Mesir, Maududi dengan

Jami’ah

Islamiyahnya di Pakistan lebih memusatkan perjuangannya melalui jalur

politik, jalur parlemen. Di Indonesia, Soekarno pernah menganjurkan

memilih

jalur parlemenini, namun ia sendiri berseberangan dengan Islam.

Kartosuwirjo

lebih maju, memilih jalur perjuangan bersenjata dengan memproklamasikan

berdirinya Negara karunia Allah, Negara Islam Indonesia (NII).

Bagaimana pun, realisasinya sama sekali tergantung semata-mata dari

anugerah

karunia Allah, seperti tampilnya Umar bin Abdul Aziz yang jauh sangat

berbeda dengan keluarganya dalam kalangan Bani Umawiyah (Umaiyah ?).

5 Kesan lebaran

# Orang-orang tidak mengajak yang disalami untuk mampir berkunjung ke

rumah.

# Orang yang berkendaraan (motor dan mobil) yang pulang dari shalat ‘Id

tidak mengajak orang yang berjalan kaki yang rumahnya searah dengan

yang

berkendaraan.

# Silaturrahmi hanya ssampai di pintu rumah, di teras berbau comberan.

# Yang minta ama’af tidak merasa bersalah.

# Yang berutang merasa utang lunas dengan minta ma’af pada sa’at

lebaran.

# Lebaran diartikan (dipahami/dihayati) dengan :makan enak, ketupat

ayam,

pakaian bagus, mengunjungi tempat rekreasi (berkreasi ke tempat-tempat

hiburan), tradisi mudik, sungkeman, halal bi halal, kembang api,

petasan,

inklusif, desakralisasi, hura-hura.

# Yang mengemis memanfa’atkan lebaran untuk meningkatkan penghasilan.

# Tidak terasa kehangatan ukhuwah. Ukhuwah tinggal sebagai impian. Yang

ada

hanya fatamorgana, kepalsuan, kepura-puraan, kamuflase.Tak ada

kunjungan.

Tak ada ikhwan. Yang ada hanyalah kawan.

# Lebaran usai, suasana akembali biasa (Siapa lu, siapa gua).

# Kembali kepada kesucian (fithrah) tinggal impian.

# Takbiran diselang-seling dengan pengumuman-pengumuman. Takbiran

tradisi.

Takbiran modernisasi.

# Sebelum shalat ‘Id didahului dengan penyampaian

pengumuman-pengumuman.

# Sa’at Khatib berkhutbah, berseliweran juru foto amatir.

# Ucapan salam : minal “aidin wal faizin, ma’af lahir bathin.

# Jarang ucapan : taqabbalallhu minna wa minkum wa taqabbal ya Kariim.

# Yang berkhutbah adalah khatib panggilan, bukan penguasa setempat.

# Khatib-khatib lebih banyak bermunculan dari kalangan intelektual

katimbang

dari kalangan santri.

# Usai puasa, kembali mengikuti selera. (Bks 26-4-90).

Catatan :

* Imam Syafi’i menyukai orang memakai pakaian yang bersih dan memakai

wangi-wangian pada hari Jum’at, hari raya dan ke tempat pesta.

* Imam Syafi’i menyukai wanita memakai pakaian yang sederhana, yang

tidak

berwarna warni.

* Imam Syafi’I menyukai anak-anak memakai pakaian yang berwarna-warni.

* Imam Syafi’I membedakan antara Imam dengan Makmum.

* Imam Syafi’I memberitakan bahwa Sahal bi Sa’ad dan Rafi’ bin Khudiij

mengerjakan shalat sunnat sebelum shalat hari raya dan sesudahnya.

* Zuhri memberitakan bahwa seruan shalat hari raya itu adalah

“Ash-shalaatu

jaami’ah”.

* Imam Syafi’i memandang makruh berkeliaran meminta-minta pada sa’at

khatib

sedang berkhutbah.

* Imam Syafi’I memberitakan bahwa yang berkuasa (Wali Negeri) lebih

berhak

mengimami shalat dalam kekuasaannya (wilayahnya).

* Imam adalah yang memimpin Takbir, shalat, Khutbah (Al-Uum).

= Asrir Sutan Maradjo, Tenggiri-12/204, Bekasi Selatan 17144, 17

Januari

2001 =

1 Mencari Adat Basandi Syarak (ABS)

Belakangan ini masyarakat Minang mengalami krisis identitas. Nilai

moral dan

akhlak masyarakat menurun. Menurut tokoh Muhammadiyah H Syahrudji

Tatang BA,

krisis identitas yang sedang dialami masyarakat Minang saat ini lebih

banyak

disebabkan oleh tidak teraktualisasikannya identitas orang Minang dalam

kehidupan sehari-hari masyarakat Minang (PADANG EKSPRES, Kamis, 11

Januari

2001, hal 10, “Atasi, Krisis Identitas Masyarakat Minang”). “Slogan

Adat

Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) selama ini, hanya

menjadi slogan yang diucapkan pada saat bersama saja, namun tidak

diaktualisasikan dalan kehidupan sehari-hari” ujar Syahrudji..

Adat Minangkabau mencakup ideologi, pandangan hidup, kaidah umum, norma

tata-gaul orang Minangkabau.

Semula Adat Minangkabau mengacu pada ayat-ayat kauniah,

ketentuan-ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam alam.

“Yang setitik dijadikan laut, yang sekepal dijadikan gunung. Alam

terkembang

dijadikan guru”.

Orang diajak menyimak gejala alam. Mampu membaca arah angin yang

berkisar

(punya nalauri politik). Mampu melihat kaki ular yang menjalar. Mampu

membaca yang tersirat di balik yang terusrat. Mampu membaca situasi dan

kondisi (tahu akan ranting yang akan melata. Tahu akan dahan yang akan

menimpa, tahu akan lantai yang akn menjungkat). Mampu melacak, meramal

dan

memprediksi. “Everything depend on condition time and place” (Soegiarso

Soerojo : “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, 1988:394).

Segala gejala alam, kecenderungan masyarakat, peristiwa sosial diamati,

disimak, dipelajari, diselidiki, diteliti, diobservasi, dianalisa.

Hasil

penelitian dan analisa tersebut dijadikan acuan bagi penyusunan norma

tata-gaul.

Bagi peneliti manusia (antropolog), setiap peristiwa sosial (dalam

masyarakat) dapat dijadikan semacam komentator terhadap

peristiwa/kejadian

lainnya.

Setelah orang Minangkabau memeluk agama Islam, maka Adat

Minangkabau berdasarkan syari’at Islam.

“Adat bersandi syarak (syari’at Islam). Syarak bersendi Kitabullah

(Qur:an)”. Qur:an itulah yang jadi panduan hidup orang-seorang dan

masyarakat.

“Syarak mengata (menentukan, menetapkan). Adat memakai (melaksanakan,

menerapkan”.

Nilai dasar dan substansi Adat Minangkabau tetap tak

berobah,

berlaku sepanjang masa.

“Tak lapuk kena hujan. Tak lekang kena panas”.

Norma yang tak termasuk dalam Adat Minangkabau,

jangkauannya

terbatas. Terbatas pada tempat dan waktu (temporer).

“Cupak sepanjang betung (bambu). Adat sepanjang jalan (tak berujung)”.

Dahan dan ranting (cabang dan raanting) Adat Minangkabau

tumbuh

berkembang sesuai tuntutan dan kebutuhan.

“Adat berada pada pertumbuhan (perkembangan). Pusaka berada pada

tempat”.

Aplikasi penerapan Adat Minangkabau bisa berubah menurut

tempat

dan waktu, tetapi tetap tegak pada nilai dasarnya.

“Sekali air gedang (banjir), sekali tepian (tepi kali) beralih

(berpindah)”.

Dasar pokok (tian utama) tata-gaul sosial-politik-ekonomi

orang

Minangkabau adalah tidak aniaya, tidak culas, tidak curang.

“Kalau gedeang (besar) tidak melanda (menindas). Kalau cerdik (pintar)

tidak

menjual (membodohi)”.

Hubungan individu dengan masyarakat dalam Adat Minangkabau

aalah

serasi, selaras, seimbang (harmonis).

“Rancak (bagus) bagi awak (diri), disetujui oleh orang”.

“Sakit pada diri, sakit pula pada orang”.

“Senang bagi diri. Senang pula bagi orang”.

Dalam Adat Minangkabau, masing-masing punya pimpinan.

“Luhak punya penghulu. Rantau punya raja (Ajo). Kampung punya ketua

(Ketua

kampung). Rumah punya tungganai (Kepala rumah)”.

“Kemenakan beraja pada mamak (paman). Mamak beraja pada penghulu

(pimpinan

mamak)”.

Segala urusan dalam Adat Minangkabau harus menempuh

jalurnya.

“Naik melalui jenjang. Turun melalui tangga”.

Dalam Adat Minangkabau, masing-masing harus menjaga,

memelihara

ikatan sosialnya agar tak sampai rusak.

“Dalam bersaudara, ikatan sesaudara dipelihara agar tak rusak. Dalam

berkampung, ikatan sekampung dipelihara gar tak rusak. Dalam bersuku,

ikatan

sesuku dipelihara agar tak rusak. Dalam bernegeri, ikatan senegeri

dipelihara agar tak rusak”.

“masing-masing saling sandar bersandar, bagaikan aur dengan teebing,

saling

menguntungkan (mutual sismbioses)”.

Tata-gaul dalam Adat Minangkabau adalah kebersamaan, bukan

persamaan.

“Yang tua dimuliakan. Yang muda disayangi. Sesama gedang (besar)

hormat-menghormati”.

Kewajiban seseorang dalam Adat Minangkabau berdasarkan

kesanggupan dan kemampuannya.

“Besar kayu, besar bahannya. Kecil kayu, kecil bahannya”.

Perasaan kebersamaan itu dalam Adat Minangkabau melahirkan

rasa

sehina, semalu. Serta kerja bersama.

“Seciap seperti ayam. Sedencing seperti besi. Seiikat seperti lidi.

Serumpun

seperti serai”.

“Berat sama dipikul. Ringan sama dijinjing”.

“Sama mengayun, sama melangkah”.

“Kabar baik diberitakan. Kabar buruk dikunjungi”.

“Jika jauh ingat-mengingat. Jika dekat kunjung-berkunjung”.

“Sedikit beri bercecah. Banyak beri berumpuk”.

“Hati gajah sama dikunyah. Hati tungau sama dicecah”.

“Yang tidak ada dicari bersama. Yang ada dimakan bersama”.

“Mendapat sama berlaku. Kehilangan sama mendapat rugi”.

“Ke bukit sama mendaki. Ke lurah sama menurun”.

“Sama sakit, sama senang”.

Hak seseorang dalam Adat Minangkabau diperlakukan sama

dalam

kebersaman. Persamaan dalam keersamaan.

“Duduk sama rendah. Tegak sama tinggi”.

Keputusan dalam Adat Minangkabau diambil secara musyawarah,

setelah mendekati kesepakatan bersama.

“kalu bulat sudah boleh digolongkan (digelindingkan). Kalau picak

9pipih)

sudah boleh dilayangkan (dilemparkan)”.

Saluran untuk memperoleh kesepakatan (kata sepakat) adalah

dengan permufakatan.

“Bulat air dengan pembuluh, Bulat kata dengan permufakatan”.

“Air bersaluran betung (bambu, buluh). Manusia bersaluran kebenaran”.

Siar kesemarakan Alam Raya Minangkabau terpampang da

terpancang

di mana-mana dengan adanya masjid (tempat beribadat), rumah gadang

(tempat

tinggal), balai adat (tempat pertemuan), gelanggang (arena

hiburan/kreasi),

tepian (tempat mandi) (sarana kebersihan, kesehatan, ketangkasan),

cupak-gantang (alat ukur), emas-perak, beras-padi, lumbung-rangkiang,

sawah-ladang, itik-ayam, kerbau-kambing, tambak-ikan, jalan raya

(sentra

ekonomi pertanian, peternakan), dusun, teratak, kepala kota, korong,

kampung

(sarana pemerintahan), senjata, parit (sarana pertahanan). Semuanya ini

melambangkan masyarakat yang beragam, beragama, beradat, cerda

(berilmu),

aman-makmur-sejahtera (berekonomi baik).

Kepemimpinan dalam Adat Minangkabau ditentukan oleh dukungan

pendukungnya.

“Tumbuhnya ditanam. Tingginya dianjung (diangkat). Gedangnya (besarnya)

digedangkan (dibesarkan)”.

Menurut Adat Minangkabau, tak ada persoalan yang tak bisa

diselesaikan (prinsip optimis).

“Tak ada kusut yang tak dapat diselesaikan. Tak ada keruh yang tak

dapat

dijernihkan”.

Pemimpin dalam Adat Minangkabau haruslah orang yang berjiwa

besar (bealam lapang).

“Pusat jala, timbunan kapal”.

“Lubuk akal, lautan budi”.

“Bagaikan air jernih dalam sayak (wadah) yang landai (ceper)”.

“Bagaikan kayu (pohon) di tengah padang (rimba). Uratnya (akarnya

tempat

duduk bersila. Batangnya tempat duduk bersandar. Dahannya tempat tegak

bergantung. Buahnya untuk dimakan. Airnya untuk diminum. Daunnya untuk

berlindung (kepanasan/kehujanan)”.

Sedikitnya harus ada enam sifat yang harus dimiliki oleh

seorang

pemimpin dalam Adat Minangkabau, yaitu : berilmu, beakal, suka memberi

petunjuk, murah dan mahal, hemat dan himat, yakin dan tawakal (Datuk

Palito

: “Uraian Pepatah Adat : Elok Negeri Dek Penghulu”, Limbago Payakumbuh,

9-6-30).

Pemimpin itu harus bijaksana dalam segala urusan.

“Tepung tak terserak. Rambut tak pututs”.

“Tanduknya ditanam. Daginggnya dilapah. Kuahnya dikacau”.

Pemimpin harus tunduk pada alur dan patut, pada pimpinan

hikmah

kebijaksanaan (kepantasan universal). Tidak boleh berbuat

sewenang-wenang.

“Kemenakan di bawah pimpinan mamak. Mamak di bawah pimpinan penghulu.

Penghlu di bawah pimpinan mufakat. Mufakat di bawah pimpinan alur dan

patut”.

Alur dan patut adalah etika moral universal (akhlak karimah

paripurna).

“Raja (pemimpin) yang adil disembah (diikuti titahnya). Raja (pemimpin)

yang

aniaya disanggah (diganggu-gugat)”.

Pemimpin itu dalam Adat Minangkabau harus siap menghadapi

keluh-kesah, kekesalan, kedongkolan, unjuk rasa bawahan.

“Penghulu (pemimpin) itu bagaikan lantai. Siap dipijak tanpa

menjungkal”.

“Peran (posisi) teluk untuk timbunan kapal. Peran lurah untuk timbunan

angin. Peran gunung untuk timbunan kabut. Peran pemimpin untuk timbunan

umpatan (sasaran kemarahan)”.

“Gunjing dan umpatan bagi pemimpin sejati adalah bagaikan obat

penawar”.

Pemimpin itu harus cermat mewaspadai situasi.

“Ingat sebelum kena. Melantai sebelum lapuk”.

“Ingat, kalau yang di bawah akan menimpa (menghimpit). Kalau yang bocor

(tiris) Sei bawah”.

“Penghulu (pemimpin) jika kena kicuh (tipu muslihat), alamat kampung

sudah

terjual (tak berharga lagi)”.

“Agar suara penghulu (pemimpin) diikuti bawahan, haruslah pandai

bergaul

dengan orang banayak”.

“Pantang bagi penghulu (pemimpin) kusut tak akan selesai”.

“Penghulu (pemimpin) harus tegak tegar menghadapi segala krisis”.

“Penghulu (pemimpin) jika pecah (rusak), maka adat tak akan berdiri

lagi”.

“Kata dan kerja jika tak seiring, maka hilang kepercayaan anak neeri”.

Dalam Adat Minangkabau terdapat pembagian tugas

kepemimpinan/kekuasaan.

# Pemimpin adalah pemimpin adat, menghukum sepanjang adat, menyuruh

berbuat

baik, melarang berbuat jahat. Perkataan penghulu menyelesaikan masalah.

# Malin adalah pemimpin agama, menghukum sepanjang syarak, membedakan

halal

dan haram (menjauhkan sikap cuek terhadap halal haram).

# Manti tegas berbuat, bertindak, menerima dakwaan-pengaduan, menghukum

silang selisih (silang sengketa).

# Dubalang (Hulubalang) mengawal negeri, menindak kejahatan.

Peran Adat Minangkabau dapat disesuaikan dengan situasi dan

kondisi.

“Bisa digumpal sekecil kuku. Bisa dikembang sebesar alam”.

Masing-masing orang dalam Adat Minangkabauberperan sesuai

dengan

posisi dan kedudukannya.

“Kemenakan menyembah secara lahir. Mamak menyembah secara batin”.

“Kemenakan berpisau tajam. Mamak berdaging tebal”

“Orang besar jadi besar, karena dibesarkan”.

Tata-gaul dalam Adat Minangkabau antara seorang lelaki

dengan

anak dan kemenakannya berdasarkan pada perimbangan keserasian,

keselarasan.

“Anak dipangku (digendong, disuapi, dicukupi kebutuhan jasmani dan

rohaninya). Kemenakan dibimbing (dituntun, ditunjuki, diperhatikan

kebutuhan

rohaninya)”.

“Mamak bagaikan payung di kala hujan. Ayah bagaikan payung di kala

panas”.

Ungkapan rasa sayang disesuaikan dengan objek sasaran.

“Sayang pada anak dipecut (digebuk). Sayang pada kampung ditinggalkan

(pergi

merantau)”.

Hubungan pergaulan menurut Adat Minangkabau haruslah

mengindahkan keseimbangan, keserasian, keselarasan.

“Tegangnya terjela-jela. Kendurnya berdenting-denting”.

“Lebih kuat surut dari pada maju”.

“Semut terpijak tidak mati. Alu tertarung patah tiga”.

Menurut Adat Minangkabau, setiap orang, setiap barang

adalah

beguna susuai tempat, waktu dan keadaannya. Tak ada yang tak berguna.

Masing-masingya ditempatkan pada tempatnya yang sesuai.

“Yang buta penghembus lesung. Yang pekak (tuli) pelepas (penembak)

bedil

(senapan). Yang lumpuh penghuni (penunggu) rumah. Yang kuat pembawa

(pengangkut) beban. Yang bodoh untuk disuruh diseraya. Yang cerdik

(pintar)

lawan berunding (untuk bermufakat). Yang cerdik (cendekia) tempat

bertanya.

Yang kaya tempat bertenggang (minta bantuan)”.

“Yang bengkok untuk bingkai bajak. Yang lurus untuk tangkai sapu. Yang

setapak tangan untuk papan tuai (?). Yang kecil untuk pasang sunting

(?)”.

Tata-gaul menurut Adat Minangkabau mengharuskan menempatkan

diri

sesuai dengan posisi, tempat, waktu, keadaan, lingkungan.

“Cupak diisi. Lembaga dituang”.

“Di mana tanah dipijak, di sana langit dijunjung”.

“Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang jawi (sapi) melenguh”.

Adat Minangkabau sangat mengagungkan budi pekerti (budi

bahasa).

“Tak ada yang indah selain budi. Tak ada yang elok selain bahasa”.

“Bukan emas, bukan pangkat, tapi budi yang dihargai orang”.

“Hutang emas dapat dibayar, Hutang budi dibawa mati”.

“Agar jauh silang sengketa, perhalus budi bahasa”.

“Agar pandai, sungguh berguru. Agar mulia, pertinggi budi bahasa”.

Adat Minangkabau menuntut keseimbangan antara sikap

merendahkan

diri dengan sikap menjaga harga-diri (muru:ah, wibawa, gezacht).

“Kalau pergi merantau, mandilah di sebelah bawah, ambillah air di

seelah

hilir”.

“Kalau aliran air ditutup orang, batas sempadan dialih orang,

perlihatkan

sikap seorang lelaki, jangan takut darah tertumpah”.

“Jika dalam kebenaran, setapak jangan surut”.

“Satu hilang, dua terbilang. Sebelum ajal berpantang mati”.

“Menantang guru dengan ajrannya. Menantang mamak dengan petuahnya”.

Malu dalam Adat Minangkabau adalah malu bersama.

“Seekor kerbau berkubang, seluruhnya kena lumpurnya. Seorang makan

nangka,

semua kena getahnya”.

Sanksi Adat Minangkabau yang terberat adalah kutukan masyarakat

(pengadilan

rakyat).

“Ke atas tidak berpucuk. Ke bawah tidak berurat. Di tengah dilubangi

kumbang. Hidup segan, mati tidak mau”.

Masyarakat Minangkabau yang melecehkan tuntunan Adatnya

bisa

saja dilanda kehancuran tata sosial-ekonomi.

“Sawah kering. Tebasan hangus. Rakyat melarat. Negeri rusak”. (Prof Mr

M

Nasroen : “Dasar Falsafah Adat Minangkabau”, Bulan Bintang Djakarta,

1971).

2 Generasi cuek

Imamnya, makmumnya cuek. Pemimpinnya, rakyatnya cuek. Semuanya pada

cuek.

Cuek terhadap masalah halal haram. Sang Pemimpin sangat mahir

mencari-cari

dalil, hujah untuk membenarkan, mensahkan pendapatnya. Benar-benar amat

pintar. Pintar memelintir. Memelintir yang sudah qath’i menjadi dzanni.

Memelintir yang sudah baku menjadi yang diperselisihkan, diperdebatkan.

Amat

lihai mempermainkan dalil-dalil agama.

Untuk melegalisasi, melegitimasi pendapat sendiri yang menyalahi

pendapat

umum (ijma’) digunakan kaidah usul fikih, bahwa “siapa yang ijtihad,

menafsirkan hukum benar, akan mendapat dua pahala, tetapi yang

ijtihadnya

salah mendapat satu pahala”. Kaidah usul fikih “menghindari kesulitan

lebih

utama, dari pada mendatangkan kebaikan” (darul mafasid muqaddam ‘ala

jalabil

mashaalih) digunakan untuk mengamankan, menyelematkan kehilangan,

kerugian

penanaman modal asing, penutupan perusahaan asing. Terganggungnya

investasi

asing yang jumlahnya milyaran, dipandang lebih mafasid dari pada

timbulnya

kebingungan dan keresahan di masyarakat akibat ulah intervensinya dalam

bidang yang bukan wewenangnya, mengeluarkan statement blunder (kacau,

ngawur).

“Yang paling berwewenang dalam menentukan halal haramnya sebuah produk

makanan dan minuman adalah kaum ulama dan ahli syar’iyah”. “Dalam

kapasitas

selaku kepala anegara tidak berwewenang mengeluarkan pernyataan fatwa

tentang halal dan haram suatu produk makanan”.

Ada yang pintar bermain diplomasi menepis timbulnya kebingungan dan

keresahan di kalangan masyarakat akibatnya beragamnya pendapat tentang

halal

haramnya suatu produk makanan dan minuman. “Khilafiyah biasa terjadi

dalam

beragama”. “Perbedaan penafsiran tidak akan membuat bingung masyarakat.

Masyarakat sudah bisa menilai sendiri terhadap mana yang benar”.

Rakyatnya cuek. Masa bodoh. Tak peduli tentang halal haram. “Dari

pemantauan

(pers) di kalangan pedagang diperoleh kesimpulan, bahwa mereka tidak

sempat

memikirkan halal atau haram sebuah barang, pembeli pun begitu. Baginya

yang

penting bisa makan”. “umumnya pelanggan tidak ada yang menanyakan haram

atau

tidaknya apa yang dijual”. “Dari pengamatan (pers), masyarakat (Penjual

dan

pembeli) nyaris tak mempersoalkan haram atau halal apa yang dijual di

warung-warung”. “Hanya sebagian (sedikit) saja yang peduli terhadap

masalah

halal haram” (PADANG EKSPRES, Kamis, 11 Januari 2001, hal 1, 6).

Tugas kewajiban para ulama, da’i, penceramah lah untuk menyeru,

menghimbau,

menyeru, menuntun, membimbing generasi cuek ini menjadi generasi peduli

(terhadap halal dan haram) melalui semua wahyana dan sarana dakwah,

baik

melalui taklim, khutbah, buletin dakwah, media cetak, mapun media

elektronik

seperti radio dan televisi.

Ulama, da’i, penceramah yang akan ikhlas mengemban tugas risalah ini

hanyalah yang mampu menyatakan “Dan aku sekali-kali tidak minta upah

kepadamu atas ajakan-ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan

semesta alam (QS 26:109, 127, 145, 164, 180). Yang sanggup menegaskan

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan

keridhaan allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak

pula

ucapan terima kasih” (QS 76:9).

3 Aktivitas Pemilintiran (Fitnah Terbesar)

Islam mengingatkan agar menjaga ucapan, agar mengatakan yang benar (QS

Ahzab

33:70), atau diam. “Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,

maka

hendaklah dia berkata yang baik atau beridam diri” (HR Bukhari, Muslim

dari

Abu Hurairah). Ada sejumlah jenis, macam ucapan yang buruk, busuk,

karut,

marut, jahat, jorok (aafaul-lisan). Di antaranya adalah memilintir.

Bahasa

asingnya memanipulasi. Padanannya tahrif (penyempitan dan perluasan

makna).

Belakangan ini santer, marak, bahkan merupakan tren gejala pemelintiran

makna ini. Yang sudah benar diplintir menjadi samar. Yang sudah baku

diplintir menjadi ragu. Yang sudah qath’I diplintir menjadi zhanni.

Syari’at

Islam diplintir sedemikian rupa, sehingga hanya sebatas ibadah ritual

(shalat, shaum, zakat, haji). Bahkan hanya sebatas prinsip-prinsip umum

(hakikatnya, nilainya, semangatnya, jiwanya).

Dalil-dalil syar’i, kaidah-kaidah ushul fiqhi diplintir, dimanipulasi.

Makna

syari’at Islam direduksi, sehingga terpisah, bertentangan antara

hakikat dan

syari’at. Makna ayat QS Ali Imran 3 diplintir, dimanipulasi sedemikian

rupa,

agar yang telah beragama jangan didkwahi masuk Islam. Jangan

didakwahkan

Islam itu sebagai acuan tunggal (alternatif).

Makna keadilan diplinitr, dimanipulasi sedemikian rupa sehingga setiap

upaya

untuk memformalkan syari’at Islam dalam perundang-undangan harus

dipandang

diskriminatif terhadap non-Islam.

Pengertian jihad diredusir, diturunkan dari pengertian istilah

(kontekstual,

keagamaan) menjadi pengertian lughawi (tekstual, grammatikal,

kebahasaan0),

yang hanya berarti bekerja keras atau berjuang, bersungguh-sungguh.

Makna ijtihad dipenggal, sehingga tanpa kesungguhan dan kehati-hatian,

fatwa

jama’ah (ijma’ ulama) didongkel, dikalahkan, dibatalkan oleh fatwa

munfarid

(perorangan).

Makna ukhuwah diplintir, dimanipulasi bahwa ukhuwah yang cocok adalah

ukhuwah syu’ubiyah, ukhuwah wathaniyah, sedangkan ukhuwah Islamiyah

akan

menimbulkan perpecahan bangsa, destabilitas dan disintegrasi nasional.

Kafir, kufur diplintir sedemikian rupa sehingga yang sudah berTuhan

bukan

lagi kafir (yakfuruuna bi aayatillah). Dengan pengertian ini maka iblis

pun

bukan termasuk kategori kafir, kufur.

Akibatnya istilah-istilah agama yang sudah baku, seperti halal, haram,

thaib, khubs, khair, syarr, makruf, munkar diplintir sedemikian rupa,

sehingga meskipun lafalnya tetap sama, namun maknanya sudah berubah

sama

sekali. Karena saking pintarnya memilintir, menyebabkan tergelincir.

Tahrif

jalan ke tasykik (meragukan). Kepada Nabi Adam telah dijelaskan Allah

tentang hal yang terlarang, yang haram dilakukan. Namun karena

pintarnya

setan memelintir, maka Nabi Adam sempat tergelincir (QS Baqarah

2:35-36).

Yang sudah kena tasykik tak bisa lagi membedakan antara yang baik dan

yang

buruk, antara yang halal dan yang haram. Rasulullah sudah

memperingatkan,

bahwa “akan datang suatu masa di mana mereka menghalalkan yang haram

setelah

mereka mengganti namanya”.Riba tetap saja riba, meskipun namanya bunga

kembang, jasa administrasi. Judi tetap saja judi. Namanya bisa saja

dana

kesejahteraan sosial, atau arisan sambung rasa, atau multi level

marketing,

atau lainnya.

Islam sangat tak suka memplintir yang sudah teang (muhkamat) menjadi

yang

kabar (mutasyabihat). Membuat hal-hal yang sudah diyakini (qath’i),

yang

sudah disepakati (ijma’) menjadi hal-hal yang diperdebatkan, yang

diperselisihkan. Misalnya nash tentang kepemimpinan sudah sangat

terang,

gamblang (muhkamat) menjelaskan bahwa yang pria, yang Islam itulah yang

menjadi pemimpin.

Memplintir yang sudah terang ini menjadi yang kabur adalah merupakan

fitnah

(bahaya) terbesar yang dihadapi Islam. De-islamisasi, de-formalisasi

syari’at Islam bergandengan memplintir yang muhkamat, yang sudah jelas,

yang

sudah pasti menjadi yang mutasyabihat, yang diragukan. “Orang-orang

yang

dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti

sebahagiaan

ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk

mencari-cari

takwinya” (QS Ali Imran 3:7).

Para Rasul mengingatkan ummatnya agar jangan membuat kerusakan di muka

bumi

(QS 7:74, 11:85, 26:183, 29:36, 2:60). Aktivitas membuat kerusakan ini

pun

semakin marak pula akhir-akhir ini. Membuat kerusakan di semua bidang,

di

semua lapangan. Kerusakan akhlak (dekadensi moral). Batas antara yang

baik

dan yang buruk sudah sangat kabur. Kerusakan tatanan budaya (kultural).

Kerusakan tatanan ekonomi. Kerusakan tatanan politik. Keruskan tatanan

hukum. Dan lain-lain. Semuanya berpangkal dari pemilintiran yang haram

menjadi yang halal (serba boleh).

Untuk memuluskan pemelintiran yang haram menjadi yang halal ini

digunakan

antara lain kaidah ushul fiqhi : “dar:ul mafaasid muqaddam ‘ala jalabil

mashaalih”. Penerapannya disesuaikan dengan selera. Bahkan kaidah ushul

fiqhi ini juga digunakan untuk melegalisasi, meligitimasi, mengesahkan

pandangan politik. Sampai-sampai menimbulkan mafsadah (kerusakan,

fitnah)

yang lebih hebat, seperti perselisihan, perpecahan ummat. (Bks

11-1-2001).

4 Manipulasi terminologi Islam

Istilah, terminologi ajaran Islam sebenarnya mempunyai pengertian yang

sudah

baku. Namun demikian, disamping yang berpegang pada pengertian baku,

ada

pula yang memanipulasi, mereduksi, meredusir pengertian yang sudah baku

itu.

Ada yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam adalah berpegang pada

rukum iman yang enam dan menjalankan syari’at Islam yang lima

(syahadat,

shalat, shaum, zakat, haji). Memahami bahwa Khalifah di kalangan

Muslimin

adalah semacam Paus di kalangan Katholik Kristen. Khalifah itu tanpa

kekuasaan (politik, militer). Istilah-istilah jama’ah, imamah (imarah),

bai’at, tha’at sama sekali tak terkait dengan kekuasaan (politik,

militer).

Tujuan khilafah adalah agar dapat beribadah secara tertib dan

terpimpin.

“Islam hanyalah da’wah diniyah. Semata-mata mengatur hubungan manusia

dengan

Tuhan. Tak ada hubungan apa-apa dengan masalah keduniaan, seperti

urusan

peperangan dan urusan politik”. “Agama adalah satu hal, dan politik

adalah

suatu hal yang lain”. “Qur:an tak pernah memerintahkan agar negeri

diatur,

ditata oleh Islam”.

Ada pula yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam itu adalah

berpegang

pada prinsip-prinsip umum dari hukum Islam (hakikatnya, nilainya,

semangatnya, jiwanya), sedangkan penerapan pelaksanaannya disesuaikan

dengan

situasi, kondisi, suasana, tempat, waktu (makan, zaman). “Islam itu

hanya

sebatas hakikat, sebatas nilai”. Yang diperlukan hanyalah menggali

nilai-nilai syahadat, shalat, shaum, zakat, haji, qurban, jihad, dan

lain-lain. Sedangkan bentuk, ujud, format, kaifiat dari syahadat,

shalat,

shau, haji, qurban, jihad, dan lain-lain terserah selera masing-masing

sesuai dengan perubahan zaman.

Ada pula yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam itu adalah

berpegang

pada rukun iman yang enam dan menjalankan rukun islam yang lima, serta

berjama’ah bersama-sama seara kolektif memberlakukan hudud yang

ditetapkan

Allah sebagai hukum positif seperti yang pernaha dilaksanakan oleh

Rasulullah. Islam itu meliputi semua aspek kehidupan, termasuk politik,

militer. Khilafah itu merupakan kekuasaan (politik, militer) untuk

memberlakukan hudud, syari’at yang ditetapkan Allah.

Untuk memberlakukan hudud, menegakkan syari’at Islam ada yang menempuh

jalur

pendidikan dan bimbingan (tarbiyah dan taklim). Ada yang menempuh jalur

pengabdian masyarakat, aksi sosial. Ada yang melalui dekrit pemerintah,

menempuh jalur politik, jalur parlemen. Ada yang menempuh jalur

kekuatan

militer, dengan kekuatan senjata.

Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya di Mesir, Maududi dengan

Jami’ah

Islamiyahnya di Pakistan lebih memusatkan perjuangannya melalui jalur

politik, jalur parlemen. Di Indonesia, Soekarno pernah menganjurkan

memilih

jalur parlemenini, namun ia sendiri berseberangan dengan Islam.

Kartosuwirjo

lebih maju, memilih jalur perjuangan bersenjata dengan memproklamasikan

berdirinya Negara karunia Allah, Negara Islam Indonesia (NII).

Bagaimana pun, realisasinya sama sekali tergantung semata-mata dari

anugerah

karunia Allah, seperti tampilnya Umar bin Abdul Aziz yang jauh sangat

berbeda dengan keluarganya dalam kalangan Bani Umawiyah (Umaiyah ?).

5 Kesan lebaran

# Orang-orang tidak mengajak yang disalami untuk mampir berkunjung ke

rumah.

# Orang yang berkendaraan (motor dan mobil) yang pulang dari shalat ‘Id

tidak mengajak orang yang berjalan kaki yang rumahnya searah dengan

yang

berkendaraan.

# Silaturrahmi hanya ssampai di pintu rumah, di teras berbau comberan.

# Yang minta ama’af tidak merasa bersalah.

# Yang berutang merasa utang lunas dengan minta ma’af pada sa’at

lebaran.

# Lebaran diartikan (dipahami/dihayati) dengan :makan enak, ketupat

ayam,

pakaian bagus, mengunjungi tempat rekreasi (berkreasi ke tempat-tempat

hiburan), tradisi mudik, sungkeman, halal bi halal, kembang api,

petasan,

inklusif, desakralisasi, hura-hura.

# Yang mengemis memanfa’atkan lebaran untuk meningkatkan penghasilan.

# Tidak terasa kehangatan ukhuwah. Ukhuwah tinggal sebagai impian. Yang

ada

hanya fatamorgana, kepalsuan, kepura-puraan, kamuflase.Tak ada

kunjungan.

Tak ada ikhwan. Yang ada hanyalah kawan.

# Lebaran usai, suasana akembali biasa (Siapa lu, siapa gua).

# Kembali kepada kesucian (fithrah) tinggal impian.

# Takbiran diselang-seling dengan pengumuman-pengumuman. Takbiran

tradisi.

Takbiran modernisasi.

# Sebelum shalat ‘Id didahului dengan penyampaian

pengumuman-pengumuman.

# Sa’at Khatib berkhutbah, berseliweran juru foto amatir.

# Ucapan salam : minal “aidin wal faizin, ma’af lahir bathin.

# Jarang ucapan : taqabbalallhu minna wa minkum wa taqabbal ya Kariim.

# Yang berkhutbah adalah khatib panggilan, bukan penguasa setempat.

# Khatib-khatib lebih banyak bermunculan dari kalangan intelektual

katimbang

dari kalangan santri.

# Usai puasa, kembali mengikuti selera. (Bks 26-4-90).

Catatan :

* Imam Syafi’i menyukai orang memakai pakaian yang bersih dan memakai

wangi-wangian pada hari Jum’at, hari raya dan ke tempat pesta.

* Imam Syafi’i menyukai wanita memakai pakaian yang sederhana, yang

tidak

berwarna warni.

* Imam Syafi’I menyukai anak-anak memakai pakaian yang berwarna-warni.

* Imam Syafi’I membedakan antara Imam dengan Makmum.

* Imam Syafi’I memberitakan bahwa Sahal bi Sa’ad dan Rafi’ bin Khudiij

mengerjakan shalat sunnat sebelum shalat hari raya dan sesudahnya.

* Zuhri memberitakan bahwa seruan shalat hari raya itu adalah

“Ash-shalaatu

jaami’ah”.

* Imam Syafi’i memandang makruh berkeliaran meminta-minta pada sa’at

khatib

sedang berkhutbah.

* Imam Syafi’I memberitakan bahwa yang berkuasa (Wali Negeri) lebih

berhak

mengimami shalat dalam kekuasaannya (wilayahnya).

* Imam adalah yang memimpin Takbir, shalat, Khutbah (Al-Uum).

= Asrir Sutan Maradjo, Tenggiri-12/204, Bekasi Selatan 17144, 17

Januari

2001 =

1 Mencari Adat Basandi Syarak (ABS)

Belakangan ini masyarakat Minang mengalami krisis identitas. Nilai

moral dan

akhlak masyarakat menurun. Menurut tokoh Muhammadiyah H Syahrudji

Tatang BA,

krisis identitas yang sedang dialami masyarakat Minang saat ini lebih

banyak

disebabkan oleh tidak teraktualisasikannya identitas orang Minang dalam

kehidupan sehari-hari masyarakat Minang (PADANG EKSPRES, Kamis, 11

Januari

2001, hal 10, “Atasi, Krisis Identitas Masyarakat Minang”). “Slogan

Adat

Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) selama ini, hanya

menjadi slogan yang diucapkan pada saat bersama saja, namun tidak

diaktualisasikan dalan kehidupan sehari-hari” ujar Syahrudji..

Adat Minangkabau mencakup ideologi, pandangan hidup, kaidah umum, norma

tata-gaul orang Minangkabau.

Semula Adat Minangkabau mengacu pada ayat-ayat kauniah,

ketentuan-ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam alam.

“Yang setitik dijadikan laut, yang sekepal dijadikan gunung. Alam

terkembang

dijadikan guru”.

Orang diajak menyimak gejala alam. Mampu membaca arah angin yang

berkisar

(punya nalauri politik). Mampu melihat kaki ular yang menjalar. Mampu

membaca yang tersirat di balik yang terusrat. Mampu membaca situasi dan

kondisi (tahu akan ranting yang akan melata. Tahu akan dahan yang akan

menimpa, tahu akan lantai yang akn menjungkat). Mampu melacak, meramal

dan

memprediksi. “Everything depend on condition time and place” (Soegiarso

Soerojo : “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, 1988:394).

Segala gejala alam, kecenderungan masyarakat, peristiwa sosial diamati,

disimak, dipelajari, diselidiki, diteliti, diobservasi, dianalisa.

Hasil

penelitian dan analisa tersebut dijadikan acuan bagi penyusunan norma

tata-gaul.

Bagi peneliti manusia (antropolog), setiap peristiwa sosial (dalam

masyarakat) dapat dijadikan semacam komentator terhadap

peristiwa/kejadian

lainnya.

Setelah orang Minangkabau memeluk agama Islam, maka Adat

Minangkabau berdasarkan syari’at Islam.

“Adat bersandi syarak (syari’at Islam). Syarak bersendi Kitabullah

(Qur:an)”. Qur:an itulah yang jadi panduan hidup orang-seorang dan

masyarakat.

“Syarak mengata (menentukan, menetapkan). Adat memakai (melaksanakan,

menerapkan”.

Nilai dasar dan substansi Adat Minangkabau tetap tak

berobah,

berlaku sepanjang masa.

“Tak lapuk kena hujan. Tak lekang kena panas”.

Norma yang tak termasuk dalam Adat Minangkabau,

jangkauannya

terbatas. Terbatas pada tempat dan waktu (temporer).

“Cupak sepanjang betung (bambu). Adat sepanjang jalan (tak berujung)”.

Dahan dan ranting (cabang dan raanting) Adat Minangkabau

tumbuh

berkembang sesuai tuntutan dan kebutuhan.

“Adat berada pada pertumbuhan (perkembangan). Pusaka berada pada

tempat”.

Aplikasi penerapan Adat Minangkabau bisa berubah menurut

tempat

dan waktu, tetapi tetap tegak pada nilai dasarnya.

“Sekali air gedang (banjir), sekali tepian (tepi kali) beralih

(berpindah)”.

Dasar pokok (tian utama) tata-gaul sosial-politik-ekonomi

orang

Minangkabau adalah tidak aniaya, tidak culas, tidak curang.

“Kalau gedeang (besar) tidak melanda (menindas). Kalau cerdik (pintar)

tidak

menjual (membodohi)”.

Hubungan individu dengan masyarakat dalam Adat Minangkabau

aalah

serasi, selaras, seimbang (harmonis).

“Rancak (bagus) bagi awak (diri), disetujui oleh orang”.

“Sakit pada diri, sakit pula pada orang”.

“Senang bagi diri. Senang pula bagi orang”.

Dalam Adat Minangkabau, masing-masing punya pimpinan.

“Luhak punya penghulu. Rantau punya raja (Ajo). Kampung punya ketua

(Ketua

kampung). Rumah punya tungganai (Kepala rumah)”.

“Kemenakan beraja pada mamak (paman). Mamak beraja pada penghulu

(pimpinan

mamak)”.

Segala urusan dalam Adat Minangkabau harus menempuh

jalurnya.

“Naik melalui jenjang. Turun melalui tangga”.

Dalam Adat Minangkabau, masing-masing harus menjaga,

memelihara

ikatan sosialnya agar tak sampai rusak.

“Dalam bersaudara, ikatan sesaudara dipelihara agar tak rusak. Dalam

berkampung, ikatan sekampung dipelihara gar tak rusak. Dalam bersuku,

ikatan

sesuku dipelihara agar tak rusak. Dalam bernegeri, ikatan senegeri

dipelihara agar tak rusak”.

“masing-masing saling sandar bersandar, bagaikan aur dengan teebing,

saling

menguntungkan (mutual sismbioses)”.

Tata-gaul dalam Adat Minangkabau adalah kebersamaan, bukan

persamaan.

“Yang tua dimuliakan. Yang muda disayangi. Sesama gedang (besar)

hormat-menghormati”.

Kewajiban seseorang dalam Adat Minangkabau berdasarkan

kesanggupan dan kemampuannya.

“Besar kayu, besar bahannya. Kecil kayu, kecil bahannya”.

Perasaan kebersamaan itu dalam Adat Minangkabau melahirkan

rasa

sehina, semalu. Serta kerja bersama.

“Seciap seperti ayam. Sedencing seperti besi. Seiikat seperti lidi.

Serumpun

seperti serai”.

“Berat sama dipikul. Ringan sama dijinjing”.

“Sama mengayun, sama melangkah”.

“Kabar baik diberitakan. Kabar buruk dikunjungi”.

“Jika jauh ingat-mengingat. Jika dekat kunjung-berkunjung”.

“Sedikit beri bercecah. Banyak beri berumpuk”.

“Hati gajah sama dikunyah. Hati tungau sama dicecah”.

“Yang tidak ada dicari bersama. Yang ada dimakan bersama”.

“Mendapat sama berlaku. Kehilangan sama mendapat rugi”.

“Ke bukit sama mendaki. Ke lurah sama menurun”.

“Sama sakit, sama senang”.

Hak seseorang dalam Adat Minangkabau diperlakukan sama

dalam

kebersaman. Persamaan dalam keersamaan.

“Duduk sama rendah. Tegak sama tinggi”.

Keputusan dalam Adat Minangkabau diambil secara musyawarah,

setelah mendekati kesepakatan bersama.

“kalu bulat sudah boleh digolongkan (digelindingkan). Kalau picak

9pipih)

sudah boleh dilayangkan (dilemparkan)”.

Saluran untuk memperoleh kesepakatan (kata sepakat) adalah

dengan permufakatan.

“Bulat air dengan pembuluh, Bulat kata dengan permufakatan”.

“Air bersaluran betung (bambu, buluh). Manusia bersaluran kebenaran”.

Siar kesemarakan Alam Raya Minangkabau terpampang da

terpancang

di mana-mana dengan adanya masjid (tempat beribadat), rumah gadang

(tempat

tinggal), balai adat (tempat pertemuan), gelanggang (arena

hiburan/kreasi),

tepian (tempat mandi) (sarana kebersihan, kesehatan, ketangkasan),

cupak-gantang (alat ukur), emas-perak, beras-padi, lumbung-rangkiang,

sawah-ladang, itik-ayam, kerbau-kambing, tambak-ikan, jalan raya

(sentra

ekonomi pertanian, peternakan), dusun, teratak, kepala kota, korong,

kampung

(sarana pemerintahan), senjata, parit (sarana pertahanan). Semuanya ini

melambangkan masyarakat yang beragam, beragama, beradat, cerda

(berilmu),

aman-makmur-sejahtera (berekonomi baik).

Kepemimpinan dalam Adat Minangkabau ditentukan oleh dukungan

pendukungnya.

“Tumbuhnya ditanam. Tingginya dianjung (diangkat). Gedangnya (besarnya)

digedangkan (dibesarkan)”.

Menurut Adat Minangkabau, tak ada persoalan yang tak bisa

diselesaikan (prinsip optimis).

“Tak ada kusut yang tak dapat diselesaikan. Tak ada keruh yang tak

dapat

dijernihkan”.

Pemimpin dalam Adat Minangkabau haruslah orang yang berjiwa

besar (bealam lapang).

“Pusat jala, timbunan kapal”.

“Lubuk akal, lautan budi”.

“Bagaikan air jernih dalam sayak (wadah) yang landai (ceper)”.

“Bagaikan kayu (pohon) di tengah padang (rimba). Uratnya (akarnya

tempat

duduk bersila. Batangnya tempat duduk bersandar. Dahannya tempat tegak

bergantung. Buahnya untuk dimakan. Airnya untuk diminum. Daunnya untuk

berlindung (kepanasan/kehujanan)”.

Sedikitnya harus ada enam sifat yang harus dimiliki oleh

seorang

pemimpin dalam Adat Minangkabau, yaitu : berilmu, beakal, suka memberi

petunjuk, murah dan mahal, hemat dan himat, yakin dan tawakal (Datuk

Palito

: “Uraian Pepatah Adat : Elok Negeri Dek Penghulu”, Limbago Payakumbuh,

9-6-30).

Pemimpin itu harus bijaksana dalam segala urusan.

“Tepung tak terserak. Rambut tak pututs”.

“Tanduknya ditanam. Daginggnya dilapah. Kuahnya dikacau”.

Pemimpin harus tunduk pada alur dan patut, pada pimpinan

hikmah

kebijaksanaan (kepantasan universal). Tidak boleh berbuat

sewenang-wenang.

“Kemenakan di bawah pimpinan mamak. Mamak di bawah pimpinan penghulu.

Penghlu di bawah pimpinan mufakat. Mufakat di bawah pimpinan alur dan

patut”.

Alur dan patut adalah etika moral universal (akhlak karimah

paripurna).

“Raja (pemimpin) yang adil disembah (diikuti titahnya). Raja (pemimpin)

yang

aniaya disanggah (diganggu-gugat)”.

Pemimpin itu dalam Adat Minangkabau harus siap menghadapi

keluh-kesah, kekesalan, kedongkolan, unjuk rasa bawahan.

“Penghulu (pemimpin) itu bagaikan lantai. Siap dipijak tanpa

menjungkal”.

“Peran (posisi) teluk untuk timbunan kapal. Peran lurah untuk timbunan

angin. Peran gunung untuk timbunan kabut. Peran pemimpin untuk timbunan

umpatan (sasaran kemarahan)”.

“Gunjing dan umpatan bagi pemimpin sejati adalah bagaikan obat

penawar”.

Pemimpin itu harus cermat mewaspadai situasi.

“Ingat sebelum kena. Melantai sebelum lapuk”.

“Ingat, kalau yang di bawah akan menimpa (menghimpit). Kalau yang bocor

(tiris) Sei bawah”.

“Penghulu (pemimpin) jika kena kicuh (tipu muslihat), alamat kampung

sudah

terjual (tak berharga lagi)”.

“Agar suara penghulu (pemimpin) diikuti bawahan, haruslah pandai

bergaul

dengan orang banayak”.

“Pantang bagi penghulu (pemimpin) kusut tak akan selesai”.

“Penghulu (pemimpin) harus tegak tegar menghadapi segala krisis”.

“Penghulu (pemimpin) jika pecah (rusak), maka adat tak akan berdiri

lagi”.

“Kata dan kerja jika tak seiring, maka hilang kepercayaan anak neeri”.

Dalam Adat Minangkabau terdapat pembagian tugas

kepemimpinan/kekuasaan.

# Pemimpin adalah pemimpin adat, menghukum sepanjang adat, menyuruh

berbuat

baik, melarang berbuat jahat. Perkataan penghulu menyelesaikan masalah.

# Malin adalah pemimpin agama, menghukum sepanjang syarak, membedakan

halal

dan haram (menjauhkan sikap cuek terhadap halal haram).

# Manti tegas berbuat, bertindak, menerima dakwaan-pengaduan, menghukum

silang selisih (silang sengketa).

# Dubalang (Hulubalang) mengawal negeri, menindak kejahatan.

Peran Adat Minangkabau dapat disesuaikan dengan situasi dan

kondisi.

“Bisa digumpal sekecil kuku. Bisa dikembang sebesar alam”.

Masing-masing orang dalam Adat Minangkabauberperan sesuai

dengan

posisi dan kedudukannya.

“Kemenakan menyembah secara lahir. Mamak menyembah secara batin”.

“Kemenakan berpisau tajam. Mamak berdaging tebal”

“Orang besar jadi besar, karena dibesarkan”.

Tata-gaul dalam Adat Minangkabau antara seorang lelaki

dengan

anak dan kemenakannya berdasarkan pada perimbangan keserasian,

keselarasan.

“Anak dipangku (digendong, disuapi, dicukupi kebutuhan jasmani dan

rohaninya). Kemenakan dibimbing (dituntun, ditunjuki, diperhatikan

kebutuhan

rohaninya)”.

“Mamak bagaikan payung di kala hujan. Ayah bagaikan payung di kala

panas”.

Ungkapan rasa sayang disesuaikan dengan objek sasaran.

“Sayang pada anak dipecut (digebuk). Sayang pada kampung ditinggalkan

(pergi

merantau)”.

Hubungan pergaulan menurut Adat Minangkabau haruslah

mengindahkan keseimbangan, keserasian, keselarasan.

“Tegangnya terjela-jela. Kendurnya berdenting-denting”.

“Lebih kuat surut dari pada maju”.

“Semut terpijak tidak mati. Alu tertarung patah tiga”.

Menurut Adat Minangkabau, setiap orang, setiap barang

adalah

beguna susuai tempat, waktu dan keadaannya. Tak ada yang tak berguna.

Masing-masingya ditempatkan pada tempatnya yang sesuai.

“Yang buta penghembus lesung. Yang pekak (tuli) pelepas (penembak)

bedil

(senapan). Yang lumpuh penghuni (penunggu) rumah. Yang kuat pembawa

(pengangkut) beban. Yang bodoh untuk disuruh diseraya. Yang cerdik

(pintar)

lawan berunding (untuk bermufakat). Yang cerdik (cendekia) tempat

bertanya.

Yang kaya tempat bertenggang (minta bantuan)”.

“Yang bengkok untuk bingkai bajak. Yang lurus untuk tangkai sapu. Yang

setapak tangan untuk papan tuai (?). Yang kecil untuk pasang sunting

(?)”.

Tata-gaul menurut Adat Minangkabau mengharuskan menempatkan

diri

sesuai dengan posisi, tempat, waktu, keadaan, lingkungan.

“Cupak diisi. Lembaga dituang”.

“Di mana tanah dipijak, di sana langit dijunjung”.

“Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang jawi (sapi) melenguh”.

Adat Minangkabau sangat mengagungkan budi pekerti (budi

bahasa).

“Tak ada yang indah selain budi. Tak ada yang elok selain bahasa”.

“Bukan emas, bukan pangkat, tapi budi yang dihargai orang”.

“Hutang emas dapat dibayar, Hutang budi dibawa mati”.

“Agar jauh silang sengketa, perhalus budi bahasa”.

“Agar pandai, sungguh berguru. Agar mulia, pertinggi budi bahasa”.

Adat Minangkabau menuntut keseimbangan antara sikap

merendahkan

diri dengan sikap menjaga harga-diri (muru:ah, wibawa, gezacht).

“Kalau pergi merantau, mandilah di sebelah bawah, ambillah air di

seelah

hilir”.

“Kalau aliran air ditutup orang, batas sempadan dialih orang,

perlihatkan

sikap seorang lelaki, jangan takut darah tertumpah”.

“Jika dalam kebenaran, setapak jangan surut”.

“Satu hilang, dua terbilang. Sebelum ajal berpantang mati”.

“Menantang guru dengan ajrannya. Menantang mamak dengan petuahnya”.

Malu dalam Adat Minangkabau adalah malu bersama.

“Seekor kerbau berkubang, seluruhnya kena lumpurnya. Seorang makan

nangka,

semua kena getahnya”.

Sanksi Adat Minangkabau yang terberat adalah kutukan masyarakat

(pengadilan

rakyat).

“Ke atas tidak berpucuk. Ke bawah tidak berurat. Di tengah dilubangi

kumbang. Hidup segan, mati tidak mau”.

Masyarakat Minangkabau yang melecehkan tuntunan Adatnya

bisa

saja dilanda kehancuran tata sosial-ekonomi.

“Sawah kering. Tebasan hangus. Rakyat melarat. Negeri rusak”. (Prof Mr

M

Nasroen : “Dasar Falsafah Adat Minangkabau”, Bulan Bintang Djakarta,

1971).

2 Generasi cuek

Imamnya, makmumnya cuek. Pemimpinnya, rakyatnya cuek. Semuanya pada

cuek.

Cuek terhadap masalah halal haram. Sang Pemimpin sangat mahir

mencari-cari

dalil, hujah untuk membenarkan, mensahkan pendapatnya. Benar-benar amat

pintar. Pintar memelintir. Memelintir yang sudah qath’i menjadi dzanni.

Memelintir yang sudah baku menjadi yang diperselisihkan, diperdebatkan.

Amat

lihai mempermainkan dalil-dalil agama.

Untuk melegalisasi, melegitimasi pendapat sendiri yang menyalahi

pendapat

umum (ijma’) digunakan kaidah usul fikih, bahwa “siapa yang ijtihad,

menafsirkan hukum benar, akan mendapat dua pahala, tetapi yang

ijtihadnya

salah mendapat satu pahala”. Kaidah usul fikih “menghindari kesulitan

lebih

utama, dari pada mendatangkan kebaikan” (darul mafasid muqaddam ‘ala

jalabil

mashaalih) digunakan untuk mengamankan, menyelematkan kehilangan,

kerugian

penanaman modal asing, penutupan perusahaan asing. Terganggungnya

investasi

asing yang jumlahnya milyaran, dipandang lebih mafasid dari pada

timbulnya

kebingungan dan keresahan di masyarakat akibat ulah intervensinya dalam

bidang yang bukan wewenangnya, mengeluarkan statement blunder (kacau,

ngawur).

“Yang paling berwewenang dalam menentukan halal haramnya sebuah produk

makanan dan minuman adalah kaum ulama dan ahli syar’iyah”. “Dalam

kapasitas

selaku kepala anegara tidak berwewenang mengeluarkan pernyataan fatwa

tentang halal dan haram suatu produk makanan”.

Ada yang pintar bermain diplomasi menepis timbulnya kebingungan dan

keresahan di kalangan masyarakat akibatnya beragamnya pendapat tentang

halal

haramnya suatu produk makanan dan minuman. “Khilafiyah biasa terjadi

dalam

beragama”. “Perbedaan penafsiran tidak akan membuat bingung masyarakat.

Masyarakat sudah bisa menilai sendiri terhadap mana yang benar”.

Rakyatnya cuek. Masa bodoh. Tak peduli tentang halal haram. “Dari

pemantauan

(pers) di kalangan pedagang diperoleh kesimpulan, bahwa mereka tidak

sempat

memikirkan halal atau haram sebuah barang, pembeli pun begitu. Baginya

yang

penting bisa makan”. “umumnya pelanggan tidak ada yang menanyakan haram

atau

tidaknya apa yang dijual”. “Dari pengamatan (pers), masyarakat (Penjual

dan

pembeli) nyaris tak mempersoalkan haram atau halal apa yang dijual di

warung-warung”. “Hanya sebagian (sedikit) saja yang peduli terhadap

masalah

halal haram” (PADANG EKSPRES, Kamis, 11 Januari 2001, hal 1, 6).

Tugas kewajiban para ulama, da’i, penceramah lah untuk menyeru,

menghimbau,

menyeru, menuntun, membimbing generasi cuek ini menjadi generasi peduli

(terhadap halal dan haram) melalui semua wahyana dan sarana dakwah,

baik

melalui taklim, khutbah, buletin dakwah, media cetak, mapun media

elektronik

seperti radio dan televisi.

Ulama, da’i, penceramah yang akan ikhlas mengemban tugas risalah ini

hanyalah yang mampu menyatakan “Dan aku sekali-kali tidak minta upah

kepadamu atas ajakan-ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan

semesta alam (QS 26:109, 127, 145, 164, 180). Yang sanggup menegaskan

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan

keridhaan allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak

pula

ucapan terima kasih” (QS 76:9).

3 Aktivitas Pemilintiran (Fitnah Terbesar)

Islam mengingatkan agar menjaga ucapan, agar mengatakan yang benar (QS

Ahzab

33:70), atau diam. “Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,

maka

hendaklah dia berkata yang baik atau beridam diri” (HR Bukhari, Muslim

dari

Abu Hurairah). Ada sejumlah jenis, macam ucapan yang buruk, busuk,

karut,

marut, jahat, jorok (aafaul-lisan). Di antaranya adalah memilintir.

Bahasa

asingnya memanipulasi. Padanannya tahrif (penyempitan dan perluasan

makna).

Belakangan ini santer, marak, bahkan merupakan tren gejala pemelintiran

makna ini. Yang sudah benar diplintir menjadi samar. Yang sudah baku

diplintir menjadi ragu. Yang sudah qath’I diplintir menjadi zhanni.

Syari’at

Islam diplintir sedemikian rupa, sehingga hanya sebatas ibadah ritual

(shalat, shaum, zakat, haji). Bahkan hanya sebatas prinsip-prinsip umum

(hakikatnya, nilainya, semangatnya, jiwanya).

Dalil-dalil syar’i, kaidah-kaidah ushul fiqhi diplintir, dimanipulasi.

Makna

syari’at Islam direduksi, sehingga terpisah, bertentangan antara

hakikat dan

syari’at. Makna ayat QS Ali Imran 3 diplintir, dimanipulasi sedemikian

rupa,

agar yang telah beragama jangan didkwahi masuk Islam. Jangan

didakwahkan

Islam itu sebagai acuan tunggal (alternatif).

Makna keadilan diplinitr, dimanipulasi sedemikian rupa sehingga setiap

upaya

untuk memformalkan syari’at Islam dalam perundang-undangan harus

dipandang

diskriminatif terhadap non-Islam.

Pengertian jihad diredusir, diturunkan dari pengertian istilah

(kontekstual,

keagamaan) menjadi pengertian lughawi (tekstual, grammatikal,

kebahasaan0),

yang hanya berarti bekerja keras atau berjuang, bersungguh-sungguh.

Makna ijtihad dipenggal, sehingga tanpa kesungguhan dan kehati-hatian,

fatwa

jama’ah (ijma’ ulama) didongkel, dikalahkan, dibatalkan oleh fatwa

munfarid

(perorangan).

Makna ukhuwah diplintir, dimanipulasi bahwa ukhuwah yang cocok adalah

ukhuwah syu’ubiyah, ukhuwah wathaniyah, sedangkan ukhuwah Islamiyah

akan

menimbulkan perpecahan bangsa, destabilitas dan disintegrasi nasional.

Kafir, kufur diplintir sedemikian rupa sehingga yang sudah berTuhan

bukan

lagi kafir (yakfuruuna bi aayatillah). Dengan pengertian ini maka iblis

pun

bukan termasuk kategori kafir, kufur.

Akibatnya istilah-istilah agama yang sudah baku, seperti halal, haram,

thaib, khubs, khair, syarr, makruf, munkar diplintir sedemikian rupa,

sehingga meskipun lafalnya tetap sama, namun maknanya sudah berubah

sama

sekali. Karena saking pintarnya memilintir, menyebabkan tergelincir.

Tahrif

jalan ke tasykik (meragukan). Kepada Nabi Adam telah dijelaskan Allah

tentang hal yang terlarang, yang haram dilakukan. Namun karena

pintarnya

setan memelintir, maka Nabi Adam sempat tergelincir (QS Baqarah

2:35-36).

Yang sudah kena tasykik tak bisa lagi membedakan antara yang baik dan

yang

buruk, antara yang halal dan yang haram. Rasulullah sudah

memperingatkan,

bahwa “akan datang suatu masa di mana mereka menghalalkan yang haram

setelah

mereka mengganti namanya”.Riba tetap saja riba, meskipun namanya bunga

kembang, jasa administrasi. Judi tetap saja judi. Namanya bisa saja

dana

kesejahteraan sosial, atau arisan sambung rasa, atau multi level

marketing,

atau lainnya.

Islam sangat tak suka memplintir yang sudah teang (muhkamat) menjadi

yang

kabar (mutasyabihat). Membuat hal-hal yang sudah diyakini (qath’i),

yang

sudah disepakati (ijma’) menjadi hal-hal yang diperdebatkan, yang

diperselisihkan. Misalnya nash tentang kepemimpinan sudah sangat

terang,

gamblang (muhkamat) menjelaskan bahwa yang pria, yang Islam itulah yang

menjadi pemimpin.

Memplintir yang sudah terang ini menjadi yang kabur adalah merupakan

fitnah

(bahaya) terbesar yang dihadapi Islam. De-islamisasi, de-formalisasi

syari’at Islam bergandengan memplintir yang muhkamat, yang sudah jelas,

yang

sudah pasti menjadi yang mutasyabihat, yang diragukan. “Orang-orang

yang

dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti

sebahagiaan

ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk

mencari-cari

takwinya” (QS Ali Imran 3:7).

Para Rasul mengingatkan ummatnya agar jangan membuat kerusakan di muka

bumi

(QS 7:74, 11:85, 26:183, 29:36, 2:60). Aktivitas membuat kerusakan ini

pun

semakin marak pula akhir-akhir ini. Membuat kerusakan di semua bidang,

di

semua lapangan. Kerusakan akhlak (dekadensi moral). Batas antara yang

baik

dan yang buruk sudah sangat kabur. Kerusakan tatanan budaya (kultural).

Kerusakan tatanan ekonomi. Kerusakan tatanan politik. Keruskan tatanan

hukum. Dan lain-lain. Semuanya berpangkal dari pemilintiran yang haram

menjadi yang halal (serba boleh).

Untuk memuluskan pemelintiran yang haram menjadi yang halal ini

digunakan

antara lain kaidah ushul fiqhi : “dar:ul mafaasid muqaddam ‘ala jalabil

mashaalih”. Penerapannya disesuaikan dengan selera. Bahkan kaidah ushul

fiqhi ini juga digunakan untuk melegalisasi, meligitimasi, mengesahkan

pandangan politik. Sampai-sampai menimbulkan mafsadah (kerusakan,

fitnah)

yang lebih hebat, seperti perselisihan, perpecahan ummat. (Bks

11-1-2001).

4 Manipulasi terminologi Islam

Istilah, terminologi ajaran Islam sebenarnya mempunyai pengertian yang

sudah

baku. Namun demikian, disamping yang berpegang pada pengertian baku,

ada

pula yang memanipulasi, mereduksi, meredusir pengertian yang sudah baku

itu.

Ada yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam adalah berpegang pada

rukum iman yang enam dan menjalankan syari’at Islam yang lima

(syahadat,

shalat, shaum, zakat, haji). Memahami bahwa Khalifah di kalangan

Muslimin

adalah semacam Paus di kalangan Katholik Kristen. Khalifah itu tanpa

kekuasaan (politik, militer). Istilah-istilah jama’ah, imamah (imarah),

bai’at, tha’at sama sekali tak terkait dengan kekuasaan (politik,

militer).

Tujuan khilafah adalah agar dapat beribadah secara tertib dan

terpimpin.

“Islam hanyalah da’wah diniyah. Semata-mata mengatur hubungan manusia

dengan

Tuhan. Tak ada hubungan apa-apa dengan masalah keduniaan, seperti

urusan

peperangan dan urusan politik”. “Agama adalah satu hal, dan politik

adalah

suatu hal yang lain”. “Qur:an tak pernah memerintahkan agar negeri

diatur,

ditata oleh Islam”.

Ada pula yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam itu adalah

berpegang

pada prinsip-prinsip umum dari hukum Islam (hakikatnya, nilainya,

semangatnya, jiwanya), sedangkan penerapan pelaksanaannya disesuaikan

dengan

situasi, kondisi, suasana, tempat, waktu (makan, zaman). “Islam itu

hanya

sebatas hakikat, sebatas nilai”. Yang diperlukan hanyalah menggali

nilai-nilai syahadat, shalat, shaum, zakat, haji, qurban, jihad, dan

lain-lain. Sedangkan bentuk, ujud, format, kaifiat dari syahadat,

shalat,

shau, haji, qurban, jihad, dan lain-lain terserah selera masing-masing

sesuai dengan perubahan zaman.

Ada pula yang memahami bahwa menegakkan syari’at Islam itu adalah

berpegang

pada rukun iman yang enam dan menjalankan rukun islam yang lima, serta

berjama’ah bersama-sama seara kolektif memberlakukan hudud yang

ditetapkan

Allah sebagai hukum positif seperti yang pernaha dilaksanakan oleh

Rasulullah. Islam itu meliputi semua aspek kehidupan, termasuk politik,

militer. Khilafah itu merupakan kekuasaan (politik, militer) untuk

memberlakukan hudud, syari’at yang ditetapkan Allah.

Untuk memberlakukan hudud, menegakkan syari’at Islam ada yang menempuh

jalur

pendidikan dan bimbingan (tarbiyah dan taklim). Ada yang menempuh jalur

pengabdian masyarakat, aksi sosial. Ada yang melalui dekrit pemerintah,

menempuh jalur politik, jalur parlemen. Ada yang menempuh jalur

kekuatan

militer, dengan kekuatan senjata.

Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya di Mesir, Maududi dengan

Jami’ah

Islamiyahnya di Pakistan lebih memusatkan perjuangannya melalui jalur

politik, jalur parlemen. Di Indonesia, Soekarno pernah menganjurkan

memilih

jalur parlemenini, namun ia sendiri berseberangan dengan Islam.

Kartosuwirjo

lebih maju, memilih jalur perjuangan bersenjata dengan memproklamasikan

berdirinya Negara karunia Allah, Negara Islam Indonesia (NII).

Bagaimana pun, realisasinya sama sekali tergantung semata-mata dari

anugerah

karunia Allah, seperti tampilnya Umar bin Abdul Aziz yang jauh sangat

berbeda dengan keluarganya dalam kalangan Bani Umawiyah (Umaiyah ?).

5 Kesan lebaran

# Orang-orang tidak mengajak yang disalami untuk mampir berkunjung ke

rumah.

# Orang yang berkendaraan (motor dan mobil) yang pulang dari shalat ‘Id

tidak mengajak orang yang berjalan kaki yang rumahnya searah dengan

yang

berkendaraan.

# Silaturrahmi hanya ssampai di pintu rumah, di teras berbau comberan.

# Yang minta ama’af tidak merasa bersalah.

# Yang berutang merasa utang lunas dengan minta ma’af pada sa’at

lebaran.

# Lebaran diartikan (dipahami/dihayati) dengan :makan enak, ketupat

ayam,

pakaian bagus, mengunjungi tempat rekreasi (berkreasi ke tempat-tempat

hiburan), tradisi mudik, sungkeman, halal bi halal, kembang api,

petasan,

inklusif, desakralisasi, hura-hura.

# Yang mengemis memanfa’atkan lebaran untuk meningkatkan penghasilan.

# Tidak terasa kehangatan ukhuwah. Ukhuwah tinggal sebagai impian. Yang

ada

hanya fatamorgana, kepalsuan, kepura-puraan, kamuflase.Tak ada

kunjungan.

Tak ada ikhwan. Yang ada hanyalah kawan.

# Lebaran usai, suasana akembali biasa (Siapa lu, siapa gua).

# Kembali kepada kesucian (fithrah) tinggal impian.

# Takbiran diselang-seling dengan pengumuman-pengumuman. Takbiran

tradisi.

Takbiran modernisasi.

# Sebelum shalat ‘Id didahului dengan penyampaian

pengumuman-pengumuman.

# Sa’at Khatib berkhutbah, berseliweran juru foto amatir.

# Ucapan salam : minal “aidin wal faizin, ma’af lahir bathin.

# Jarang ucapan : taqabbalallhu minna wa minkum wa taqabbal ya Kariim.

# Yang berkhutbah adalah khatib panggilan, bukan penguasa setempat.

# Khatib-khatib lebih banyak bermunculan dari kalangan intelektual

katimbang

dari kalangan santri.

# Usai puasa, kembali mengikuti selera. (Bks 26-4-90).

Catatan :

* Imam Syafi’i menyukai orang memakai pakaian yang bersih dan memakai

wangi-wangian pada hari Jum’at, hari raya dan ke tempat pesta.

* Imam Syafi’i menyukai wanita memakai pakaian yang sederhana, yang

tidak

berwarna warni.

* Imam Syafi’I menyukai anak-anak memakai pakaian yang berwarna-warni.

* Imam Syafi’I membedakan antara Imam dengan Makmum.

* Imam Syafi’I memberitakan bahwa Sahal bi Sa’ad dan Rafi’ bin Khudiij

mengerjakan shalat sunnat sebelum shalat hari raya dan sesudahnya.

* Zuhri memberitakan bahwa seruan shalat hari raya itu adalah

“Ash-shalaatu

jaami’ah”.

* Imam Syafi’i memandang makruh berkeliaran meminta-minta pada sa’at

khatib

sedang berkhutbah.

* Imam Syafi’I memberitakan bahwa yang berkuasa (Wali Negeri) lebih

berhak

mengimami shalat dalam kekuasaannya (wilayahnya).

* Imam adalah yang memimpin Takbir, shalat, Khutbah (Al-Uum).

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: