Mengenang Hasan al-Banna bersama Anis Matta

Mengenang Hasan al-Banna bersama Anis Matta

Diharapkan agar M Anis Matta dengan PK (Partai Keadilan)-nya dapat mengacu secara utuh pada Hasan al-Banna dengan IM (Ikhwan al-Muslimun)-nya. Dari tulisan M Anis Matta “Hasan al-Banna :Pemegang Saham Kebangkitan Islam” dicatat antara lain, bahwa “Dari sebuah gerakan kader yang kecil pada tahun 1928, Ikhwanul Muslimin berkembang menjadi sebuah “minatur” negara”. Bahwa “Hasan al-Banna memulai pekerjaannya dengan menganalisa kondisi internal umat Islam serta lingkungan strategis yang mempengaruhinya. Setelah itu ia amenetapakan sasaran dan target tertinggi yang harus dicapai oleh umat Islam, yaitu menegakkan khilafah dan menjadi soko guru umat manusia” (SABILI, No.01, Th.X, 25 Juli 2002, hal 48-51).

Dari pidato dan surat-surat Hasan al-Banna, antara lain tulisan “Kami Memanggil” (terjemahan KMS Agustjik) dicatat betapa santunnya (bilhikmah, walmau’izhatil hasanah, wa jadilhum billati hia ahsan) Hasan al-Banna menjelaskan sikap Islam terhadap Nasionalisme. Nasionalisme Nostalgia. Nasionalisme Kebebasan Kemasyarakatan. Nasionalisme Pembebasan. Nasionalisme Kepartaian. Nasionalisme Kemuliaan. Nasionalisme Bangsa. Nasionalisme Jahiliyah. Nasionalisme Agresi (ALMUSLIMUN, Bangil, No.191, Februari 1986, hal 81, No.192, Maret 1986, hal 70-74). Meskipun penyampaiannya sangat santun, simpatik, persuasif, namun sebutir peluruh mengakhiri hidup Hasan al-Banna pada tahun 1948, pada saat usianya baru genap 42 tahun, karena ide, gagasan yang disampaikannya sangat tajam, sangat tidak disukai oleh penguasa di mana pun, yaitu ide daulah islamiyah yang berpangkal dari kalimah “La ilaaha illallah” (Sayid Qutthub : “Petunjuk Jalan”, Bab II :Wujud Metode Qur:ani).

Dari tulisan Jamal A Badawi “Butir-Butir Kebangkitan Islam dari Hasan al-Banna” dicatat enam tahapan kerja (marahalil amal) bagi kebangkitan Islam, mencakup : memperbaiki diri sendiri, keluarga sendiri, masyarakat, membebaskan sistim politik agar menjadi lebih Islami, membangun kembali umat islam di seluruh dunia sebagai satu umat, menyelenggarakan gerakan dunia agar mereka seluruhnya hanya bertanggungjawab kepada Allah semata (SUARA MASJID, 1 September 1986, hal 87-92) (Bandingkan dengan tujuh langkah yang dicanangkan dalam konferensi ulama di Tjisajong, seperti dikutip AlChaidar dalam Majalah DARUL ISLAM, No.2, Th.II, 12 Agustus 2001, hal 63).

Sehubungan dengan itu, diharapkan agar M Anis Matta dengan Partai Keadilan-nya dapat menjelaskan secara santun, simpatik, persuasif tentang sikap Islam terhadap Pancasila (Dasar Negara, dalam Pembukaan UUD-45) (KH Firdaus AN : “Dosa-Dosa Yang Tak Boleh berulang Lagi”, 1992:84, HIKMAH, 9 Mei 1954, SABILI, No.26, Th.VII, 14 Januari 2000, hal 76). Tentang sikap Islam terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa (Dasar Negara, dalam UUD-45 pasal 29 ayat 1). Tuhan YME-nya Nabi Ibrahim (QS 2:258, 26:78-82). Tuhan YME-nya Nabi Musa (QS 26:24,26,28). Tuhan YME menurut Tuhan Allah sendiri QS 112:1-4). Tuhan YME menurut Taurat (Ulangan 4:35,39, 6:4, Samuel-II 7:22,23). Tuhan YME menurut Injil (Yahya 17:3, Markus 12:19). Tuhan YME-nya Paulus yang dimanifestasiskan dalam Trinitas (Dr GC van Nifrik & Drs BJ Boland : “Dogmatik Masa Kini”, 1967:418-419). Tuhan YME-nya Siddarta Gautama. Tentang sikap Islam terhadap Kemaanusiaan yang adil dan beradab. Terhadap Persatuan Inddonesia. Terhadap Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Terhadap Keadilan Sosial bagi seluruh rakayat Indonesia. Keadilan sosial menurut liberalis sekularis. Keadilan sosial menurut sosialis-komunis. Keadilan sosial menurut marhaenis-nasionalis. Adil Makmur menurut Sukarno. Terhadap pengibulan, pencundangan, pengkhianatan Sukarno terhadap gagasannya Kerakyatan yang disampaikannya pada 1 Juni 1945 (Lahirnya Pancasila, tentang dasar mufakat, dasr perakilan, dasar permusyawaratan, bukan dasar kedaulatan).

Menjelaskan kekaburan, ketakjelasan rumusan Pancasila dan Pembukaan UUD-45, bila dibandingkan dengan point-point yang disampaikan oleh Sukarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 itu, yang memuat : dasar kebangsaan Indonesia, dasar Internasionalisme (Perikemanausiaan), dasar mufakat (demokrasi), dasar kesejahteraan sosial, dasar Ketuhanan YME, apalagi bila dibandingkan dengan terminologi Islam : dasar tauhid, dasar ishlah, dasar musyawarah, dasar ijtima’iyah.

Pada tahun 90-an, ide, visi, misi Hasan al-Banna dengan Ikhwan al-Muslimun-nya dipungut, diadopsi di Turki oleh Najamuddin Arbakan dengan Partai Refah-nya (Musthafa Muhammad Thahhan : Rekonstruksi Pemikiran Menuju Gerakan Islam Modern”).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: