Menuju Negara Islam

1 Menuju Negara Islam

Alhamdulillah saya sempat membaca buku “Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo” yang dipinjamkan oleh seorang teman. Saya berharap semoga Anda sempat mensosialisasikan pemikiran politik kartosoweirjo yang lansung bersumber dari tulisan kartosoeweirjo sendiri, melalui berbagai jalur. Antara lain melalui bedah buku, seminar ceramah, kuliah, taklim, bulletin Jum’at, brosur dakwah, buku saku (lewat pedagang gendongan keliling), dan lain-lain. Dengan demikian diharapkan dapat memperkaya, memperluas cakrawala wawasan umat tentang teori dan praktek mengwujudkan Negra Islam (Proklamasi/Dekrit, Kudeta, Indonktrinasi, Sosialisasi, Taufiq/Anugerah). Disamping mengenal visi dan persepsi Maududi 9metode Revolusi Islam), AlBanna, Quthub bersaudara, Qardhawi (Pedoman Ideologi Islam), dapat pula mengenal visi dan persepsi Kartosoewirjo dalam teori dan praktek. Setidaknya dapat mengantisipasi suara sumbang, bahwa gerakan-gerakan memformalisasikan syari’at Islam dari perspektif historis selalu gagal, tidak pernah mendapat simpati mayoritas. Semoga saja NII dapat simpati mayoritas dan dapat tegak berdaulat kembali, baik de facto maupun de jure.

2 Mengembalikan Kedaulatan NII

1 Sosialisasi

Ummat perlu senantiasa disadarkan secara berkesinambungan, bahwa dengan karunia Allah pada tanggal 7 Agustus 1949 oleh SM Kartosoewirjo atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia telah diproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) yang atas NII tersebut berlaku Hukum Islam. Dari tahun 1949-1962 terjadi benturan dan bentrokan fisik antara NII dan Republik Indonesia. Pada tahun 1962, seluruh kedaulatan NII berhasil diluluh lantakkan oleh Republik Indonesia, sehingga NII tidak lagi mempunyai wilayah dan pemerintahan.

2 Konsolidasi

Ummat perlu dihimbau, diajak untuk turut serta berperan aktif berjuang mengembalikan kedaulatan NII yang dihancurkan oleh Republik Indonesia itu, dengan segala kemampuan yang dimiliki. Menggalang kesatuan, kekompakan ummat untuk meraih mendapatkan kembali kemerdekaan, kebebasan melaksanakan syari’at Islam. Menetapkan batas tegas amtara kawan dan lawan.

3 Kaderisasi

Perjuangan mengembalikan kedaulatan NII ini bukanlah perjuangan sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun, tetapi perjuangan jangka panjang. Untuk itu ummat perlu senantiasa dididik, dibina, ditempa, digembleng agar cocok (kompatibel) menjadi warga NII, dan sebagiannya siap menjadi aparat NII, baik sipil amupun militer.

4 Organisasi

Seluruh potensi, kekuatan ummat perlu ditata, disusun rapi sedemikian rupa, sehingga siap berjuang untuk mengembalikan kedaulatan NII. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (kavaleri, artileri, infanteri) yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang allah mengetahuinya” (QS 8:60). Pertolongan allah baru akan datang kalau ummat ini telah menolong agama Allah. “Jika kamu menolong agama Allah, niscaya allah akan menolongmu dan mengokohkan keadaanmu” (QS 47:7). Kedaulatan NII hanya bisa tegak kembali, kalau kondisi ummat siap mendukungnya. Dari sudut ilmu politik – kata Abul A’la al-Maududi – suatu negara dalam bentuk apa pun, hanya dapat tumbuh di dalam masyarakat berdasarkan faktor-faktor akhlak, kejiwaan, sosial, politik dan sejarah yang berkaitan erat antara satu faktor dengan faktor yang lain (“Metoda Revolusi Islam”, 1983:14). Ajaran politik Islam – kata AlChaidar – pada dasarnya tidak bisa dilaksanakan di tengah kehidupan yang tidak Islami, oleh karena itu mestilah dibereskan prasyarat atau prakondisi yang memungkinkan untuk itu (“Wacana Ideologi Negara Islam”, 1999:137). Kedaulatan NII hanya bisa tegak kembali kalau sudah ada masyarakat Islami yang mendukungnya. Perjuangan mengembalikan kedaulatan NII ini layaknya seperti perjuangan Intifadah mengembalikan kedaulatan Palestina yang dicaplok oleh Zionis Israel dan sekutunya.

3 Politik Keristen

Dengan lantang, kini kembali berkumandang dari Kristen Minahasa teriakan menantang dikembalikannya Piagam Jakarta sebagai pembukaan UUD-45. Dulu juga semangat anti Piagam Jakarta ini bertiup, berembus dari Kristen minahasa.

KH Firdaus AN menceritakan bahwa taka ada satu buku di Indonesia yang menjelaskan siapa gerangan yang memberi ultimatum supaya anak kalimat pada alinea keempat Piagam Jakarta yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dicoret. Sampai tahun 1984 tokoh itu masih misterius bagi sejarawan maupun politisi. Barulah setelah Cornel University di Amerika Serikat menerbitkan sebuah buku tentang Indonesia didapat informasi, bahwa tokoh itu bernama Dr Sam Ratulangi yang disebut sebagai “an astute Christian politician from manado, North Sulawesi”, artinya seorang politisi Kristen yang licik dari Menado, Sulawesi Utara (“Dosa-Dosa Yang Tak Boleh Berulang Lagi”, 1992:48).

Watak, tabiat, karakter tersebut memang sangat antipati terhadap Islam. Di Indonesia kentara dari sikapnya yang menantang dikembalikannya Piagam Jakarta. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS 2:120).

Kebencian Kristen terhadap Islam semata-mata hanya emosi. Kristen sendiri tak punya konsep, doktrin, ajaran tentang berbangsa, bernegara. Dalam hubungan dengan politik, Bibel mengajarkan “Render unto Caeser what is Caesar’s, render unto God what is God’s” (Berilah kepada kaisar apa yang menjadi haknya dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi haknya pula) (Matius 22:21).

Pernah Kristen dijadikan kendaraan politik oleh pihak Gereja. Tapi karena pihak gereja sangat rakus dan aniaya (inkwisi), maka munculllah tuntutan “pisahakan agama dari politik”.

Perjalanan sejarah mencatat pula bahwa orang Kristen Ambon/maluku adalah yang paling banyak menjadi kaki tangan KNIL (tentara Kerajaan Belanda) (SABILI, o.05, Th IX, 29 Agustus 2001, hal 76). Semangat patriotisme nasionalismenya rasanya patut dipertanyakan.

Dalam sejarah Indonesia, terdapat pengaburan sejarah. Bahkan ada pemalsuan data sejarah. Misalnya pejuang Ahmad Luey (Pattimura) disebut sebagai seorang pejuang Kristen dari Maluku yang memberontak terhadap Belanda. Padahal sebenarnya ia (Pattimura) adalah seorang pahlawan Muslim (Idem).

4 Saran dan Harapan ( Serbaneka)

1 Menanggapi Surat pembaca tangting(a)mail1.bolehmail.com, tentang “Respon Terhadap Umar Abduh” (MDI, No.2, Tahun II, 12 Agustus 2001, hal 5), sesuai dengan sikap redaksi MDI, bahwa “Tulisan dalam Majalah Darul Islam tidak selalu segaris atau mencerminkan pendapat redaksi”, maka saya malah mengharapkan, menyerukan redaksi MDI untuk mengundang Umar Abduh, Irfan Suryahardy Awwas, Eep Saifullah Fattah, Anas Urbaningrum, M Zainal Muttaqin, dan lain-lain untuk menjadi konstributor (penulis tetap) di MDI.

2 Mengacu pada sosok Sayyid Abul Hasan Ali an-Nadwi yang gemar membaca dan menekuni buku-buku berbahasa Arab, yang akrab berhubungan dengan penduduk pedesaan dan pedusunan, yang melakukan dakwah Islam keluar masuk desa dan kota (MDI, N0.2, Th.II, 12 Agustus 2001, hal 88-89), maka saya mengharapkan, menyarankan Keluarga Besar MDI untuk sibuk (aktif) menekuni karya Ibnu Taimiyah, Ibnu Wahhab, Rasyid Ridha, al-Banna, Sayyid Quthub dalam bahasa aslinya (bahasa Arab), dan mencantumkan teks asli (matan Arab) untuk terjemahan nash-nash (yang dikutip dari al-Qur:an dan Hadits).

3 Semoga MDI secara berkesinambungan aktif, terencana, terarah, terukur, teratur, sistimatis memperjuangkan gagasan hasil Konferensi Tjisajong untuk : Mendidik rakyat agar cocok (kompatibel) menjadi warganegara Islam (QS 6:129, 13:11, 8:53, Sosialisasi kesadaran individual naik menjadi kesadaran kolektif, Dari Teologis-Religi ke Sosial-Politik). Termasuk mengajak semua Jama’ah (Jama’ah Tarbiyah, Jama’ah Tabligh, Jama’ah mujahidin, dan lain-lain) untuk bergabung, berpartisipasi, berjuang agar NII secara de facto dan de jure tegak di seluruh Indonesia. Memberikan penerangana bahwa Islam tidak bisa dimenangkan dengan Plebisist (Refewrendum, Pemilu, Parpol, Parlemen, Konstituante). Membentuk daerah basis masyarakat Islam yang siap menerima aturan Hukum Allah, misalnya dengan Aceh sebagai basis (MDI, No.2, Th.II, 12 Agustus 2001, hal 63).

4 Mengacu pada pandangan KH Firdaus AN yang menyatakan bahwa “MPR telah melakukan dosa besar kedua setelah dulu mereka mengangkat Gus Dur jadi Presiden RI keempat, yang akhirnya memprotes Tuhan” (MDI, No.2, Tahun II, 12 Agustus 2001, hal 5), saya mengharapkan, menyarankan MDI untuk membimbing ummat ini agar supaya “tidak melakukan dosa besar lagi”, untuk memproyeksikan, menterjemahkan ungkapan ajaran Islam yang teologis-religius ke dalam ungkapan sosio-politik (IPOLEKSOSBUDHAMKAMTIB).

5 Memperhatikan bahwa KAJIAN UTAMA dan TELAAH KHUSUS merupakan kajian/telaah terhadap hasil wawancara, maka saya mengharapakan, menyarankan agar Redaksi memilih sajian di antara dua : pertama kajian/telaah, atau kedua hasil wawancara. Rasanya kalau kedua-duanya disajikan akan menyita banyak ruangan/halaman MDI. Ketika wawancara seyogianya nara sumber digiring untuk mengungkapkan pandangannya secara telanjang (nyata), dan bukan digiring untuk berpihak pada pandangan pewancara MDI. Biar saja pembaca MDI lebih tahu tentang corak pemahaman nara sumber.

6 Kolom MDI kiranya juga dapat menyajikan kajian tentang metode masuknya Islam ke dalam struktur kekuasaan, ke dalam strutktur pemerintahan, sehingga lahir kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dan Semenanjung seperti Samudera Pasai dan Demak, sehingga aspek-aspek hukum fiqih Islam masuk dalam perundang-undangan seperti di Kedah, Pahang, Riau, Pontianak, Brunei, Aceh, patani, mataram (Aswab mahasin : “Fiqih Dalam Perspektif Ilmu Hukum”, PES, No.2/Vol.II/1985, hal 19).

6 Pembodohan massal (Jihad jadi komoditi diskusi)

Dalam dialog Interaktif pada acara Dua Jam Saja, Rabu pagi, 3 Oktober 2001, 0600-0800, bersama Menteri Agama Sayid Aqil Munawar dan seorang habib, TVRI menyajikan topik/tema tentang “Masalah Jihad”.

Baik Menteri Agama, Habib maupun pewancara, disadari atau tidak, tampaknya dengan sengaja membicarakan Jihad terlepas Dario konteks situasinolanya yang menyebabkan timbulnya seruan jihad ummat Islam sedunia. Bahkan berupaya meluaskan pengertian jihad. Bahwa jihad itu mencakup menegakkan kebenaran. Tapi sama sekali tak pernah menjelaskan tentang kebenaran itu. Jihad hanya dijadikan haanya sebatas “komoditi” perbincangan, padahal jihad itu adalah pintu ke syahid.

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: