Riba biang petaka

Riba biang petaka

Sistem perbankan merupakan salah satu instrumen kebijaksanaan sistem moneter dari sistem perekonomian scara makro. Dia merupakan salah satu urat nadi perekonomian negara. Bobroknya sistem perbankan, maka akan berakibat langsung pada kacaunya perekonomian negara.

Di Indonesia, seluruh isi perundang-undangan tentang perbankan merupakan perpanjangan manifestasi sistem ekonomi kapitalisme yang mendasarkan pada sistem perbankan ribawi.

Dalam sistem ekonomi Kapitalis Barat, riba atau suku bunga (interest) seperti nyawa yang tidak dapat dilepaskan dari tubuhnya. Riba sudah demikian menyatu dalam sistem ekonomi Kapitalis, sampai-sampai seluruh bentuk aktivitas ekonomi tidak ada yang terlepas dari sistem riba tersebut, dengan dalih mustahil untuk dihilangkan.

Padahal, sejak masa lalu, riba sudah dikecam habis-habisan. Aristoteles, filosof Yunani Kuno, mengutuk sistem pembungaan uang. Ia menyebut riba sebagai ayam betina yang mandul dan tidak bisa bertelur. Kemudian para pakar ekonomi Kapitalis membuat-buat dalih agar bunga atau riba bisa diterima akal sehat manusia.

Teori-teori yang mengabsahkan bunga/riba (seperti teori Adam Smith, David Ricardo, Marshall) telah dibantah oleh pakar Kapitalis sendiri. John Maynard Keynes (1883-1941), misalnya mengkritik habis-habisan teori bunga uang. Ia menyatakan, bahwa suku bunga uang hanyalah pengaruh angan-angan manusia saja. Manusia dipaksa untuk menganggap wajar dan baik akan adanya suku bunga, padahal kenyataannya dia tidaklah ada. Lebih jauh lagi suku bunga sebenarnya akan melahirkan inefisiensi dan ketidakproduktifan masyarakat. Sebagian akan berprilaku spekulatif dan eksploitatif terhadap manusia lain (homo homini lupus, exploitation de l’home par l’home).

Sistem perbankan ribawi (usurios banking system) merupakan biang bencana dalam sistem ekonomi kapitalis. Sebabnya, bank telah diberi hak untuk menghimpun dana dari masyarakat (yang disebut simpanaqn), lalu mengelolanya seolah-olah milik bank itu sendiri, serta mendistribusikan dana tersebut dengan cara mengkreditkannya kepada para investor dan penguaha (ermasuk para pedagang saham di pasar modal serta penyimpanan sendiri) dengan memungut riba yang telah ditentukan.

Sitem perbankan ribawi secara alamiah akan membuat dana masyarakat hanya berputar pada kalangan terbatas yang sedikit jumlahnya.

Resesi ekonomi dunia yang terjadi selama ini adalah konsekuensi logis dari ciri khas sistem ekonomi Kapitalis yang dianut oleh hampir seluruh negara di dunia yang mengacu pada sistem ekonomi ribawi.

Semua kekacauan itu disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, persoalan mata uang, dimana nilai mata uang satu negara (yang tidak lagi dijamin cadangan emas senilai uang yang beredar) harus terikat dengan mata uang negara lain. Kedua, kenyataan bahwa uang tidak lagi dijadikan hanya sebagai alat tukar saja, tetapi telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan. (Tertumpah harapan, kiranya PBB/UNO mau merintis, mempelopori, memprakarsai adanya mata uang tunggal bagi seluruh negara anggota PBB/UNO, seperti halnya mata uang EURO yang berlaku bagi semua masyarakat ekonomi Eropah daratan).

Dengan sistem mata uang kertas tnpa jaminan emas dan adanya bursa valuta asing, kurs mata uang suatu negara (yang lemah dan miskin) sangatlah rentan terhadap perubahan, bahkan sangat mudah anjlok dan terguncang. Inilah sebenarnya sebab musaab berbagai krisis yang melanda selama ini.

Pandangan yang menganggap uang tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi sekaligus juga sebagai komoditas, serta pembuatan mata uang yang tidak menggunakan basis emas atau perak, sehingga nilai nominal tidak menyatu (inherent) dengan nilai intrinsiknya, merupakan biang dari segala krisis ekonomi bersistem kapitalis.

Dalam mengatasi krisis sekonomi semacam ini, maka di samping harus menata sektor riil, yang lebih penting adalah meluruskan pandangan keliru tentang fungsi mata uang. Bila uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja, lalu mata uang dibuat dengan berbasis emas dan perak, maka ekonomi akan betul-betul digerakkan hanya oleh sektor riil saja.

Dalam hubungan ini, guna memperbaiki perekonomian suatu negara, Islam memberikan pengarahan , antgara lain agar supaya :

Mempersempit jurang kesenjangan (QS 59:7).

Mengharamkan riba dan mencegah pinjaman-pinjaman asing. (Syekh Abdu Rahman al-Maliky menyebutkan empat bahaya hutang luar negeri, dalam kitabnya “Al Siasah al Iqtishadiyah al Mutsla”). Memecahkan masalah krisis utang luar negeri dengan pembayaran utang tanpa membayar bunga..

Membrantas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Mengharamkan judi dan perkembangannya di tempat-tempat hiburan.

Melarang menimbun harta (kanzul maal) (QS 9:34).

Menetapkan sistem mata uang berbasis emas dan perak. (Mengubah basis uang kertas ke basis uang emas dan perak). Menghentikan keterikatan rupiah dengan dollar AS sebagai devisa, dan tidak mengikatkan dengan menjadikannya sebagai standard harga barang-barang dan jasa dalam perdagangan luar negeri.

Memanfa’atkan lahan-lahan tidur.

Menjamin kebutuhan pokok bagi tiap individu dan masyarakat.

Menjamin pengadaan lapangan pekerjaan bagi seluruh angkatan kerja.

(Drs M Fachry Ali : “Skandal-skandal Perbankan”, Buletin Mingguan TAGHYIIR”, Edisi 100, Agustus 1999, Edisi 37 dan 44).

1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: