Sarana Perjuangan

Sarana Perjuangan

Sarana perjuangan beraneka rupa. Ada yang berupa sarana fisik. Misalnya senjata api, mulai dari kaliber kecil sampai kaliber besar, mulai dari yang ringan sampai yang berat, berikut pelurunya, mulai dari yang konvensional sampai yang kendali. Senjata biokimia, senjata nuklir dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Di samping sarana fisik ada pula sarana non-fisik. Misa lnya doktrim ahimsa (non-violence, anti kekerasan) dan satyagraha yang ditawarkan mahatma Gandhi, yaitu ajaran kekuatan jiwa tanpa kekerasan untuk melawan sikap kekerasan dan penindasan penguasa penjajah. Gandhi menggunakan doktrin tanpa kekerasan untuk memobilisasi massa amengusir penguasa-penjajah Inggeris dari India dengan suatu perang suci secara moral untuk menggantikan suatu pemberontakan bersenjata. Gandhi menggunakan samadid sebagai pengganti senapan, dan sikap diam-membisu-menentang sebagai pengganti kegalauan bom-bom terroris. Di daerah yang selalu dilanda musibah kelaparan, taktik Gandhi malah justru mengingkari pangan, berpuasa. Dalam konteks ke-indonesiaan, ahimsa yang ditawarkan oleh Mahatma Gandhi, kini berarti reformasi tanpa kekerasan. Ancam moncom senjata dihadapi dengan budaaya diam, tanpa aksi kekerasan, tanpa masuk kerja, tanpa tuntutan (Yan Triasmoro “Tunas”, Tabloid AKSI, Vol 2, No.84, 23-29 Juni 1998, hal 3, Aksi Utama).

Di Amerika Serikat, taktik dan teknik Satyagraha (kekuatan-jiwa)nya Gandhi diikuti dan dityiru oleh Dr Marthin Luther5 King. Dr King mengetrapkan prinsip Satyagraha Gandhi itu ke dalam suatu gerakan sosial yang besar dan luas. Dr King merumuskan perjuangannya demikian. Menentang ketidakadilan tanpa menunggu perwakilan bertindak. Tidak akan mematuhi hukum yang tidak adil, yang mendukung tindakan tidak adil. Bertindak dengan damai secara terbuka dan gembira. Tanpa kekerasan membentuk masyarkat yang damai. Mengajak dengan kata-kata (bil-lisan), dan bila gagal, barulah dengan tindak perbuatan (bil-yadi). Sikap untuk berbicara, berdiskusi (mujadalah bil-lati hiya ahsan), menderita, mengorbankan nyawa (syahid) demi kebenaran. Perjuangan Dr King bertolak dari konsep agape, cinta kasih (mahabbah), kemauan untuk berbuat baik untuk semua orang (khairun-naaas man-yanfa’un-naas). Cinta kasih demi kebaikan semua orang, tanpa membedakan kawan dan lawan (seperti keadilan yang dikehendaki Islam). Cinta berkorban demi kebaikan masyarakat. Cinta kasih seperti tercermin dalam persaudaraan. Semua manusia itu adalah saudara (manusia itu satu umat).

Gerakan aaksi tanpa kekerasan yang selaras dengan Satyagrahanya Gandhi, menurut Dr King juga sejalan dengan ajaran Kristiani. Ajran Kristiani menyerukan agar “love our enemies” (kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya akamu). “If any one strikes you on the right cheek, turn to him the other also” (janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berikanlah juga kepadanya pipi kirimu) (Matius 5:44 dan 39). Tapi karl marx melecehkannya “does not every minutes of your practicle life give the lie to your theory”.

Dalam Islam adaajaran ma’af. Mema’afkan itu lebih mulia dari pada membalas, daripada membuat tindakan balasan. Tetapi dalam hal tertentu yang sudah sangat melampai batas, maka diperlukan tindakan balasan. Meskipun demikian, berbuat baik terhadap yang berbuat jahat, sangat diutamakan, sangat dipujikan (QS 23:96, 28:77, 41:34).

Sarana perjuangan non-fisik lain adalah blokade ekonomi seperti yang pernah dilakukan musyrikin Quraisy terhadap kaum Muslimin di tanah Makkah empat belas abad yang lalu. Blokade ekonomi, politik membiarkan musuh kelaparana dipandang oleh musyrikin Quraisy akan memberikan hasil yang efektif, yang akan dapat melumpuhkan kekuatan kaum Muslimin. Blokade ekonomi tersebut berlansung selama tiga tahun, tapi sama sekali tak membuahkan hasil. Demikian juga yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan memperalat PBB untuk memaksakan kehendaknya terhadap Irah. Blokade ekonomi sangat menyengsarakan umat manusia. Sarana perjuangan buruh adalah mogok. Melarang mogok berarti melucuti senjata buruh, sehingga buruh tanpa memiliki senjata. Demonstrasi juga merupakan sarana perjaungan non-fisik yang digunakan oleh rakyat. Melarang demonstrasi berarti melucuti senjata rakyat, sehingga rakyat tanpa memiliki senjata. Boikot juga sarana perjuangan non-fisik rakyat. Boikot bisa dilakukan terhadap pemilu, terhadap sidang legislatif. Sah atau tidaknya sarana perjuangan tersebut tergantung di pihak mana kita berada (Simak HAI, Edisi Khusus, No.02.VIII.1984).

Para despot yang arif, yang bijak, yang cerdas, semacam Frederik-II yang Agung (1740-1786) dari Prusia, Katharinia-II yang Agung (1762-1796) dari Rusia, Peter yang Agung (1689-1725) dari Rusia menggunakan keadilan sebagai tameng untuk membentengi negerinya. Mereka berpedoman pada motto : Tak ada raaja tanpa kekuasaan. Tak ada kekuasaan tanpa tentara. Tak ada tentara taanpa ang. Tak ada uang (pajak) tanpa kemakmuran (rakyat). Mereka berupaya memajukan pertanian, peternakan, perniagaan, keraajianan (industri), memperbaiki pengajaran (pendidikan), memperbaiki pengadilan (supermasi hukum), menghaapuskan hukum siksaan badan yang kejam (17-8-97).

1

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: