Sekitar Perkembangan Konglomerat Indonesia

Sekitar Perkembangan Konglomerat Indonesia

1 Etnis Tionghoa, Hoakiao, dan WNI Tionghoa

Yang mendorong Hoakiao (emigran Tionghoa) hijrah ke daerah subur di Selatan, seperti ke Malaysia, Thailand, Indonesia, Singapura, Vietanam, Kampucia, Brunei, adalah karena alasan ekonomi atau politik. Disamping imigran sukarela, banyak juga “kuli-kuli kontrak” yang dikerahkan sebagai buruh-buruh kasar atau buruh-buruh perkebunan oleh pemerintah kolonial dalam abad ke-19 seperti di perkebunan tembakau di tanah Deli Sumatera Timur. Di awal abad ke-20 di kota Medan yang jadi penarik beca (benar-benar menarik becak dengan tangan seperti kuda menarik delman) adalah dari kalangan etnis Tionghoa.

Dalam abad ke-19 pemerintah Mancu yang berkuasa di Tiongkok memberlakukan politik berdasarkan prinsip “jus sanguinis”, artinya sekali Hoakiao tetap Hoakiao, yaitu semua orang yang berdarah Tionghoa dianggap sebagai orang atau warga Tionghoa atau Hoakiao.

Politik pemerintahan kolonial Hindia Belanda menempatkan bangsa kulit putih sebagai warga kelas satu yang memiliki hak menguasai perdagangan besar (big bisnis), dan orang Timur Asing sebagai warga kelas dua yang memiliki hak menguasai perdagangan menengah dan kecil, sedangkan penduduk pribumi sebagai warga kelas kambing (paria), sebagai kuda tunggangan dan sapi perahan bagi warga kelas satu dan dua. Sekedar “untuk melindungi hak penduduk pribumi”, pemerintah kolonial Hindia Belanda melarang orang Timur Asing membeli tanah penduduk.

Pada zaman Belanda, keturunan Cina ditempatkan sebagai warga kelas dua, sekelas di bawah keturunan Belanda. Pribumi nomor tiga. Banayak warga keturunan yang buruk perilakunya, berkolusi, membeli kekuasaan, menjarah bank, mengganggu duit nasabah bank. Namun banyak pula warga keturunan Tionghoa yang mencari nafkah dengan membuka toko di pinggir jalan (Kwik Kian Gie : GATRA 37, 1 Agustus 1998, hlm 52-53).

Berbeda dengan rezim orde baru Soeharto dengan kwartet KaKaEn (militer, birokrat, teknokrat, konglomerat)-nya yang sama sekali tak melindungi hak milik tanak penduduk pribumi, yang dengan dalih “demi kepentingan umum”: menggusur mereka ke jurang kehancuran.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, Hoakiao tetap saja Hoakiao. Informasi tentang andil perjuangan etnis Tionghoa pada masa penjajahan Belanda, Jepang, dan pada masa revolusi fisik dapat ditemukan dari elite WNI Tionghoa Muslim.

Dalam tahun 1951 kira-kira 400.000 Hoakiao memilih WN-RRC. Dua kali jumlah itu memilih menjadi WN-Taiwan (Stateles). Selebihnya dianggap sebagai WNI Tionghoa pasif (yang tidak secara aktif dengan kesadaran sendiri jadi WNI Tionghoa).

Tanggal 22 April 1955 Sunarjo-Chou En Lai menandatangani suatu persetujuan, kesepakatan tentang masalah dwi-warganegara. Marskal Chen Yi memberitahukan orang-orang Hoakiao untuk menjauhi komunisme (di Indonesia ?). Tetapi jika memang mau menjadi anggota Partai Komunis sebaiknya pulang ke negara leluhur (RRC ?). Dan menganjurkan agar supaya menjadi warga-warga yang baik di negara-negara di mana tinggal (ECONOMIST, 10 Januari 1961).

Untuk melindungi petani dari praktek ijon, maka mulai 1 Januari 1960 (sesuai PP 10 tahun 1959) pedagang eceran asing tak dibenarkan bergerak di pedesaan. Akibatnya puluhan ribu WNA Tionghoa pulang ke negeri leluhurnya. RRC sangat marah terhadap Indonesia dengan tuduhan sebagai “rasialis imperialis”. Tuduhan RRC ini dijawab dengan menunjuk “keserakahan RRC dengan menggulung Tibet serta insiden-insiden perbatasan dengan India”. Pimpinan PKI DN Aidit menyatakan bahwa “mengusir Cina dari pedesaan, justru berakibat berantakannya ekonomi desa. Cina ini justru membantu Indonesia”.

Dari sudut pandang ekonomi-sentris yang tak peduli dengan kesengsaraan dan kemelratan rakyat, pakar ekonomi menamkan keyakinan bahwa peran golongan etnik Tionghoa cukub besar dalam penghidupan dan pembangunan ekonomi. Pandangan tersebut benar sekali dalam ukuran “perut dan di bawah perut”. Seluruh kekayaan masyarakat tersedot ke Hydrant Hoakiao kapitalis. Dan bukan sebaliknya kekayaan itu mengucur untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.

Sesuai dengan tujuan kedatangan sebagai imigran, Hoakiao hanya memusatkan semua perhatian dan usahanya untuk mendapatkan biaya hidup (kekayaan), maka mereka kurang berminat melibatkan diri dalam kegiatan sosial masyarakat (ekslusif). Kondisi ini menimbulkan anggapan dan tanggapan seolah-olah WNI Tionghoa mengisolir diri dari penduduk pribumi. Khusus terhadap kalangan WNI Tionghoa Muslim anggapan dan tanggapan semacam ini tak dapat ditemukan.

Konglomerat di Indsonesia baru muncul setelah adanya Lisensi Istimewa, Pertamina. Bulog. Dan semakin tumbuh berkembang setelah terbukanya kesempatan mendirikan bank-bank swasta untuk memperlipatgandakan kekayaan pemodal serta dibukanya bursa pasar modal. (Bks 10-7-98)

2 Jasa Pertamina dan Bulog melahirkan konglomerat

Sondang PN dalam EXPO, No.2, Th.II, 18 Januari 1984 (hlm 14-15) mengungkapkan bahwa Pertamina sebagai slagorde usaha pemerintah di zaman Dr Ibnu Sutowo banyak menghasilkan pengusaha pribumi, terutama kalangan muda. Seperti Ir Siswono Judohusodo, milyarder muda pribumi dengan PT Bangun Dipta Sarana Group sebagai kontraktor di masa jayanya Pertamina, diperkirakan memperoleh keuntungan dari Pertamina saja, paling sedikit sekitar 50 juta US$. Disamping sebagai kontraktor raksasa, berkat tunjangan Pertamina, milyarder yang biasa disebut dengan panggilan “Sis” ini bermain di sektor tanah, sebagai pengusaha real estate developer. Di Jakarta saja Ir Siswono dengan PT Bangun Cipta Sarana-nya membangun paling sedikit puluhan ribu rumah yang hampir semuanya di atas golongan menengah.

Lain dengan Pertamina, Bulog-nya Bustanul Arifin SH, sarana pemerintah dalam urusan pengadaan pangan ini banyak menjadikan pengusaha-pengusaha raksasa WNI, baik di pusat maupun di daerah. Dalam menobatkan Liem Sioe Liong (Sudono Salim) menjadi orang terkaya di Indonesia dan perusahaannya menjadi Multy National Corporation serta menjadi bankir ke-6 terkaya di dunia, saham bulog bukan alang-kepalang. Si Ompong dari CV Halimka, tadinya hanya punya sebuah restoran, yang terkenal dengan sebutannya di Medan dengan nama “Restoran Tinggi”, pada akhir hidupnya menjadi seorang milyarder berkat klien Dolog Sumut. Orang Medan, terutama dari kalangan WNI tahu Ompong sangat ganas dalam bisnis beras. Ompong yang jadi boss CV Halimka, Bank Mestika Dharma, serta pabrik korek api cap “Kuda” dan lain-lain perusahaan, mempergunakan beras yang dibagikan Dolog/Bulog untuk mengeruk kekayaan, bukan untuk membantu meringankan hidup orang banyak.

Gow Swie Kie (Dasuki Angkosubroto) merupakan seorang pengusaha yang dibesarkan Bulog, sebagai rekanan Bulog (Penyalur Sembako). Begitu besar peranannya dalam urusan beras Bulog sampai kalangan pengusaha menyebutnya seperti “Kepala Bulog Swasta”. PT Cibadak Indah Sari Farm dan perusahaan induk (holding company) P Gunung Sewu Kencana adalah merupakan rekanan Bulog sebagai importir beras dan kacang kedele,

Di kalangan WNI keturunan Timur Asing asal India terdapat nama Rajkumar Sisngh dari PT Kebon Bunga, orang kaya paling kaya kalau ditinjau dari besarnya pajak kekayaan pribadi yang diperhitungkan besarnya sekitar satu per-mil dari jumlah kekayaan pribadi. Meskipun demikian, Rajkumar Singh masih terhitung orang kesekian-kesekian terkaya. Yang terhebat adalah Srini Vasan dari Tex Mako Group dengan berbagai macam kegiatan selain pabrik tekstil, adalah kontraktor dan real estate. (Bks, 15-9-98).

3 Bunga bank biang krisis ekonomi

“Sesungguhnya ekonomi itu adalah nadi kehidupan, dan bank adalah urat nadi ekonomi, sedangkan bunga adalah urat nadi bank”, “Tanpa bunga tak ada kehidupan”. Itulah yang selalu diyakinkan oleh para pendukung dan pelaku bunga (riba). Secara sistimatis-akademis (semi dan semu) mereka meyakinkan bahwa mustahil ekonomi dunia bisa didirikan di atas dasar selain bungan (interest).

Perdagangan dan industri tidak bisa dikembangkan tanpa sistim bunga. Sistim riba – kata mereka – adalah suatu keharusan bagi pengembangan ekonomi dan pembangunan. Memang harus diakui bahwa “di zaman sekarang, kita terpaksa menerima susunan ekonomi yang berdasarkan riba/bunga bank. Namun kita – umat Islam – wajib meyakini kebenaran dan keunggulan konsepsi ekonomi Islam, dan tetap bercita-cita mempraktekkan sistim ekonomi tanpa bunga/riba di dunia” (Tafsir Al-Azhar, 1984, juzuk III, hlm 77-78).

Harus diyakini bahwa praktek bunga/riba membawa petaka ekonomi, ketidak-adilan dalam pembagian hasil kerjasama bagi kemakmuran, serta ketidak-adaannya berkah. Tapi pendukung bunga/riba masih saja meyakinkan bahwa bunga/riba itu adalah hal yang wajar, alami dan logis, dan merupakan landasan yang tepat untuk mengembangkan ekonomi. Tanpa bunga/riba, maka ekonomi akan mandek, tak bisa berkembang. Seorang Muslim harus meyakini, memiliki akidah yang mantap, bahwa mustahil Allah mengharamkan riba, bilamana riba itu mengandung kemashlahatan bagi kehidupan dan kemajuan umat manusia.

Pendukung riba berpikiran bahwa manusialah yang pertama sebagai penguasa tunggal di dunia ini. Karena itu manusia tidak terikat dengan aturan apa pun. Setiap individu bebas merdeka dalam menentukan sarana yang dipilihnya untuk mendapatkan harta dan mengembangkan kekayaannya semuanya. Mereka memiliki kebebasan mutlak untuk menikmati apa-apa yang diperolehnya dalam kesenangannya. Mereka beranggapan bahwa tujuan segala-galanya dalam kehidupan manausia ini ialah untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya dengan cara apa pun dan membelanjakannya dengan sesuka hati untuk memperoleh kesenangan hidup duniawi semaksimal-maksimalnya.

Untuk itu haruslah disingkirkan segala rintangan dan halangan yang jadi kendala mewujudkan tujuan mereka itu. Mereka memberikan pinjaman kepada para industriawan dan para pedagang dengan bunga tertentu, dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukannya secara sepihak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, meskipun akan mendatangkan kesengsaraan jutaan orang dan merugikan kehidupan jutaan orang lain.

Mereka tidak perlu mempertimbangkan berapa banyak orang yang menderita dan sengsara. Yang penting, mereka harus dapat menimbun kekayaan sebanyak-banyaknya dalam peti uang dan rekening bank. Undang-undang positif pun dibuat untuk memberikan perlindungan, kebebasan dan kemerdekaan bagi pendukung bunga/riba untuk berbuat semaunya.

Pendukung riba (yang terdiri dari sekelompok manusia rakus/avarice) itu mengkonsentrasikan akumulasi kekayaannya untuk dipinjamkan kepada perorangan, pemerintah, bangsa di dalam mau pun di luyar negeri dengan mengutip bunga untuk meningkatkan jumlah kekayaan mereka. Pengaruh mereka sangat besar dalam menciptakan kondisi, pikiran, opini publik dan dalam berbagai proyek yang memungkinkan untuk menambah eksploitasinya. Semuanya dilaksanakan sesuai dengan kepentingan berencana mereka dalam mengendalikan jalannya ekonomi dunia, meskipun akan menimbulkan krisis ekonomi dan keuangan dunia.

Yang berpikiran jernih/waras, akan melihat bahaya yang akan mengancam generasi kini dan generasi nanti akibat antuan utang atau pinjaman dari siapa pun datangnya yang akan menciptakan krisis keuangan, moneter, ekonomi, politik yang berkepanjangan. Juga menimbulkan krisis kerusakan akhlak, jiwa, saraf (dekadensi moral). Peredaran uang yang semula sehat dan pertumbuhan ekonomi yang normal jadi rusak berantakan, akibat mengubah fungsi uang dari sebagai “alat tukar” menjadi “sarana akumulasi kekayaan”.

Dalam mengembangkan harta benda, Islam memberikan rambu-rambu agar tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain (berbuat curang), tidak menimbulkan gangguan dan kemacetan jalannya roda ekonomi (semacam perlombaan antara konglomerat dan yang melarat, dengan menjamurnya mall, supermarket serta penggusuran pedagang yang bermodalkan seratus ribu rupiah).

Islam menuntun agar tidak menempuh jalan yang merusak pribadi dan akhlak seseorang (materialis), tidak merugikan hidup bermasyarakat (berorientasi sepenuhnya pada bisnis-ekonomi semata, tanpa peduli dengan moral dan sosial).

Islam menuntun menegakkan sistim ekonomi atau keuangan “ta’awun” saling tolong menolong, saling bantu membantu, berdasarkan gotong royong dan kekeluargaan, sama-sama berjalan di jalan yang diridhai Allah (‘alal-birri wat-taqwa).

Kekayaan yang dikaruniakan Allah itu haruslah dimanfa’atkan untuk membantu meringankan yang kesempitan. Misalnya dengan membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuan yang diberikan Allah, sehingga setiap orang dapat memenuhi KHM (Kebutuhan Hidup Minimum)-nya sekeluarga. Dan bukan dimanfa’atkan untuk melipatgandakan kekayaan semata dengan memeras dan menguras keringat dan tenaga kaum melarat.

Selama kebutuhan konsumsi terhadap uang dan kesenangan masih dalam batas kewajaran, maka akan selalu tersedia kelebihan hartaa untuk disumbangkan bagi kepentingan sosial (masyarakat umum).

Semua praktek yang menentukan waktu dan laba tertentu dalam situasi bagaimana pun tergolong ke dalam sistem riba. Semua praktek riba adalah haram (terlarang), baik dalam bentuk seperti yang terjadi pada jaman jahiliyah, maupun bentuk riba yang sudah dimodifikasi. “Janganlah kamu berbuat dosa sebagai Yahudi mengahalalkan barang yang diharamkan Allah dengan berbagai helah” (Tafsir Al-Azhar, 1984, juzuk IX, hlm 147).

Riba itu menciptakan suatu sistem yang menindas kemanusiaan dengan keji (exploitation de l”home par l”home), menyengsarakan kehidupan individu, masyarakat, negara dan bangsa untuk kepentingan sekelompok lintah internasional, semacam IMF, Bank Dunia, dan sejumlah negara donor yang berselimutkan “demi kemanusiaan”.

Semangat, jiwa, nafas riba adalah keserakahan, kekotoran, kejorokan, egois, individualis (rijsun). Sedangkan semangat, jiwa, nafas sedekah adalah pemberian, kemurahan, kesucian, pembersihan dan perwujudan sikap kerjasama, gotong royong, saling tolong menolong, saling bantu membantu (ta’awun).

Sedekah adalah kerelaan memberikan harta benda tanpa mengharapkan ganjaran, imbalan dan balasan. Sedangkan riba menuntut kembalinya uang pinjaman berikut bunganya yang dipetik dari jerih payah orang yang meminjamnya. Riba amendatangkan kerusakan di dunia dan mencelakakan manusia.

Melakukan perbuatan riba berarti melakukan kecurangan terhadap hak manusia serta melakukan tindak kejahatan dan tindak kerusakan di dunia sebagaimana kaum Syu”aib melakukan tindakan kecurangan dalam ekonomi perdagangan. Riba merupakan tradisi jahiliyah yang paling jahat dan keji yang oleh Islam harus dihapuskan samai ke akar-akarnya. Kini akar riba berbentuk Bank. Yahudi, Raja Riba Internasional sendiri hanya menghalalkan/membolehkan mengambil riba/bunga dari yang bukan Yahudi (Kitab Ulangan Pasal 23, ayat 20).

Dalam masyarakat yang ditegakkan seluruhnya di atas sistem bunga/riba, maka seluruh masyarakatnya dilaknat, dikutuk dan diancam dengan maklumat perang dari Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya bisa berupa krisis keuangan, moneter, ekonomi, politik, keamanan, dan lain-lain. Dampak bencana bunga/.riba bisa berupa kegoncangan, kegelisahan, ketakutan, kelaparan, kehinaan dan kesengsaraan. Bisa berupa aneka rupa penyakit jiwa dan saraf (stress, depresi, anxieti, dan lain-lain).

Secara lahiriah, masyarakat yang terikat dengan sistem riba bisa tampak hidupnya diliputi keberkahan, kemakmuran, kebahagiaan, ketenangan, namun secara batiniah hampa dari keberkahan, hampa dari kenikmatan dan keamanan, penuh dengan rasa resah dan gelisah, tidak merasakan kebahagiaan, kepuasan, kestabilan, keberkahan, baik dlam harta, usia, kesehatan, ketenangan batin, maupun kebhagiaan jiwa.

Kebahagiaan dicari-cari di sarang-markas setan, di tempat-tempat hiburan, di tempat rekreasi, di panggung-pentas kesenian, di arena adu ketangkasan, di temp;at pelesiran, di meja judi, dan lain-lain. Namun yang dicari tak kunjung diketemukan. Senantiasa dirundung kegelisahan demi kegelisahan.

Sistem bunga/riba telah menimbulkan kerusakan dalam peredaran harta. Sistem tersebut dikendalikan oleh sekelompok lintah internasional pemilik modal yang sekaligus menentukan tingginya tingkat suku bunga. Mereka memperoleh bunga/riba dari jerih payah dan keringat orang yang meminjam uang dari mereka.

Tingginya tingkat suku bunga mmengakibatkan timbulnya krisis ekonomi dan keuangan, menurunya aktivitas di sektor produksi dan industri secara drastis, yang sekaligus menyebabkan membengkaknya angka pengangguran yang diakibatkan oleh pengurangan tenaga kerja (PeHaKa). Buntutnya daya beli masyarakat berkurang. Transaksi jual beli menurun. Pasar jadi sepi. Hal ini juga menimbulkan risiko negatif bagi pemilik modal sendiri, yang mengakibatkan macetnya pengembangan kekayaannya.

J M Keynes (1883-1945) pakar ekonomi Inggeris berteriak menyeru agar suku bunga turun, supaya aktivitas industri kembali pulih dan semua tenaga yang menganggur dapat bekerja kembali. Menurut Keynes “:pengangguran itu adalah suatu gejala yang timbul karena pendapatana nasional tidak seluruhnya digunakan untuk konsumsi. Jika ada orang-orang yang mau membelanjai produksi barang-barang modal, tak perlu timbul pengangguran”.

Selama sistim ekonomi berdiri atas dasar bunga/riba, maka secara terus menerus berupa spiral terjadi krisis ekonomi dunia berulang-ulang secara bYang berhasil meraupu kekayaan masyarakat dengan sistim bunga/riba adalah para kapitalis, rentenir yang menguasai bank (pasar modal). Hampir sesluruh harta kekayaan yang ada di dunia ini dimiliki hanya oleh beberapa kelompok orang saja. Yang lainnya hanyalah peminjam/nasabah dari bank. Sedangkan buruh dan karyawan tidak lebih dari orang-orang bayaran (meskipun berpenampilan berdasi sekali pun). Para konsumen/peminjam, selain harus membayar bunga/riba, juga secara tidak langsung membayar pajak kepada rentenir (pemilik modal).

Sedangkan pinjaman yang dipinjam pemerintah dari lembagaa-lembaga keuangan (semacam IMF), selain harus mengembalikannya serta harus membayar bunganya, rakyat secara tak langsung juga hrus memikul beban pajak yang harus dibayar kepada lintah internasional, semacam IMF itu.

Masyarakat yang terkail dengan sistim sedekah, yang mensosialisasikan sedekah, memiliki semangat kasih sayang dan cinta kasih, menumbuhkan rasa ridha dan suka amema’afkan, senantiasa mengenang/mensyukuri karunia Allah, serta meyakini selalu adanya pertolongan Allah, hidup dalam suasana gotong royong, saling tolong menolong. Senantiasa akan beroleh berkah, baik dalam harta, kesehatan dan ketenangan jiwa.

Sesuai dengan keimanan dan ketakwaan masing-masing kepada Allah, dituntut untuk dapat membebaskan diri dari segala aktivitas yang berhubungan dengan lembaga riba, baik sebagai pemodal/pemegang saham, peminjam/nasabah, maupun sebagai karyawan/pegawai. (Bks 6-7-98)

4 Spekulan Yahudi

Sebelum 24 Oktober 1929 di bursa New Yrok, kurs memuncak sehebat-hebtnya. Pada 24 Oktober 1929 kurs turun terus menerus dengan hebat secara drastis. Sebagai batu peletak batu pewrtama pada krisis itu adalah para spekulan di bursa New York itu.

Tahun 1997/1998 juga adalah tahun krisis. Penyebab utama krisis nilai tukar uang adalah ulah spekulan. Spekulan adalah yang profesinya menumpuk kekayaan dengan cara mempermainkan harga. Karena uang juga sudah dijadikan komoditi dagangan, maka spekulan juga mempermainkan harga mata uang.

Salah satu lahan investasi spekulan untuk mengakumulasi kekayaan adalah IMF. Apakah masuk akal (logis-rasional) minta bantuan pinjaman pada spekulan untuk mengatasi krisis yang diciptakan oleh spekulan sendiri ? Bukanlah spekulan, kalau tak mempermainkan harga, tak menciptakan krisis. Bagaimana caranya mengahdapi aksi spekulan agar terhindar dari krisis ?Apa yang bisa diupayakan negara untuk mengantisipasi aksi dan aktivitas spekulan ? Apakah kegiatan spekulan dapat diredam dengan nasehat-nasehat, petuah-petuah ajaran moral ? Apakah upaya-upaya hukum, undang-undang, peraturan-peraturan dapat mempersempit ruang gerak spekulan ? Apakah dapat diupayakan agar uang tidak lagi dijadikan komoditi dagangan ? Apakah kegiatan bisnis dapat dilakukan dengan menurunkan tingkat suku bungan ke titik nol, sehingga seluruh tenaga kerja dapat dimanfa’atkan secara penuh, seperti pernah digambarkan oleh pakar ekonomi J M Keynes ? Ataukah “laissez faire, laissez passer” (bebas-lepas) bagi spekulan ?

Doktrin “laissez faire” ini disorot oleh Keynes, yang mengatakan bahwa bila ada permainan bebas antara kekuatan-kekuatan ekonomi, tingkat upah akan menciptakan kesempatan kerja yang penuh, dan tingkat bunga akan menjamin penggunaan yang penuh dari modal yang ditawarkan (Full Employment Theory). Sebelumnya Karl Marx dengan “das kapital”-nya menyerang kapitalisme. Dan sebelum itu, sebaliknya Adam Smith dengan “Wealth of nations”-nya mengkritik merkantilisme. Thaher Ibrahim sengaja menulis tentang “Islam, Marx, dan Keynes : Pembahasan Ekonomi”.

Markas Besar para spekulan berada di Wallstreet, pusat ekonomi Aamerika di New York. Wallstreet ini diukasai oleh Yahudi. Dari sini para spekulan Yahudi mengotak-atik perekonomian dunia. Kekuasaan Yahudi merata di seluruh negara kapitalis, termasuk menguasai pemerintahannya dengan memungut bunga uang (rente) dari yang bukan Yahudi. Bagaimana kejamnya dalam memungut bunga uang dapat disimak dari lukisan William Shakespeare dalam “Saudagar dari Venice” (The Merchant of Venice).

Program Yahudi dalam bidang perekonomian antara lain adalah mengacaukan sistim moneter/keuangan, mempermainkan bursa, pasar, mempewrlebar jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin. Diantara penerapan kegiatan gerakan Yahudi adalah pada pengobaran Revolusi Perancis. Karl Marx dengan komunis-nya, Sigmund Freud dengan Psychoanalisa-nya, Jean Paul Sartre dengan ajaran Existensialisme-nya, Alfred Nobel dengan hadiah Nobel-nya, Albert Einstein dengan teori atom-nya, dan teori relativitas-nya, Perdana Menteri Disraelli dengan Imperium India-nya, Baron Rotchild dengan saham kanal Suez-nya, adalah sebagian dari pentolan Yahudi.

Dalam hubungan dengan krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara, pernah seorang politisi (Perdana Menteri) mengemukakan persepsi bahwa secara kebetulan para pedagang di pasar uang berasal dari Yahudi, dan rakyat yang menderitanya juga kebetulan dua negara Muslim yang besar (KOMPAS, Rabu, 12 November 1997, hlm 6, Mahathir : Saya Makin Kuat).

Para spekulan tak peduli dengan kepentingan umum, dengan kepentingan orang banayak. Memusnahkan gandum, kopi secara besar-besaran dengan membakar atau membuang ke laut, sperti terjadi pada masa krisis ekonomi dunia tahun 1929, bagi para spekulan adalah tindakan yang menguntungkan untuk menyelamatkan kepentingan mereka, dari pada membagi-bagikannya untuk kepentingan orang banyak yang hidup dalam kesengsaraan.

Aksi spekulan menyatu dengan sistim ekonomi kapitalis. Untuk mengantisipasinya diperlukan sistim ekonomi alternatif, yaitu sistem ekonomi tanpa bunga uang (rente). (Bks 13-9-98)

5 Krisis

Pada awal tahun 1930-an terjadi depresi terbesar dalam sejarah ekonomi. J M Keynes mencatat bahwa cacat utama dari masyarakat ekonomi adalah kegagalannya untuk memberikan kesempatan kerja dan kesewenang-wenangannya dalam distribusi pendapatan dan kekayaan yang tidak merata (Majalah KIBLAT, No.3/XXXIII, Juli 1985, hlm 9).

Dalam “The General Theory of Employment, Interest and Money” (1936) I M Kenyes mengemukakan bahwa “pengangguran itu adalah suatu gejala yang timbul karena pendapatan nasional tidak didistribusikan/digunakan untuk konsumsi secara optimal. Bila ada yang mau mendanai produksi barang-barang modal, tak akan ada/terjadi pengangguran”. “Sesungguhnya kewajiban negara (pemerintah) untuk menurunkan tingkat suku bunga hingga memungkinkan terserapnya semua orang bisa bekerja” (Afzalurrahman : “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang”, 1997).

Pada akhir tahun 1971 terjadi krisis moneter Internasional. Nilai tukar dollar As terhadap sejumlah mata uang asing lain merosot. Sumber utama kemerosotan nilai mata uang dollar AS itu berasal dari defisit dalam neraca perdagangan antara AS dengan negaraa-negara mitra dagangnya. Importnya lebih besar dari ekspor. Tingginya ongkos produksi di AS dibandingkan dengan di beberapa negara mitra dagangnya (Drs.Muchlis Harun : PANJI MASYARAKAT, No.253, 15 Agustus 1978, hlm 32).

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebenarnya tak akan semakin terpuruk merosot, jika sejak nota kesanggupan (letter if intent) 15 Januari 1998 dilaksanakan dengan konsisten sebagai komitmen pemerintah untuk melaksanakan secara konsekwen sesuai dengan petunjuk tertulis dalam lima puluh butir komitmen. Namun pemerintah selalu berupaya untuk mengubah atau melakukan negosiasi, tidak konsisten dalam melaksanakan petunjuk nota kesanggupan (H Soeharsono Sagir : WARTA EKONOMI, No.08/Th.X, 13 Juli 1998, hlm 8)

Dipertanyakan : Bagaimana hubungan kausal antara krisis ekonomi dengan masalah tenaga kerja, bunga dan uang ? Bagaimana metode mengatasi krisis ekonomi yang diajukan oleh J M Keynes ? Dengan mengacu pada Keynes, bagaimana cara mengatasi krisis ekonomi di Indonesia yang dapat dilakuakn oleh pemerintah ? Bagaimana bentuk hubungan bagan/diagram arus/alir (flow-chart) dari cara mengatasi krisis ekonomi Indonesia yang bisa dilaksanakan dengan risiko negatip yang paling minim ? Bagaimana hubungan kausal antara “penawaran dan permintaan” dengan turun-naiknya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing ? Bagaimana hubungan kausal antara situasi politik (pernyataan-pernyataan elite politik, pergantian pejabat-pejabat tinggi) dengan turun-naiknya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing ? Bagaimana hubuangan kausal antara kemakmuran (prosperous society) dengan pengorbanan (social cost) dan pembangunan (economic cost) ? Apakah lembaga-lembaga ekonomi-keuangan kapitalis semacam bank-bank swasta, bursa pasar modal masih akan tetap dipertahankan ? Ataukah sudah masanya beralih hanya dengan bank pemerintah dan koperasi saja yang sejalan dengan jiwa dan semangat pasal 33 UUD-45 ? (Bks 9-898)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: